The Untold Story

The Untold Story
Kejutan



--B's PoV--


*2003: Satu Setengah Jam kemudian*


Di sinilah aku berada saat ini. Di depan sebuah cermin berukuran besar sehingga bisa menampakkan pantulan seluruh tubuhku dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Jangan bertanya, bagaimana penampilanku di depan cermin itu. Aku adalah seorang perempuan berparas cantik yang nampak menyedihkan.


Jika perempuan lain akan memilih mengenakan sebuah gaun bermotif bunga-bunga atau sebuah gaun polos berwarna lembut cerah untuk menyambut calon suaminya, maka penampilanku bisa dibilang cukup anti mainstream kala itu. Aku mengenakan sebuah gaun berwarna hitam polos untuk sebuah acara pertemuan dua keluarga, di pagi hari.


Aku sengaja melakukannya. Menjadikan diriku terlihat seperti seorang gadis yang akan pergi ke pemakaman dari pada ke pelaminan, sehingga dengan begitu aku bisa membuat keluarga laki-laki itu cukup peka, bahwa aku tidak menginginkan perjodohan.


Untung saja aku berhasil membujuk Mommy dan Daddy agar berangkat lebih dulu. Mereka tentu tidak memiliki kesempatan untuk mengomentari penampilanku.


Jangan bertanya, mengapa mereka begitu percaya bahwa aku tidak akan kabur? Tentu saja karena mereka tahu bahwa sejak awal aku tidak pernah memiliki nyali untuk membuat orang tuaku menjadi malu dan terluka. Dengan menyertakan alasan bahwa aku ingin mempersiapkan diri lebih lama sehingga bisa tampil semaksimal mungkin, mereka pun menginjinkan aku mengendarai mobilku sendiri menuju ke restoran yang telah ditentukan.


 --------------


Tiga puluh menit perjalanan telah ku tempuh dari rumah menuju ke tempat yang telah disepakati. Sebelum keluar dari mobil Volkswagen Beetle keluaran terbaru milikku, aku sempat menatap wajahku kembali lewat sebuah cermin dan menghela napas sepanjang mungkin.


Sungguh, aku mengharapkan sebuah keajaiban. Aku masih berharap perjodohan ini tidak akan dilanjutkan. Namun, dunia nyata adalah dunia nyata. Ia jarang memberi keajaiban, sebab nampaknya ia lebih tertarik dengan kejutan.


Baru saja aku membuka pintu mobil dan hendak berjalan masuk ke restoran itu, sebuah panggilan muncul dilayar handphone-ku. Sejenak aku menghentikan langkah dan membaca nama si penelepon.


"Indra," ucapku dalam hati.


📞 'Halo?' (Aku)


📞 'Hi, B! Sory, am i disturbing you?' (Indra)


📞 'No.. No.. No... I am free.' (Aku)


📞 'B, I need your help. Aku benar-benar membutuhkan bantuanmu. (Indra)


📞 'Bantuan?' (Aku)


📞 'Franda tiba-tiba terkena cacar air dan aku tidak punya partner untuk berdansa denganku malam nanti. Aku sudah menerima uang muka dan aku tidak mungkin membatalkan semuanya sekarang.' (Indra)


📞 'So?' (Aku)


📞 'Please be my partner, B!' (Indra)


📞 'Ndra, kamu tahu kan bahwa aku tidak mungkin mengisi acara pesta siapapun? Kalau sampai Daddy tahu aku menari di acara pesta orang lain, maka dia bisa membuatku tidak menari seumur hidup.' (Aku)


📞 'I know B, but i don't have another choice. B, aku janji bahwa orang-orang tidak akan tahu. Kau bisa menggunakan topeng. Ini Tango, kita menarikan Sway. Please be, atau mereka yang akan menggantungku. Hanya kamu yang pernah melatih lagu itu selain Franda denganku. (Indra)


📞 '................' (Aku)


📞 'B?' (Indra)


📞 'Fine! Kirimkan aku alamat dan jam pastinya.' (Aku)


📞 'Ooohh, thank you sayangku. You're the best.' (Indra)


📞 'You know what? Aku tidak pernah memberikan sesuatu dengan gratis, Indra.' (Aku)


📞 'Sure! Aku juga tidak berniat to take it for granted, sweetheart. Aku akan mentraktirmu makan malam, setelah kita selesai tampil di acara itu.' (Indra)


📞 'Janji adalah hutang, Indra.' (Aku)


📞 'Nyawaku adalah jaminannya. Bye, B! I'll see you tonight. (Indra)


Tut.. Tut.. Tut..


Panggilan kami sudah terputus. Dan laki-laki yang kucintai itu terdengar bahagia ketika aku menyanggupi permintaannya.


Tanpa kusadari aku tersenyum lebar. Ya, mendengar suaranya yang bahagia saja, bisa membuat hatiku melayang. Aku benar-benar merasa puas karena bisa menolongnya kali ini. Padahal, aku tahu betapa besar resikonya, jika sampai Daddy mengetahui bahwa aku menari di muka umum.


"Astaga, Bellatrix! Kamu sedang apa berdiri di situ sambil senyum-senyum sendiri?" Suara sopran Mommy terdengar memecah lamunanku.


"Ayo! Kamu sudah ditunggu," sambungnya kembali. Wanita paruh baya itu sepertinya gelisah karena aku tak kunjung datang, hingga berniat menantiku di lobby restoran.


"Hah....." Aku menghela napasku dengan kasar. Selamat datang dunia nyata.


"Iya, Mom!" Aku menjawab sambil memutar bola mataku.


Mommy dan aku kemudian berjalan terburu-buru memasuki restoran itu. Sempat merasa lega karena ku pikir rasa panik membuat Mommy tidak menyadari penampilanku, nyatanya aku salah besar.


"Ada apa dengan bajumu? Apa Bik Nah, lupa mencuci pakaian sampai kau mengenakan gaun hitam ke tempat ini?" Mommy kembali berceloteh dan aku seperti biasa akan pura-pura bodoh di hadapannya.


Kami terus berjalan hingga kami tiba di meja yang sudah direservasi. Aku melihat Daddy, seorang perempuan paruh baya, dan seorang laki-laki sudah duduk dengan tenang di sana.


"Sorry, Jeng. Lama ya? Ini putriku, terlalu lama dandan di mobil. Maklum kan mau bertemu calonnya." Mommy yang aku sayangi ini benar-benar mempermalukanku sekarang.


"Eh, bukan begitu, Tante. Ada yang menelepon saya tadi, jadi saya sedikit terlambat. Maaf, sudah membuat menunggu," sanggahku sambil sedikit menundukkan kepala.


Aku sempat menatap wajahnya untuk beberapa saat. Laki-laki itu tampan. Tidak-tidak, ralat. Sangat tampan. Tapi aku membenci sikapnya. Apalagi caranya menatapku. Ia terlihat seperti seorang...... Player.


"Sudah sayang. Tidak apa-apa. Ayo, duduk dulu," balas wanita bersanggul khas Jawa dengan kebaya, yang kemungkinan besar adalah calon mama mertuaku.


Aku segera mengambil tempat dan duduk. Entah mengapa aku langsung merasa merinding. Seseorang dengan mata yang tajam sedari tadi memperhatikanku. Semua gerak-gerikku seolah tidak luput dari pandangan matanya. Dan orang itu adalah orang yang menyindirku tadi.


Aku yang merasa tidak nyaman kemudian kembali menatapnya dengan sorot mata tajam yang sama. Mata kami bertemu cukup lama karena tidak ada seorang pun yang berniat mengalah, hingga pandanganku beralih pada seorang laki-laki yang baru saja datang menghampiri meja kami dan menyapa dengan ramah.


"Halo, maaf saya terlambat. Apakah saya sudah membuat semua orang menunggu?" Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Seorang laki-laki lain yang juga tampan, meski tidak setampan laki-laki berwajah cabul tadi. Hanya saja yang ini lebih terlihat seperti manusia.


"Eh, anak Mama sudah datang. Duduk Hen!" Tante bersanggul itu menyambut kedatangan putranya dengan senang hati.


Melihat ekspresi Tante bersanggul, aku meyakini bahwa laki-laki yang dipanggil 'Hen' itu adalah laki-laki yang akan dijodohkan denganku. Aku masih percaya pada hati kecil Mommy yang tidak mungkin menyerahkanku pada pria jadi-jadian, pria yang tidak tahu bagaimana melindungi wanitanya.


Dan si 'Hen' ini, memberi kesan pertama yang baik. Tapi, tunggu dulu. Kenapa sekarang suara hatiku terdengar seperti menyetujui perjodohan ini ya?


"Baik! Karena semua orang sudah datang. Saya pikir kita mulai saja makan paginya." Aku melihat Daddy membuka percakapan.


"Iya, kita bisa berkenalan sambil makan." Tante itu menambahkan.


Aku tidak berniat sama sekali untuk berbicara. Aku sebenarnya tidak nyaman berada di sini. Sekalipun Mommy memilih laki-laki ramah itu untuk menjadi jodohku, tetap saja aku sudah memiliki pangeran berkuda putihku sendiri. Berbicara tentang pangeran berkuda putih, ah, rasanya aku sungguh tidak sabar untuk berdansa dengannya nanti malam.


Pembicaraan ringan di antara para orang tua masih terus berlanjut. Sementara aku memilih menikmati makanan di hadapanku. Aku masih berusaha fokus pada hidanganku meski aku tahu laki-laki cabul itu masih setia menatapku dengan tajam sedari tadi. Aku benar-benar seperti ditelanjangi. Namun, aku tidak akan menanggapinya kali ini. Aku tidak boleh terpancing.


"Jadi, Bellatrix...." Aku mendengar tante bersanggul itu memanggil namaku.


"I-iya Tante?" Aku sedikit kikuk sekarang.


"Tante Rita yakin Mommy sama Daddy-mu sudah menceritakan apa tujuan makan pagi kita. Maaf, memang sebenarnya lebih enak jika kita merencanakan sebuah makan malam untuk memperkenalkan kalian. Tapi, berhubung anak Tante ada acara nanti malam, jadinya kita bertemu pagi ini," jelasnya lagi sambil memotong makanan yang ada di hadapannya menjadi beberapa bagian, sebelum makanan itu masuk ke dalam mulutnya.


"I-iya, tidak apa-apa Tante." Aku tersenyum simpul menanggapi perempuan itu.


"Bellatrix, mungkin sebelum tante memperkenalkan siapa jodohmu, ada baiknya kamu dan putra Tante mendapat penjelasan mengapa perjodohan ini harus terjadi, sebab sesungguhnya putra Tante juga masih menolak rencana ini, sekalipun dia sudah duduk di antara kita." Aku melihat Tante Rita berbicara sambil melirik ke tempat duduk anak laki-lakinya, meski tidak jelas yang mana yang sedang ia lirik.


"Ma, sebenarnya jangan langsung ke perjodohan. Maaf, Om dan Tante Atmaja. Saya rasa di tahun seperti ini, ide perjodohan itu kurang relevan. Kenapa tidak memberikan waktu untuk saling mengenal dulu?" Laki-laki yang ramah itu berusaha menjelaskan.


Aku tersenyum tanpa sadar sesaat setelah mendengar percakapan Tante Rita dan putranya. Senyum itu muncul begitu saja karena dua alasan. Pertama, sungguh, aku tidak bisa menyangkal bahwa aku menyukai sikap Tante Rita yang berbicara apa adanya. Kedua, dengan keterbukaan ini, aku mendapat angin segar karena laki-laki ramah itu ternyata juga menolak ide perjodohan gila ini.


"Terima kasih Tuhan karena aku tidak sendiri," gumamku dalam hati.


"Ma..." Laki-laki yang ramah itu berusaha menyanggah lagi.


"Diam dulu Hendra! Biarkan Mama selesai bicara." Tante Rita yang tadinya bertutur lembut kini mulai menaikkan nadanya. Laki-laki itu kemudian memilih diam.


"Maaf, Bellatrix. Tante bukannya tidak menyadari cara-cara seperti ini terdengar konyol bagi anak muda seperti kalian. Tetapi, kematian Om menyadarkan bahwa Tante tidak bisa hidup selamanya." Sorot mata perempuan paruh baya itu berubah sendu.


"Tante hanya ingin menyelesaikan tugas Tante dalam menjadi seorang Ibu dan dengan menyelesaikan tugas itu, maka tugas Tante sebagai seorang CEO perusahaan juga bisa Tante akhiri." Tante Rita menarik napasnya dalam-dalam.


"Tinggal satu anak lagi yang belum tante nikahkan dan itu seperti menjadi beban buat perempuan tua ini. Itu semua karena pesan Almarhum suami Tante yang menginginkan bahwa Tante baru bisa berhenti mengelola perusahaan jika semua anak kami sudah menikah." Aku memperhatikan perempuan itu kembali menarik napasnya dengan berat.


"Iya sayang, kebetulan sekali Mommy dan Daddy juga menginginkan kamu segera menikah. Itu sebabnya kami sepakat menjodohkan kalian. B, kamu satu-satunya anak perempuan kami dan kami tentu ingin yang terbaik untukmu," imbuh Mommy dengan lembut.


"Bellatrix, Tante percaya kamu dan anak Tante pasti akan bahagia, sebab pernikahan kalian bukan hanya akan meghasilkan keturunan-keturunan yang briliant tetapi juga bisa membuat keluarga kita menjadi semakin kuat." Aku menatap wajah Tanter Rita dengan kecut.


Keluarga? Mungkin itu bahasa halus masa kini untuk menggantikan kata perusahaan.


"Jadi, bagaimana? Kamu setuju kan sayang?" Pertanyaan itu benar-benar membuat semua mata seketika tertuju padaku. Sementara aku, entahlah! Andai saja aku memiliki kemampuan menghilang, maka mungkin itu yang akan ku lakukan sekarang.


Aku masih menatap wajah Tante Rita dengan ragu. Bersamaan dengan itu, aku merasa lidahku menjadi kelu. Aku tahu aku tidak bisa menyakiti orang tuaku, namun rasanya tetap berat untuk mengatakan 'iya'.


"Apakah semua harus diputuskan di pertemuan ini, Ma? Apa tidak bisa para orang tua memberi anak-anaknya waktu untuk berpikir?" Aku mendengar si laki-laki cabul mengeluarkan suaranya lagi. Namun, kali ini dia terdengar lebih waras.


Belum sempat, Tante Rita memberi jawaban, tiba-tiba aku mendengar seseorang menginterupsi pembicaraan yang menegangkan ini," Ma, maaf. Aku harus pulang. Karina demam. Aku harus membawanya ke Rumah Sakit."


Aku mengerutkan keningku. Karina, siapa dia?


"Astaga! Ya sudah. Cepat bawa cucuku ke Dokter. Bilang istrimu setelah acara Aditya dan Bellatrix selesai, mama akan menyusul," balas Tante Rita dengan lembut. Laki-laki itu pun segera pergi tanpa berpamitan lagi karena terlalu panik


Tapi, tunggu-tunggu.......


Cucu? Istri?


Jadi laki-laki ramah itu... sudah... menikah? Lalu... Siapa yang akan dijodohkan denganku?


Tadi Tante Rita menyebut, Aditya dan Bella? Nama laki-laki ramah itu, bukannya Hendra? Jadi, siapa Aditya? Oh, Tuhan... Jangan katakan itu.....


 -------------


Selamat membaca!


Sementara ini, kalau bisa, Vote dan pemberian hadiah dialihkan ke 'Through My Eyes' saja ya guys. Terima kasih.