The Untold Story

The Untold Story
Janji Yang Tertunda



*Jakarta: 2022/ Masa Kini*


"Tapi pada akhirnya, mama memilih papa kan?" Eowyn, putri Bellatrix itu memotong cerita ibunya seraya menguap karena waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi.


"Tentu saja Mama memilih Papa. Jika tidak, mana mungkin aku terlahir di dunia ini." Eowyn melanjutkan kata-katanya sambil mengerjapkan mata karena mengantuk.


"Kau benar. Sekarang tidurlah!" Bellatrix menarik selimut yang sedari tadi membungkus tubuh putrinya hingga sebatas dada, memberi sedikit kecupan di dahi dan mengucapkan selamat tidur.


Perlahan-lahan mengayunkan kaki untuk kembali ke kamar, langkah Bellatrix sempat terhenti di depan pintu yang setengah terbuka karena tiba-tiba putri tercintanya memanggil kembali.


"Ma..." Perempuan yang dipanggil itu pun membalikkan tubuhnya.


"Jika sebesar itu papa mencintaimu, kenapa selama ini sikapnya begitu dingin padamu?" Sebuah pertanyaan yang lolos dari bibir merah muda putrinya itu membuat Bellatrix terpaku.


Eowyn menyadarinya. Putri kecilnya yang telah tumbuh dewasa itu bukanlah seorang yang bodoh untuk tidak mengetahui bagaimana ayahnya memperlakukan ibunya selama ini. Laki-laki itu bahkan tidak pernah menatap mata istrinya dengan perasaan lagi.


"Apa yang paling aku takutkan dalam perjodohan adalah... Aku takut berakhir sepertimu Ma. Aku takut suatu saat suamiku akan memiliki alasan untuk berhenti mencintaiku karena ia terlambat menyadari bahwa perasaannya padaku tidak sedalam itu." Satu bulir air mata menetes tiba-tiba dari ujung kelopak mata Bellatrix.


Berhenti mencintai. Mungkin inikah yang terjadi pada Aditya? Mungkinkah ini jawaban atas semua pertanyaannya selama ini? Sikap Aditya yang berbeda, sekembalinya mereka dari Switzerland. Ya, laki-laki itu berubah menjadi lebih dingin.


Mungkin saja Aditya bertaruh dengan dirinya sendiri untuk menaklukkan hati Bellatrix. Dan ketika perempuan malang itu sudah menyerahkan seluruh hatinya, maka sejak saat itu, tidak ada lagi alasan yang membuat sang dominan menjadi tertantang.


Lamunan dan pikiran Bellatrix kemudian mengalun lebih jauh. Perempuan itu membayangkan betapa kering hubungan mereka. Aditya hanya menyentuhnya ketika laki-laki itu di bawah pengaruh alkhohol. Kehadiran Eowyn juga karena alkhohol.


Meski begitu Bellatrix bersyukur. Ia sempat memiliki seorang putri dari suaminya. Karena setelah Eowyn, Aditya tidak membiarkan Bellatrix mengandung anaknya kembali. Laki-laki itu meminta dokter menghambat kesuburan istrinya pasca melahirkan. Bukankah itu sangat menyakitkan?


Orang lain mungkin melihat mereka berdua sebagai pasangan yang sangat serasi. Dua perusahaan dipersatukan karena pernikahan mereka. Kekayaan yang tidak akan pernah habis ditambah dengan tidak pernah adanya gosip miring diembuskan mengenai pernikahan Aditya dan Bellatrix. Sempurna bukan?


Aditya adalah laki-laki bertanggung jawab terhadap keluarga dan gila kerja. Sementara, Bellatrix adalah seorang istri dan ibu yang sangat mempedulikan keluarga. Semua itu yang tampak dari luar dan membuat jutaan orang merasa iri terhadap keluarga mereka. Namun siapa sangka, belasan tahun hanya diisi oleh sandiwara. Ya, dua insan itu hanya memainkan sandiwara di dalam pernikahan mereka.


"Sudah berapa kali mama katakan padamu..." Ucapan B terjeda karena Eowyn memotongnya.


"Papa mempunyai bahasa cinta yang berbeda dengan laki-laki pada umumnya. Aku ingat ma!" Eowyn nampak memutar malas bola matanya. Ayolah, gadis itu tidak sepolos itu.


"Tidurlah! Mama harus membantu papamu bersiap ke kantor setelah ini. Mama akan tidur setelah papa pergi," kata Bellatrix seraya menutup pintu kamar putrinya.


Perempuan itu tidak segera beranjak. Beberapa menit ia habiskan untuk menatap kosong pintu kamar putri kesayangannya, sebelum ia berjalan kembali ke dalam kamar yang biasa ia tempati bersama Aditya, suaminya.


 -------------------


Ceklek!


Pintu kamar terbuka. Mata Bellatrix seketika bersirobok dengan mata Aditya. Laki-laki itu sepertinya tidak tidur dengan baik malam ini.


"Kau.. Tidak tidur?" Bellatrix memulai percakapan di antara mereka. Percakapan formalitas tanpa perasaan hangat. Perasaan yang tertinggal di Switzerland belasan tahun yang lalu.


"Apa dia mau menerima perjodohan ini?" Aditya bertanya to the point.


"Dia akan menerimanya. Eowyn hanya membutuhkan waktu. Lagi pula dia masih delapan belas tahun. Ini juga tidak mudah untuknya." Bellatrix bergerak menuju ke walk in closet. Perempuan itu mulai mengambil beberapa pakaian untuk menyiapkan segala pakaian dan keperluan kantor suaminya.


"Katakan padanya ia bisa menikah lima tahun lagi. Ini hanya pertunangan. Aku harap Eowyn tidak menentang perjodohan ini." Aditya mengembuskan nafasnya dengan berat.


"Aku tidak memahami jalan pikiran gadis itu. Laki-laki yang disiapkan orang tuamu adalah laki-laki yang baik. Lagi pula aku tidak mungkin mengumpankan putriku satu-satunya kepada buaya." Aditya mengetatkan rahangnya. Ia terlihat begitu putus asa karena tidak bisa meyakinkan putrinya sendiri hingga mereka berdua berdebat dan mengakhirinya dengan pertengkaran.


"Eowyn takut laki-laki itu tidak akan pernah mencintainya." Bellatrix berjalan mendekati Aditya dan meletakkan satu setel pakaian kantor lengkap di atas kasur.


"Eowyn harus belajar. Dunia ini bukan seperti dongeng sebelum tidur yang kau ceritakan setiap malam padanya dulu." Aditya berdiri sambil menyibakkan selimut yang sempat menutupi tubuhnya. Laki-laki itu berdiri dan hendak berjalan menuju ke kamar mandi.


"Aditya...." Bellatrix menyebut nama suaminya. Sejenak perempuan itu mengambil napas dalam-dalam seperti seseorang yang tengah mengumpulkan kekuatan.


"Eowyn takut hidupnya akan berakhir sepertiku." Bellatrix terisak. Kali ini ia tidak mampu menahan tangisnya.


Perempuan itu merasakan sakit yang teramat dalam. Laki-laki itu, Aditya, suaminya, bahkan tidak pernah memanggil namanya lagi ketika berbicara. Tidak pernah ada panggilan 'B' keluar dari mulut laki-laki itu semenjak mereka kembali dari Switzerland.


Aditya menghentikan langkahnya. Laki-laki itu menatap wajah cantik istrinya yang sedikit layu karena belum tidur semalaman dengan ekspresi yang tidak terbaca.


"Apa dia jatuh cinta pada seorang laki-laki?" Aditya mengepalkan tangan dengan erat hingga jari-jarinya memutih. Beberapa detik berlalu sembari melambungkan angannya pada kenangan di masa lalu. Kenangan yang menyakitkan bagi laki-laki itu.


Bellatrix masih terisak. Perempuan itu bahkan tidak sanggup menjawab karena tangis yang tiba-tiba pecah.


"Apa ia sudah memiliki orang yang ia cintai?" Aditya memperjelas pertanyaannya. Bellatrix masih belum mampu menjawab. Perempuan itu akhirnya hanya sanggup menggelengkan kepala.


Aditya menghembuskan napasnya dengan lega. Hal yang membebani hatinya tadi, tiba-tiba menguap begitu saja.


"Lalu... Apa maksudnya dengan mengatakan bahwa ia takut berakhir sepertimu?" Laki-laki itu mendekati istrinya. Ia mengarahkan tangannya menyentuh pundak Bellatrix.


"Jelaskan padaku!" Aditya menarik dagu Bellatrix hingga mata mereka kembali bertatapan. Terdengar nada memaksa saat meminta penjelasan. Ia seolah tidak peduli dengan tangisan perempuan yang berdiri di hadapannya.


"D-dia tahu kau tidak mencintaiku. Dia bisa merasakannya." Bellatrix menaikkan sedikit volume suaranya sembari menatap mata suaminya dengan tajam.


Aditya terkesiap. Ia sedikit tidak menyangka bahwa kata-kata itu yang keluar dari bibir istrinya. Seketika jantung Aditya berdenyut nyeri. Namun, ia cepat-cepat menetralkan perasaannya.


"Apakah itu penting?" Aditya membalas dingin.


"Bukankah lebih baik begini? Kita hidup biasa-biasa saja. Aku membebaskanmu. Aku tidak pernah membebanimu dengan perasaanku." Aditya membuang wajahnya seraya memejamkan mata. Suaranya yang lantang terdengar berbanding terbalik dengan hatinya yang seketika merapuh.


Bellatrix masih terisak. Tidak ada jawaban lagi keluar dari bibirnya. Perempuan itu kembali membisu dan menyimpan semua isi pikirannya di dalam hati.


Ia kembali menjadi Bellatrix yang dulu. Bellatrix yang tidak akan membantah. Bellatrix yang berusaha menyenangkan semua orang. Aditya yang telah berubah membuat Bellatrix kembali membangun tembok yang tebal dan tinggi.


Tidak berniat melanjutkan pembicaraan mereka, Aditya melanjutkan langkahnya untuk segera membersihkan diri. Laki-laki itu kemudian menutup pintu kamar mandi. Sepertinya ia sengaja membiarkan sang istri terisak sendiri di dalam kamar mereka.


Masih berdiri dengan menyandarkan tubuh pada daun pintu kamar mandinya, Aditya menyentuh keningnya yang berdenyut nyeri. Pikiran laki-laki itu berkecamuk.


"Ini yang terbaik untukmu, B! Jika tiba waktunya, aku akan tetap memenuhi janjiku padamu. Janjiku yang harus tertunda karena keegoisan ibuku." Aditya memejamkan matanya sejenak sebelum melanjutkan langkahnya ke arah shower dan membersihkan dirinya.


 -------------------


Selamat membaca!


Halo readers... Maaf beribu maaf. Cerita ini sempat vakum berbulan-bulan karena kesibukan saya di dunia nyata. Pasca pindah kota, saya bekerja di lima tempat yang berbeda. Kondisi ini membuat saya tidak punya waktu melanjutkan cerita ini karena sangat kelelahan. Kalau teman-teman bertanya, bagaimana bisa lima tempat? Pertama, karena online. Kedua, saya bekerja lepas.


Terima kasih buat yang masih setia. Saya pasti menyelesaikan cerita ini. Cerita yang masih penuh teka-teki tapi percayalah semua indah pada waktunya.


Teman-teman pembaca, saya tidak mengontrakkan karya saya yang ini. Jadi, saya tidak menuntut apapun dari anda. Jangan merasa terbeban, ya! Seperti Aditya yang tidak ingin B terbeban demikian juga saya pada para pembaca saya. Nikmati kisah ini selayaknya sebuah kisah cinta yang dibagikan sebagai teman di waktu senggang.


Love you all!


Tirza