Want To Reach The Linght

Want To Reach The Linght
par 46



''Mbak bagun Mbak,kita sudah sampai''.seorang knek Bus membangunkan Ara yang kini sedang tertidur pulas.


''Eh..iya Mas sekarang kita ada dimana ya''?..Ara berbicara sambil mengusap-usap matanya untuk megumpulkan sesadarannya yang buyar entah kemana''?..


''Cianjur Mbak''.


''Apa cianjur,sekarang pukul berapa''?..


''Pukul setegah sebelas malam Mbak''.


Ara langsung melotot kaget mau kemana dirinya ditengah malam buta begini,iya tidak punya saudara,kerabat atau pun keluarga.mau kemana iya sekarang''?pikirnya sambil melangkah keluar dari Bus setelah membayar ongkos sebanyak 52000.


Matanya menyipit saat manik matanya menagkap seorang wanita yang sedang menaggis sesegukan dipinggir jalan.


Perlahan kakinya terhayun melangkah mendekati wanita paruh paya itu kemudian bertanya.


''Perbisi Bu''.Ara menepuk bahu wanita itu pelan.


Membuat wanita paruh baya itu menoleh degan linagan air mata.


''Ibuk kenapa menangis disini''?tanya Ara pelan sambil mendaratkan bokongnya disamping wanita paruh baya itu.


''Ibu sedih Nak''.


''Kenapa''?tanya Ara binggung.


''Ibu baru saja pulang dari jakarta,awalnya niat Ibu igin menemui anak Ibu,namun setelah sampai disana anak Ibu tidak mau menemui ibu".lirihnya menangis semakin kencang.


"Suut...jagan menagis lagi,sekarang kita pulang ya"?.. ini sudah tengah malam,gak baik buat kesehatan Ibu".


Wanita itu menaggapinya hanya degan mengaguk.


"Rumah Ibu dimana"?..saya tidak tau daerah sini".


"Rumah Ibu disana".wanita paruh baya itu menjawab degan suara yang masih sesegukan.


"Ayo saya antar".lirih Ara sambil membantu wanita paruh baya itu untuk berdiri.


Hanya butuh waktu beberapa menit Ara dan wanita paruh baya itu sudah sampai didepan rumah sederhana.


"Ara pamit ya Bu".lirih Ara setelah mengantarkan wanita paruh baya itu.


"Tunggu sebentar Nak".


"Eh..iya Buk ada apa"?..


"Malam-malam begini kamu mau kemana Nak"?..


"Gak tau Buk".lirih Ara sambil mengeleng pelan.


"Kalau begitu masuk lah".


"Tapi Buk".


"Ayo lah,Ibuk sendirian dirumah ini".lirihnya degan nada getir.


Degan terpaksa dan rasa sukur karna ditempat asing seperti ini masih ada orang baik yang mau membantunya.


"Baik Bu".jawabnya sambil melangkah memasuki sebuah rumah sederhana namun sagat rapi.


"Ngong-ngomong kenapa kamu bisa berada disini Nak"?.


"Ara".akhirnya Ara menceritakan semuanya sambil menaggis sesegukan.


"Yang sabar ya Nak".lirih wanita paruh baya itu sambil mendekap tubuh Ara yang berguncang karna menangis.


"Yang sabar ya Nak"?..setiap rumah tangga pasti selalu ada cobaan".sambungnya lagi memberi semagat.


"Ya sudah ayo istirahat dulu jagan menangis lagi,bukankah kamu igin melupakan semuanya".


Ara menganguk kemudian mengikuti langkah wanita paruh baya itu menuju sebuah kamar.


''Ini kamar anak Ibu,mulai sekarang kamu tidur disini dan tinggal sama Ibu''.


''Makasih banyak Bu,Ara gak tau apa jadinya Ara kalau ngak bertemu Ibu''.lirihnya meneteskan air mata.


''Istirahatlah semua ini rencana allah''.jawab wanita paruh baya itu sambil melangkah keluar dari kamar.


"Selamat datang masa depan".lirih Ara sambil duduk ditepi tempat tidur.


"Kalau lapar cari dibelakang ya Nak"?..ucap Wanita yang bernama Srik.


Itu nama yang disebutkan wanita paruh baya itu saat mereka berkenalan beberapa saat yang lalu.


Subuh menjelang.


"Eemm..Ara mengeliatkan tubuhnya kemudian duduk dan berdiri dari berbaringnya.


Selang beberapa saat iya keluar dari kamar mandi kemudian melaksanakan kewajibannya yaitu solat subuh.


Selesai sholat subuh Ara berjalan keluar dari kamar.


"Pagi Bu".sapa ceria Ara saat melihat wanita paruh baya itu kini sedang sibuk berkutat didapur.


"Pagi Nak".lirih Srik sambil menatap gadis cantik yang baru saja keluar dari kamar.


"Ibu masak apa"?..entah kenapa rasanya Ara sagat nyaman berada dirumah ini.bahkan iya sudah mulai menyayangi wanita paruh baya ini seperti kerabatnya sendiri.


''Sudah bagun Nak''?


''Sudah Bu sini Ara bantu''.


Ditempat lain


Sudah hampir satu tahun semenjak kepergian Ara,hidup Fio semakin brantakan bahkan Ibu tirinya selalu saja menekan dan menyalahkan Fio atas meninggalnya Zavier.namun sampai saat ini Fio belum sanggup untuk menceritakan apa penyebab Fio sampai menghajar Adik iparnya itu.


Fio sudah sagat jarang kekantor bahkan Jio degan terpaksa kuliah sambil mengantikan sang Kakak dikantor.


"Kak sudah Kak jagan seperti ini lagi".Jio meraih botol minuman yang ada ditagan Kakaknya.


Saat tau Ara pergi meninggalkannya,Fio sudah berusaha untuk mencari sang istri, bahkan iya meminta seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan istrinya itu namun nihil.dan akhirnya Fio melampiaskan kekecewaannya degan minum-minuman keras.


Sementara Ibunya Ara juga sagat marah karna mengetahui jika Fio lah penyebab putrinya menjadi buta,dan paling mengejutkan Ayu suaminya juga tau semuanya dan merahasiakan itu semua darinya.


Hinga saat ini hanya Jio dan Bik Munlah yang selalu menemani hari-hari kelam bagi Fio.


''Kakak mohon Jio kembalikan Ara Kakak.Ha..ha...kau tau Jio Kakak sagat mncintai istri Kakak,lalu kenapa Ara tega meninggalkan Kakak Jio''?Fio terus saja merancau degan air mata yang terus membasahi wajahnya.


Jio membiarkan Kakaknya berbicara sendiri mungkin itu bisa membuat Kakaknya menjadi lebih tenang.


''Jagan minum lagi Kak''.Jio merampas botol minuman yang ketiga.saat Kakaknya igin membukanya lagi


''Kembalikan Jio''.


''Tidak Kak,sudah cukup Kakak terpuruk seperti ini Jio sudah lelah Kak.Jio juga igin hidup seperti biasa,apa Kakak tidak kasian pada Mama"?..Mama akan sedih melihat Kakak seperti ini dan Mama juga akan menanggung dosa yang Kakak lakukan ini.


Ini dosa Kak,terserah kalau Kakak mau mendengar Jio atau tidak.yang jelas mulai sekarang Jio ngak mau lai bantuin Kakak dikantor.dan dengar Jio udah gak perduli lagi sama Kakak,karna percuma Jio mencoba untuk membantu dan menyemagati Kakak setiap saat. toh Kakak tidak mau mendegar jadi untuk apa Jio selalu mengigatkan Kakak.


"Jio pergi jaga diri Kakak".setelah mengatakan itu semua Jio beranjak igin pergi meninggalkan Sang Kakak namun.


"Jio jagan pergi,jagan tinggalkan Kakak".pintanya sudah mulai menangis.


"Berusaha lah untuk menerima semuanya Kak, jagan seperti ini kita itu manusia hanya bisa berencana allah lah mengatur segalanya,termasuk Ara,mungin kemaren Kakak bisa berdekatan dan menikah degan Ara,namun sekarang Kakak berpisah degannya.


Dan siapa tau suatu saat Kakak akan bersama lagi degannya,tapi Kakak jagan seperti ini,Jio yakin Ara gak akan mau sama laki-laki pemabuk seperti Kakak".


Setelah mengatakan itu semua Jio mengayunkan langkahnya dan berlalu pergi.


Sementara Fio laki-laki itu menangis menyadari semua kesalahannya,perlahan iya berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.


Ditempat lain.


''Sore Bu''.Ara menyapa wanita paruh baya itu degan gembira,kini iya sudah bekerja disebuah Hotel yang ada didaerah sana,hidupnya kini sudah membaik trowmanya kini juga sudah mulai menghilang.


Ara juga sudah mengetahui jika janinnya sudah tidak ada lagi didalam rahimnya.karna setelah beberapa hari dicianjur Ara meminta Bu Srik untuk menemaninya cek up kandungan.awalnya Ara sagat shok dan sedih,saat mendengar kenyataan pahit yang menimpanya.hinga iya menangis siang dan malam dan tidak mau keluar dari kamar.


Segala upaya dan banyaknya nasehat-nasehat yang Srik berikan hinga membuat Ara bangkit kembali,iya benar-benar kecewa dan sedih atas semua yang terjadi.namun lagi-lagi iya lebih kecewa kenapa Fio lagi dan lagi membohongi dirinya.


Namun entah kenapa hati kecilnya tetap mengigat Fio suaminya yang iya tinggalkan.entah bagai mana kabar laki-laki itu sekarang"?..


"Ah..sudah lah mungkin Mas Fio sudah bahagia hidup degan istri pertamanya''.itu pikirnya.


🌹🌹🌹🌹🌹


Mohon maaf tadi malam outhor gak up,entah kenapa semakin mendekati bulan suci ramadhan hati outhor semakin sesak,ini kali pertamanya outhor menjalani puasa tanpa Ayah dan Ibu,nyesek baget. Ayah outhor baru saja meninggal bulan 9 kemaren.😭😭😭😭


Kasi outhor hadiah like vote and komen biar outhor ngak terlalu sedih.


Makasih


Bay...bay....


Tbc.