
''Oh..ya''.
''Kak Fio kemana kok rumah sunyi ini kan akhir pekan''.Jio bertanya sambil melihat-lihat seisi rumah.dirumah Kakaknya ini bisa dikatakan sama sekali tidak ada perabotan padahal setau dirinya dulu rumah ini penuh degan peralatan mewah,tapi kemana barang-barang itu semua, Jio tau Kakaknya melakukan ini semua agar istrinya bisa berjalan degan leluasa didalam rumah.entah kenapa hatinya bisa sedikit lebih tenang karna bagai mana pun Kakaknya memperlakukan wanita yang iya cintai degan baik,apakah itu artinya Jio harus melupakan Ara''?...
Ya...mungkin inilah saatnya dirinya untuk melupakan kakak iparnya itu,walau bagai manapun cintanya sekarang sudah salah iya mencintai wanita yang salah.
"Ara lho mau kemana''.Jio panik saat melihat Ara igin berlari menuju kamar mandi.
''Huek...huek lagi-lagi Ara merasa mual perutnya terasa diaduk-aduk.
''Brukk''..
''Ara''...pekik Jio saat melihat Kakak iparnya itu ambruk,untung saja iya degan sigap menagkap tubuh lemah Ara.
''Bi..bibik''...pekik Jio panik sambil membopong tubuh Ara menuju kemobil.
''Iya tuan eeh..ini Non Ara kenapa bisa sampai pingsan begini''.tanya Bik Mun yang berlari tergopoh-gopoh megikuti langkah kaki Jio.
''Gak tau Bik ayo ikut''kita bawa kerumah sakit''.Jio berbicara sambil membukakan pintu mobil degan bersusah payah kemudian iya memasukkan Ara setelahnya iya duduk tepat disebelah Kakak iparnya dan memangku kepala wanita itu degan perasaan tak menentu.
''Bik panggilkan supir''.pinta Jio saat melihat Bik Mun malah diam terbegong.
''Ehh iya tuan muda''.ucapnya sambil berlari untuk memanggil sang supir.
Hampir setegah jam mereka diperjalanan hinga mobil yang mereka tumpanggi sampai didepan ruamh sakit.
Jio degan cepat membopong tubuh lemah Ara.
''Dokter tolong''. lirihnya sambil tetap membopong tubuh Ara.
Hampir setegah jam iya menunggu Dokter memeriksa Ara.hingga beberapa saat kemudian terlihat pintu ruagan IGD terbuka seorang dokter wanita melangkah keluar degan cepat Jio melangkah mendekati sang Dokter.
''Bagai mana Dokter dia gak apa-apakan''.pertanyaan Jio membuat Dokter wanita itu terseyum.
Beda degan Jio laki-laki itu malah heran kenapa dokter ini sedari tadi hanya terseyum.
''Selamat ya Pak sepertinya istri Bapak hamil''.
''Deek''.jantung Jio berdetak kencang.
''Hamil''?..
Ara hamil bukan kah itu artinya yang ada dirahim Ara adalah keponakannya,harusnya Jio senang kan''?.. tapi kenapa hatinya malah terasa sakit.
''Pak''.panggil Dokter wanita itu lagi karna melihat laki-laki didepannya ini hanya diam saja.
''Eh..iya makasih''.
''Apa saya sudah bisa menjengguknya''.
''Sebentar lagi istri bapak akan dipindahkan keruagan perawatan''.
''Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu''.Jio hanya meganguk saja pikirannya kini benar-bemar buntu.
Disatu sisi iya igin melupakan Ara tapi disisi lain terkadang hatinya selalu berhianat nyatanya sampai sekarang cintanya masih tetap sama, itu lah sebabnya Jio sama sekali tak pernah mendatangi runah sang Kakak, iya sungguh tak sanggup melihat kemesraan bahkan kedekatan Wanita yang iya cintai degan laki-laki lain meskipun itu Kakaknya sendiri.
Terlihat wanita yang sudah menjadi Kakak iparnya itu masih belum sadar tagannya sudah dipasangi Infus entah kenapa rasanya sulit sekali untuk melupakan wanita ini''.
''Bik Kak Fio kemana''.tanya Jio kepada Bik Mun yang setia duduk disebelah majikannya.
''Saya kurang tau Den tapi tadi Non Ara bilang den Fio ada kerjaan diluar kota''.
''Oh...''.jawabnya singkat pantasan saja Kakaknya itu tidak ada dirumah sebenarnya Jio sagat kasian degan sang Kakak, dihari minggu seperti ini yang seharusnya dipakai untuk istirahat dan berkumpul bersama keluarga Kakaknya itu masih saja sibuk bekerja.
Sementara sang Papa,Saudara tirinya bahkan Ibu tirinya bersenang-senang degan hasil jerih payah dari Kakaknya.itu pun keluarganya tidak pernah mau bersyukur.bukannya bersyukur mereka malah igin manghancurkan Kakaknya.
''Sayang''.Fio datang degan nafas yang gos-gosan akibat berlari kesana kemari, mencari keberadaan sang istri.sebenarnya iya baru saja pulang dari surabaya,tapi saat iya sampai dirumah satpam rumah megetakan jika istrinya dibawa kerumah sakit,untung saja supir yang megantarkan Ara tadi sudah kembali jadi iya bisa tau alamat rumah sakit dari beliau,jika tidak sudah bisa dipastikan iya akan kalang kabut mencari istrinya.
''Sayang kamu kenapa''.Fio bertanya sambil berlari menghampiri sang istri yang menghadap kan wajahnya diarah suara sang suami tapi sayangnya yang bisa iya lihat hanya kegelapan.membuat hatinya kembali pedih degan air mata yang mulai mentes.
''Lho sayang kok nagis''.Fio membingkai wajah sang istri dan menghapus air mata yang membasahi wajah istrinya itu.
''Kamu kenapa sayang''.lagi-lagi Fio bertanya karna sedari tadi iya belum mendapatkan jawaban.
''Ara gak apa-apa kok Kak''.ucap Jio sambil berjalan menghampiri sang Kakak kemudian menepuk bahu Kakaknya dan berkata.
''Selamat ya sebentar lagi Kakak jadi Ayah''.
''Maksudnya''. Fio bertanya untuk memaskltikan pemdegarannya.
''Dokter bilang kemungkinan besar istri Kakak hamil''.
''Tapi untuk lebih memastikan Kakak bisa periksakan kedokter kandugan langsung''.
''Benaran sayang''.tanya Fio degan wajah berbinar.
''Iya Mas''.jawab Ara sambil terseyum.
''Yes.....akhirnya gue bakalan jadi Ayah''.
''Dek bentar lagi Kakak punya Anak''.Fio berbicara sambil memeluk sang adik degan air mata yang sudah mulai menetes.
''Iya selamat ya Kak''.lirih Jio terseyum getir.
''Cup...cup...cup...Fio melepaskan pelukannya dari sang adik kemudian membingkai wajah sang istri dan megecup seluruh wajahnya degan perasaan tak menentu.
''Makasih sayang''.
🌹🌹🌹🌹🌹
Yeee....akhirnya babang Fio bakalan punya anak.
''Boleh donk untuk kabar gembiranya outhornya dikasi hadiah like vote and komen.
Mampir juga dinovel ku yang lain ya''?..
TBC.