
"APA YANG KAU LAKUKAN?!"
"KAU MEMPERKOSANYA?!"
Nathaniel benar-benar bungkam saat Audrey begitu panik setelah melihat kakaknya baru saja keluar dari kamar Clarita. Audrey bahkan terus menuntut jawaban Nathaniel sementara pria itu masih diam tak menjawab saat mereka berjalan menjauh dari kamar Clarita.
Ya dia bungkam, dengan pakaiannya yang sedikit berantakan memperlihatkan sedikit dadanya karena tak terkancing sempurna.
Setelah beberapa menit memasuki kamar Clarita dengan amarah yang memuncak, Audrey semakin yakin jika Nathaniel melakukan sesuatu pada Clarita. Apa lagi melihat keadaan kakaknya yang seperti itu.
Raut wajahnya kini sudah tak terlalu memperlihatkan kemarahannya seperti sebelumnya. Nathaniel yang sebelumnya begitu emosi, kini entah kenapa malah terlihat berbeda. Ekspresi pria itu sulit dijelaskan.
Dia bahkan lebih memilih bungkam dan lebih tertarik untuk menuangkan wine nya setelah sampai di kamar dari pada menjawab Audrey. Ada apa? Kenapa Nathaniel malah diam dan tak menjawab pertanyaannya?
"Nathaniel jawab!"
Tidak, dia masih diam, bahkan Audrey seperti orang gila saat Nathaniel lebih memilih meneguk habis minuman yang tadi ia tuang.
"Kau benar-benar melakukan itu? Apa yang kau pikirkan?"
Tidak, Audrey tak tahu apa yang terjadi. Dia sama sekali tak tahu apa yang Nathaniel lakukan beberapa menit yang lalu.
"Oh Tuhan, kenapa kau melakukannya.." Jujur, Audrey menyayangkan sikap kakaknya jika memang benar Nathaniel melakukan sesuatu pada Clarita.
Nathaniel benar-benar terlalu menghadapi semuanya dengan emosi. Dia bahkan tak memikirkan bagaimana perasaan Clarita setelah itu. Bagaimana jika gadis itu semakin membencinya? Bagaimana jika semuanya semakin buruk? Clarita pasti semakin sulit untuk didekati.
Tapi alih alih mengklarifikasi semuanya, Nathaniel masih memilih untuk bungkam. Dia benar-benar diam seribu bahasa meskipun tuduhan yang ditayangkan Audrey padanya belum tentu benar. Dia lebih memilih membuka dan mengganti pakaiannya di sana sambil mencoba tak peduli dan membelakangi Audrey.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Clarita pasti semakin membencimu."
"Dia pasti ketakutan."
Sungguh, berapa kali pun Audrey mengoceh, Nathaniel bahkan hanya diam. Ya dia benar-benar seperti tak peduli sedikitpun dengan pertanyaan adiknya.
Tapi hal itu tentu saja membuat Audrey semakin kesal. Gadis itu ingin sekali memarahi Nathaniel saat menatap kakaknya yang malah bungkam seperti tak terjadi apa-apa.
Apa sih mau Nathaniel? Kenapa Nathaniel malah menjadi pengecut seperti ini? Kenapa dia tak mencoba membela diri atau minimal mengeluarkan suaranya? Kalau memang dia melakukannya, kenapa dia terlihat aneh? Dan kalau pun tidak, kenapa Nathaniel tak mencoba membela dirinya sendiri?
Kesabarannya habis, Audrey tak bisa membiarkannya begitu saja.
"Kau akan diam seperti itu terus?"
Ya Audrey sudah benar-benar kesal. Dia sudah beberapa kali bertanya tapi Nathaniel tak kunjung menjawabnya seperti dia tak mendengar apapun.
Tapi sampai Nathaniel yang semula diam tak menjawab pertanyaanya, kini akhirnya ikut menatap Audrey setelah pertanyaan terakhir itu keluar dari mulut adiknya. Pria itu akhirnya menatap Audrey dengan tatapan yang masih sangat sulit dijelaskan. Dia menatap adiknya marah dan sedikit terlihat jelas ada perasaan yang mengganggunya di sana.
Tapi bukannya menjawab pertanyaan Audrey sebelumnya, Nathaniel selanjutnya malah mengusap kasar wajahnya dan terlihat jelas jika dia sedang berpikir.
Di sana, ada perasaan kesal, namun ada juga perasaan bersalah.
"Bisakah kau menolongku?"
Mendengar itu, Audrey pun seketika kebingungan.
Huh? Minta tolong? Kenapa Nathaniel malah meminta tolong? Audrey kan ingin jawaban dari Nathaniel kenapa dia malah minta tolong?
Ekspresinya masih sama, sementara Audrey menunggu pria itu melanjutkan.
"Tolong lihat keadaanya. Apa dia baik-baik saja atau tidak."
Sampai setelah itu, Audrey kembali melongo.
Huh?
Sungguh, Audrey semakin tak mengerti. Tunggu, serius? Nathaniel mengatakan itu? Dia minta tolong..untuk mengecek keadaan Clarita? Bukannya Nathaniel tak pernah peduli pada gadis itu ya? Kenapa Nathaniel justru menyuruhnya melakukan hal itu?
"Dia masih di kamarnya dan aku yakin dia masih sangat ketakutan."
Dan Audrey pun kembali melongo di sana. Percayalah, Nathaniel tak pernah terlihat seperti itu sebelumnya. Audrey melihat jika Nathaniel seperti sedang merasa bersalah setelah apa yang dia lakukan pada Clarita.
"K-kau.. tak melakukan sesuatu padanya kan?"
"Lihat saja keadaannya. Tenangkan dia, supaya tak menangis lagi."
Dan sampai kalimat itu, Audrey langsung pergi dari ruangan itu lalu berlari menuju kamar Clarita dengan terburu. Meskipun pertanyaannya belum terjawab kenapa Nathaniel seperti itu, tapi dia lebih memilih melihat keadaan Clarita terlebih dahulu.
Clarita pasti benar-benar ketakutan. Dia pasti menangis dan trauma dengan kejadian beberapa menit lalu gara-gara Nathaniel.
Sebenarnya apa yang dilakukan kakaknya itu? Awalnya Nathaniel masuk dengan keadaan begitu emosi. Tapi tadi, dia bahkan terlihat tak seperti biasa. Nathaniel seperti terlihat merasa bersalah setelah keluar dari kamar Clarita. Ada apa? Dan lagi, kenapa juga dia harus menyuruh Audrey mengecek keadaan gadis itu? Aneh sekali.
Tapi beberapa lama Audrey berjalan di lorong, gadis itu kini sudah tiba di depan pintu kamar Clarita dan langsung membukanya tanpa aba-aba begitu tiba di sana.
Sampai..
Brak
Untuk beberapa detik, Audrey terdiam.
Oh Tuhan..
Kalian tahu? Keadaan kamar Clarita begitu berantakan dengan selimut dan semuanya yang begitu berhamburan.
Jangan lupakan seseorang yang menjadi tujuannya kesini. Ya Audrey melihat Clarita di sana, di bawah lantai dengan dia yang memeluk lututnya sambil menangis.
apa yang Nathaniel lakukan?
"Clarita!"
Detik itu juga, Audrey berlari menghampiri Clarita yang duduk di sana dan langsung memeluk gadis itu.
Sungguh, meskipun mereka tak terlalu dekat, tapi mereka sama-sama perempuan. Audrey bisa merasakan apa yang Clarita rasakan saat ini. Apa lagi, yang melakukan semua ini adalah kakaknya sendiri.
"Kau tak apa apa?" Kini Audrey mengecek keadaan Clarita setelah memeluknya. Pakaiannya memang masih lengkap tanpa kekurangan apapun. Hanya saja Clarita belum berhenti menangis.
"Clarita, tenanglah, jangan takut." Ya Audrey masih berusaha menenangkan gadis itu.
Oh sungguh, dia tak tega melihat Clarita. Dia pasti tak menyangka Nathaniel akan melakukan hal yang membuatnya sangat ketakutan.
Ya, siapa yang bisa santai saja saat ada laki-laki yang tiba-tiba masuk ke kamar lalu menyerangnya begitu saja? Tentu Clarita hanya gadis biasa seperti yang lainnya. Tak ada yang mau diperlakukan seperti itu oleh seorang pria. Tak ada yang mau dipaksa, apa lagi dipaksa untuk ditiduri. Dan Audrey mengerti bagaimana takutnya Clarita sekarang.
Mungkin dia berani, tapi tetap saja Clarita tak akan bisa melawan Nathaniel yang lebih kuat darinya. Apa lagi pria itu tengah direndam emosi.
"Apa Nathaniel menyakitimu?" Tanya Audrey lagi.
Tentu saja Clarita belum menjawab. Oh bahkan dia masih belum berhenti mengeluarkan air matanya. Dia juga masih sangat ingat kejadian itu. Dia masih sangat ingat bahkan semua yang Nathaniel lakukan padanya.
Dari mulai pria itu yang tiba-tiba masuk ke kamarnya sampai..
Halo para readers😊
Aku ada pengumuman nih!!
Kalo kalian gk suka karya aku ini kalian gk usah baca aja,ngampang kan!!
Aku gk ngelarang kalian ko kalo kalian gk suka sama novel ini!!
Kalo kalian suka nya suka
Kalo kalian gak suka nya gak suka
Terus kalo misalnya kalian buat cerita yang alur nya acak-acakan,ceritanya gak bakal nyambungkan!!
Benar gak??
Tolong hargai karya seseorang dengan cara menyemangati bukannya berkomentar yg gak enak😒.
Udahnya males berdebat+ngetik😂