
--B's PoV--
*Esplanade, Singapura: 2003*
Petugas-petugas medis itu kemudian berlari mendorong brankarnya ke luar ruangan, sedangkan aku hanya bisa berdiri terpaku dengan mata yang berkaca-kaca saat melihat mereka membawa Aditya menjauh dari tempat di mana aku berada. Kakiku mendadak menjadi lemas, apalagi setelah aku mendengar suara seseorang berbicara dan menepuk pundakku setelah itu....
"Franky....." Ucapku menyebutkan namanya.
"Laki-laki bodoh itu.... Tidakkah kau bisa merasakan bahwa ia.... Terlalu mencintaimu??" Franky ikut meninggalkanku setelah selesai mengucapkan kalimatnya. Setetes air mata kemudian meluncur begitu saja karena ucapan laki-laki itu.
Aditya..... Ia Mencintaiku???
Kepalaku berdenyut kencang setelah mendengar perkataan Franky. Akal sehatku masih berusaha untuk menyangkal apa yang baru saja ku dengar. Tapi.... Bagaimana jika yang dikatakan oleh laki-laki kemayu itu adalah sebuah kebenaran?
Tidak! Itu tidak mungkin. Aditya tidak pernah mengatakan bahwa ia mencintaiku. Laki-laki itu adalah tipe orang yang berbicara apa adanya. Tidak mungkin ia menyembunyikan hal seperti ini. Jika memang ia mencintaiku, ia pasti akan mengatakannya padaku secara langsung.
Aditya sesungguhnya hanya terobsesi denganku. Ya, itu obsesi dan bukan cinta. Franky mungkin telah salah menyimpulkan sikap kawannya. Ia tidak mungkin benar-benar mencintaiku.
Tapi tatapan matanya, sentuhannya? Ya Tuhan.. Dia bahkan tidak membenciku setelah apa yang ku lakukan padanya.
Aku masih terpaku sesaat dengan air mata yang menganak sungai. Aku berdiri membatu dengan perasaan bersalah yang semakin lama semakin dalam, saat mengingat bagaimana ia memaksa tubuhnya, berusaha menari dengan sempurna untuk mendampingiku dalam kondisi yang tidak sehat.
Aku harus meminta maaf padanya. Aku harus memastikan bahwa Aditya baik-baik saja.
Tapi.. Indra! Aku akan melewatkan kesempatanku menemuinya. Menemui laki-laki yang ku cintai.
Apa yang harus ku lakukan, ya Tuhan? Kenapa semuanya menjadi begitu sulit sekarang?
Tidak! Indra bisa menunggu. Aku bisa menemui Indra di lain waktu. Tapi, Aditya... Melihat kondisinya tadi, aku benar-benar takut bahwa bisa saja Aditya tidak selamat.
"Jangan sampai itu terjadi ya, Tuhan! Aku tidak mungkin memaafkan diriku, jika hal itu sampai terjadi." Aku bergumam di dalam hati.
Untuk saat ini, aku harus memprioritaskan Aditya. Aku tentu tidak ingin merasakan kegelisahan seumur hidup karena perasaan bersalah yang abadi kan?
Dengan langkah terburu-buru, akhirnya aku berlari hendak menyusul Franky. Laki-laki itu seharusnya mengetahui kemana Aditya dibawa oleh para petugas kesehatan tadi.
Sambil menghapus air mataku yang tidak berhenti mengalir, aku semakin mempercepat langkahku. Aku menyadari sepanjang langkah itu, ada banyak pasang mata sedang menatapku penuh tanda tanya. Meski demikian, aku terus memacu kakiku mengejar Franky dan tidak memedulikan mereka.
Franky.... Semoga saja ia belum benar-benar meninggalkan tempat ini. Laki-laki itu harus membawaku menemui Aditya.
Aku terus berlari tanpa henti dengan gaun dansa yang masih membebat tubuh sintalku dan sepatu hak tinggi yang melekat sempurna di kaki. Aku mengayunkan langkah dengan sangat cepat hingga tidak terasa, saat ini aku sudah berada di luar gedung pertunjukan mewah itu.
"Frankyyyyy!!!!!!" Aku berteriak dengan kencang saat melihat laki-laki berwajah mulus itu hampir menutup pintu mobilnya, yang terparkir persis di depan pintu keluar.
Laki-laki itu menoleh. Beruntung ia masih bisa mendengar dan melihatku.
Aku semakin mempercepat langkah. Aku mengarahkan tatapan mataku tanpa henti ke arah Franky, seolah mengisyaratkan kepadanya agar ia menunggu. Aku terus berlari tanpa henti hingga....
"Aaaaaahhhh......" Aku terjatuh karena langkahku yang tak terkendali.
"Astaga... Bella!" Secepat kilat, Franky keluar dari mobil dan membanting pintunya dengan keras. Sesaat kemudian ia pun berjalan mendekat untuk melihat kondisiku.
"Aaargghhh...." Aku berusaha berdiri sendiri, namun rasa sakit pada sekujur kaki kiriku itu yang akhirnya menghambat dan membuatku sulit untuk bergerak.
"Bella... Are you okay?" Franky yang terlihat cemas itu, kini sudah berdiri di hadapanku.
"Bawa aku pada Aditya.. Ku mohon Franky.. Hiks.. Hiks... Aku harus meminta maaf padanya..." Aku menangis tanpa henti sambil menahan sakit di sekitar kakiku yang menempel dengan aspal.
"Astaga Bella.... Kamu terluka..." Franky terkejut saat melihat banyak sekali luka lecet dengan sedikit darah di sekitar kaki kiriku yang tidak tertutupi gaun, karena belahannya yang tinggi.
"Bawa aku kepada Aditya, Franky. Ku mohon. Aku ingin memastikan kondisinya. Aku bersalah padanya." Aku benar-benar tidak memedulikan lukaku. Aku hanya ingin Franky menolongku menemui Aditya.
"Tapi, kau terluka. Bagaimana jika kita...." Aku memotong ucapan Franky karena sepertinya ia tidak mengerti apa yang ku inginkan saat ini.
"Aku mau melihat Aditya, Franky. Tidak bisakah kau mengerti? Hiks.. Hiks.." Nadaku meninggi.
Emosiku memuncak dan hanya air mata yang bisa meredakannya. Aku benar-benar tidak bisa membiarkan rasa cemas akan kondisi Aditya menggerogotiku lebih lama lagi.
"Baiklah.. Baiklah... Aku akan membawamu menemuinya. Ayo ku bantu! Biarkan aku memapahmu! Pasti luka-luka itu sangat menyakitkan." Franky bergidik. Ia menunjukkan ekspresi seolah ia bisa merasakan sakitku.
Aku masih meneteskan air mata tanpa henti, saat Franky membawaku berjalan menuju ke mobilnya. Aditya... Aku hanya ingin segera melihatnya.
--------------
*Raffles Hospital, Singapore: 2003*
"B......" Aku yang sempat kehilangan kesadaran karena tertidur, langsung membuka mata saat mendengar suara lirih Aditya.
Setelah menempuh perjalanan dari gedung pertunjukan ke rumah sakit tanpa berbicara sepatah kata pun, Franky akhirnya berhasil membawaku ke tempat dimana Aditya mendapatkan perawatan. Aku sempat tertatan di luar ruangan selama beberapa jam dan tidak bisa langsung menemui Aditya karena kondisinya yang semakin memburuk.
Pikiranku bertambah kacau setelah mendengar kabar itu. Aku benar-benar merasa ketakutan tadi.
Syukurlah, lambat laun kondisi Aditya berangsur pulih. Begitu petugas-petugas kesehatan itu merasa bahwa kondisi Aditya sudah lebih stabil, mereka pada akhirnya mengijinkanku untuk mendampinginya.
Dan di sinilah aku berada saat ini. Aku sedang mendudukkan diriku disamping tubuhnya yang terbaring di atas ranjang rumah sakit sambil terus menggenggam tangannya.
Aku menjaganya tanpa mau beranjak dari sana. Entah mengapa aku bahkan menggenggam tangan Aditya seperti yang dulu pernah ia lakukan padaku saat aku sakit, hingga aku ikut tertidur karena kelelahan.
"Kamu sudah sadar....." Aku langsung berdiri dan mengecek suhu tubuhnya sambil perlahan-lahan mengerjapkan mata, untuk menyesuaikan cahaya yang tiba-tiba merespons mataku yang sempat terpejam tadi.
Menurut informasi yang ku dapatkan dari perawat rumah sakit, Aditya kehilangan kesadaran karena pasokan oksigen yang menipis di sertai demam tinggi. Sudah delapan jam, ia habiskan dalam kondisi tertidur dan baru siuman setelah pukul empat pagi waktu Singapura.
"Kau di sini...." Aditya menatapku seakan tak percaya. Aku menganggukkan kepala dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
Meski ada perasaan sedikit lega terselip di dalam hati karena Aditya sudah bisa melewati masa kritisnya, aku tetap tidak bisa menghapus perasaan bersalahku pada laki-laki ini. Mengingat bagaimana aku meninggalkannya dengan begitu tega di apartemen siang itu dan mengetahui bagaimana lemah kondisinya saat ini, sungguh aku benar-benar merasa menjadi manusia yang paling jahat di dunia.
"A-aku akan memanggil perawat untuk mengecek kondisimu." Aku hendak memutar tubuhku dan berjalan ke arah tombol bantuan yang terletak di atas nakas, namun Aditya menahanku.
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja," ucap Aditya sembari terus menggenggam tanganku.
"Kau berhasil menemuinya?" Aku menatap matanya saat pertanyaan itu terucap dari bibir Aditya yang memucat. Bibir yang sudah beberapa kali menciumku tanpa peringatan.
"B???" Aditya menyebut namaku lagi, karena aku tak kunjung membalas ucapannya. Beberapa detik kemudian, aku membalasnya dengan menggelengkan kepala.
Aditya menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia melepas genggamannya dari tanganku sebelum kemudian ia mengucapkan sesuatu.
"Aku tidak membutuhkan rasa ibamu atau perasaan bersalahmu. Bukankah sudah ku katakan bahwa aku melepasmu?" Aditya menatap langit-langit kamar rumah sakit.
Entah mengapa hatiku berdenyut saat ia menyebutkan lagi kata 'melepas' itu. Apakah itu berarti bahwa ia sudah tidak ingin berurusan lagi denganku?
----------------------
Selamat membaca!