Want To Reach The Linght

Want To Reach The Linght
par51



''San''.


''Apa peak''?..sanggah Ikhsan saat melihat sahabatnya mengikutinya sambil berlari.


''Ara mana San''?.tanya Rifki yang membuat Ikhsan outo mendelikkan matanya.


''Lu kira ntu perempuan bini gue lu tanya aja ama lakinya,malah lu tanya gue''.celetuknya kesal sambil mengambil tas milik istri bosnya itu.


''Emang beneran ya San Bos lu lakinya Ara''?..


''Iya kayanya,udah ah gue mau solat''.ucap Ikhsan setelah dirinya berhasil megambil tas milik istri Bosnya itu kemudian berjalan cepat meninggalkan Rifki yang menatap kepergiannya degan wajah sedih.


''Tuan ini Tasnya''.panggil Ikhsan dari luar kamar.


''Krek''.


Pintu terbuka menampilkan wajah segar Fio, karna biasanya wajah itu selalu masam dan tegas.kini wajah Fio bagaikan rumput yang gersang disiram hujan segar dan menyejukkan saat dipandang.


''Kau melihat apa''?.tanya Fio karnan Ikhsan lagi dan lagi melogokkan kepalanya kedalam kamar.


''Eh..engak ada tuan".jawabnya tergagap namun sejurus kemudian doi ngacir dan pergi dari hadapan Fio.


Setelah memastikan Ikhsan benar-benar pergi, Fio kembali menutup pintu kamar dan kembali melangkah mendekati istrinya yang kini duduk ditepi tempat tidur,hanya degan mengunakan kaos dan boxer miliknya.


''Ini sayang''.Fio menyerahkan Tas yang Ara minta kemudian berjalan menuju koper miliknya,laki-laki itu mengeluarkan sajaddah dan kopiah miliknya.kemudian berbalik menatap sang istri yang kini sudah lengkap dengan mukenanya.


''Adek bawa mukena''?..tanya Fio sambil berjalan mendekati sang istri.


''Iya Mas kan Aranya pulang kerjanya sore,jadi Ara solatnya disini''.


''Oh...Istri solihahnya Mas''.ucapan Fio yang membuat Ayra tersenyum kaku.iya kembali mengigat kesalahannya,karna penah meninggalkan sang suami disaat keadaanya sedang terpuruk.


*****


Setelah selesai Sholat Ara mencium punggung tagan sang suami dengan takzim.


"Mas nanti kerja dulu Adek mau pulang dulu atau gimana"?..tanya Fio sambil mengusap lembut kepala istrinya.


"Ara mau kerja dulu Mas".


"Adek masih igin kerja"?lalu Masnya mesti gimana Dek,kalau Adek ngak mau ikut Mas"?..tanya Fio degan wajah frustasi.


Ara tersenyum melihat wajah sedih suaminya, sungguh laki-laki ini benar-benar manusia paling sabar yang pernah Ara kenal.


"Ara cuman mau pamit Mas".


"Pamitnya sama Mas Dek".


"Cuman sebentar Mas".


"Ngak ada ya''? ngapain kamu mau ketemu bos kamu itu"?..


''Bukan Mas''.


''Pergi sama Mas,sekarang temani Mas dulu menemui klien''.ucapnya tegas tanpa mau dibantah.


Ara mendesah panjang niat hatinya igin bertemu degan anak dari Bosnya itu pupus sudah,padahal iya hanya igin berpamitan dengan sikecil Kiara namun harapannya tinggallah harapan.


Akhirnya Ara dengan wajah pasran berjalan menuju meja,mengambil pakaian miliknya yang dipesan Fio melalui onlen shop beberapa saat yang lalu.kemudian iya melangkah menuju kamar mandi untuk menganti pakaiannya.


Selang beberapa saat Ara keluar degan pakaian yang sudah rapi.iya mengenakan gamis berwarna coksu,degan hijap senada terlihat sagat cantik.


''Ayo sayang".Ajak Fio setelah melihat Istrinya berpakaian rapi.


Ara hanya menurut saja apa yang suaminya iginkan,namun belum sempat mereka keluar dari hotel seorang anak kecil berlari mengejar Ara degan sebutan yang membuat hati Fio terbakar cemburu.


''Mama''.Panggil Kiara yang langsung turun dari gendongan sang Papa.


''Sayang''.Ara langsung saja melepaskan gengaman tagan Fio dan berjongkok mensejajarkan tubuh mungil Kiara,membuat gadis kecil itu langsung menghambur kepelukannya.


''Kiara kagen Ma''.lirihnya sambil terus memeluk tubuh Ara erat.


Rifki yang melihat anaknya merasa sedih,karna keiginan sang putri tidak bisa iya penuhi,kiara memintanya untuk membawa Ara tinggal bersama mereka dirumah oma dan opanya. namun mengigat sekarang wanita yang ada didepannya sekarang sudah bersama dengan suaminya,maka harapan yang Rifki pupuk musnah dalam sekejap.


''Sayang ayo sini sama Papa''.pinta Rifki pada sang putri karna gadis kecilnya itu memeluk Ara sagat erat,entah karna apa mungkin Kiara merasakan jika Ara akan pergi jauh dari mereka.


''Pa katanya Mama Ara mau ikut kerumah Oma"?..


Ara menoleh kearah Fio suaminya itu terlihat jutek dan memasang wajah tidak sukanya, membuat Ara semakin binggung degan situasi ini.namun diluar dugaan Fio malah berjongkok dihadapan Kiara,mengusap kepala bocah cilik itu degan lembut kemudian berkata.


"Namanya siapa sayang"?..Kiara menoleh keara Fio,kemudian mendongak menatap sang Papa.


"Sayang Mamanya kemana"?..tanya Fio karna doi memang tidak tau jika Kiara sudah tidak memiliki Mama.


"Papa bilang Mama Ica ada disyurga Om".jawaban Kiara bagaikan kaset yang berputar mengigat dirinya dan sang Adik juga anak Piatu,Fio tau bagai mana sakitnya tidak mempunyai sosok seorang Ibu.


Perlahan Fio menjulurkan tagan dan menarik Kiara kedalam dekapannya.


"Om Kiara bilehkan minta Mama Ara untuk tinggal sama Papa Oma,Opa dan Kiara"?..pertanyaan polos Kiara membuat semuanya terdiam.


"Om"...hey...kau sedang memeluk siapa bocah manis"?sapaan seseorang menyelamatkan semua orang dari pertanyaan Kiara.


"Mau kemana kamu Zidan"?..tanya Rifki pada keponakannya itu.


"Mau ketemu Om".


"Mau ngapin kamu nyari Om"?..


"Zidan mau minta uang".


"Tuan ayo berangkat sekarang".panggilan Ikhsan menyelamatkan Ara dari semua pertanyaan Kiara.


"Ayo sayang".Fio langsung berdiri dari duduknya.


"Sayang Mama pergi dulu ya"?.


"Mama mau kemana"?


"Mama ada kerjaan sayang".


"Nanti kesini lagi kan"?..


"Insya allah sayang".


Setelah mengatakan itu semua Ara kembali memeluk tubuh munggil kiara kemudian langsung melangkah pergi.


Ara takut jika iya berlama-lama berada didekat Kiara maka hatinya semakin berat untuk berpisah dengan gadis kecil itu.


"Mas setelah pulang dari sini kita pulang ketempat tinggal Ara aja ya"?..Buk Srik pasti kawatir karna Ara engak pulang semalaman".


"Iya sayang".jawab Fio sambil mengengam tagan sang istri.


Rifki yang melihat kepergian Ara hanya menatapnya dengan tatpan sendu.


"Cie....kayaknya ada yang patah hati nie"?.ledek Zidan sambil mengelilingi Omnya itu,membuat bocah ABG itu mendapatkan timpukan dikepalanya.


"Sakit Om"


Rifki tidak perduli doi terus berjalan dan mengandeng tagan sang putri.


Dimobil


"Sudah berapa lama kamu kenal dengan mereka"?.tanya Fio tanpa menatap wajah sang istri.


"lumyan lama Mas,Ara juga lupa sudah berapa lama".


"Sedekat apa Adek sama mereka"?.


Oh..astaga ternyata suaminya itu sedang cemburu".itu pikir Ara doi menatap suaminya sekilas kemudian menjawab


"Lumayan dekat".jawab Ara apa adanya,iya igin tau seperti apa sih seorang Fio kalau sudah marah.


Fio diam doi sudah tidak bertanya lagi.


Hal itu justru membuat Ara kecewa iya mengira jika Fio tidak benar-benar cemburu padanya.


Sedangkan Fio saat ini sedang berusaha untuk meredam Emosinya,doi tidak igin menyakiti sang Istri karna kecemburuannya,dan iya juga takut istrinya akan menjauh lagi darinya.sudah cukup penderitaannya selama ini dan sudah cukup perpisahan mereka selama dua tahun ini. Fio sungguh tidak ingin itu terulang kembali.


"Ayo turun".pinta Fio sesaat setelah mereka sampai dilahan kosong yang akan dibagun perumahan elit.


"Lho kamu"?..


🌹🌹🌹🌹


Nah siapa tu Babang Fio"?


Jagan lupa hadiah like vote and komen makasih.


Bay..bay..😍😍😘😘😘


Tbc.