
''Mas janji tidak akan pernah mengangu Adek lagi''.lirihnya sambil melangkah pergi.
''Mas''.Ara langsung berlari dan langsung memeluk suaminya dari belakang.
"Maafkan Ara Mas".pintanya sambil tetap memeluk punggung Fio.
Sementara Fio laki-laki itu kini membeku ditempatnya,tampa bisa berbicara sepatah kata pun.semua ini bagaikan mimpi baginya,Ara memeluknya"?..apakah itu artinya wanitanya itu sudah mau memeaafkannya"?.
''Ara minta maaf Mas,jagan pergi''.
Fio tetap tak bergeming,tubuhnya mematung ditempatnya berdiri.
''Maafkan Ara Mas''.Ara sudah mulai menangis karna Fio sama sekali tak merespon dirinya.
Fio sepontan berbalik,iya menatap wajah istrinya degan wajah sendu.
Perlahan tagannya terjulur untuk menghapus air mata istrinya itu,kemudian menarik tubuh Ara kedalam dekapannya.
''Maafkan Ara Mas''?..lagi-lagi hanya kata itu yang mampu iya ucapkan.
''Sudah lah Adek wajar marah degan semua ini, Maafkan Mas yang belum bisa membuat Adek bahagia".
Ara mengeleng dan membenamkan kepalanya didada bidang sang suami.menumpahkan tagisnya disana.hatinya benar-benar luluh sekarang,ternyata bukan salah Fio sepenuhnya, semua yang terjadi antara mereka adalah takdir.kini iya baru menyadari jika cintanya untuk Fio begitu besar,hinga iya sulit untuk membuka hati untuk peria lain termasuk Rifki,meskipun laki-laki itu terus saja mendekatinya namun nyatanya tak sedikitpun membuat hatinya bergetar.
"Mas rindu sayang".lirihnya sambil menagkupkan wajah istri kemudian mengecup keningnya wanita itu lembut dan kembali berbicara.
"Jagan tinggalkan Mas lagi,Mas bisa gila jika Adek pergi lagi".
Ara diam kemudian mengeleng dan kembali membenamkan wajahnya didada sang suami.
"Mas kagan sayang".lirihnya membuat Ara mendongak menatap wajah tampan suaminya.
Perlahan wajahnya mendekati istrinya lebih dekat lebih dekat dan.
"Cup".
Perlahan Fio mengecup lembut bibir sang Istri,rindu yang menggebu-gebu membuatnya terhanyut dan mengiginkan lebih dari wanitanya itu.
"Mas".panggil Ara degan suara setengah mendesah membuat Fio semakin bersemagat.perlahan tagannya terulur dan mengangkat tubuh istrinya diatas tempat tidur hotel.
Kemudian Fio membuka Jas,kemejanya, kemudian merangkak naik diatas tempat tidur dan mengukung tubuh istrinya.tagannya terulur untuk membuka hijap istrinya hinga memperlihatkan rambut panjang dan wajah cantik yang selama ini iya rindukan.
Perlahan tagannya turun kebawah dan membuka satu persatu kancing kemja yang dikenakan istrinya namun.
"Mas".Ara menahan pergerakan tagan Fio.
"Kenapa Sayang"?
"Ara belum siap Mas Ara masih takut".lirihnya sudah igin menangis,mengigat saat dirinya diperkosa oleh laki-laki yang sama sekali tidak bisa iya lihat dan sama.m sekali tidak pernah iya lihat sampai sekarang.
Ya Ara memang tidak mengetahui jika yang pernah memperkosanga sudah tiada dan orang yang telah mendonorkan matanya adalah orang yang telah memperkosanya,karna Fio sama sekali tidak memberitahukannya.
"Ini Mas Dek".lirih Fio langsung mengcup bibir sang istri kembali,agar Istrinya itu kembali rilek dan lebih tenang dan akhirnya malam itu Fio mendapatkan apa yang sudah lama tidak iya rasakan.
"Makasih sayang".ucapnya setelah beberapa kali mendapatkan pelepasan,hinga membuat istrinya itu tertidur karna kelelahan.
Fio mengecup seluruh wajah istrinya berkali-kali,merasa tidak yakin dengan semua yang terjadi.iya benar-benar tidak menyangka jika iya bisa bertemu dengan istrinya disaat perjalanan bisnisnya dikota cianjur.
Fio meraih selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya,kemudian turun dari tempat tidur.Fio meraih celana boxser yang tergeletak dilantai dan memakainya.kemudiam doi mengambil smartpthone yang ada didalam saku celananya yang juga teronggok diatas lantai.
kemudian iya menekan nama Ikhsan disana.tak berselang lama tersengar jawaban dari seberang sana.
''San tolong bawakan koper saya kemari''.setelah mengatakan itu semua Fio langsung memutuskan sambungan telfon tampa mau mendengarkan jawaban Ikhsan.
Tak berselang lama terdengar pintu kamar diketuk.
Fio berjalan mendekati pintu terlihat Ikhsan berdiri didepan pintu dengan wajah kantuknya sambil membawa koper.
Kepalanya melongok melihat kedalam kamar bosnya itu,namun belum sempat Ikhsan melihat kedalam suara Fio menghentikan kekepoannya.
''Dia istri saya''.ucapan Fio mampu membuat Ikhsan jatuh cinta dan patah hati dihari yang sama.
''Sudah sana''.
''Baik Tuan saya permisi''.jawab Ikhsan degan wajah lesu.
''Nasip mu Ikhsan selalu mencintai orang yang salah''. lirihnya bernada lesu.kemudian melangkah memasuki kamarnya dan kembali terlelap.
Perlahan Fio menarik tubuh polos istrinya kedalam dekapannya,hingga membuat tubuh mereka nempel maksimal kemudian terlelap
Subuh menjelang.
''Sayang bagun''.Fio mengecup seluruh wajah istrinya membuat wanita itu terusik.
''Eemm''.lirihnya bergumam.
Membuat Fio terkekeh geli melihat istrinya,Fio menopang kepalanya dengan tagan kirinya semntara tagan kanannya iya gunakan untuk mengusili sang Istri.
"Bagun sayang sudah subuh".
"Maas".lirih Ara degan suara manja membuat Fio outo terpancing.
"Maas".Ara langsung terpekik saat menyadari bahwa suaminya kini sudah berada diatasnya.
Dan yah akhirnya mereka melakukan lagi dan lagi,lamanya tidak mendapatkan nafkah betin membuat mereka sama-sama menggila.
"Ayo mandi sayang".ucap Fio langsung membopong tubuh polos sang Istri menuju kamamar mandi.
Selesai mandi Fio lagi-lagi mengangkat tubuh Istrinya.
Inilah yang sagat Ara rindukan,dimana suaminya itu selalu memanjakannya,meskipun dirinya sekarang sudah bisa melihat.tapi laki-laki itu tetap saja memaksanya untuk melakukan hal yang sama yaitu membantunya mandi bahkan memakaikan handuk untuknya.
Entah kenapa kini iya merasa bersalah,karna telah meninggalkan suaminya itu,itu semua karna iya sudah mengetahui yang sebenarnya terjadi.begitu bidoh dirinya karna tidak mau mendengarkan alasan dan deritaan apa yang telah suaminya jalani.
"Ayo solat sayang".
"Tapi mukena Ara ngak ada Mas".
"Aduh".Fio langsung menepuk keningnya setelah menyadari kesalahannya.
"Maaf sayang".
"Mas bisa tolong ambilkan tas Ara yang Ara simpan dilemari disamping meja resepsionis"?.
"Iya sebentar".
Fio langsung berjalan mendatangi kamar sang asisten.
"Ikhsan".
"Tok..tok..tok..
"Krek".pintu terbuka menampilkan wajah Ikhsan yang sudah siap dengan baju kokonya.
"Ada apa tuan"?
"Bisa tolong ambilkan tas istri saya yang disimpan didalam lemari yang ada diruagan resepsionis.
"Bisa tuan sebentar".
"Saya tunggu dikamar".
"Baik Tuan".jawabnya singkat kemudian melangkah pergi.
"San".
"Apa peak"?..
''Sebentar San''.
''Apa sih gue buru-buru ini''.
🌹🌹🌹🌹🌹
Jagan lupa dukugannya hadiah like vote and komen makasih.
Bay..bay...😍😍😘😘
Maaf masih banyak typo🙏🙏
Tbc.