
"Rya-
"Ssstt." Ryan menyuruhnya diam sementara gadis itu masih tak percaya dengan apa yang dia lihat. Gadis itu tak sedikitpun berkedip melihat pemandangan di depannya.
Dia hanya berpikir jika itu memang Ryan. Itu benar kekasihnya kan?
Selama ini dia berusaha mencarinya dan kini mereka malah bertemu disini. Tapi tunggu, Kai terlihat sedikit berbeda. Bukan sedikit, tapi dia memang berbeda.
Lihatlah, kekasihnya itu benar-benar terlihat berubah.
Kulitnya berubah menjadi pucat dengan mata yang membiru.
Apa Ryan.. salah satu dari mereka?
Clarita kini menyentuh pipi kekasihnya perlahan untuk memastikan. Sampai tangan dingin pria itu juga menyentuh tangannya.
"Singkirkan tanganmu."
Rasa kecewa pun Clarita rasakan.
Sungguh, Ryan tak bermaksud menolak Clarita untuk menyentuhnya tapi dia benar-benar tak kuasa menahan bau darah yang mengalir di lengan gadis itu. Hal itu yang membuatnya tak tahan.
Dan mungkin pikiran Clarita benar jika Ryan memang bagian dari makhluk itu karena kini surai pria itu memerah.
"Ini benar kau?" Clarita bertanya untuk memastikan apa yang ada di hadapannya.
"Kau.. mereka mengubahmu?"
"Clarita kita tak punya waktu. Kau tak bisa pergi dari sini."
Huh? Apa?
"Aku tidak ingin pergi dari sini, mereka akan membunuh-
"Clarita kumohon jangan bodoh."
Lalu Clarita harus melakukan apa selain pergi? Dia tak mau mati begitu saja.
Dan Ryan tahu kekasihnya itu memang terkenal tak takut apapun. Dia sangat berani bahkan saat dia masuk kesini. Tapi caranya benar-benar tak bisa diterima. Kalau begitu, dia bisa dibunuh begitu saja.
Untung Ryan datang sebelum temannya yang lain yang menangkap gadis ini.
Setidaknya, Ryan mungkin bisa mencegah agar pemimpinnya tak membunuh Clarita. Dia tahu bagaimana sifat pemimpinnya yang kejam. Bahkan pada siapapun.
"Aku akan menyelamatkan mu dari sini, aku janji."
"Tapi kumohon, jangan melakukan apapun tanpa sepengetahuan ku."
Clarita tahu, meskipun pria itu sudah berubah, tapi dia tetaplah Ryan kekasihnya yang berusaha melindunginya.
"Ayo sekarang ikut aku."
"Clarita, aku akan menyelamatkanmu nanti. Percaya padaku."
Ya Clarita percaya dan pada akhirnya dia memilih untuk ikut bersama Ryan. Clarita masih percaya dan akan terus percaya meskipun pria itu sudah berubah sekalipun.
"Jadi kau lagi yang berulah?" Tatapannya begitu menakutkan meskipun Clarita sama sekali tak takut. Sungguh, dia bahkan menatap pria itu tajam tanpa ragu.
"Apa kau belum puas mengacau disini huh?"
Sayangnya gadis itu masih tak menjawab dan lebih memilih untuk diam meskipun dia bisa melihat jika pria itu masih dirundung emosi.
"Kau tahu? Berurusan denganku bukanlah ide yang bagus."
"Kecuali kau memang ingin bunuh diri."
Mendengar itu pun sontak membuat Ryan yang berada di sana shock karena ucapan pemimpinnya. Tentu saja dia tak mau Nathaniel melakukan sesuatu pada Clarita.
"Tuan maaf, sebaiknya kita masukan kembali dia ke-
"Siapa kau berani menyuruhku?"
Tentu, Nathaniel tak terima. Dia masih emosi. Jangan pernah ada yang mengganggunya.
"Apa kau pemimpinnya disini?"
Ryan hanya berusaha agar Nathaniel tak berbuat macam-macam pada Clarita.
"Bukan, maaf tuan."
Setelah itu Nathaniel beralih kembali pada gadis yang masih berada di hadapannya itu.
Di sana, Clarita masih diam.
"Kau pikir bisa kabur begitu saja dari sini?" Nathaniel bertanya dengan nada yang begitu mengintimidasi.
Tapi Sayangnya Clarita masih tak menjawab dan malah menatapnya penuh amarah. Tentu saja itu membuat Nathaniel tak terima. Pertama karena gadis itu tak menjawab pertanyaannya, dan kedua karena dia menatapnya seperti itu.
Dan hal selanjutnya yang membuat mereka lagi-lagi terkejut adalah saat Nathaniel tiba-tiba mencengkram leher Clarita begitu saja membuat gadis itu terkejut sekaligus sulit bernafas.
"Aku sedang berbicara padamu. Kau pikir kau siapa huh?"
"Apa kau merasa lebih kuat dariku?"
Dan Clarita semakin tak bisa bernafas saat Nathaniel semakin kuat mencengkram lehernya. Tapi sampai pria itu pada akhirnya melepaskan gadis itu membuat Clarita otomatis terbatuk untuk beberapa saat.
Di sana, Ryan tak bisa melakukan apapun selain diam. Dia tak tega tentu saja tapi disisi lain, dia juga tak bisa memperlihatkan jika dia mengenal Clarita.
Gadis itu benar-benar menyedihkan dengan melihat keadaannya yang seperti saat ini. Tapi Ryan yang masih di sana menatap gadis itu, malah dibuat terkejut saat Clarita bahkan melakukan hal yang tak ia duga.