
"KAU PIKIR AKU GADIS MACAM APA HUH???!!"
Ya gadis itu masih memakinya sementara Nathaniel masih terdiam setelah mendapatkan hal tadi.
Sungguh, dia ingin sekali mencekik gadis itu karena memukulnya. Dia ingin sekali membunuhnya kalau saja dia tak ingat jika Nathaniel membutuhkan gadis itu.
Dia bersumpah, tak ada yang pernah sekalipun berani melakukan itu padanya. Apa gadis itu tak berpikir jika Nathaniel bisa saja membunuhnya detik ini juga?
Tapi bukan bagaimana cara membunuh gadis itu yang sekarang Nathaniel pikirkan. Satu-satunya yang ada di dalam pikiran pria itu adalah..
Kenapa Clarita tak bisa dia pengaruhi?
Kenapa kemampuannya itu tak bekerja pada Clarita? Dia masih bisa melakukan itu kan? Tapi kenapa? Kenapa gadis itu bahkan tak menuruti ucapannya?
Pria itu kini menolehkan kepalanya ke arah Clarita yang masih terlihat geram. Tentu kalian bisa menebak bagaimana ekspresi Nathaniel saat menatap gadis itu. Dia benar-benar memendam amarahnya dan menahan dirinya agar tak mencekik gadis itu.
Clarita pun terlihat sama sekali tak gentar. Dia bahkan tak takut sedikitpun meskipun Nathaniel menatapnya dengan tatapan yang seperti ingin membunuhnya.
Dan Nathaniel pun pada akhirnya tak bisa melakukan apa-apa. Dia memilih untuk memendam amarahnya dan memejamkan matanya sebentar. Dia tak bisa melakukan apapun. Nathaniel membutuhkan gadis itu dan Audrey pasti akan memarahinya jika dia melakukan sesuatu pada gadis itu.
Ya sepertinya pergi dari sini adalah ide yang paling masuk akal dari pada melempar gadis itu ke ujung kamar. Baiklah, biarkan gadis itu memukulnya kali ini. Tapi Nathaniel tak akan membiarkan dia memukulnya lain kali.
Kini pria itu berdiri dan memutuskan untuk beranjak dari kamar. Dari pada sesuatu terjadi, lebih baik Nathaniel pergi. Ya lebih baik dia tak ada di sini dari pada dia mungkin menyakiti gadis itu.
Tapi perginya Nathaniel dari sana justru membuat Clarita bertanya. Dia justru kebingungan saat melihat pemimpin para Vampire itu keluar dan membanting pintu kamar begitu saja tanpa sepatah katapun.
Clarita berpikir jika Nathaniel mungkin akan mencekiknya seperti waktu itu. Dia pikir Nathaniel akan mencoba membunuhnya tapi ternyata pria itu pergi? Hey kenapa? Apa Clarita memukulnya terlalu keras? Tapi dia vampire seharusnya pukulan itu tak ada apa apanya. Lagi pula, seharusnya dia marah kan? Kenapa pria itu malah pergi?
Ah entahlah dia juga tak peduli.
BRAK!!!
Adiknya hanya bisa terkejut saat Nathaniel tiba-tiba saja datang dan menendang semua barang yang ada di dekatnya setelah dia baru saja keluar dari kamar yang dia masuki beberapa menit lalu.
Audrey mengira jika Nathaniel mungkin sudah melakukannya dengan gadis itu tapi nyatanya dia malah keluar dengan amarah yang bahkan membuat semua adiknya kebingungan. Oh tolong siapapun hentikan kakaknya itu. Dia bahkan membuat semua barang hancur.
"NATHANIEL HENTIKAN!"
Ya meskipun pada akhirnya dia berhenti, tapi emosi itu masih ada di wajahnya. Dia beberapa kali mengumpat karena kelewat kesal.
"Sebenarnya ada apa denganmu?"
Pria itu menarik nafasnya beberapa kali untuk meredakan emosi itu. Dia bahkan memejamkan matanya sesekali karena terlalu emosi.
"She punched me on the face."
Huh? Tunggu, gadis itu memukul Nathaniel? Ketiga adiknya terkejut sekaligus merasa bingung. Sungguh, gadis itu benar-benar berani memukul Nathaniel? Apa dia sudah bosan hidup?
"Dia memukulku bahkan saat aku belum melakukan apapun."
Bagaimana bisa? Bagaimana bisa gadis itu memukul Nathaniel? Bukankah dia pasti akan menuruti semua permintaan kakaknya?
"Kau baik-baik saja?"
"Dia menginjak harga diriku."
Ya tentu, dia seorang vampire bahkan dia pemimpin dari para vampire. Bagaimana bisa seorang manusia melakukan hal itu padanya?
"You did what i said right?"
Jovian merasa sarannya sangatlah benar. Dan dia merasa jika apa yang dia katakan pasti akan berhasil membuat gadis itu bertekuk lutut. Tapi kenapa tak berhasil? Kenapa dia malah memukul Nathaniel? Apa Nathaniel melakukan apa yang dia sarankan?