
''Lho Kak gapain kesini''.tanya Jio saat melihat sang Kakak berdiri tepat didepan ruagan Ara.
''Eh...tidak Ka..kak...ada perlu...ya ..ada perlu degan sahabat Kakak''.lirihnya tergagap sambil menghapus air matanya degan tagan membuat Jio heran.
''Kamu gapain kesini''.tanya Fio yang juga heran melihat sang Adik datang kerumah sakit padahal keluarga mereka tidak ada yang sakit.
''Temen Jio sakit Kak''.jawabnya pendek''.
''Oh ya sudah Kakak pergi dulu''.ucapnya sambik berjalan menjauhi sang adik.
Setelah kepergian Fio. Jio langsung masuk kedalam ruagan tempat Ara dirawat.
Saat Jio mesuk Ara sudah kembali tertidur setelah ditenagkan sang Ayah.
''Om gimana keadaan Ara''.tanya Jio setelah meletakkan beberapa barang yang sempat iya beli sebelum iya kerumah sakit.
''Ara sudah sadar tapi''.jawaban Adit terhenti beliau menarik nafasnya sejenak.
''Tapi kenapa Om''?..desak Jio tek sabaran.
''Ara tidak bisa melihat Nak''.lirih Bapak yang membuat tubuh Jio membeku ditempat.
''Gak ...gak...gak...mungkin Om''..lirihnya tidak percaya.
''Ini gak mungkin kan Om''..tanyanya lagi yang sambil menghadap Ara dan menatap wajah gadis itu degan sedih.
''Ini lah yang terjadi Nak''..mohon bantu anak Bapak untuk bangkit dari keterpurukannya.mohon Adit yang diangguki Jio.
Sudah satu bulan berlalu sejak satu minggu yang lalu Ara juga sudah diperbolehkan pulang sesekali iya kerumah sakit untuk melakukan terapi agar iya bisa melihat lagi. Jio laki-laki itu dan sahabatnya Mily lah yang selalu menemaninya.
Sementara Fio laki-laki itu masih terus berusaha untuk mendapatkan maaf dari Adit iya selalu meminta untuk bertemu Ara dan bertanggung jawab untuk kesembuhan gadis yang iya tabrak kemaren. tapi sayang tak sekalipun Adit memberikan izin dirinya untuk menemui Ara,Fio sungguh tidak tau bahwa sang adiklah yang selalu megurus semua kebutuhan Ara,karna iya tidak pernah bertemu Jio pada saat dirinya memperhatikan Ara dari kejauhan pada saat jam istirahat kantor.
Dan haru ini dirinya kembali lagi mendatangi rumah dimana temapat Ara tinggal terlihat seorang gadis duduk termenung seorang diri dikursi taman yang tidak jauh dari rumahnya.
Fio berjalan menghampiri Ara iya duduk perlahan disebelah Gadis yang sama sekali tidak meyadari kehadirannya.
''Apa saya boleh duduk disini''. lirihnya meminta izin padahal dirinya sudah duduk sedari tadi sambil menatap wajah cantik Ara degan penuh kekaguman,sungguh wanita ini sagat cantik meskipun tampa polesan make up.
''Silahkan''.jawab Ara sambil menggeser duduknya menjauh tapi karna iya sama sekali tidak bisa melihat membuat iya terjungkal kesamping,degan cepat Fio menarik tagan Ara dan memeluk gadis itu.
Mata mereka beradu Fio bisa merasakan nafas Ara yang memburu dan detak jantung yang berpacu sagat cepat.
''Maaf''. lirih Fio berusaha untuk menjauh.
''Terima kasih''.jawab Ara sambil meraba-raba untuk mancari tongkat yang selalu iya bawa.
''Ini''.tunjuk Fio sambil meyerahkan tongkat milik Ara ketagan gadis itu.
Ya kini Adit dan Ayu sudah memulai usahanya kembali mau bagai mana lagi mereka harus tetap semagat demi kesembuhan sang anak semata wayang mereka. karna degan berjualan mereka bisa menghasilkan uang untuk megobati Ara.
''Sayang kamu dari mana Nak''.tanya Ayu saat Ara baru masuk kedalam rumah.
''Ara dari taman depan Bu''.lirihnya sambil duduk dikursi ruang tamu.
''Jagan pergi jauh-jauh Nak Ibu takut kamu kenapa-napa''.ucap Ayu degan nada kwatir.
Ara hanya menaggapinya degan terseyum.
''Ara baik kok Bu''.
''Ya sudah Ibu kedepan dulu ya membantu Ayah''..papit Sang Ibu yang diangguki Ara.
Setelah kepergian Ayu Ara masuk kedalam kamar iya kembali lagi menumpahkan semua kesedihannya disana.
Ya itu lah yang selalu Ara lakukan iya akan tegar jika berada didepan orang-orang tapi iya akan rapuh dan lemah jika sudah sendirian.
Dirumah Fio sudah sejak lama hubugannya degan Sonia memburuk itu semua berasal dari saat dirinya melihat Sonia jalan degan laki-laki lain. tapi sampai saat ini wanita itu masih enggan untuk berpisah darinya alasannya karna iya tidak megakui semua yang dikatakan Fio itu benar.Sonia berkilah pada saat Fio megatakan kepada kedua orang tuanya bahwa dirinya akan menceraikan Sonia,tapi kedua orang tuanya megancam akan megambil alih perusahaan keluarga yang sekarang sedang iya jalankan.
Fio sungguh tak igin usaha yang dirintis sang Ibu jatuh ketagan Ibu tiri dan adik tirinya yang serakah dan matre.
Ya Fio dan Jio ada lah saudara kandung Fio sungguh sagat meyeyangi adik bungsu semata wayangnya itu iya sudah berjanji pada sang ibu bahwa dirinya akan melindunggi Jio apapun caranya.
Sedangkan kavier adalah adik tirinya.anak laki-laki yang dibawa oleh istri muda sang Ayah.
Itu lah sebabnya Fio mempertahankan perusahaan milik sang Ibu,yang sudah tiada.
Degan mati-matian bahkan laki-laki itu sama sekali tidak mempercayai semua urusan kantor kepada orang lain termasuk sang Ayah.
Karna setelah menikah degan Ibu tirinya kini sang Ayah menjadi mainan bagi wanita ular itu. bahkan sang Ayah mau menuruti apa saja yang wanita ular itu iginkan itu semua membuat Fio merasa jijik.
''Saya igin menikah lagi''.ucapan Fio yang membuat Sonia membeku pada tempatnya.
''Menikah''.
''Ya menikah aku harap jika kamu tidak igin berpisah dariku paling tidak izinkan aku untuk menikah lagi''.
''Jika tidak segeralah pergi dari sini aku benar-benar muak deganmu''.sambung Fio lagi.
''Hem baiklah kapan kau akan menikah''...
Tbc.