
--B's PoV--
*Jakarta: 2003, Bulan Baru*
Malam itu, aku sedang bersiap-siap untuk beristirahat. Tapi sebelum menyerahkan diri dalam rengkuhan alam bawah sadarku, aku memutuskan untuk mengambil sebuah buku yang ada di dalam perpustakaan mansion Aditya, untuk ku bawa ke dalam kamar dan ku baca sebagai pengantar tidurku.
Sepanjang perjalanan dari kamar menuju perpustakaan, aku merasa bahwa malam-malam yang ku lalui di tempat ini terasa begitu sunyi. Entah mengapa, tapi aku cukup prihatin dengan kondisi mansion yang begitu besar, tapi sayangnya tidak ada kehidupan di dalamnya. Yes, It's just a house not a home.
Memang ada begitu banyak orang berlalu lalang di tempat ini. Para pelayan dan tukang kebun adalah yang paling sering ku lihat. Tapi, mereka bak robot yang hanya fokus mengerjakan tugasnya.
Mereka berbicara hanya jika diperlukan. Tidak ada canda-tawa. Tidak ada sapa-menyapa satu dengan yang lain.
Meski demikian, bukankah aku seharusnya bisa memaklumi hal itu? Mengingat bagaimana karakter tuan besar, si pemilik mansion ini, aku semestinya tidak perlu terkejut.
Berbicara tentang si tuan besar, aku bahkan sudah lama tidak melihat laki-laki itu. Tolong, jangan salah paham! Aku bukan mengharapkan kehadirannya. Hanya saja, aku takut jika ada keluargaku atau keluarganya tiba-tiba datang mengunjungi kami.
Apa yang harus ku katakan pada mereka? Tidak mungkin aku mengatakan 'tidak tahu' saat mereka menanyakan dimana keberadaan laki-laki itu yang notabene adalah suamiku dalam pandangan mereka.
"Iblis cabul itu... Kemana dia pergi? Awas saja kalau sampai dia menyusahkanku." Aku berbicara pada diriku sendiri sambil mengambil sebuah buku dari lemari yang cover-nya cukup menarik perhatian. Cover bergambar sepasang burung merpati yang sedang memadu kasih.
Sudah hampir satu bulan dan tidak pernah ada kabar dari Aditya. Entah dimana dia dan apa yang sedang dikerjakannya. Ia sepertinya benar-benar memberi kesempatan untukku sehingga aku bisa menikmati waktu dengan bebas, tanpa merasa terganggu dengan kehadirannya.
Dan.... Aku benar-benar menikmatinya. Setelah merasa sembuh dan kuat untuk beraktifitas lagi, aku benar-benar memanfaatkan 'me time' ku dengan sebaik-baiknya.
Aku suka berdiam diri di dalam kamar seraya melamunkan hal-hal yang membuatku bahagia. Aku bisa berendam bermenit-menit di dalam bathtube tanpa ada yang mengganggu.
Aku bahkan kembali melakukan Yoga secara teratur setiap pagi. Tentu saja, aku tetap melakukannya di dalam kamar, tepatnya persis di sebelah ranjangku. Dengan membuka kelambu untuk mendapat sinar matahari yang cukup dan membuka semua jendela supaya sirkulasi udaranya berputar dengan baik, aku bisa melakukan Yoga dengan nyaman.
Harus ku akui bahwa desain kamar yang ku tempati ini sangat cocok dengan seleraku. Aku bahkan merasa seolah ini adalah kamar utama dari mansion ini, meski itu tidaklah mungkin sebab tidak ada barang-barang Aditya di sana.
Selain menghabiskan waktu di kamar, aku juga senang menghabiskan waktu di perpustakaan seperti sekarang ini. Aku merasa itu lebih menyenangkan dari pada harus berbasa basi dengan para pelayan, yang asing dan tidak ku kenal.
Aku tahu mereka adalah pekerja yang baik, tapi aku memilih membentengi diriku dengan sikap dingin karena memang sikap seperti itulah yang membuatku merasa nyaman. Aku memang tidak pernah mempersulit mereka dalam melakukan tugasnya. Mengingat bagaimana terakhir kali Aditya memecat Arini karena ulahku, sejak saat itu, aku lebih berhati-hati dalam merespons pelayanan para pekerja di mansion ini.
Sejujurnya, aku tidak menyangka bahwa Aditya akan bertindak se-ekstrim itu kepada Arini. Aku yang sengaja membuat diriku sendiri menjadi sakit, kenapa malah Arini yang dipecat?
Jika aku tahu bahwa Aditya tidak punya belas kasih terhadap orang-orang yang dianggap melalaikan tugasnya, aku tentu tidak akan melibatkan Arini dan membuat batasan yang jelas dengan perempuan itu. Ya, lebih baik aku menjaga jarak dengan para pelayan seperti sekarang ini.
Menjaga jarak adalah caraku melindungi mereka. Semakin dekat padaku, tentu semakin besar tanggung jawab dan kepercayaan yang mereka emban.
Setelah mendapatkan buku yang ku mau, aku pun bergegas kembali ke kamar. Tanpa menunda, aku segera membaringkan diri dan membuka buku yang ku pilih.
Bukankah ini terlalu mellow untuk berada di perpustakaan laki-laki secabul dan segarang Aditya? Aku jadi penasaran apakah ia membacanya juga?
Aku terus membaca halaman demi halaman. Aku berusaha menghubungkan apa yang tertulis di dalam buku itu dengan kondisi psikologisku sendiri ketika aku mulai jatuh cinta pada Indra.
Sesekali aku tersenyum karena pernah mengalami apa yang tertulis di buku itu. Sesekali aku menganggukkan kepala karena membenarkan pernyataan-pernyataan di dalamnya.
Aku masih larut dalam buaian ribuan huruf yang ada di sana, hingga sebuah foto aku temukan terselip di antara halaman-halaman buku itu, seolah ia menjadi pembatasnya. Foto itu adalah foto Aditya dengan seorang gadis.
Wajah Aditya memang tidak terlihat karena ia membelakangi kamera. Namun, dari posturnya aku tahu bahwa itu adalah Aditya.
Mereka berdua berpelukan dan hanya wajah gadis itu saja yang terlihat karena posisinya berhadapan langsung dengan lensa kamera.
"Cantik...." Aku memberikan komentar terhadap wajah gadis itu.
"Siapa sebenarnya perempuan ini?" Pertanyaan selanjutnya tidak berani ku utarakan. Aku hanya menggumamkannya di dalam hati.
Aku masih memikirkan berbagai kemungkinan untuk menjawab rasa penasaranku atas foto gadis itu. Mungkin saja ia kekasihnya atau mantan kekasihnya. Entahlah!
Setelah melihat foto itu, aku mencoba mengabaikannya. Aku mulai membaca kembali, namun ternyata aku tidak bisa berkonsentrasi lagi.
Pikiranku seketika terbang ke awan-awan. Aku sepertinya tidak bisa berhenti memikirkan identitas gadis itu. Rasa penasaranku semakin besar, hingga sebuah suara menyadarkanku.
Ceklek....
Aku terkejut saat mendengar suara pintu kamarku dibuka secara tiba-tiba. Aku mungkin lupa mengunci pintu tadi, sehingga siapapun bisa masuk.
Namun, selama ini, tidak ada pelayan yang berani masuk tanpa ijinku dan biasanya mereka selalu mengetuk pintu. Jantungku mendadak berdebar dengan cepat saat pintu itu di dorong dari luar. Siapa yang ada di balik pintu itu?
Krieet....
Begitu pintu terbuka, rupanya, bukan aku saja yang terkejut saat itu. Orang yang baru saja membuka pintu itu pun membelalakkan matanya. Meski, setelah itu ia berusaha kembali menetralkan ekspresinya.
"Maaf, karena ini sudah tengah malam, aku pikir kamu sudah tidur. Bolehkah aku masuk? Aku hanya mau mengambil berkas di dalam brankas. Aku tidak akan mengganggumu." Seorang laki-laki dengan penampilan berantakan dan wajah yang kelelahan berbicara padaku dengan sopan.
Aditya... Dia.... Datang!!!
-----------------
Selamat membaca!