
--B's PoV--
*Kamar Bellatrix, Suvretta House, Switzerland:2003*
"Maafkan aku, B!" Laki-laki itu semakin mempererat pelukannya.
"Maafkan aku...." Ucapnya lagi.
Aku tidak menjawab dan hanya menangis semakin keras. Aku menangis di dalam pelukan laki-laki yang kini ku cintai. Laki-laki yang tiada henti mengucapkan maaf sambil mengecup kepalaku dalam bingkai sebuah pelukan penyesalan.
Aditya kembali mengarahkan tubuhku supaya menghadap kepadanya. Kali ini aku tidak memberontak. Ia kemudian mencium keningku dan memcium ke dua mataku, seolah tak jijik dengan air mata yang keluar dari sudut-sudutnya.
"Ku mohon.. Berhentilah menangis!" Pinta Aditya seraya menghapus bulir-bulir air mataku yang terus mengalir di sekitar pipi.
"Ijinkan aku menebus semuanya, B! Biarkan aku mengobatimu, hmm?" Laki-laki itu menatapku dalam-dalam dan seketika hatiku menjadi semakin luluh karena sikapnya. Aku pun menganggukkan kepala.
Aditya membuktikan ucapannya. Ia benar-benar melayaniku dengan sepenuh hati. Mulai dari mengambilkan obat penurun panas dan segelas air putih untuk ku minum, membalurkan minyak pada kakiku dan memijatnya perlahan-lahan demi membuatku senyaman mungkin, meski rasa sakit akibat kram itu tidak bisa ditutupi hingga beberapa kali aku berteriak karenanya. Namun, dengan penuh kesabaran dan kelembutan, ia mencoba menghiburku dengan candaan-candaan ringan supaya rasa sakit itu sedikit teralihkan.
Aku memang tidak bisa mengingkari betapa sakitnya saat ia mencoba meluruskan otot-otot yang menggumpal pada kakiku itu. Namun, mengingat bahwa di saat yang sama ia juga mencoba menyalurkan kekuatan padaku lewat kata-kata manis yang terucap dari bibirnya, aku justru berharap rasa sakit ini tidak cepat berakhir. Aneh bukan?
Aditya nampaknya masih setia melanjutkan tugasnya untuk mengobatiku. Laki-laki itu mungkin sedang menikmati perannya, hingga.....
"B... Ehmm.. A-aku harus menaruh salep ini di dadamu." Wajahku langsung bersemu merah.
Sejujurnya aku tidak mengenakan apa-apa di balik kimono dan dress tidurku itu. Belum lagi aku menyadari bahwa bagian yang tersiram air panas itu hampir mengenai sebagian besar dada hingga sampai di bagian perutku. Jika demikian, itu berarti bahwa Aditya akan.....
"Kau mungkin merasa tidak nyaman kan? Aku bisa menyingkir atau keluar dari kamar ini sebentar supaya kau bisa mengobatinya sendiri." Aditya meletakkan salep yang telah ia pegang di dekat tempatku berbaring. Laki-laki itu kemudian hendak beranjak pergi, namun aku, tanpa ku sadari, aku mencekal tangannya....
"Aku... T-tidak apa-apa... M-maksudku anggap saja kau adalah dokter yang sedang mengobatiku. Lagi pula, i-ini hanya kulit sama seperti yang lain," ucapku sambil menahan malu. Pasti sekarang wajahku sudah seperti kepiting rebus.
Ayolah, B! Sama-sama kulit? Anak kecil saja tahu bahwa bagian itu tidak boleh disentuh oleh orang lain. Alasan model apa ini? Aku terdengar seperti gadis mes*m yang sedang merajuk untuk disentuh oleh seorang laki-laki sekarang.
Aditya menahan tawanya. Wajahnya ikut bersemu merah, bukan karena malu, tetapi mungkin lebih karena merasa konyol mendengar perkataanku.
"K-kau... menertawakanku?" Aku menatapnya dengan marah, lalu cepat-cepat membuang muka.
"Dasar bodoh! Kenapa kau harus menyatakan alasan konyol seperti itu, Bellatrix????" Aku bergumam sendiri di dalam hati.
"Aku akan mengobatinya sendiri. Tolong keluarlah!" Aku berucap dengan cemberut sambil mencoba meraih salep yang ia letakkan di atas kasurku dengan kasar.
Belum sempat aku meraih salep itu, Aditya mengambilnya kembali dan menjauhkannya dari jangkauan tanganku. Laki-laki itu terus menyunggingkan senyumnya seraya menatapku.
"Aku tidak mungkin menjadi bodoh, hingga melewatkan kesempatan emas ini, bukan?" Aditya semakin melebarkan senyumnya. Ia benar-benar menyebalkan.
Aku sadar bahwa wajahku kembali memerah karena ucapannya. Oleh karena itu, aku sekali lagi menolehkan wajahku ke arah yang lain, untuk menghindari tatapan mata Aditya.
Melihat sikapku yang mencoba menghindar darinya, Aditya menyentuh daguku dengan lembut dan mengarahkan kembali padanya sehingga mata kami kembali bertemu dan saling memandang. Aditya kemudian menyibakkan beberapa helai rambut yang sedikit menutupi wajahku, sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Aku akan mengoleskan salep itu. Tetapi..... Bukan sebagai seorang dokter, sebab aku bukanlah dokter. Aku akan mengobatimu sebagai seorang suami, B!" Aditya memperdalam tatapan matanya. Kini ia berbicara sangat serius dan tidak ada lagi senyum canda di raut wajahnya.
Aku benar-benar tidak mampu berkata-kata lagi. Laki-laki itu.... Sepertinya ia selalu punya cara untuk membuatku gagap hingga memilih untuk tidak berbicara.
"May I?" Aditya bertanya lagi sebelum ia membuka kimonoku. Aku sempat terdiam beberapa detik sambil menatap wajahnya, sebelum kembali menganggukkan kepala.
Dengan penuh kelembutan, Aditya mencoba menarik tali yang ada di bagian perutku dan perlahan-lahan membantuku melepas kimono yang sejak tadi ku kenakan. Entah perasaan seperti apa yang ada di dalam hatiku sekarang, sebab sesungguhnya sulit bagiku untuk menggambarkannya.
Aditya sudah melepas kimono itu. Kini yang tersisa hanya dress tidur yang tak mampu menutupi d*daku sepenuhnya.
Aku bisa merasakan bahwa Aditya pun sedikit tegang. Laki-laki itu sempat berhenti sejenak dan cukup lama mengarahkan tatapannya ke bagian dada, sebelum akhirnya ia mencoba menurunkan tali dress yang tersampir pada pundakku.
Sempat menggenggam tangannya sebentar, saat ia sudah setengah menurunkan tali dress itu, Aditya yang mengerti dengan apa yang terjadi lantas berusaha meyakinkanku kembali. Kata-kata lembut keluar lagi dari bibirnya.
"Tidak akan terjadi apa-apa di antara kita. Percayalah padaku! Atau kau berubah pikiran? Jika iya, aku akan berhenti sekarang." Aditya tersenyum lembut untuk membuatku merasa nyaman. Aku tidak menjawab. Aku hanya menarik kembali tanganku supaya ia bisa melakukan tugasnya.
Kini, aku sudah terlihat setengah polos di hadapannya. Ya, aku sudah membiarkan Aditya melihat ke dua asetku yang seharusnya sudah menjadi miliknya juga sejak lama.
"M-maksudku lukanya..." Aku bingung apakah aku harus tersenyum atau menangis saat mendengar ia meralat ucapannya itu.
"M-maksudku d*damu besar tapi lukanya juga cukup besar sebab hampir mengenai seluruh area yang ada di sana." Ya, Tuhan.... Aku benar-benar ingin kembali menenggelamkan diriku ke kolam renang sekarang.
Sejujurnya kami berdua memang terlihat canggung dan bodoh di dalam kamar itu. Suasana ini membuat kami bertingkah konyol.
"S-sebenarnya lukanya sampai ke perutku. Memang tidak terlalu besar di sekitar perut tapi ada." Aku mencoba untuk menetralisir keadaan supaya kecanggungan ini tidak berlarut.
Aditya perlahan-lahan menurunkan lagi dress ku dan mendapati luka bakar di sekitar perut yang ku maksud. Sedetik kemudian wajahnya terlihat sedih.
"Kau pasti sangat kesakitan sejak tadi. Maaf, aku terlambat mengetahuinya." Aku membaca segurat ekspresi penyesalan terpancar lagi di dalam sorot mata laki-laki itu. Sungguh, aku bersyukur ia mengetahui semuanya meski terlambat. Itu masih jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali.
"Kalau begitu obati aku, supaya rasa sakitnya berhenti." Spontan aku mengucapkan kalimat itu untuk merespons dirinya.
Laki-laki itu kemudian menganggukkan kepala. Dengan lembut, Aditya menyentuhkan jari-jemarinya hanya di sekitar area luka. Ia mengoleskan salep itu dengan sangat hati-hati hanya ke bagian kulitku yang meradang.
Ia menepati janjinya. Ia tidak melakukan sesuatu yang lebih dari apa yang sudah kita sepakati sebelumnya.
"Sshhhh...." Aku merintih saat salep itu menyentuh permukaan kulitku yang memerah. Rasanya sedikit dingin saat salep itu dioleskan pada lukaku.
"Tahan ya... Apakah begitu menyakitkan?" Tanya Aditya dengan wajah khawatir.
"Tidak! Aku justru merasa lebih baik," balasku singkat.
Aku berusaha untuk meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Laki-laki itu tersenyum sebentar sebelum kembali melanjutkan tugasnya untuk mengobatiku.
Beberapa menit berikutnya, Aditya sudah bisa menyelesaikan tugasnya. Laki-laki itu kemudian menutup salep dan meletakkannya di atas nakas. Dengan perlahan-lahan, ia kemudian membenarkan dress tidurku.
"Terima kasih." Aku berucap tulus, sementara Aditya justru menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu... Sejujurnya, ini adalah suatu kehormatan bagiku." Laki-laki itu kembali menatapku lembut saat berucap.
Aku tidak menjawabnya lagi, sebab tidak ada kata-kata yang bisa ku gunakan untuk menggambarkan betapa bahagiannya aku saat ia mengucapkan kalimat itu. Aku hanya membalas tatapan matanya yang dalam dengan cara yang sama, seperti caranya menatapku.
Kami terus saling memandang dalam keheningan hingga detik-detik itu berubah menjadi menit. Namun, sepertinya tak satupun dari kami berniat untuk menyudahi tatapan itu. Ya, mungkin memang di dalam hati, kami berdua sama-sama tidak menginginkan semua ini cepat berakhir.
Kami masih saling berpandangan. Kami juga semakin jatuh dalam perasaan kami masing-masing, hingga akhirnya.....
Lima centi....
Empat centi....
Tiga centi...
Aditya semakin mendekatkan wajahnya padaku. Sementara aku hanya mampu menutup mata karena tidak sanggup menatap sorot matanya itu.
Dua Centi....
Jantungku berdetak semakin kencang saat hampir tidak ada jarak lagi di antara kami. Aku bahkan tidak peduli jika Aditya mendengar bunyi degubnya.
Satu centi....
Dan......
------------
Selamat membaca!
Hari ini satu dulu ya... Besok saya usahakan up double. Sebetulnya beberapa hari ini jadwal saya full...
Dilarang baper.... Hahahaha.... Saya masih memutuskan ini mimpi atau nyata ya.... Sebaiknya yang mana? Hahaha...