The Untold Story

The Untold Story
Selamat Ulang Tahun



--B's PoV--


*Jakarta: 11 September 2003*


Malam ini, dari balkon kamar tempat ku berpijak, kembali aku menatap cakrawala. Mungkin sebentar lagi hujan akan turun. Aku bahkan bisa merasakan aroma basah yang khas menguar di udara. Dan bersamaan itu, hembusan angin tak henti-hentinya menerpa wajah dan memporak-porandakan beberapa helai rambut yang tidak ikut terkait bersama kawanannya.


Beberapa kali aku memeluk tubuhku sendiri karena hawa dingin yang menusuk tulang. Jika bukan karena janjiku pada Mama Rita untuk menyenangkan Aditya di hari jadinya, aku tidak mungkin membiarkan diriku tersiksa seperti ini.


Bagaimana tidak? Mama Rita memaksaku mengenakan sebuah gaun malam berwarna silver lembut tanpa lengan, dan terbuka di bagian punggungnya. Gaun itu memang melapisi tubuh sintalku, mencetak jelas setiap lekuknya dari dada hingga ke mata kaki, namun tentu tidak bisa melindungiku dari dinginnya udara malam ini.


"Sshhh......" Sekali lagi aku mendesah karena dinginnya tiupan angin.


Sudah lima belas menit, aku menunggu Aditya pulang. Namun, sampai detik ini tidak ada tanda-tanda kedatangannya.


Mama Rita berkali-kali meneleponku dan mengatakan bahwa Aditya sudah dekat dan aku harus bersiap. Namun, dengan pakaian seperti ini di musim hujan, apa yang mereka sebut dengan 'sebentar lagi' ternyata memberikan siksaan di setiap menitnya.


Belum lagi ditambah pikiranku yang terus melayang mengingat skenario yang sudah Mama Rita buat untukku. Skenario yang membuat otak dan batinku terasa linu akibat harus menghafal semua dan menahan malu karena isinya yang sarat dengan rayuan seorang istri terhadap suaminya.


Andai Mama Rita tidak mengawasiku lewat CCTV, dan memasang mikrofon mini pada bagian dalam gaunku untuk mendengar percakapan kami, tentu aku tak akan melakukannya. Perempuan paruh baya itu bahkan mengatakan, bahwa ia hanya akan mematikan kamera dan speaker-nya ketika aku berhasil menyeret Aditya ke tempat tidur dan menghabiskan malam berdua. Gila bukan?!


Membayangkan hal itu, sekujur tubuhku merinding. Bercinta dengan seseorang yang tidak ku cintai sungguh tidak pernah terbersit dalam benakku. Entah apa yang akan terjadi nanti, tapi yang jelas aku tidak akan menyerahkan tubuhku padanya. Tidak akan pernah!


 ----------------


Yang ditunggu pun akhirnya tiba. Beberapa pelayan kemudian menghampiriku. Salah satu di antara mereka memberi tahu perihal kedatangan laki-laki itu, sementara yang lainnya bergegas meletakkan kue ulang tahun, sebotol wine dan dua porsi steak di atas meja. Lagu-lagu Pop-Jazz romantis pun diperdengarkan untuk mengiring makan malam kami.


Tubuhku bergetar. Jantungku seperti ingin melompat keluar dari tempatnya. Aku bahkan sudah mulai berkeringat padahal sedari tadi aku begitu kedinginan.


Andai saja aku bisa lari dari skenario yang telah dibuat oleh ibu mertuaku.... Sayangnya, aku tidak bisa.


"B......." Aku mendengar suara Aditya memanggil namaku, setelah para pelayan meninggalkanku sendirian di balkon itu.


Waktu itu kamar kami begitu temaram. Tidak ada cahaya apapun kecuali cahaya lilin yang menyinari kamar kami. Aditya berjalan menghampiriku, yang mulai lelah menunggunya sedari tadi.


"Selamat ulang tahun... Selamat ulang tahun.. Selamat ulang tahun suamiku... Semoga panjang umur...." Aku menyanyikan lagu selamat ulang untuk Aditya dengan suara yang bergetar seraya memaksakan senyum.


Malam itu, aku berdiri di dekat meja makan kami, membawa sepotong strawberry cheesecake dan sebuah lilin ulang tahun di tengahnya sebagai kejutan kecil untuk Aditya. Kejutan yang tentunya sudah dipersiapkan dengan matang oleh Mama Rita dengan mengatasnamakan diriku.


"B.... Ini.... A-apa yang terjadi?" Aku melihat Aditya mengerutkan keningnya. Aku yakin laki-laki itu sedang merasa aneh sekarang.


"Ssttt.... Jangan banyak bicara, sayang! Dengarkan aku! Masih perlukah kamu banyak melontarkan pertanyaan disaat aku sudah mempersiapkan semua ini dan menunggumu cukup lama? Ataukah kamu masih ingin membuatku menunggu dirimu hanya untuk meniup lilin kecil ini lagi?" Aku merinding mendengar kata-kata yang ku ucapkan sendiri.


Aditya terburu-buru ingin meniup lilin itu tanpa mengucapkan harapan lebih dulu. Itu sebabnya aku segera menjauhkan kue dan lilinnya.


"Make a wish dulu, sayang! Jangan terburu-buru!" Aku tertawa kecil melihat tingkahnya. Tertawa yang tentu saja ku buat-buat. Aku berharap tawa itu dapat menimbulkan kesan akrab di mata Mama Rita.


Aku yakin setelah ini pasti banyak pertanyaan yang ingin Aditya katakan. Namun, laki-laki itu tidak menyadari bahwa pertanyaan itu justru akan mengacaukan semua, karena Mama Rita bisa mendengar percakapan kami.


Aku tidak boleh membiarkan laki-laki itu membuat Mama Rita terluka. Tidak untuk kali ini!


Setelah mendengar ucapanku, Aditya kemudian memejamkan matanya. Laki-laki itu menuruti kata-kataku untuk membuat sebuah permohonan. Setelah selesai, ia pun meniup lilin ulang tahunnya sambil menatap wajahku dalam redupnya cahaya di sekitar kami.


"B..... Aku tidak......" Sebelum ia melanjutkan kata-katanya, aku segera menyela sambil meletakkan salah satu jariku di bibirnya.


"Apa yang kamu pinta sayang? Bolehkah aku tahu?" Ku letakkan kembali kue ulang tahun bersama lilin yang tidak menyala di atas meja. Aku tersenyum lembut padanya dan kemudian memeluk tubuhnya tiba-tiba. Aku bisa melihat bahwa Aditya menegang karena tindakanku.


"Relax sayang! Ini hari istimewamu. Aku ingin membuatmu tidak bisa melupakan hari ini." Ucapku lagi dengan sedikit desahan. Mama Rita melatihku sore tadi dan aku benar-benar ingin muntah sekarang karena semuanya terdengar natural.


Aku membawa tangan Aditya dan melingkarkannya di sekitar pinggangku. Tubuhku merinding seketika dengan tingkahku sendiri.


Cukup lama kami berdua berdiri dalam posisi berpelukan seperti ini tanpa kata-kata. Mungkin Aditya pun sedang larut dalam pikirannya sendiri. Kami masih berpelukan dengan mesra, hingga kemudian Aditya memecah kebisuan di antara kami.


"B....." Aditya memanggil namaku dengan lembut.


"Hmm..." Aku masih memeluknya. Aroma maskulin yang segar dan memabukkan itu menelusup bersamaan dengan udara yang ku hirup.


"Apa kau tidak kedinginan?" Aditya menyentuhkan tangannya pada punggungku yang terbuka. Aku semakin merinding dibuatnya.


Apakah sekarang Aditya telah masuk dalam skenario ini? Ataukah dia mulai berpikir bahwa aku sungguh-sungguh membuka hati untuknya?


"Sedikit......" Aku kembali berpura-pura menatap wajahnya dengan penuh perasaan. Bersamaan dengan itu, tanpa sengaja ku dapati bahwa laki-laki itu juga sedang memandangku dengan tatapan yang dalam.


Bahaya! Aditya mungkin berpikir bahwa akhirnya aku memberi kesempatan untuknya. Bagaimana ini, ya Tuhan?


Laki-laki itu kemudian melepas jasnya dan menutupi tubuhku. Dengan lembut, Ia menggenggam tanganku dan membawaku ke sisi kosong yang lain, yang ada di balkon itu.


Kami berdiri berhadapan sambil berpegangan tangan untuk beberapa saat, sebelum Aditya menarik tubuhku dan membuatnya melekat dengan tubuhnya lagi. Saat ini, ia bahkan sudah bergerak ke kiri dan ke kanan seolah mengajakku berdansa diiringi lagu-lagu yang sedari tadi menggema, memenuhi seisi ruangan tempat kami berada.


🎵🎶🎵🎶


So many years gone, still I remember


How did I ever let my heart believe


In one who never gave enough to me


And so many years gone, love that was so wrong


I can't forget the way it used to be


And how you changed the taste of love for me


Aku menutup mataku. Awalnya aku menutup mata karena takut dengan sikap Aditya. Namun, aku juga tidak bisa menolak sentuhannya karena Mama Rita mengawasi kami.


Aku terus memejamkan mata. Aku berharap malam ini akan segera berlalu. Namun, entah mengapa, lambat laun aku justru merasakan perasaanku semakin menghangat.


Aku kini bahkan menikmati setiap sentuhannya. Aku sungguh tidak menyadari bahasa tubuhku sendiri.


"Terima kasih, B!" Aku mendengar Aditya berucap dengan suara yang lembut dan penuh ketulusan.


"Hmm?" Aku masih memejamkan mataku.


"Ini adalah ulang tahun terindah dalam hidupku," imbuh Aditya sambil semakin mempererat pelukannya.


 --------------


Selamat Membaca!