The Untold Story

The Untold Story
Selamat Tinggal



--B's PoV--


*2003: Jakarta*


Apakah aku kekanak-kanakan karena menuruti egoku saat itu? Sepertinya begitu. Apakah aku berpikiran pendek? Mungkin saja. Lalu apakah aku harus tetap melanjutkan rencana gila ini??? Sudah tentu!


Sebelum pertanyaan-pertanyaan itu akan ditanyakan oleh orang lain padaku suatu saat nanti, aku telah mempertanyakannya kepada diriku sendiri, sepanjang perjalanan dari rumah menuju ke apartemen Indra. Bukan apa-apa, aku hanya ingin menunjukkan kepada diriku, bahwa aku dalam keadaan sadar saat memutuskan untuk menyerahkan diri kepada satu-satunya laki-laki yang pernah mengisi hatiku dengan seluruh keberadaannya. Aku hanya ingin memastikan bahwa tidak akan pernah ada kata penyelasan nanti, apalagi jika penyesalan itu timbul karena pertimbangan yang tidak matang.


Mereka yang lain pasti akan menghakimiku dan menganggapku bodoh suatu saat nanti. Mereka yang lain akan mempertanyakan bagaimana aku, bisa dengan begitu mudahnya menjadi gelap mata.


Mereka akan dan pasti melakukannya. Tidak akan ada seorang pun yang berada di sisiku nanti, sebab mereka hanya mampu melihat apa yang mampu mereka lihat. Mereka tidak memahami bahwa sejak pertemuanku dengan Aditya, sejak laki-laki itu berusaha menjadi bagian dalam hidupku, sejak saat itu, aku telah kehilangan cahaya. Jika sudah begitu, apa lagi yang harus aku sesali? Sebab sesungguhnya bukan mata ini yang menjadi gelap tetapi seluruh hidupku.


Keputusanku sudah bulat. Aku juga telah mempertimbangkan semua resikonya. Hidupku akan berakhir setelah ini dan aku hanya ingin menikmati sisa-sisa manisnya bersama dengan laki-laki yang ku cintai. Katakan sekarang, apa yang salah dengan mencoba bahagia untuk terakhir kalinya?


Aku melihat sepintas arloji di tanganku. Waktu sudah menunjukkan lebih dari pukul sepuluh malam. Dengan perasaan yang berkecamuk, antara marah, gelisah, takut, sedih, dan penuh harapan untuk merasakan sedikit kebahagiaan sebelum kehilangan semua, aku mengemudikan mobilku dengan kecepatan tinggi. Entahlah, tapi aku merasa aku sedang berpacu dengan sesuatu yang bahkan tidak mampu aku jelaskan.


Cepat!! Cepat!! Hanya kata itu yang muncul di dalam hatiku.


Aku terus memacu mobil dengan kecepatan tinggi meski hujan deras masih mengguyur jalanan. Sesekali, sambil memastikan mobilku melaju dengan benar, aku juga menyeka air mata yang tiba-tiba jatuh membasahi pipi dengan sebelah tanganku. Air mata si*lan itu tidak mau berhenti mengalir bahkan ketika aku bisa merasakan bahwa mataku sudah begitu lelah.


Detik demi detik berlalu. Aku pun menambah kecepatan mobilku begitu aku menyadari bahwa jalanan yang tengah ku lewati kini semakin melengang, hingga aku tidak menyadari bahwa lampu hijau yang tadi sepintas terlihat oleh mataku yang berembun kini telah berubah menjadi merah. Sampai akhirnya....


Ciiiiiiiiiiitttttttt!!!!!!!!!!!!!!!!


 ------------------


*2003: Jakarta, Apartment Indra*


Ting Tong!


Ting Tong!


Dengan napas yang tersengal-sengal, jantung yang seperti berkejar-kejaran, dan tubuh yang agak bergetar, aku kini bahkan tetap memaksa jariku untuk menekan bel apartment Indra berulang kali. Setelah hampir saja kehilangan nyawa karena mobil yang ku kendarai nyaris bertabrakan dengan truk tronton yang sudah tinggal beberapa inci lagi tepat berada di depan mobilku, aku yang sempat menetralkan ketegangan jantungku tadi kini harus kembali mentralkan napas setelah berlari dari parkiran basement hingga ke depan pintu unit apartment Indra.


Aku hanya ingin segera melihat sorot mata teduh itu. Sorot mata yang selalu menjadi obat dari seluruh kecemasan dan kekhawatiranku selama ini.


Ting Tong!!


Ting Tong!!


Mungkin sudah belasan kali aku menekan bel pintunya. Namun, aku tidak mendapatkan laki-laki itu segera membukakannya bagiku.


"Ayolah! Buka pintunya!" Aku bergumam di dalam hati sambil terus menekan bel pintu unitnya. Tidak puas dengan menekan bell, aku kini bahkan sudah menggedor pintu kayu berwarna coklat tua itu.


Dor!! Dor!!


Dor!! Dor!!


Ting Tong!!


Ting Tong!!


Dor!! Dor!!


"Bella? kaukah itu?" Sebuah suara sedikit nyaring kini terdengar di telingaku. Namun sayangnya, suara itu bukanlah suara laki-laki yang ku harapkan.


Aku melihat Inneke, tetangga sebelah Indra keluar dari pintu unitnya. Aku menyadari mungkin tadi aku sudah membuat keributan.


Aku mengenal Inneke karena Indra pernah memperkenalkan kami berdua saat aku sedang berkunjung ke unit apartment laki-laki itu. mereka berdua sudah seperti saudara dan sudah bertetangga sejak lama.


"Inne... Maaf, A-aku pasti sudah mengganggumu." Aku yang seketika merasa tidak enak hati akhirnya menghentikan tindakan keributan yang sedari tadi ku lakukan di depan unit apartmen milik Indra.


"Indra tidak ada di dalam. Masuklah ke unitku. Ada yang harus ku serahkan padamu." Aku melihat Inneke menatapku dengan sendu. Bersamaan dengan itu, aku merasa ada yang tidak beres dengan hatiku.


"Apa telah terjadi sesuatu dengan... Indra?" Aku hanya berani melemparkan pertanyaan itu di dalam hati.


Malam itu, hujan masih turun dengan sangat deras. Pendingin ruangan di unit apartment Inneke pun sepertinya terasa lebih dingin dari biasanya. Aku yang gelisah dan bertanya-tanya karena tidak mendapati Indra di dalam unitnya, hanya bisa duduk di sofa milik Inneke yang baru saja berpamitan untuk pergi ke dapur sebentar.


Aku masih setia duduk disana sambil mengusap-usap lenganku yang terasa dingin dan menunggu Inneke yang sedari tadi masih berkutat di dapurnya untuk membuatkanku secangkir teh panas. Andai saja aku tidak membutuhkan teh panas itu untuk meredakan rasa dingin yang menjalar di tubuhku, aku tentu akan menarik gadis muda itu untuk menjelaskan semua tanpa membuang-buang waktu.


Kemana Indra? Apa yang sebenarnya ingin Inneke serahkan?


"Kau nampak kacau, Bella!" Hanya sedikit orang yang memanggilku dengan sebutan Bella, dan Inneke adalah salah satu dari yang sedikit itu.


Aku melihat gadis itu berjalan sambil membawa dua cangkir teh panas untuk kami berdua. Dengan anggun, ia pun meletakkan cangkir-cangkir itu ke atas meja.


"Minumlah! Kau terlihat gelisah." Inneke menatapku dengan iba. Aku pun menganggukkan kepala sembari mengambil cangkir teh itu dan meminumnya hati-hati.


Setelah menghabiskan seperempat cangkir teh panas itu dan merasakan bahwa tubuhku mulai menghangat, aku meletakkan kembali cangkir teh itu pada posisinya. Aku pun tak lupa mengucapkan terima kasih setelah itu.


"Tak apa." Inne tersenyum lembut padaku.


"Sekarang, bisakah kau membantuku? Apa kau tahu dimana Indra?" Aku langsung bertanya pada gadis itu tanpa menunda lagi. Sementara Inneke, ia mengerutkan keningnya sebagai respons terhadap pertanyaanku.


"Jadi, dia tidak pernah memberi tahumu apa-apa?" Kali ini aku yang mengerutkan keningku.


"Apa maksudmu? Tolong jangan bertele-tele!" Malam itu aku merasakan hatiku bergemuruh. Apakah ini adalah sebuah tanda bahwa sesuatu yang tidak baik telah terjadi?


"Indra sudah pergi." Inneke menjeda sejenak perkataannya.


"P-pergi?" Aku bertanya dengan suara yang lirih.


"Iya. Baru saja. Seharusnya penerbangannya jam 1 dini hari, tapi rupanya jadwalnya dipercepat pada pukul 11.30 malam ini." Inneke menatapku penuh tanda tanya seolah ia sedang menyelidik mengapa aku tidak tahu apa-apa.


"Aku hanya berpikir mungkin kamu tidak tahu perihal dipercepatnya jadwal itu. Tapi sepertinya kamu..." Inneke menghentikan ucapannya karena aku telah memotongnya terlebih dahulu.


"Maaf, aku harus pergi ke Bandara Inne. Aku akan menemuimu lagi besok. Tolong berikan nama maskapai dan tujuan keberangkatannya!" Aku berucap pada gadis itu sambil berdiri dan mencari kunci mobilku di dalam tas.


"Bella... Indra menitipkan sesuatu untukmu." Aku merasakan tangan Inneke menahan tanganku agar tidak bergerak. Setelah itu, aku melihat Inne tengah mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.


Sebuah... Surat.


"Indra memutuskan pergi saat mendengar dan melihat kabar pernikahanmu di media, Bella! Meski ia tidak pernah mengatakannya, aku tahu bahwa ia sangat terluka." Wajah Inneke kini bertambah sendu. Ia seolah bisa merasakan perasaan Indra.


"Jika memang kau tidak bisa membatalkan pernikahanmu, biarkan dia pergi dan belajar melupakanmu!" Gadis itu menyambung kembali perkataannya sambil menyodorkan surat itu semakin dekat padaku.


"Aku yakin semuanya ada di sini. Bacalah!" Inneke kembali menyodorkan tangannya dan semakin mendekatkan surat itu padaku. Dengan tangan yang bergetar aku pun menerimanya dan kemudian pergi meninggalkan unit apartmen Inneke dengan kaki yang melemah dan tertatih.


 --------------


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dear B,


Hi sweety.. I love you!


Andai semudah itu mengucapkannya padamu, tentu aku akan mengucapkan kalimat itu ribuan kali.


Namun... Kita berdua sama-sama tahu seberapa tebal dan tinggi tembok yang berdiri di antara kita, hingga sekeras apapun aku meneriakkannya, itu tidak akan merubah apapun.


Ya, tidak akan ada yang berubah di antara kita. Aku tetap menjadi Indra yang hanya bisa melihat dan menjagamu dari jauh, tanpa pernah bisa memilikimu sampai kapanpun. Dan itu terbukti, sekarang...


Saat aku melihat dan mendengar kabar pernikahanmu di media beberapa hari lalu, aku tahu bahwa saat itu pasti datang. Saat-saat dimana seorang Bellatrix Atmaja, selamanya hanya menjadi sebuah nama dari lakon utama di dalam kisah cinta Syailendra Lesmana yang tak sempurna.


Aku hanya bisa berharap sejauh menjadikan Bellatrix sebagai pasangan dansaku. Namun, Ia tidak akan pernah menjadi pasangan hidupku sekeras apapun aku menginginkannya.


Kau mungkin kini bertanya, mengapa aku tidak pernah berjuang untuk kita? B, aku sangat mencintaimu dan ingin berjuang mendapatkanmu. Tapi rasa cinta ini juga yang melarangku untuk menempatkan dirimu pada posisi yang sulit.


Mana mungkin aku tega membuatmu memilih antara aku atau orang tuamu? Mana mungkin aku memintamu untuk memilihku dan mengabaikan semua kasih sayang yang kau dapatkan dari mereka selama ini?


B, sejak kecil aku tidak memiliki orang tua. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan keluarga. Bagaimana mungkin aku dan kamu membangun sebuah keluarga di atas kehancuran keluarga yang lain?


Oleh karena itu, aku memutuskan untuk pergi. Aku pergi sambil membawa semua kenangan tentang kita. Kenangan yang akan hidup selamanya dalam hatiku, sekalipun kisah kita tidak pernah sempurna. Kenangan yang terus akan hidup di dalam setiap pertunjukkan yang nantinya akan ku selenggarakan.


Itulah caraku mencintaimu, B! Itulah caraku membuat kisah kita abadi.


Jadi, sweety, ku mohon Berbahagialah! Sebab sama seperti aku mengarahkan kebahagiaanku sekarang dengan cara yang berbeda, maka aku harap kamu pun akan melakukan hal yang sama.


Bangunlah sebuah keluarga yang sempurna! Isilah rumahmu dengan tawa dari anak-anak, buah cinta kalian. Belajarlah mencintainya supaya kau tidak menderita!


Aku mencintaimu selamanya! Selamat Tinggal!


Indra


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Aku memukulkan tanganku berkali-kali pada setir mobil setelah membaca surat Indra sambil menangis. Aku tidak peduli bahwa tangan itu telah memerah sekarang.


Indra pergi dan aku sudah kehilangannya! Aku kehilangan cintaku dan kesempatan terakhir untuk merasakan sisa-sisa kebahagiaanku bersamanya.


"Aaarrrrgghhhh........." Aku berteriak sekencang-kencangnya di dalam mobil itu. Mobil yang menjadi saksi bahwa aku sudah kehilangan semua cinta yang aku punya, hingga yang tersisa hanyalah sebuah raga tanpa jiwa.


 --------------


Selamat membaca!


Maaf baru update! Saya habis kedukaan. Semoga teman-teman masih setia dan sabar.