
*Jakarta, Di dalam mobil Aditya: Masa Kini*
π΅πΆπ΅πΆ
I am thinking of you
In my sleepless solitude tonight
If it's wrong to love you
Then my heart just won't let me be right
'cause I've drowned in you
And I won't pull through
Without you by my side
Sebuah lagu sayup-sayup terdengar mengiringi perjalanan Aditya dan Bellatrix dari Perusahaan menuju ke mansion mereka. Perjalanan yang begitu hening, bukan hanya karena suasana malam yang semakin larut tetapi juga karena salah satu penumpang di dalam mobil itu tertidur pulas.
Pada acara launching perusahaan mereka kali ini, entah mengapa Bellatrix seperti kehilangan kendali atas dirinya. Perempuan itu minum lebih banyak dari biasanya. Untung saja Aditya segera menyadari kondisi sang istri. Dengan cekatan, Laki-laki itu pun segera membawa istrinya pulang kembali ke mansion, meski acara belum selesai.
Sebenarnya, Aditya sudah berusaha membatasi minuman alkhohol yang diteguk istrinya. Namun, entah keberanian dari mana yang merasuki perempuan itu, Bellatrix tidak memedulikan larangan suaminya. Ia terus meneguk gelas-gelas berisi champagne yang ia temui.
π΅πΆπ΅πΆ
I'd give my all to have
Just one more night with you
I'd risk my life to feel
Your body next to mine
'cause I can't go on
Living in the memory of our song
I'd give my all for your love tonight
"Kau begitu perhatian pada gadis itu," gumam Bellatrix tiba-tiba di tengah tidurnya. Aditya yang duduk di bangku kemudi, menoleh sejenak karena ucapan absurd istrinya.
"Kau tahu? Kau benar-benar jahat Aditya!" Bellatrix terus meracau. Perempuan itu benar-benar di bawah pengaruh Alkhohol.
"Kau menjeratku dengan pernikahan ini. Kau menjeratku terlalu jauh hingga aku tidak berdaya. Tapi lihat.... Kau bisa membuat seorang gadis tergila-gila dan bahkan berterima kasih dengan tulus kepadamu karena merasa diperlakukan istimewa.... Hehehe...." Bellatrix tiba-tiba terkekeh di sela-sela ucapannya.
"Saya tidak percaya bapak masih mengingat nama saya.." Bellatrix masih tersenyum saat menjeda sejenak kalimat Cintya yang berhasil ia hafal dan tirukan.
"Dia anak magang. Posisi yang rendah, kecil. Dan kau, yang posisinya jauuuuuhhh.... Tinggiiiii.... Di ataaaaaass bisa mengingatnya... Hehhehe...." Perempuan itu tertawa kembali. Reaksi alkhohol memang bisa bermacam-macam.
"Saya membayangkan jika yang bertabrakan dengan saya malam itu bukan bapak, saya mungkin masih kesulitan berjalan saat ini. Hebat... Hebat.. Hehehe..." Setelah melanjutkan aksinya mengulang kembali ucapan Cintya, Bellatrix bertepuk tangan dengan begitu bersemangat.
Aditya masih saja tidak merespons. Ia tahu semua responsnya tidak akan berguna dalam kondisi seperti ini. Istrinya sedang mabuk.
"Dulu saja aku kesulitan berjalan setelah kau mengambil semuanya.. SEMUANYA... Kau mabuk dan mengambil SEMUANYA... Hiks.. Hiks.." Tawa yang tadinya terdengar kini beralih menjadi tangis. Bukan hanya itu, raut wajah bahagia yang tadinya terlihat kini berubah menjadi begitu sendu.
"Kau tahu kenapa aku sulit berjalan, hmm? Kau melakukannya tanpa hati. Kau membuatku kesakitan sepanjang malam. Kau.. TIDAK PEDULI... Hiks.. Hiks..." Tangisan Bellatrix terdengar semakin lirih.
"Tapi gadis itu... Kau pasti memperlakukannya dengan lembut saat menyentuhnya. Itu sebabnya dia berterima kasih padamu karena ia cepat pulih dan bisa berjalan dengan normal pada acara launching malam ini," ucap Bellatrix dengan air mata yang begitu deras mengalir. Perempuan itu tanpa sadar telah meluapkan seluruh perasaan dan pikirannya.
π΅πΆπ΅πΆ
Baby can you feel me
Imagining I'm looking in your eyes
I can see you clearly
Vividly emblazoned in my mind
And yet you're just so far
Like a distant star
I'm wishing on tonight
"Kau tahu Aditya? Aku merasa tidak berharga saat kau menyentuhku. Aku merasa bahwa kau selalu saja menyakitiku. Uhuk.. uhuk.." Berbicara sambil menangis nyatanya membawa efek buruk. Bellatrix tiba-tiba tersedak cukup parah.
"B....." Aditya menyebut panggilan itu. Panggilan yang tidak pernah perempuan itu dengar sejak lama. Sayangnya, itu diucapkan kembali saat sang empunya nama tengah tidak sadarkan diri.
Kondisi batuk Bellatrix sedikit mengkhawatirkan karena cukup keras dan tidak cepat berhenti. Aditya yang merasa khawatir pun memilih menepikan dan menghentikan mobilnya sejenak.
"Kau Tahu Aditya? Uhuk.. Uhuk..." Pertanyaan itu terjeda sejenak karena sisa-sisa batuk yang masih ingin dikeluarkan.
"Aku pernah berharap agar ada satu malam. Satu malam saja. Satu malam, di mana aku bisa merasakan bahwa diriku diinginkan dengan kesadaran. Bukan dengan laki-laki di bawah pengaruh alkhohol, seperti yang selama ini kau lakukan padaku." Intonasi dan volume suara Bellatrix semakin melemah.
Batuknya tidak terdengar lagi. Dan mungkin saja, sebentar lagi perempuan itu akan kembali kehilangan kesadarannya.
"Apakah itu terlalu sulit Aditya? Apakah harapanku terlalu tinggi? Hiks.. Hiks.." Perempuan itu kembali menangis dengan napas yang memberat. Beban yang ada di dalam hatinya terlalu besar. Beban yang selama ini dipikulnya seorang diri.
Tidak ada kata-kata keluar lagi dari bibir Bellatrix setelah kalimat terakhir itu. Ia terlihat memejamkan mata seolah kesadarannya terenggut dengan cepat dan tergantikan begitu saja dengan mimpi.
Sementara Aditya, laki-laki itu hanya mampu terpaku. Ia tentu ikut terluka saat mendengar ucapan dan tangisan istrinya. Pikiran laki-laki itu mendadak kacau.
Dan sebelum semuanya menjadi semakin berantakan, Aditya menjalankan kembali mobilnya dengan lebih cepat. Ia hanya ingin segera sampai ke kediaman mereka dan membaringkan Bellatrix yang terlihat sangat mengenaskan.
Baru beberapa menit mobil itu melaju, Bellatrix tiba-tiba terbangun kembali. Tanpa aba-aba telapak tangannya menyentuh lengan suaminya. Aditya sedikit tersentak karena melihat mata istrinya yang terbuka lebar, seperti orang yang sudah benar-benar sadar.
"Ku mohon sentuh aku malam ini, Aditya!" Perempuan itu menatap tajam mata suaminya.
Ciiiitttt......
Aditya mengerem mobilnya mendadak. Ia sungguh tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh istrinya itu.
"B......" Panggil laki-laki itu kembali seraya memandang istrinya dengan tatapan tidak percaya.
"Ku mohon padamu, satu malam saja..." Air mata Bellatrix kembali menetes.
"Satu malam dengan perasaan sadar bahwa kau menginginkanku.. Bahwa ada yang menginginkanku..." Ia melanjutkan kembali ucapannya dengan isak tangis tak terbendung.
"Satu malam saja dan aku tidak akan meminta apapun lagi padamu," tatapan mata Bellatrix menyiratkan luka yang teramat dalam.
Aditya menyadari seperti apa hubungan mereka selama ini. Laki-laki itu hanya tidak menyangka bahwa Bellatrix sedemikian terluka dengan sikapnya.
Ia memang br*ngs*k karena selalu menyatukan diri dengan istrinya dalam kondisi tidak sadar. Tetapi, bukankah itu lebih baik? Dengan begitu Bellatrix menyadari bahwa apa yang terjadi di antara mereka adalah semu? Dengan begitu, perempuan itu tidak perlu berpura-pura menikmati apa yang terjadi di antara mereka berdua setiap kali mereka menyatu?
"Aditya......" Suara Bellatrix semakin melemah karena tidak segera mendapat jawaban. Laki-laki itu hanya menatapnya dengan tatapan yang tidak terbaca.
Bellatrix kini semakin terluka. Pada akhirnya ia menyadari bahwa sampai kapan pun ia tidak akan mendapatkan perasaan itu.
Perempuan itu pun menarik kembali tangannya dari lengan suaminya. Bellatrix kemudian menundukkan kepala dan menghapus satu demi satu bulir-bulir air mata yang masih menetes di pipinya.
Baru saja ia hendak mengalihkan tatapannya keluar jendela, tiba-tiba....
Cup...
Laki-laki yang duduk di sampingnya itu menarik tengkuknya, mengarahkan wajah mereka agar berhadapan, dan menciumnya tanpa aba-aba. Bellatrix tentu saja tidak mempersiapkan diri dengan ciuman dadakan ini. Pikirannya menjadi kosong sejenak, namun setelah menyadari apa yang sedang terjadi, ia pun membalas ciuman laki-laki itu dengan irama yang sama.
Beberapa menit berlalu. Kedua bibir itu masih saling bertaut dengan mesra. Entah kapan ciuman itu akan berakhir, sepertinya keduanya memang tidak berniat mengakhirinya.
"B..." Aditya berbicara di sela ciuman mereka. Laki-laki itu enggan berhenti tetapi dia tahu bahwa dia harus berhenti.
"Kita lanjutkan di kamar. Aku akan memacu mobil ini secepat yang aku bisa," ucap Aditya dengan berat hati karena harus melepaskan bibir istrinya.
Seperti kata-katanya ia memacu mobilnya dengan begitu cepat. Tidak ada hal lain yang dipikirkan Aditya, selain ingin cepat sampai ke kediaman mereka.
Satu malam... Dan ia akan mengabulkan permintaan itu... Sebentar lagi....
π΅πΆπ΅πΆ
I'd give my all to have
Just one more night with you
I'd risk my life to feel
Your body next to mine
'cause I can't go on
Living in the memory of our song
I'd give my all for your love tonight
Β -----------------
Selamat membaca!
Hi readers! Lagu yang tertera adalah lagu berjudul 'My All' yang dibawakan oleh Mariah Carey di awal 2000an. Teman-teman bisa membaca chapter ini, sambil mendengarkan lagunya supaya lebih berasa feel-nya. Thanks!