
--B'S PoV--
*Jakarta, Studio Dansa: 2003*
Semenjak kejadian di dalam kolam renang itu, ada sesuatu yang berbeda setiap kali aku bertatapan mata dengan Aditya. Sebuah rasa yang menggangguku, yang hingga detik ini tidak mampu ku identifikasikan.
Aku tahu itu bukan cinta, sebab apa yang ku rasakan pada Aditya berbeda dengan apa yang ku rasakan pada Indra. Bersama Indra, aku memperoleh kenyamanan, kehangatan dan perlindungan.
Sementara Aditya, laki-laki itu selalu berhasil menarik sisi terliar dalam diriku. Sisi yang tidak pernah ku sadari keberadaannya. Sisi yang membuatku menjadi seorang manusia merdeka, yang tidak perlu takut untuk menjadi siapa dan melakukan apa yang ku sukai. Bersama Aditya, aku melepaskan topengku dan menjadi Bellatrix Atmaja seutuhnya.
Aditya... Ia selalu membuat adrenalinku terpacu. Ah, sepertinya laki-laki itu memang tidak pernah membiarkan jantungku merasa baik-baik saja. Sejak awal pertemuan kami, saat aku belum mengenalnya, hingga saat ini, bahkan ketika beberapa kali kami sudah tidur di bawah atap yang sama, Aditya selalu membuat jantungku bekerja lebih keras. Sebuah sensansi yang awalnya ku benci, namun entah mengapa, akhir-akhir ini aku mulai...... menikmatinya.
klakkk!!!
"Kita sudah sampai, B," ucap Aditya setelah membukakan pintu mobilnya untukku dan membuyarkan lamunanku tentangnya.
Seketika pipiku merona. Aku seperti remaja yang sedang tertangkap basah saat melamunkan teman lawan jenisnya.
"Eh, I-iya... Terima kasih..." Aku pun segera turun dari mobil dengan terburu-buru hingga ketika menumpukan kakiku ke tanah, aku hampir-hampir saja tergelincir dan melukai pergelangan kakiku sendiri.
"Hati-hati......." Aditya menangkapku dalam pelukannya. Aroma maskulin dari tubuhnya kembali memenuhi indera penciumanku.
Deg.. Deg... Deg... Deg...
Laki-laki ini...... Oh, Tuhan... Bisakah ia membuat jantungku berdegub normal sekali saja?
Untuk beberapa saat aku terlena dengan pelukan itu. Pelukan yang membuatku masuk kembali dalam alam bawah sadarku. Aku terus tenggelam dalam perasaan dan pikiranku sendiri hingga tanpa ku sadari, aku semakin mengeratkan pelukanku pada laki-laki itu dan tidak mau melepaskannya.
"B......." Aditya memanggilku sekali.
"B......" Panggilan yang ke dua pun tidak ku hiraukan.
"Bellatrix.....Sayang....." Terkejut mendengar kata terakhir yang ia ucapkan, kesadaranku segera kembali pada tempatnya.
"A-ada apa?" Aku berbicara dengan setengah berbisik seraya menatap wajahnya. Aditya hanya membalasku dengan seutas senyuman lembut.
"Apa kau baik-baik saja?" Sambungnya kemudian sambil menatapku dalam-dalam.
"I-iya.. Aku tidak apa-apa..." Aku merona... Lagi..
"B... Apa kau bisa jalan?" Aditya bertanya kembali sambil menyibakkan beberapa helai anak rambut yang menutupi mataku.
"Ya.... Tentu..." Aku masih melingkarkan tanganku di tubuhnya tanpa sadar. Kami benar-benar berpelukan dengan jarak yang sangat dekat.
Aditya kemudian semakin mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu di telingaku "Lalu.... Bisakah kita melepaskan pelukan kita?"
Sedetik kemudian ia menjauhkan wajahnya lagi seraya berkata, "Ehm... Sejujurnya kita sekarang sedang menjadi tontonan mereka...."
Aku membelalakkan mataku saat mengikuti kemana sorot mata Aditya pergi. Pada saat itu aku mendapati bahwa semua orang di sekeliling kami sedang menatapku dan Aditya dengan ekspresi yang aneh.
"Ehmmm.. M-maaf," ucapku lagi untuk merespons perkataannya sambil melepas pelukan.
Aaarrrrghhh!!!
Andai aku bisa berteriak sekencang-kencangnya.
Sungguh memalukaaann!!!!
Mungkin saat ini bukan hanya pipiku yang memerah. Aku yakin seluruh wajahku sudah berwarna secerah buah strawberry di ladang yang siap untuk dipanen. Bagaimana bisa aku kembali bertingkah seperti orang yang terhipnotis?
Ada apa denganmu B???
Bammm!!
Suara pintu mobil yang ditutup oleh Aditya semakin menyadarkanku dan membantuku untuk kembali fokus. Dengan canggung, aku kemudian mengikuti langkah Aditya untuk memasuki studio dansa.
Sesuai dengan pembicaraan yang terjadi di antara kami setelah insiden di kolam renang itu, hari ini Aditya berjanji akan membawaku ke studio dansa untuk berlatih. Kompetisi hanya tinggal menghitung minggu. Meski menang bukanlah target kami, tapi setidaknya penampilan kami tidak boleh menjadi lelucon di sana.
"Hai Banyu......" Aku melihat seorang laki-laki dengan gaya yang gemulai menyapa Aditya dengan nama yang tidak familiar dan menyodorkan tangannya.
"Franky!" Aditya menjabat tangan laki-laki itu.
"Halo... Ini pasti Bella kan? Aku Franky, teman SMA Banyu di surabaya dan....." Laki-laki kemayu itu menerangkan siapa dirinya sambil tersenyum padaku sebelum kemudian ia sempat menjeda sejenak ucapannya.
Banyu... Ah, ya.... Nama ke tiga Aditya. Rupanya teman-teman SMA Aditya memanggil laki-laki itu dengan sebutan yang berbeda.
"Tararaammm... Aku juga adalah orang yang akan menjadi pasangan dansamu, sayang!" Franky kemudian mengedipkan sebelah matanya padaku dan kembali menyodorkan tangannya.
Aku terpaku. Aku tidak segera merespons tangan laki-laki itu karena kesulitan mencerna ucapannya. Dia memperkenalkan dirinya sebagai.... Pasangan dansaku? Bukankah seharusnya Aditya yang......?
"B.......??" Aditya menepuk pundakku dan aku pun tersadar kembali. Pada saat yang sama, aku mendapati wajah teman Aditya berubah masam.
"M-maaf.." Aku segera menyambut tangan laki-laki bernama Franky itu dan menyirnakan ekspresi wajahnya yang sempat menegang karena aku tak kunjung merespons salam perkenalannya.
"B... Apa kau baik-baik saja? Sepertinya hari ini kamu kurang sehat. Kita bisa pulang jika kamu....." Aditya bertanya kembali untuk memastikan keberadaanku yang sering kehilangan fokus.
"Aku baik-baik saja. Kita.... Bukan, aku bisa berlatih hari ini," potongku cepat-cepat dengan nada suara yang dingin. Entah mengapa saat itu aku merasa begitu.... Kecewa....
Tapi, tolong! Jangan salah paham! Aku bukan merasa kecewa karena tidak jadi berdansa dengan Aditya. Aku kecewa karena sepertinya aku selalu berhasil dipermainkan oleh laki-laki itu.
Kenapa ia harus menipuku? Bukan, kenapa aku selalu terperdaya olehnya?
"Eh, Banyu... Ternyata benar bukan Sari ya.... Aku pikir waktu kamu bilang kalau kamu akan datang dengan istrimu, kamu akan membawa Sari. Aku pikir Bella adalah penyebutan lain untuk Sari," ucap Franky yang mungkin masih tersinggung dengan sikapku tadi sehingga ia berusaha mengusik ketenanganku dengan menyebutkan nama Sari, mantan kekasih Aditya.
Tapi... Sejujurnya... Jika ia ingin membalasku dengan menyebut nama perempuan lain, maka semuanya adalah sia-sia. Aku sungguh tidak peduli!
Sambil membawa kami berjalan menyusuri lorong studio dansa, Franky tak henti-hentinya berkicau. Nampaknya dengan banyak bicara, suasana hati laki-laki kemayu itu lebih cepat terpulihkan, sebab setelah itu tatapan sinisnya padaku tidak terlihat lagi di sorot matanya.
Sementara Aditya, laki-laki itu mungkin saja enggan menanggapi ucapan Franky. Aditya lebih banyak diam dan kemudian memilih tersenyum sebagai alternatif merespons perkataan teman lamanya itu.
"Kita sudah sampai. Nanti Bella dan aku akan berlatih di ruangan ini. Ya, seminggu dua kali aku rasa cukup, mengingat kata Banyu, Bella sudah terbiasa dengan kelas dansa." Franky menunjukkan sebuah ruangan berukuran sedang yang dindingnya dilapisi oleh kaca pada setiap sisinya.
Aku melangkah menapaki ruang latihan itu. Sejenak ingatan masa lalu terbesit dalam benakku. Ya, aku dan Indra dulu selalu menyempatkan waktu untuk berdansa bersama di dalam sebuah ruangan yang di kelilingi kaca seperti ini.
Mataku mendadak berembun. Indra.... Andai kisah cinta kita seindah tarian-tarian yang selalu kita intepretasikan.
"Jadi, mau menarikan apa untuk kompetisi nanti?" Ucapan Franky membuat bayangan Indra yang menari bersamaku memudar di dalam benakku. Aku kini pun mencoba menatap mata Franky yang sedang sibuk memandangi wajahku dan Aditya secara bergantian.
Baru saja aku ingin membuka mulutku dan menjawab pertanyaan teman Aditya itu, aku tiba-tiba mendengar suara laki-laki yang berdiri di sampingku menjawab tanpa ragu....
"Libertango... Astor Piazzolla" Aditya menyebutkan sebuah maha karya.
Libertango! Indra dan aku bahkan belum sempat menarikannya, karena koreografinya terlalu intim. Dan sekarang... Laki-laki cabul dan menyebalkan di sampingku ini secara tidak langsung menyuruhku untuk menarikannya bersama dengan lelaki kemayu yang baru saja ku kenal?? Is he out of his mind?
"Aku pikir...." Baru saja aku ingin menyanggah, Aditya memotong ucapanku.
"Lagu itu atau tidak sama sekali." Aditya menatapku tajam.
Apa-apaan ini? Ia tidak terlibat dalam kompetisi ini, tetapi berbicara seolah aku dan dia yang akan menari. Dan sikap lembut itu? Kemana semua sikap itu?
"Aku rasa....." Aku berusaha berbicara lagi, namun Aditya kembali memotong ucapanku.
"Bellatrix dan kamu akan melatih lagu ini, Franky!" Aditya berganti menatap Franky dengan tatapan yang tidak kalah tajamnya dengan tatapan yang tadi ia berikan padaku. Laki-laki kemayu itu pun mengangguk.
"Maaf B! Tapi waktuku tidak banyak. Tolong kali ini saja, jangan membantah!" Aditya menurunkan sinar matanya sehingga tidak lagi terlihat menakutkan.
Aku tidak menjawab. Entah mengapa sepertinya kali ini aku malas berdebat dengannya.
"Kalian berlatihlah! Aku harus ke kantor. Nanti dua jam lagi aku akan menjemputmu, B!" Aditya hendak menyentuh pipiku namun karena rasa geram yang tak tertahankan, aku memundurkan tubuhku secara spontan untuk menghindarinya.
"Pergilah dan tidak perlu menjemputku! Aku bukan anak kecil yang tidak bisa pulang sendiri," balasku dengan nada yang semakin dingin.
"Aku akan tetap menjemputmu. Jangan kemana-mana!" Sebuah sanggahan dilontarkan Aditya sebelum ia melangkah meninggalkanku bersama Franky di ruangan itu.
Pada detik dimana ia meninggalkanku, aku kembali menimbang dalam benakku. Aku mencoba memaksa akal sehatku untuk mengidentifikasikan perasaan apa yang sempat menggangguku beberapa hari ini, sebab yang aku tahu saat ini, aku begitu membencinya. Aku membenci Aditya!
-----‐--------------
Selamat Membaca!
Mohon maaf lama up date, saya super sibuk teman-teman... Maaf ya!