
--B's PoV--
*Raffles Hospital, Singapore: 2003*
"Kau berhasil menemuinya?" Aku menatap matanya saat pertanyaan itu terucap dari bibir Aditya yang memucat. Bibir yang sudah beberapa kali menciumku tanpa peringatan.
"B???" Aditya menyebut namaku lagi, karena aku tak kunjung membalas ucapannya. Beberapa detik kemudian, aku membalasnya dengan menggelengkan kepala.
Aditya menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia melepas genggamannya dari tanganku sebelum kemudian ia mengucapkan sesuatu.
"Aku tidak membutuhkan rasa ibamu atau perasaan bersalahmu. Bukankah sudah ku katakan bahwa aku melepasmu?" Aditya menatap langit-langit kamar rumah sakit.
Entah mengapa hatiku berdenyut saat ia menyebutkan lagi kata 'melepas' itu. Apakah itu berarti bahwa ia sudah tidak ingin berurusan lagi denganku?
Aku menyadari bahwa aku telah membuat kesalahan fatal dengan menaruh merica pada makanannya. Aditya hampir mati karena perbuatanku. Seharusnya sudah menjadi resiko bagiku, jika ia membenci dan tidak mau berurusan denganku lagi.
Dan... Bukankah itu yang ku harapkan selama ini? Bukankah itu yang ku inginkan? Tetapi mengapa sekarang justru aku seolah merasa terluka dengan ucapannya?
Aditya menegakkan tubuhnya secara tiba-tiba. Aku yang sadar akan pergerakannya kemudian berusaha membantu laki-laki itu.
"Tidak perlu! Aku masih bisa sendiri." Ucap Aditya sembari mengangkat tangannya.
Aku akhirnya terpaksa melepaskan tanganku dari tubuh Aditya karena takut mengganggu kenyamanannya. Dan pada saat itu terjadi, aku kembali merasakan bahwa hatiku berdenyut sakit.
Air mataku menetes secara spontan kemudian. Meski begitu, aku masih berusaha untuk menyembunyikannya dari Aditya. Aku bahkan mengutuki diriku sendiri. Kenapa aku menjadi begitu cengeng sekarang?
Setelah berhasil mendudukkan dirinya sendiri dengan nyaman, Aditya kemudian menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu. Matanya terus mencari hingga berakhir pada sebuah benda yang tergeletak di atas nakas. Laki-laki itu kemudian mengambil benda tersebut. Sebuah handphone miliknya.
Begitu ia berhasil mendapatkan handphone itu, aku melihat Aditya terburu-buru menekan sebuah panggilan. Laki-laki itu selanjutnya mendekatkan telepon nir-kabel itu pada telinganya.
📞 'Halo...' (Aditya)
📞 '.....................' (Unknown)
📞 'Kami gagal menemuinya tadi. Apa kau tahu sampai kapan laki-laki itu berada di Singapore?' (Aditya)
📞 '..................' (Unknown)
📞 'Dia pergi? Setelah acara?' (Aditya)
📞 '................' (Unknown)
📞 'Kemana?' (Aditya)
📞 '.....................' (Unknown)
📞 'Lacak kemana ia pergi! Cari lagi keberadaannya sampai dapat, setelah itu jangan lupa memberi kabar segera!' (Aditya)
Setelah selesai memberikan perintah, laki-laki itu kemudian meletakkan kembali handphone-nya ke atas nakas. Sempat melihatnya merenung barang sejenak, pada saat yang sama aku juga mendapati sorot kekecewaan di dalam mata Aditya yang kosong.
"Kekasihmu langsung meninggalkan Singapore setelah acara kompetisi itu selesai." Aditya kini menatapku. Mata kami bertemu sesaat sebelum kemudian aku menundukkan kepala.
"Maafkan aku... Aku bukan tidak menghargai usahamu untuk..." Aku mencoba mengucapkan maaf tanpa berani menatap matanya dan laki-laki yang ku mintai maaf itu tiba-tiba memotong ucapanku.
"Semua bukan salahmu, B! Aku yang tidak seharusnya berada di antara kalian." Aditya menatapku dengan tatapan penuh penyesalan.
Aku masih berdiri di sampingnya saat Aditya berbicara. Aku seperti tidak berani beranjak dari tempatku berdiri.
"Harus ku akui bahwa aku memang tertarik padamu, B! Mungkin bukan pada pertemuan awal kita. Aku mulai merasakan ketertarikan itu justru pada saat kau berdansa dengan Syailendra di hotel waktu itu." Sorot mata Aditya menerawang. Mungkin saat ini ia sedang membayangkan pertemuan kami di hotel dulu.
"Aku bisa membaca bahwa kamu bukan perempuan yang mudah ditaklukkan dan sedikit jual mahal. Kamu benar-benar membuatku tertantang sebagai seorang laki-laki. Itu yang membuatku semakin tertarik padamu." Aku masih mendengarkan ucapan Aditya tanpa berniat menyelanya. Aku bisa merasakan bahwa ia sedang mengatakan yang sejujurnya.
"Apa kau tahu bahwa aku juga memberikan sebuah julukan untukmu?" Aditya menungguku membalas. Tapi, sungguh aku tidak bisa memikirkan apapun saat itu.
"Bintang." Laki-laki itu kemudian menyunggingkan sebuah senyum yang tulus.
Bintang? Aku mengingat bahwa ia pernah memanggilku dengan sebutan itu. Saat itu ia tidak mengetahui bahwa aku hanya sedang berpura-pura tidur.
"Kau tahu kenapa?" Aku menggelengkan kepala. Sejujurnya ada beberapa alasan terlintas di dalam benakku. Misalnya, mungkin karena aku tidak tersentuh olehnya? Tapi aku tidak ingin berspekulasi.
"Karena kamu bisa mengeluarkan cahayamu sendiri. Kamu bersinar dengan caramu, B. Itu yang membuat seorang Bellatrix Atmaja berbeda dengan perempuan lain yang pernah ku temui." Aditya menatapku dalam-dalam untuk menunjukkan kesungguhan perkataannya.
Aku semakin membisu mendengar ucapan Aditya. Tidak tahu apakah aku harus merasa senang atau sedih karena ternyata ia tidak menyebutkan alasan fisik, seperti yang selama ini ku pikir menjadi pertimbangan kuat baginya untuk memilikiku.
"Sayangnya, kemudian aku melakukan kesalahan fatal. Aku berpikir bahwa kamu pun memiliki ketertarikan padaku. Aku berpikir mungkin B menyukai laki-laki yang sedikit 'nakal' sepertiku." Aditya tersenyum kecut, seolah menertawakan kebodohannya.
"Dan lebih parahnya lagi, aku mengira bahwa semua sikapmu yang dingin hanyalah kamuflase untuk menutupi ketertarikanmu padaku." Ia menggelengkan kepalanya seperti orang yang sedang terheran-heran akan isi pikirannya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Aditya kembali menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Meski kondisinya jauh lebih stabil saat ini, tapi aku menyadari ia belum berada dalam kondisinya yang paling prima.
"Aku... Terlalu percaya diri....." Mata laki-laki itu kembali menyiratkan kekecewaan.
"Setelah pernikahan kita berlangsung, setelah semua sikap penolakan yang kau tunjukkan, aku baru menyadari bahwa sebenarnya kamu tidak pernah berpura-pura dengan sikapmu." Aditya menjeda sejenak ucapannya.
"Kamu memang membenciku." Aditya kembali menatapku yang masih memilih untuk diam.
"Kamu membenciku dan mungkin kamu jijik padaku. Iya kan B?" Sorot mata penuh kesedihan semakin jelas terlihat di titik pusat matanya saat Aditya melontarkan pertanyaan itu.
Aku tidak menjawab. Sungguh aku takut semakin melukai Aditya dengan jawabanku.
"Kamu bahkan tidak pernah memanggilku dengan namaku selama ini, kecuali saat mengucapkan janji pernikahan kita." Dia menyadarinya. Aku tidak percaya ia begitu memperhatikanku selama ini.
"Dan mungkin kau juga mengharapkan aku.... Mati." Aditya melanjutkan ucapannya. Laki-laki itu bahkan tersenyum kembali seolah ia baik-baik saja dengan apa yang baru saja ia ucapkan.
"A-aku tidak melakukan itu karena menginginkan kematianmu." Kali ini aku memotong ucapannya. Aku tidak bermaksud membela diri, tetapi aku sangat terluka saat ia mengatakan bahwa aku menginginkan kematiannya.
"Saat aku ke kantormu waktu itu, aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan Franky. Aku mendengar seolah kamu akan melenyapkan Indra. Itu sebabnya aku melakukan semua itu untuk menghambatmu." Aku menjelaskan kepada Aditya sembari menyeka air mata yang sudah tidak bisa ku sembunyikan lagi darinya.
"Sejujurnya, aku tidak menyangka bahwa efeknya akan separah ini.. Hiks.. Hiks...Maafkan aku...." Tangisanku pecah tak terbendung. Aku berusaha menjelaskan bahwa semua ternyata terjadi lebih parah dari yang bisa ku bayangkan.
Tangisku semakin kencang saat mendapati perlakuannya. Aku sadar bahwa kini Aditya benar-benar menjaga jarak denganku.
"Seperti yang bisa kamu lihat, aku masih hidup, jadi kamu tidak perlu merasa bersalah lagi." Aditya berbicara sambil menggeser posisi tubuhnya secara perlahan-lahan dan hendak menjangkau gelas yang ada di atas nakas.
Ingin rasanya aku membantu laki-laki itu. Namun, mengingat penolakannya tadi, aku memilih mengurungkan niatku.
Aditya terus berusaha menggapai gelas minumannya. Tangannya yang terinfus membuatnya kesusahan.
"Kamu mau minum? Biarkan aku membantumu!" Aku yang tak tega akhirnya menawarkan bantuan.
"Maaf, tanganku sulit menjangkaunya. Bisa tolong ambilkan aku segelas air, B. Tenggorokanku rasanya kering sekali." Aditya memintaku dengan lembut. Tanpa menunda aku pun berjalan dengan sedikit terseok-seok untuk mengambil segelas air putih baginya.
"Ada apa dengan kakimu?" Aditya melihat kaki kiriku yang penuh luka akibat terjatuh di parkiran dari balik belahan gaun dansaku.
Aku memang belum mengganti pakaianku sejak keluar dari gedung pertunjukan itu. Bagaimana bisa aku memikirkan untuk mengganti pakaian saat tahu bahwa Aditya masih belum siuman sejak tiba di rumah sakit? Aku bahkan menolak untuk diobati, meski Franky terus memaksaku. Pada waktu itu, aku memang tidak bisa memikirkan yang lain, selain keselamatan Aditya.
"Terjatuh karena tidak hati-hati melangkah. Ini minumlah. Apa perlu ku bantu?" Aku menawarkan bantuan, namun ia tidak meresponsnya dan memilih terus menatap kakiku.
"Siapa yang membuatmu seperti ini?" Aditya mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Aku jatuh sendiri. Tidak apa-apa. Ini tidak seberapa. Jangan banyak berpikir, kamu masih belum stabil!" Aku berusaha menutupi luka itu dengan gaunku namun tetap saja tidak berhasil. Jika saja aku mengetahui bahwa ia akan sepanik itu tentu aku akan menyempatkan waktu untuk mengganti pakaian tadi.
"Mereka tidak mengobatimu? Apakah mata mereka buta, hingga luka-luka itu tidak terlihat?" Aditya sekarang terlihat kesal.
"Ini minumlah. Nanti aku akan mengobatinya." Aku mencoba mengalihkan perhatiannya namun ia semakin emosi hingga menepis tanganku dan gelas itu pun terlepas.
Pyarr!!
Aku terkejut dengan sikap Aditya yang kasar dan terisak secara spontan. Aku kembali merasa takut padanya.
"Maaf... Maaf, aku lepas kendali." Aditya menyentuh tanganku dan menarik tubuhku mendekat padanya.
"Aku khawatir padamu, B! Aku tidak suka kamu menyepelekan luka-luka itu. Aku takut terjadi infeksi pada lukamu," ucap Aditya dengan lembut.
"Aku terbangun dengan kamu yang tertidur dalam posisi duduk tidak nyaman di sampingku dan kemudian melihatmu terluka seperti itu. Aku benar-benar khawatir," sambungnya lagi.
"Naiklah.. Berbaringlah di sampingku. Kau juga harus beristirahat." Aditya menggeser tubuhnya, menyisakan sebuah tempat yang cukup luas untukku.
"A-aku baik-baik saja. Tidak perlu...." Aditya cepat-cepat memotong perkataanku.
"Aku tidak akan bertindak kurang ajar padamu, B. Jangan salah paham! Aku akan tetap menjaga jarak supaya kamu nyaman. Aku hanya ingin kamu bisa beristirahat dengan baik. Ranjang penunggu pasien terlalu sempit dan tidak senyaman ranjang ini. Kemarilah!" Aditya menepuk ruang kosong di sampingnya.
Aku sempat terdiam memikirkan permintaannya, sambil menyeka air mataku. Ini memang bukan pertama kalinya kami tidur bersebelahan. Aku seharusnya tidak perlu canggung.
Pada akhirnya aku menuruti kata-kata Aditya. Lagi pula aku harus menjaga kestabilan emosinya, sebab ia baru saja pulih. Perlahan-lahan aku pun mendudukkan tubuhku di atas ranjang dan kemudian membaringkannya di samping laki-laki itu.
"Tidurlah!" Aditya menyuruhku.
"Kamu, apa tidak jadi minum?" Aku bertanya dengan ragu-ragu. Aku cukup khawatir jika dalam kondisi lemah seperti ini, ia harus menahan rasa haus lagi.
"Bisakah kamu mengambilkannya lagi?" Dengan ringan aku memanjangkan tanganku mengambil botol air mineral berukuran sedang yang disediakan di sana, lalu menyerahkannya pada Aditya.
Ia meminum air di dalam botol itu dan meneguknya hingga tersisa setengah sebelum kemudian menyerahkan kembali padaku. Selanjutnya, aku meletakkan botol itu pada posisi semula.
Selesai memuaskan dahaga, Aditya membaringkan tubuhnya dengan posisi membelakangiku. Sementara aku memilih tidur terlentang menghadap langit-langit.
Beberapa menit selanjutnya kami lewati dalam keheningan. Aku dan Aditya pasti sama-sama telah mencoba untuk tidur kembali, tapi tetap saja tidak bisa.
"Apa aku boleh bertanya?" Aku memberanikan diriku untuk memulai pembicaraan kali ini karena rasa kantuk yang tak kunjung datang.
"Susah tidur ya?" Aditya tiba-tiba membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku.
Deg.. Deg..
Deg.. Deg..
Posisi kami menjadi sangat dekat. Jantung ini pun kembali menunjukkan reaksi yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Aku sungguh tidak tahu bagaimana cara mengendalikan tubuhku setiap kali aku berada dekat dengan Aditya.
"Mau bertanya apa?" Aditya menatapku.
"Apa kamu pernah mencintaiku?" Pertanyaan itu meluncur bebas dari bibirku disertai dengan perubahan pupil mata Aditya yang tiba-tiba membesar, seolah menadakan keterkejutan.
Astaga! Apa yang baru saja ku katakan?
"Ma-maksudku. Kau tadi mengatakan bahwa kau tertarik padaku. Jadi, mungkin saja perasaan tertarik itu berkembang dan.. dan..." Aku berbicara terbata-bata karena panik dengan ucapanku sendiri. Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku Aditya tiba-tiba menyela.
"Jawaban apa yang kau harapkan B?" Aditya balik bertanya setelah kembali menetralkan ekspresinya.
"Hah? A-aku...." Apa maksud pertanyaannya? Apa ia sedang mempermainkanku sekarang.
"Apa yang kau inginkan dengan pertanyaan itu?" Aditya kembali membuatku gugup. Apa yang aku inginkan?
"A-aku... K-kau tahu bahwa aku mencintai orang lain. Aku berharap kau tidak sampai mencintaiku, supaya kau... Kau... Tidak...." Sial! Kenapa tadi aku harus bertanya seperti ini?
"Maka pikirkanlah apa yang membuatmu nyaman dan ringan. Itu adalah jawabanku." Aditya menjeda lagi ucapannya.
"Lagi pula, bukankah semua itu tidak ada artinya sekarang? Apapun jawabanku tidak akan pernah mengubah keadaan kita. Sejak aku melihatmu meninggalkanku di hotel dalam kondisi sekarat waktu itu, pada saat itu juga aku menyadari bahwa apapun yang aku katakan dan lakukan tidak akan bisa mengubah perasaanmu padaku. Selamanya, aku hanya akan menjadi orang asing. Itu sebabnya aku melepasmu, B!" Aditya menatapku sejenak sebelum kemudian membalikkan lagi badannya dan memunggungiku.
Sekali lagi aku merasakan hatiku berdenyut sakit karena ucapannya. Sakit yang seharusnya tidak perlu ku rasakan karena aku tidak mencintainya. Atau..... mungkin karena aku terus menyangkal perasaanku yang diam-diam telah mencintainya.
 --------------------
Selamat membaca!
Halo teman-teman pembaca! Apa kabar? Semoga selalu sehat ya....
Pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih atas antusiasme yang semakin hari semakin meningkat untuk cerita ini. Terima kasih untuk poin, koin, vote, komen, like, rate dan love yang diberikan sampai sejauh ini. Semoga cerita B dan Aditya menjadi salah satu cerita yang selalu dirindukan oleh teman-teman.