
*Jakarta, PT Banyu Mili Persada: Masa Kini*
Tampan dan mapan. Kriteria yang selalu tersemat pada laki-laki yang dianggap idaman. Ya, wajah yang memikat, ditunjang dengan kemampuan finansial di atas rata-rata adalah paket yang sempurna. Dan semua itu ada pada diri Prajadiwangsa Aditya Banyu Wardhana.
Belum lagi sikap dingin yang selalu ditampilkannya. semua itu seakan menambah nilai diri Aditya yang unggul dan istimewa.
Tidak bisa dipungkiri, usia owner PT Banyu Mili Persada, PT Narayan Adi Kencana, dan beberapa PT lain itu memang tidak muda lagi. Laki-laki itu kini sudah menjajaki usia 43 tahun. Meski begitu, ketampanan Aditya seperti tidak luntur dimakan waktu.
Ia masih saja memesona. Pesona yang menjerat banyak partner bisnis wanita, termasuk para karyawati di bawah kepemimpinannya. Meski benteng yang dibangun laki-laki itu cukup tinggi saat berhadapan dengan lawan jenis, tetap saja banyak perempuan masih mencoba-coba untuk meruntuhkan benteng itu.
Seperti yang dilakukan oleh perempuan yang satu ini. Perempuan yang sempat mengganggu ketentraman hati sang istri, dan yang tidak jera untuk mengganggu mereka sekali lagi.
"Pak Aditya...." Cintya mencoba berjalan mendekati Aditya dan Bellatrix kembali.
Perempuan itu nampaknya begitu gigih mendekati atasannya dan begitu terang-terangan mengabaikan perempuan yang sedari tadi bersanding di sebelah laki-laki itu. Tipe-tipe gadis menyebalkan yang tidak tahu diri.
Seperti biasa, Aditya hanya membalas dengan tatapan, tanpa ada niatan untuk menjawab. Pada kondisi ini, Bellatrix sungguh mensyukuri sisi menjengkelkan suaminya yang satu ini. Ia tidak perlu menjadi 'anjing penjaga yang galak' karena suaminya sangat pandai menjaga diri.
"Pak, saya kemarin belum berterima kasih dengan baik. Saya sebenarnya ingin memberikan ini sebagai ucapan selamat atas kesuksesan bapak dan secara khusus juga atas perhatian bapak kepada saya." Cintya menyodorkan sebuah kotak kado berukuran sedang.
Dari bentuknya, Bellatrix menduga sepertinya itu sebuah asesoris. Mungkin dasi, penjepit dasi, atau pena.
"Bapak begitu perhatian kepada saya malam itu. Saya tidak membayangkan jika yang bertabrakan dengan saya malam itu bukan bapak. Saya mungkin masih kesulitan berjalan saat ini." Cintya mencoba menguraikan perasaannya atas kejadian beberapa hari yang lalu.
Bellatrix terpaku. Perempuan itu benar-benar terlihat seperti orang bodoh di depan gadis muda itu dan suaminya sendiri.
Perhatian? Malam itu? Kesulitan berjalan?
Pertanyaan-pertanyaan itu begitu membingungkan dirinya. Pikirannya berkecamuk, lamunannya terbang tanpa arah. Sementara itu, bibirnya tiba-tiba menjadi kelu.
Apa sebenarnya yang sudah terjadi? Gadis ini, kenapa ia begitu gigih? Apa ia tidak menyadari bahwa ada istri atasannya yang mendengar percakapan mereka?
"Jujur, saya sebagai anak magang merasa kagum dengan kerendahan hati bapak yang bahkan masih mengingat nama saya dengan jelas," tambah Cintya dengan senyum mengembang, penuh percaya diri. Tanpa ragu, ia terus menerus berbicara dan mengabaikan keberadaan seorang perempuan yang hatinya kini kembali bergemuruh.
--Flash Back On--
*Jakarta, PT Banyu Mili Persada: Dua hari Sebelumnya*
Brukkk...
"Sshhhh....." Terdengar suara mendesis dari bibir merah seorang gadis, yang karena terburu-buru tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang saat hendak melangkah memasuki lift.
Gadis cantik bertubuh sintal dengan pakaian yang serba mini itu jatuh tersungkur di depan lantai lift yang dingin. Pakaiannya terlihat sedikit berantakan karena kejadian itu.
"Apa anda baik-baik saja, Nona?" Suara berat dan sedikit serak milik laki-laki yang bertabrakan dengan tubuh gadis itu menggema. Wajah laki-laki itu memang selalu datar tanpa ekspresi, tetapi bukan berarti ia akan mengabaikan begitu saja seorang perempuan yang terjatuh karena menabrak dirinya.
"Auuww.. Sepertinya kakiku terkilir," keluh perempuan itu kembali dengan nada sedikit manja karena merasa kesakitan. Ia belum menyadari dengan siapa ia berbicara saat itu karena tatapannya masih terarah pada pergelangan kakinya yang mulai membiru.
"Apa anda bisa berdiri?" Tanya laki-laki itu kembali untuk memastikan apakah perempuan yang ada di hadapannya membutuhkan bantuannya atau tidak.
"Apa anda tidak bisa melihat bahwa pergelangan... Ka..Ki.... P-pak Aditya?" Begitu wajahnya menengadah dan tatapan mereka bertemu, gadis itu terkejut hingga kehilangan kata-kata.
"M-maaf saya tidak menyadari bahwa anda yang berada di dalam lift ini tadi?" Gadis itu mencoba untuk segera berdiri karena ia merasa posisi jatuhnya pasti terlihat memalukan di hadapan bos besarnya itu. Namun, belum sempat ia berdiri dengan benar, perempuan itu menjerit.
"Aduuhh...." Bibirnya sedikit bergetar karena menahan sakit. Gadis itu pun kembali meringis, saat ia hampir saja terjatuh karena tumpuan kaki yang tidak kuat.
Sentuhan Aditya membuat gadis itu merasakan sesuatu yang berbeda. Wajahnya memerah tiba-tiba.
"Sepertinya kau memang membutuhkan bantuan," tutur Aditya sambil mengambil sesuatu dari sakunya. Sebuah smartphone yang langsung menghubungkannya dengan sekretarisnya.
📞 Franky... Lobby bagian barat, lantai Satu! (Aditya)
📞 "Ha? Oh, baik pak. Emm... Apa Bapak tidak jadi bertemu Mr. Ford?" (Franky)
📞 "Ada karyawan yang terluka, kakinya terkilir setelah jatuh di depan pintu lift. Dia harus diobati." (Aditya)
📞 "Terluka? Karyawan? Oh, ya. Saya mengerti. Saya akan segera ke lobby. (Franky)
📞 "Cepat Franky!" (Aditya)
📞 "Bapak bisa meninggalkannya. Bukankah bapak memang sedang terburu-buru? Biar saya yang mengurusnya. Tolong namanya saja pak, supaya saya tidak kebingungan mencari." (Franky)
"Siapa Namamu?" Aditya bertanya sambil menatap sekilas wajah gadis di hadapannya. Ia belum melepaskan tangannya dari lengan perempuan itu karena mungkin saja gadis itu akan kehilangan keseimbangannya kembali.
"C-cintya, saya anak magang, Pak." Gadis itu menyebutkan nama dan statusnya di perusahaan milik Aditya.
📞 "Namanya Cintya, anak magang." (Aditya)
📞 "Baik Pak Aditya. Saya segera ke sana." (Franky)
Panggilan itu kemudian terputus. Aditya pun kembali meletakkan smarthphone-nya ke dalam saku celana.
"Akan ada sekretarisku yang mengurusmu. Ayo! Biar aku bantu berjalan ke sofa di ujung sana, supaya kau bisa menunggunya dengan nyaman." Aditya mendampingi perempuan yang bernama Cintya itu berjalan perlahan-lahan hingga mendapati sebuah sofa berwarna kuning muda di ujung ruangan.
Aditya membantu gadis itu untuk mendudukkan dirinya. Dengan perlahan-lahan, ia menahan lengan gadis itu.
"Oke! Aku harus pergi. Franky, sekretarisku akan membantumu setelah ini," sambung Aditya sembari menatap arloji di tangannya. Laki-laki itu memiliki janji temu yang sepertinya sangat penting.
Tanpa menunda, setelah memastikan bahwa Cintya telah duduk dengan sempurna di sofa itu, Aditya melanjutkan langkahnya menuju ke luar gedung. Baru saja ia menjejakkan kakinya beberapa langkah, terdengar suara gadis itu memanggilnya kembali.
"Pak Aditya....." Aditya berhenti sejenak saat mendengar namanya disebutkan. Laki-laki itu menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
"Terima kasih," ucap Cintya dengan wajah bersemu.
Aditya tidak merespons lagi. Ia hanya menatap perempuan itu tanpa ekspresi kemudian melanjutkan langkahnya kembali.
--Flash Back Off--
"Terima kasih," balas Aditya seraya mengambil kotak kado dari tangan gadis itu.
Ia sempat membayangkan peristiwa dua hari yang lalu, saat pertama kali dirinya bertemu dengan Cintya. Sayangnya, peristiwa itu hanya tervisualisasi di dalam kepalanya. Sementara, kepala sang istri yang penuh dengan pertanyaan itu dibiarkan terus berkeliaran tanpa penjelasan.
"Pak, jika anda butuh bantuan APAPUN... Saya mohon jangan sungkan untuk menghubungi saya. Bukankah budi baik harus dibalas?" Gadis itu mengubah intonasinya ketika menyebutkan kata apapun. Siapa saja yang mendengar percakapan itu pasti mengerti arahnya.
Dahi Aditya mengernyit. Ia mulai jenuh dengan tingkah gadis muda di hadapannya itu. Aditya kembali tersenyum simpul dan mengajak Bellatrix melangkah, meninggalkan gadis muda yang sepertinya justru semakin tergila-gila dan tertantang dengan sikap dingin atasannya.
 ------------------
Selamat Membaca!