
--B's PoV--
*2003: Bali, Helipad*
"Bellatrix...." Aku membuka kelopak mataku sekilas, saat mendengar suara seorang laki-laki yang tidak asing, sedang menyebut namaku dengan nada yang panik.
Aku mengerjapkan mataku berkali-kali untuk memaksa kesadaranku kembali pada tempatnya, tetapi sepertinya aku tidak mempunyai cukup tenaga. Yang bisa ku rasakan waktu itu hanyalah aku yang sedang terbaring pada sebuah brankar, dimana brankar itu sedang di dorong oleh sekumpulan orang berjas putih.
"Tenanglah! Sebentar lagi kita akan tiba di rumah." Aku mendengar suara laki-laki yang sama berbicara kembali. Waktu itu ia berkata sambil membelai puncak kepalaku dan menggenggam jari-jemariku dengan lembut.
Aku berusaha menangkap wajahnya lewat pandanganku. Aku cukup penasaran, siapa yang saat itu sedang berbicara, sebab aku seperti melupakan semua jenis suara yang pernah ku dengar.
Sayang sekali, hari itu mataku tidak bisa diandalkan. Semuanya terlihat samar-samar, seperti berkabut.
Beberapa kali aku mengerjapkan mata, memaksanya melihat ke sekeliling, namun hasilnya tetap sama. Aku tidak bisa mengidentifikasikan apa-apa.
Saat itu, satu-satunya yang jelas bagiku adalah bahwa aku merasa tubuh ini begitu lemah, begitu lelah. Dalam sekejap, bak seorang yang terkena hipnotis, lagi-lagi aku kehilangan kesadaran.
Aku tertidur semakin lama semakin dalam dan lelap. Aku bahkan tidak tahu apakah aku bisa terbangun kembali.
Entah berapa lama? Entah dalam keadaan yang seperti apa? Aku benar-benar tidak bisa merasakan apapun saat itu.
--------------------
*2003: Jakarta*
"Eeerrgghh..." Aku kembali tersadar untuk ke dua kalinya.
Walau hanya sepersekian menit, namun aku bisa merasakan sebuah tangan kekar sedang menggenggam tangan kiriku. Tangan yang menggenggam itu adalah tangan dari seorang laki-laki, yang sedang tertidur dalam posisi setengah duduk di samping ranjangku. Sebelah tangannya menggenggamku, sementara yang lain dijadikan sebagai alas dahinya, sehingga masih tersisa sedikit rongga untuk bernapas.
Sungguh aku tidak tahu berapa lama ia sudah menggenggam tanganku, hingga aku merasa kebas. Karena merasa tidak nyaman dengan posisi ini, aku kemudian berusaha melepaskan genggaman laki-laki itu. Aku berharap ia akan terbangun karena pergerakanku sehingga aku bisa melihat wajahnya. Namun, ia bahkan tak bergerak sama sekali.
Tubuhku memang masih lemah saat aku terbangun di hari itu, tapi hatiku dilanda sebuah rasa penasaran yang besar. Siapa sesungguhnya laki-laki ini? Ingin sekali aku mengetahui wajahnya. Ingin sekali aku menanyakan alasan mengapa ia di sampingku dan sejak kapan ia berada di sana.
Andai saja aku punya kekuatan lebih untuk mengguncang tubuh kekar itu dan membangunkannya. Namun, mata ini kembali memberat.
Hanya beberapa menit saja, aku bisa mempertahankan kesadaranku. Tidak lama kemudian aku pun kembali menutup mata.
Sungguh aku tertidur lagi. Dan kali ini, mungkin akan lebih lama. Sesuatu menghambatku untuk tersadar kembali. Sesuatu yang biasanya disebut orang dengan nama mimpi.
Di dalam mimpi itu, aku bisa merasakan diriku berlari pada sebuah padang hijau yang begitu luas. Padang yang dipenuhi dengan rumput-rumput hijau nan lembut menggelitik telapak kakiku yang tak beralaskan kasut.
Aku begitu bahagia. Aku bahkan menggerakkan tubuh ku mengikuti arah angin. Aku menari dan tertawa begitu lepas, menikmati semua yang ada di sana. Apakah itu keindahannya atau bahkan kesempatan untuk menjadi diriku sendiri.
Awalnya aku mengira bahwa tidak ada seorang pun selain diriku di tempat itu. Hingga tiba-tiba, dari kejauhan aku melihat sosok seorang laki-laki mengenakan kaos ketat berwarna hitam, hingga mempertontonkan otot-ototnya yang liat dan celana panjang berwarna senada sedang berjalan mendekat ke arahku.
Jarak membuatku tidak bisa melihat sosok itu dengan jelas. Namun, karena ia terus berjalan mendekat padaku, memangkas jarak demi jarak di antara kita, akhirnya aku pun bisa mengetahui wajah sang pemilik tubuh kokoh itu.
Wajah yang teramat ku rindukan. Wajah yang selalu bisa mengisi hari-hariku dengan kebahagiaan.
"Indra....." Aku menyebut namanya dengan setengah suara.
"Indra........" Aku berlari mendekat kepadanya sambil terus menggaungkan nama kekasihku. Aku begitu bahagia melihatnya.
Indra dan aku kemudian menghentikan langkah begitu kami berdua sudah berhadapan. Hanya tersisa sedikit jarak di antara kami. Indra menyunggingkan sebuah senyuman lembut untukku. Senyum tulus yang sangat ku rindukan.
"Kau kembali... Kau telah kembali untukku..." Aku meneteskan air mata seraya menatapnya penuh cinta.
Tanpa bisa menunggu lagi, aku pun melangkah dan mendekapnya dengan sangat erat. Aku bahkan tidak menyisakan jarak sedikitpun di antara kami.
"Oh Tuhan, aku begitu mencintainya." Aku mengutarakan kalimat itu tanpa suara.
Sejujurnya, aku sadar bahwa ini pasti hanyalah mimpi belaka. Sebab, tidak mungkin bagi Indra dan aku untuk bersama dengan begitu mudahnya. Meski begitu, aku tetap bersyukur. Semua ini sudah cukup membuatku berbahagia.
Aku masih mendekapnya dan ia pun membalas dekapanku. Ia bahkan semakin mengeratkan pelukannya seolah-olah tak ingin membiarkanku terlepas lagi dari jangkauannya.
"Aku mencintaimu, B!" Indra membisikkan kata-kata itu di telingaku.
"Aku juga mencintaimu, sayang.... Sangat mencintaimu." Air mataku jatuh mengalir dengan deras saat menyatakan cintaku padanya. Entah mengapa ini terasa seperti nyata, sebab aku sadar bahwa semua yang terjadi hanyalah visualisasi angan bawah sadarku yang menguar karena perasaan rindu dan cinta yang tak terbendung.
Meski begitu, meski aku menyadari semua ini bukanlah yang sesungguhnya, aku berharap mimpi ini tidak akan pernah berakhir. Aku ingin selamanya bersama cinta dalam hidupku. Aku ingin semua ini menjadi abadi.
Indra masih mendekapku untuk beberapa saat. Laki-laki itu bahkan sepertinya tidak berniat untuk melepasku. Mungkin ia ingin membuatku terbuai dalam sentuhannya yang begitu hangat.
Matanya begitu tajam. Sorot matanya bahkan terasa sangat jahat, bak harimau jantan yang siap menerkam.
Aku berusaha untuk tetap tenang selama beberapa detik. Mataku bahkan sempat bersirobok dengan matanya. Pada saat-saat seperti itu, aku mencoba mencari ke dalam sorot mata laki-laki itu, setitik saja perasaan ragu untuk melanjutkan tindakannya yang jahat, namun keraguan itu tidak ada di sana.
Aku masih menatap mata laki-laki itu dan menggeleng pelan. Dengan cara itu, aku berusaha memohon padanya untuk tidak menarik pelatuk dan menembakkan peluru. Aku sangat yakin ia mengerti maksudku. Namun, ia hanya membalasku dengan sebuah senyuman sinis dan......
Dor.....
Aku mendengar suara tembakan di udara. Pada saat yang bersamaan, aku bisa merasakan bahwa tubuhku tumbang dalam pelukan kekasihku. Darah mengalir deras entah dari mana dan aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi setelahnya.
Ya, aku memutar tubuhku dengan cepat sebelum peluru itu menembus tubuh kekasihku. Aku berhasil melindunginya dengan mengorbankan diriku. Bukankah itu sebuah tindakan atas nama cinta......
"Aaaaarrgggghhh........ Hah.. Hah.. Hah..." Baru saja aku terbangun dari mimpi indah dan mimpi burukku dengan napas yang tersengal-sengal. Bersamaan dengan itu bulir-bulir keringat pun ikut keluar dari pori-pori kulit di sekujur tubuhku.
"Nyonya Bellatrix, anda sudah sadar?" Seorang perempuan muda yang mengenakan setelan pakaian formal berwarna hitam mendekat kepadaku.
"Dimana aku? Kau.. Siapa kau?" Aku bertanya padanya.
"Anda sedang berada di Mansion anda Nyonya. Sa...." Aku berinisiatif untuk menjeda ucapannya sebelum ia melanjutkan perkataannya lagi.
"Mansion?" Aku menatap matanya sambil mengerutkan kening.
"Mansion anda dan tuan Aditya, Nyonya," imbuhnya cepat.
Aditya.... Aku segera menyadari siapa yang sedang gadis itu maksudkan. Andai ada banyak cara mudah bisa ditempuh untuk menghilangkan namanya dari hidupku.
"Oya, perkenalkan saya Vina! Saya ditugaskan Tuan Aditya untuk menjaga anda sementara Tuan pergi ke rumah orang tua anda, untuk mengambil beberapa barang dan perlengkapan yang masih tertinggal." Gadis itu melanjutkan kembali ucapannya yang tadi sempat tertunda.
"Syukurlah anda sudah siuman. Tuan Aditya pasti senang mendengar kabar ini. Beliau tidak pernah meninggalkan anda sedetik pun sejak mendapati anda pingsan di hotel itu," ucapnya lagi.
"Benarkah? Apa aku tidak salah dengar? Aditya...Selalu menjagaku? Jika begitu apakah laki-laki yang selama ini selalu ku dengar suaranya juga adalah.... Aditya?? Tapi, untuk apa?" Aku berucap di dalam hati.
"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" Tanyaku dengan nada yang tak bersahabat.
"Empat hari Nyonya." Aku terkejut. Benarkah selama itu?
"Dimana Arini? Aku ingin berbicara dengannya!" Aku menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan perempuan paruh baya itu.
"Maaf Nyonya. Arini tidak ada di sini. Tuan Aditya langsung memecatnya begitu melihat anda tidak sadarkan diri. Waktu itu Tuan sangat panik." Vina menjawab dengan raut sedih. Mungkin Arini dan Vina cukup dekat sebelumnya.
"Di pecat??" Aku tidak menyangka bahwa reaksi Aditya sangat berlebihan terhadap perempuan paruh baya itu.
Ceklek...
Aku mendengar suara pintu dibuka. Seorang laki-laki yang sejak tadi disebutkan namanya oleh Vina baru saja memasuki ruangan di mana aku berada. Laki-laki yang sama, yang menjadi orang ke tiga dalam mimpiku, yang mengangkat senjata dan menghabisi nyawaku dengan pelurunya.
"T-tuan Aditya....." Vina membalikkan tubuhnya menghadap laki-laki itu dan membungkukkan badan.
"Nyonya baru saja sadar, Tuan." Vina kini membagikan senyumnya kepada sang tuan, seolah ia sedang berharap bahwa ini bisa menjadi kabar yang menyukakan hati majikannya.
"Kau boleh pergi. Aku perlu bicara berdua dengan istriku." Aditya membalas ucapan gadis itu tanpa melihat wajahnya. Laki-laki itu hanya terus menatap wajahku dan entah apa arti dari tatapannya itu.
"Baik, Tuan!" Tanpa menunda lagi, gadis itu pun melangkah pergi.
Sementara itu, Aditya sudah berdiri persis di sebelahku dan masih menatapku dengan cara yang sama. Biasanya aku akan membuang mukaku ke arah yang lain karena malas menanggapinya, tapi entah mengapa aku seperti ingin menantangnya dengan terus melihat ke arahnya.
Begitu pintu tertutup rapat. Aku melihat Aditya mengambil sesuatu dari saku kemejanya.
Ia mengambil secarik kertas. Secarik kertas yang tidak seharusnya ada padanya. Secarik kertas yang tidak seharusnya ia baca isinya, sebab itu adalah kertas yang ditinggalkan Indra untukku. Kenangan terakhir yang sengaja diberikan Indra untukku.
"Katakan padaku Bellatrix Atmaja...Bukan, Bellatrix Wardhana...." Aditya menjeda sejenak ucapannya dan menarik napasnya dalam-dalam.
"Apa kau mencintainya?" Aditya meremas kertas itu dan meletakkannya pada telapak tanganku.
Aku masih menatap matanya. Mata yang selalu ku benci. Mata yang tidak pernah menunjukkan kehangatan dan cinta. Mata yang tadi sempat menyiratkan sesuatu yang tak ku mengerti, namun akhirnya aku menyadari bahwa kali ini mata itu menyiratkan... Luka......
--------------
Selamat membaca!