The Untold Story

The Untold Story
Sampai Hari Itu Tiba



--B's PoV--


*Sepanjang Jalan St. Moritz Menuju Ke Jenewa, Switzerland: 2003*


Perjalanan darat dari kota St. Moritz menuju Jenewa telah kami lalui tiga jam lamanya dengan mengendarai sebuah mobil SUV keluaran Eropa, yang dipinjamkan oleh seorang kenalan Aditya, yang kebetulan tinggal di Swiss. Masih setengah perjalanan dan entah mengapa aku berdoa semoga tanah beraspal yang kami lalui ini tidak memiliki ujungnya, sebab perjalanan ini terlalu indah untuk diakhiri.


Meski saat ini hari belum terlalu siang, namun suasana musim gugur yang ditampilkan dalam paduan warna-warni semesta dari balik jendela mobil, nampaknya cukup memberi kesan hangat di hati. Belum lagi ketika aku menolehkan wajahku pada sosok tenang yang tengah menggenggamkan ke dua tangannya pada kemudi. Aku seakan menemukan keindahan laki-laki itu, dari sudut dimana aku berada sekarang.


"Ada apa?" Aditya bertanya tiba-tiba saat aku tertangkap basah sedang mengamati dirinya.


"Eh.. T-tidak ada..." Wajahku bersemu merah dan ia masih melirikku sambil tersenyum. Aku yang tak tahan dengan lirikannya pun hanya bisa menundukkan kepala.


Laki-laki itu kemudian melepas sebelah tangannya dari kemudi dan menggenggam salah satu tanganku. Perasaan berdebar itu kembali menyeruak dalam hitungan detik. Perasaan berdebar yang sepertinya mulai ku sukai.


Sejujurnya, disepanjang jalan itu, aku duduk di samping Aditya dengan perasaan malu, canggung, sekaligus berbunga-bunga. Apalagi ketika memori menghantarku pada peristiwa hangat semalam.


Sungguh! Aku tidak percaya bahwa tadi malam aku dan dia... Ah, aku sebenarnya malu menceritakannya.


 -------------------


--*Awal Kilas Balik*--


Malam itu, kami masih saling berpandangan. Kami juga semakin jatuh dalam perasaan kami masing-masing, hingga akhirnya.....


Lima centi....


Empat centi....


Tiga centi...


Aditya semakin mendekatkan wajahnya padaku. Sementara aku hanya mampu menutup mata karena tidak sanggup menatap sorot matanya itu.


Dua Centi....


Jantungku berdetak semakin kencang saat hampir tidak ada jarak lagi di antara kami. Aku bahkan tidak peduli jika Aditya mendengar bunyi degubnya.


Satu centi....


Dan......


Cup!!


Aku merasakan bibirnya yang lembut menyentuh bibirku dengan begitu mesra. Aku yang seakan telah siap menanti sentuhannya pun seketika langsung membalas ciumannya dengan begitu dalam.


Bibir kami saling bertaut dan aku membiarkan laki-laki itu mengeksplor setiap sisinya dengan bebas. Tidak ada perlawanan sebab aku yang terbuai justru mengalungkan lenganku pada lehernya, mendekapnya, sama seperti dia yang kemudian langsung membawa tubuhku ke pangkuannya untuk mendapatkan akses penuh atas diriku.


Ciuman bibir yang cukup panas dan berlangsung beberapa menit itu nyatanya tetap membuat kami berdua merasa tidak puas hingga Aditya semakin melebarkan jangkauan sentuhannya. Ia mencium telinga, leher, sampai ke dada, hingga sekuat apapun aku menahan diri, tanpa sadar suara-suara aneh itu keluar dari bibirku.


"Adityaaa...." Desahku menyebutkan namanya. Aku menutup mata sambil mencengkeram tubuhnya saat ia merengkuh puncak d*daku.


Ya, Aditya... Laki-laki itu begitu ahli. Dia memang tidak pernah mengatakan padaku bahwa ia tak berpengalaman dalam hal-hal semacam ini. Tetapi sungguh aku tidak menyangka bahwa sentuhan bibirnya saja bisa membawaku yang amatir ini mengalami... Entahlah! Rasanya menyebutkan kata itu terkesan terlalu vulg*r dan int*m.


Bukannya berhenti, Aditya justru kembali melanjutkan aksinya karena mendengar racauan, erangan, dan desahan yang keluar dari bibirku. Laki-laki itu semakin berani dan semakin bersemangat untuk menjelajah area lain yang semestinya bersifat sangat privat. Anehnya, aku bahkan hanya bisa memasrahkan diri saat ia mulai menindih tubuhku dan bermain di area-area privat itu.


"Kau sangat indah, B. Kau adalah perempuan terindah yang pernah ku temui." Ucapnya ditengah-tengah bunyi kecupan yang terus dihasilkan oleh bibirnya.


"Aku menyukai semua yang ada padamu. Aku tergila-gila." Aditya terus memujaku dengan kata-katanya. Jujur saja, pernyataan-pernyataan itu semakin membuatku melambung tinggi ke awan-awan.


Jika sudah begini... Apa kabar dengan Bellatrix Atmaja yang arogan dan jual mahal terhadap suaminya selama ini? Mungkinkah malam ini ia akan membiarkan dirinya dikuasai dan telah siap untuk menjadi seorang Wardhana seutuhnya? Sepertinya begitu! Sebab nampaknya saat ini benar-benar tidak ada perlawanan lagi dari perempuan itu.


Malam itu, tanpa banyak bicara, Aditya terus mengeksplor seluruh tubuhku dengan tangan dan bibirnya. Ia terus menunjukkan pergerakan-pergerakan lembut hingga aku terbuai, bahkan rasanya seperti hampir kehilangan kesadaran.


Laki-laki itu benar-benar bisa membuatku mencapai sebuah perasaan yang tidak pernah ku alami sebelumnya, hingga.... Semakin lama... Aku....


Akuuuu......


"Aaauuuu...." Jeritku dengan tubuh yang tersentak. Kram dikakiku kembali terasa menyakitkan karena tubuhku menegang.


Bersama dengan suara teriakan yang memekik dari bibirku, Aditya secara spontan menghentikan semua kegiatannya. Sambil menunjukkan ekspresi panik bercampur rasa bersalah, ia kemudian menatap wajahku dalam-dalam.


"B.....?" Aditya merebahkan tubuhnya ke samping dengan terburu-buru.


"Aaauu...." Aku mengaduh kesakitan.


"Apa aku menyakitimu?" Tanyanya lagi sambil menatap keseluruhan tubuhku yang nyaris tak berbalut apapun. Pemandangan ini begitu kontras dengan dirinya yang masih berpakaian lengkap.


"Kakiku... Kram lagi...." Aditya melihat ke arah betisku, begitu aku menyebutkan apa yang ku rasakan.


Tanpa menunda, ia segera turun dari ranjang dan kembali mengambil minyak panas yang terletak di atas nakas lalu membalurkannya pada bagian kakiku yang sakit.


"Eeeerrrggghhhh......." Aku mengerang lagi. Sesekali ia juga memberi tekanan pada beberapa sisi kakiku untuk menormalkan kembali otot yang menggumpal dan menegang itu.


"Aaaarrgghhhh........" Aku semakin mengeraskan jeritanku saat ia memberi tekanan yang kuat pada telapak kakiku.


"Sabar sayang...." Ucapnya lembut sambil menatapku dengan perasaan bersalah.


"Sudah... Sudah cukup.. Sakit.." Pintaku supaya Aditya menghentikan semuanya.


"Aaaargghgh....." Air mataku keluar begitu saja tanpa bisa ku cegah.


Laki-laki itu pada akhirnya memahami bahasa tubuhku yang memang tidak tahan dengan rasa sakitnya. Ia kemudian menjauhkan tangannya dari area yang sakit itu dan membiarkanku beristirahat.


"Apakah begitu sakit?" Ia bertanya sambil berbaring kembali di sebelahku setelah mencuci tangannya. Sambil berbaring, ia kemudian mendekapku tanpa ragu. Aku hanya bisa menganggukkan kepala.


"Maaf, aku tidak bisa menahan diri. Aku tidak seharusnya melakukan hal seperti ini kepadamu. Aku benar-benar lepas kendali. Maafkan aku, B! Aku benar-benar menyesal." Aku bisa melihat jelas perasaan bersalah itu dalam raut wajahnya.


Aku terdiam sejenak untuk mencerna ucapannya. Beberapa saat kemudian, secara responsif aku langsung membenarkan pakaianku yang sudah tidak berbentuk dan menarik selimut di bawah kakiku. Setelah dia sudah melihat semua dan hampir mengambil semua, entah mengapa kata itu begitu terasa menyakitkan saat keluar dari bibirnya, meski sejujurnya aku pun tidak mengetahui dengan pasti apa yang ia sesali.


"Menyesal ya?" Aku mengucapkan kata-kata itu dengan lirih sambil tersenyum.


Aku membalikkan tubuhku perlahan-lahan karena tidak ingin menatap wajahnya. Semenjak berada di negeri asing ini, aku menjadi begitu sensitif terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan Aditya. Air mata yang hanya setetes itu kemudian menganak sungai tak tertahankan.


Namun, bukan Aditya namanya jika ia tidak cukup peka. Laki-laki itu segera menyadari perubahanku dan memaksa mata kami bertemu kembali.


"Maaf... " Ia menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Aku tidak seharusnya melakukan itu sekarang padamu saat kau sedang cedera. Pasti sangat menyakitkan bukan?" Aditya menjeda sejenak ucapannya. Sorot mata bersalah itu muncul kembali.


"Jadi.... I-itu yang membuatmu menyesal?" Aku bertanya lagi. Ia menganggukkan kepala dan tersenyum lembut.


"I-itu kan bukan sepenuhnya salahmu. Aku juga bersalah di sini. Aku yang cedera, seharusnya aku lah yang mengingatkanmu." Ucapku hati-hati sambil berusaha untuk meredam perasaan bersalahnya. Aditya masih saja tersenyum menatapku sebagai balasan.


"Dengarkan aku.. Kau seharusnya bisa merasakan bahwa aku menginginkanmu. Selalu menginginkanmu. Mana mungkin aku menyesali setiap momen int*m di antara kita?" Aditya berucap sungguh-sungguh. Sementara aku langsung merona.


"Itu sebabnya aku menjadi lepas kendali saat aku bisa merasakan bahwa kamu mulai menerima kehadiranku, membalas ciumanku. Aku seperti terhipnotis dan sempat berpikir untuk langsung memilikimu bagi diriku sendiri hingga kamu kembali cedera." Aditya terus menyunggingkan senyumnya, meski itu tidak sinkron dengan sorot matanya.


Laki-laki itu kemudian bergerak sedikit untuk memperbaiki posisi bantalnya. Ia berusaha membuat kami berdua mendapatkan posisi tidur yang paling nyaman.


"Kadang kala aku merasa aneh, B! Aku selalu menyakitimu. Bahkan saat aku ingin melakukan yang terbaik untukmu, aku selalu menyakitimu." Suara laki-laki itu semakin lama semakin terdengar seperti berbisik.


Dengan lembut ia kemudian membawa kepalaku untuk tidur di atas dadanya. Tak lupa ia mengecupkan bibirnya pada puncak kepalaku lagi.


"Aku pun pernah menyakitimu. Anggap saja kita impas," balasku sambil mengingat peristiwa di Singapura. Kekehen kecil tiba-tiba terdengar keluar dari bibirnya.


"Jangan pikirkan itu lagi! Aku rela jika dengan begitu kamu sedikit memperhatikanku seperti sekarang ini." Refleks aku mencubit perut Aditya.


"Aauuu... Sakit, B!" Ucapnya dengan nada manja.


"Tapi, aku benar kan B? Kau mulai memperhatikanku. Aku juga sebenarnya tidak terlalu kaget saat kau membalas ciumanku tadi. Mengingat bagaimana kau cemburu dengan Maya selama ini, aku bisa memprediksi bahwa Bellatrix Atmaja mulai menyukaiku, iya kan?" Aditya menatapku sambil memainkan kedua alis matanya.


"Kau....." Aku mencubitnya lagi karena gemas. Jadi, apa dia sengaja memanfaatkan kehadiran Maya?


"Aduh.. Aduh.. Ampun B!" Ia mengambil tanganku dan menggenggamnya supaya aku berhenti mencubitnya.


"Tapi sungguh... Aku serius dengan ucapanku yang sebelumnya. Aku merasa bahwa aku selalu menyakitimu. Karena itu kemudian aku memutuskan untuk melepasmu dan mempertemukanmu dengan penari itu." Aku mengangkat wajahku memandang wajah Aditya yang nampak sayu.


Aku percaya. Jika tidak, bagaimana mungkin kita berdua bisa pergi sejauh ini?


"Tapi... Seandainya tadi kita kehilangan kesadaran dan terjadi sesuatu yang lebih, apakah kamu akan tetap membiarkanku menemui... Indra?" Aku bertanya secara spontan.


"Jadi kau tidak mau kembali padanya?" Aditya balik bertanya. Aku mendadak salah tingkah karena ia membalikkan pertanyaanku.


"Kau ini..." Aku mencubitnya lagi dan ia hanya terkekeh melihat wajahku yang salah tingkah.


Kekehan itu berhenti tak lama kemudian. Aditya mengecup puncak kepalaku lagi dan kembali mendesah kasar.


"Aku tidak akan melakukan sesuatu yang lebih dari tadi, B!" Ia menatapku dalam-dalam sekarang.


"Kau masih belum menentukan kepada siapa hatimu akan berlabuh. Kedekatan kita mungkin bisa saja menjadi euforia sesaat dan karena itu aku tidak ingin mempersulitmu." Aditya mulai menjelaskan apa yang memenuhi seisi kepalanya.


"Mempersulit??" Aku mengerutkan keningku. Lagi-lagi ia menganggukkan kepala.


"Ya... Dengan membuatmu merasa terikat. Aku... tidak seharusnya mengikatmu dengan sesuatu yang bukan berasal dari sini." Laki-laki itu mengarahkan telunjuknya ke tengah dadaku dan menyentuhkannya dengan lembut di sana. Hatiku begitu tersentuh oleh ucapannya.


"Tidak dengan cara yang lebih dari yang sudah kita lakukan tadi. Kau mengerti maksudku kan?" Ia membawaku lebih dekat dalam dekapannya.


"Jadi... Tadi..." Aku bingung mengucapkannya.


"Aku akan berhenti setelah kau mendapatkan puncakmu," jawab Aditya cepat-cepat.


Aku pun terdiam. Sungguh, aku tidak tahu harus merespons seperti apa.


"Sudahlah! Jangan berpikir lagi! Istirahatlah! Besok kita harus ke Jenewa." Aditya ikut masuk dalam selimut yang sama denganku. Ia kemudian memejamkan mata.


Jenewa? Aku bahkan tidak berniat lagi ke sana. Tapi.. Mungkin tetap menemui Indra adalah keputusan terbaik. Bagaimanapun juga aku harus memastikan perasaanku.


"Aditya..." Aku kembali menyebut namanya.


"Hmm?" Laki-laki itu masih memejamkan matanya.


"Aku rasa sebaiknya kita memang tidak melangkah lebih jauh dari ini. Kau benar, aku memang harus memastikan perasaanku. Meski aku harus mengakui bahwa ada perasaan yang berbeda saat bersamamu akhir-akhir ini, tapi tidak ada salahnya aku menguji perasaan ini. Apakah kamu bisa memberikanku waktu?" Ucapku perlahan-lahan, masih di dalam pelukannya.


"Kau akan mendapatkannya, B!" Aditya membalasku tanpa ragu.


"Apapun yang terbaik untukmu. Aku akan memberikannya, sekalipun itu berarti bahwa mungkin saja kau tidak memilihku nanti." Imbuhnya lagi dengan suara yang dalam.


Entah mengapa aku merasakan perasaan sedih saat mendengar ucapan laki-laki itu. Aditya... Kata-katanya terdengar begitu tulus.


"Tapi... Sampai hari itu tiba, ijinkan aku terus merengkuhmu seperti ini saja. Itu....sudah cukup." Air mataku menetes seketika.


Laki-laki ini... Apakah seperti ini caranya? Mungkin inilah yang seringkali disebutkan orang sebagai mencintai dalam senyap.


Tidak ada kata cinta.... Tidak ada rayuan... Dan Tidak ada bualan manja....


Tapi, bagaimana jika nanti pertemuan dengan Indra justru menyakitinya? Apakah yang akan terjadi padanya?


"Terima kasih.. Untuk semuanya.. Aditya..." Hanya itu yang sanggup ku katakan.


Setelah itu, aku semakin melingkarkan tanganku pada tubuhnya. Sungguh perasaan nyaman yang sederhana seperti ini yang ku butuhkan di saat-saat seperti sekarang.


"Have a nice sleep... My B.... Bintangku..." Ia mengecup bibirku lembut, sebelum akhirnya kami berdua jatuh terlelap bersama.


Seperti ucapannya tadi, Aditya merengkuhku dalam dekapannya. Ya, dalam tidurnya, ia merengkuhku. Tapi... Apakah hanya sampai pada saat dimana hari itu tiba?


--*Akhir Kilas Balik*--


 --------------


Selamat Membaca!


Halo, teman-teman. Sebelumnya, mohon maaf karena saya terlambat update. Saya sakit beberapa hari ini dan baru saja merasa enakan.


Maaf, malam ini sepertinya hanya bisa update satu chapter karena kondisi saya belum pulih benar. Tapi ini 2000 kata kok teman-teman.. Semoga tidak terlalu kecewa ya..


Terima kasih antusias dan dukungan teman-teman untuk saya selama ini...