
''Iya coba buka matanya pelan-pelan''.
''Iya bagai mana''?..
Ara mengerjap-ngerjapkan matanya yang sedikit buram kemudian menjawab.
''Pandagan saya masih buram Dokter''.
''Itu hal yang biasa,beberapa saat nanti pandagannya akan kembali normal dan itu artinya operasi matanya berhasil''.
''Alham dulillah''.lirih semua yang ada disana mengucapkan syukur.
"Kalau begitu kapan saya bisa pulang Dokter".
"Besok pagi sudah bisa pulang,untuk hari ini alangkah lebih baik kamu istirahat dulu dirumah sakit''.jawab Jo sambil berdiri dan berbalik menghadap kearah Jio yang hanya berdiri terpaku.
"Semoga Fio cepat sembuh,sampaikan salam Kakak buat dia".
"Iya Kak".jawab Jio sambil tersenyum.
****
Sejurus kemudian Ara melihat sekeling ruagan.
meskipun masih buram namun iya bisa melihat wajah Jio dan seorang wanita paruh baya yang iya yakini itu adalah Bik Mun.
Entah kenapa igin sekali rasanya iya melihat wajah suaminya,dimana suaminya itu sekarang''?.. biasanya Fio selalu ada disisinya namun sekarang kemana laki-laki itu''?..apa Fio sudah pergi jauh darinya,apa mungkin yang dikatakan Sonia benar bahwa Fio menikahinya hanya sebagai tanggung jawab atas kecelakaan itu atau untuk menutupi semua kesalahannya.dan mungkinkah suaminya itu telah membuangnya,seperti Fio membaung istri pertamanya.entah lah pikiran-pikiran buruk kini mulai menghantui kepala Ara.
''Ra selamat ya lho sekarang sudah bisa melihat''.
''Iya makasih Jio''.jawabnya.
Mulutnya bisa saja menjawab perkataan Jio tapi mata wanita itu tidak bisa dipungkiri bahwa kini wanita itu sedang menunggu kehadiran Fio.
''Kalau begitu saya permisi dulu ya''?..
''Eh...iya Kak makasih banyak ya''?..
''Iya santai aja''.lirihnya sambil berlalu.
''Apa lho tidak igin melihatnya''?..
''Siapa Ara mengeryit heran''.
''Fio''.
''Enggak''. jawab Ara berbohong.
''Lho yakin''?..
''Iya''.
''Apa lho gak kasihan degannya''?..
''Kasian kenapa''?.berbicara sambil menatap wajah Jio heran.
''Fio sakit sekarang masih belum sadarkan diri apa kau tiak igin melihatnya''?lagi-lagi Jio bertanya.
Ara diam.ternyata dugaannya salah iya pikir Fio pergi karna sudah tidak mengiginkannya,tapi ternyata malah sebaliknya suminya itu kini sedang berbaring lemah didalam rumah sakit ini.
''Apa kau yakin tidak igin melihatnya''?lagi-lagi Jio megigatkan.Jio yakin Ara tidak benar-benar menyimak apa yang sudah iya katakan tadi.buktinya wanita itu masih tidak tau jika Fio sekarang sedang sakit.
''Gue bantu''.
''Gue bisa sendiri kok''.
''Gak apa-apa gue bantu,gue takut tubuh lho masih lemah.
"Iya". akhirnya Ara pasrah.
"Bibik ikut ya Den"?
"Iya ayo".
Bik mun menganguk kemudian berjalan mengikuti Fio dari belakang.
"Mas".lirihnya pelan sambil melangkah perlahan,mendekati Fio yang terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit,tagan laki-laki itu menancap infus sementara mata suaminya masih terpejam rapat,wajahnya pucat, meskipun laki-laki itu masih terlihat sagat tampan.
Hati Ara mencolos saat melihat wajah suaminya itu.ternyata Fio laki-laki yang sagat tampan.kenapa iya jadi minder ya jika harus bersanding degan Fio.
Ah..sudah lah lagi pula iya sudah sagat membenci suaminya itu.karna laki-laki lemah yang sedang berbaring sekarang sudah tega membohongi dirinya.
"Gue pergi dulu".lirihnya sambil melangkah pergi.
Jio mendesah panjang ternyata Ara masih sagat marah degan Kakaknya.
Jio tidak tau harus berbuat apa biarlah nanti Kakaknya yang memperbaiki semuanya dan menyelesaikan semua masalah yang ada.
"Aarrgg".Fio mengerang lirih saat merasakan kepalanya yang sakit.
"Kak".Jio langsung berlari mendekati sang Kakak.
"Ara".
Ara menghentikan langkahnya kemudian berbalik sebentar saat mendegar Fio menyebut namanya,namun beberapa saat kemudian iya kembali berjalan pelan menuju ruagannya sendiri.
Lagi-lagi iya menangis disana.sejurus kemudian iya berhanti menaggis saat mengigat pesan dari dokter yang menaganinya.iya tidak igin lagi menjadi buta Ara sagat tersiksa jika dalam keadaan buta.
Tubuh Ara membeku saat mendegar suara ribut diruagan sebelah.kemudian iya melangkah dan menempelkan telinganya ditembok.
"Buarkan Kakak pergi menemui Ara Jio".
"Kak plis pulihkan dulu kondisi Kakak".
"Ngak Jio Kakak igin bertemu Ara".suara Fio sudah terdegar seperti orang menangis.
Ara menjauh dari dinding iya sudah tidak igin mendegarkan apapun tentang Fio,iya takut hati bodohnya akan iba dan degan mudah mau memaafkan semua kesalahan Fio.
Iya benar-benar sudah tidak igin lagi berhubugan degan laki-laki seperti Fio,tagannya terulur kearah perut kemudian mengelusnya lembut.
"Kita akan hidup berdua gak apa-apa kan sayang".lirihnya sambil tetap mengelus perut ratanya karna sampai saat ini wanita itu masih belum mengetahui bahwa janin yang ada didalam kandungannya sudah tidak ada.
🌹🌹🌹
Jagan lupa dukugannya hadiah like vote and komen makasih
Bay..bay..😍😍😍
Tbc