
Dan dia tahu pasti jika Audrey tengah menahan sakitnya di sana. Itu juga yang membuat Jevon memilih untuk menutupi pandangan gadis itu dari sana agar Audrey tak lagi menatap ke arah sana.
Jevon tak mau melihat gadis itu bersedih.
Tapi.. jika Audrey sedih, bagaimana dengan dirinya?
Oh ya bukankah apa yang Audrey alami juga dia alami saat ini? Ya mereka sama, mereka punya nasib yang sama.
Jevon juga memutuskan untuk menghampiri gadis itu karena tak tahan. Dia tak tahan memikirkan bagaimana perasaan Audrey saat melihat pemandangan di depannya.
Percuma, percuma dia menyukai Jovian. Sampai kapanpun kakaknya tak akan pernah melirik perempuan lain selain wanita yang masih dia pikirkan sampai detik ini.
Secantik apapun, sebaik apapun, Jovian tak akan pernah berpaling dari wanitanya.
Dia tak akan pernah berpaling dari Vanessa .
Vanessa? Oh kalian akan tahu nanti.
"A-aku hanya kebetulan lewat."
Sungguh itu benar-benar konyol. Bahkan dari tadi gadis itu hanya diam di sana dan memandangi kakaknya. Apa Audrey berpikir jika Jevon tak melihat itu?
"Sudahlah aku mau pergi."
Tapi belum sempat Audrey beranjak dari sana, Jevon tiba-tiba menahan tangannya sampai kini pandangan mereka bertemu. Jevon menatapnya, tanpa mengeluarkan satu patah katapun sementara Audrey hanya menunggu sampai pria itu kini berbicara.
"Kau tahu?"
Gadis itu masih diam menunggu kakaknya berbicara lagi.
"Ada hal yang lebih menyakitkan dari pada cinta sendirian."
Huh? Apa maksudnya? Cinta sendiri? Kenapa Jevon tiba-tiba membahas itu?
Audrey masih menunggu.
Deg
Audrey melongo. Dia bahkan tak melakukan apapun saat Jevon kini sudah pergi meninggalkannya. Dia diam karena dia tak mengerti apa yang baru saja dia dengar.
Apa maksud Jevon? Apa dia sedang menyindirnya?
Ketegangan itu masih Clarita rasakan saat pria di depannya bahkan masih tak mengeluarkan satu katapun.
Jantungnya juga masih berdetak kencang saat pria itu menatapnya tanpa ekspresi. Apa yang dia mau? Kenapa dia datang saat Clarita bahkan ditempatkan di sini?
Kalian tahu? Vampire sialan itu bahkan seenak jidatnya mengunci kamar yang Clarita tempati tanpa aba-aba. Bahkan dia membuka jas nya begitu saja setelah itu. Dan Clarita tentu merasa jantungnya kini semakin berdebar. Clarita merasakan jika pria itu mengarahkan tangannya mendekat. Clarita bukan takut pada pria itu. Dia hanya takut jika pria itu melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya.
Oh mau apa dia? Jangan sampai Clarita melayangkan pukulannya ke rahang pria itu.
Tapi saat Clarita berpikir jika vampire itu akan melakukan hal berbahaya, Clarita akhirnya sadar jika dia hanya melihat kalung yang Clarita pakai.
Kalung berbentuk salib yang ibunya berikan untuk menghindari vampire.
Oh ibunya pasti bercanda. Bahkan kalung itu sama sekali tak membuat vampire itu takut. Alih alih takut, pria itu bahkan menatapnya sebentar lalu menarik kalungnya begitu saja sampai benda itu terlepas dari leher Clarita.
Hey apa yang dia lakukan?
Kalian tahu apa selanjutnya? Pria itu bahkan membuangnya begitu saja. Sial, itu pemberian ibunya, dan dia seenaknya merusak kalung itu? Clarita benar-benar ingin marah.
Tapi hampir saja dia memaki pria itu, Clarita mengurungkan niatnya saat vampire sialan itu tiba-tiba menunduk menyamakan wajah mereka.
Tatapannya masih sama, tajam dan menusuk.
"Kau tahu kan kenapa kau berada di sini?" Ya dia bertanya masih dengan wajah menyeramkannya.
Tapi mendengar pertanyaan pria itu, Clarita hanya bisa menjawab jika dia tak tahu pasti. Dia tahu apa tujuan pria yang katanya pemimpin itu mengumpulkan semua wanita di kota. Tapi dia tak yakin jika keberadaan Clarita untuk itu. Ya, untuk dijadikan wanita yang melahirkan bayinya. Oh dia tak salah kan? Memangnya Clarita mau tidur dengannya? Dan lagi pula memangnya vampire itu mau tidur dengannya setelah apa yang Clarita lakukan padanya? Vampire itu pasti membencinya karena Clarita yang selalu membangkang.