The Untold Story

The Untold Story
Istriku



--B's PoV--


*Engiadina Restaurant , Switzerland: 2003*


"Thank you," ucapku pada seorang pelayan yang bertugas menyimpan coat para tamu setelah aku melepaskannya dari tubuhku.


Ya, kini aku telah berada di dalam sebuah reataurant klasik bernama Engiadina. Sebuah restaurant yang cukup unik karena kesan rumahan langsung bisa ditangkap, begitu para tamu menjejakkan kakinya. Apalagi ditambah banyaknya material batu dan kayu yang dipilih sebagai bahan dasar bangunan, tentu saja semakin menciptakan nuansa hangat dan akrab.


Aditya, aku, dan Maya kini sedang berjalan menuju sebuah meja yang sudah dipersiapkan bagi kami bertiga. Aku dan Maya kemudian memilih duduk berhadapan bak rival dalam peperangan. Sementara Aditya, laki-laki itu semula ingin duduk di sampingku, tetapi seperti biasa, Maya terus merengek agar Aditya menemaninya, sehingga ia tidak punya pilihan lain.


Melihat bagaimana cara gadis itu berpakaian, aku justru merasa tenang dengan posisi Aditya. Setidaknya dengan duduk di sampingnya, kesempatan Aditya memandang belahan d*da ABG ser*nok itu secara langsung sedikit berkurang.


"Duduklah berhadapan denganku!" Aditya memintaku menggeser posisi duduk supaya bisa berhadapan langsung dengannya.


Aku menunjukkan sebuah senyum simpul untuk meresponsnya, sebelum kemudian mengabulkan permintaan laki-laki itu. Sementara Maya, mungkin hatinya terasa panas sekarang. Dan entah mengapa aku justru merasa bahagia saat melihat wajah cemberut gadis itu.


"Thank you," kata Aditya saat salah seorang pelayan mengantarkan buku menu dan menaruhnya di atas meja kami.


Pelayan itu masih berdiri di dekat meja kami. Sementara itu, kami masih membutuhkan sedikit waktu untuk memilih menu.


"I want Roasted Beef Skewer with Vegetables and Country Cuts, and then... Mussels ala Tarantina," ucap Aditya menyebutkan pesanannya. Pelayan itu mengangguk dan mencatat apa yang disampaikan oleh Aditya.


"Make it double," imbuh Maya karena ingin memesan makanan yang sama dengan Aditya.


"But please, make sure that there is no pepper on his dish." Tanpa sadar aku menggenggam tangan Aditya saat mengingatkan pelayan itu bahwa tidak boleh ada merica di dalam hidangannya.


Sekilas aku bisa melihat, ada senyum yang terbit di bibir Aditya. Namun, aku tidak tahu untuk apa ia tersenyum sampai aku menyadari bahwa aku sedang menggenggam tangannya.


Pada saat itu pipiku langsung merona karena malu. Bagaimana bisa aku menggenggam tangannya tanpa sadar? Akhirnya dengan perlahan-lahan aku pun melepas genggamanku dan menyimpannya di bawah meja.


Sejujurnya, aku memang masih merasa bersalah pada laki-laki itu. Perasaan bersalah itu yang membuatku tidak bisa melupakan betapa berbahayanya merica bagi Aditya.


Mengingat ia memesan beef yang umumnya akan dimasak dengan menggunakan merica, alarm bahaya seakan berdering di kepalaku. Aku sungguh tidak ingin melihatnya kesakitan seperti kemarin.


"Don't worry, B! Mereka sudah tahu. Restaurant ini adalah restaurant langganan keluargaku." Aditya menjelaskan padaku dan aku membalasnya dengan menganggukkan kepala seraya merasa lega.


"I want Grisson Style Barley Soup and Mixed Sallad, please." Aku kemudian menyebutkan pesananku. Pelayan itu menganggukkan kepala lagi dan mencatat pesananku.


"Kamu diet?" Gadis itu tiba-tiba berbicara sambil menatapku aneh.


"Tidak. Aku makan apa yang aku suka. Tidak ada alasan lain." Aku menjeda sejenak ucapanku.


"Lagi pula, untuk apa diet? Tanpa perlu membuka dan memamerkannya, aku merasa banyak orang tentu setuju bahwa bentuk tubuhku cukup ideal dan enak di pandang. Padat berisi di tempat yang perlu saja," balasku sambil memaksakan senyum. Sementara Maya memutar bola matanya.


Anak kecil itu mungkin merasa hebat dengan penampilannya yang seperti itu. Aku hanya ingin memberi sedikit pelajaran untuknya supaya ia tidak memaksakan diri terlalu jauh dan malah kelihatan kampungan. Menggunakan tangtop berbelahan dada rendah saat suhu di sekitarnya 11°, apalagi namanya jika bukan kampungan.


"Eehhmm... And give us your best red wine!" Aditya menyebutkan pesanannya lagi sekaligus memecah ketegangan di antara kami.


"In a bottle or in three glasses?" Pelayan itu bertanya untuk memperjelas pesanan kami.


"Three...." Baru aku ingin menyebutkan dalam tiga gelas, tetapi Aditya dan Maya memotong ucapanku dengan kompak.


"In a bottle!" Pelayan itu mengangguk lagi dan tersenyum menatapku.


"Is there anything else, Sir?" Tanyanya kembali.


"No.. Thank you." Pelayan itu bergegas meninggalkan meja kami untuk memroses pesanan. Tidak butuh waktu yang terlalu lama, lima belas menit kemudian, semua hidangan sudah tersedia di atas meja.


"Apa tidak berlebihan memesan sebotol Wine saat makan malam bersama anak gadis?" Aku bertanya pada Aditya yang sedang melihat pelayan menuangkan sebotol Red Wine ke dalam gelas kami masing-masing.


"I am 17 actually... So... I'm not kid anymore, Aunty..." Maya membalas ucapanku dengan nada sarkas. Sementara Aditya tertawa mendengar protes dari Maya.


"See! No problem dear.. " Aditya mengedipkan sebelah matanya padaku.


Apa salahnya jika aku mengingatkan? Dan mengapa ia tidak menegur Maya saat gadis itu berbicara padaku dengan tidak sopan? Mengapa aku justru seolah menjadi konyol di hadapan mereka berdua?


Sepertinya Maya benar-benar sudah berhasil mengambil hati Aditya. Mungkin saja sudah terjadi sesuatu yang lebih di antara mereka hingga laki-laki itu bertekuk lutut padanya. Sementara itu, semua sikap manis yang Aditya tujukan padaku, sebenarnya terlahir dari perasaan tidak enak karena status kami yang masih terikat.


Tapi... Untuk apa aku peduli? Kenapa sekarang aku peduli? Bukankah ia bukan siapa-siapa di mataku dan begitu pula aku di matanya?


Kenapa sekarang air mataku bahkan ingin keluar? Jangan sampai mempermalukan dirimu sendiri lagi, B!!! Tahan air matamu!!!


Acara makan malam itu, ku habiskan dengan mendengarkan bualan Maya dan respons singkat dari Aditya. Sementara aku.. Aku memilih diam. Aku fokus menandaskan makanan yang ada di hadapanku sambil menuangkan red Wine yang dipesan olehnya tanpa henti di dalam gelasku.


"Hei, B! Stop it! Kamu minum terlalu banyak..." Aditya berusaha mengambil gelasku saat menyadari bahwa botol wine yang ia pesan telah kosong.


"Sorry.... Aku akan memesan yang baru untukmu..." Aku mengangkat tanganku untuk memberi tanda kepada para pelayan bahwa aku ingin memesan.


"Stop it, B! Kamu mulai mabuk. Ayo, kita pulang.. Kamu sudah selesai makan kan?" Aditya nampak panik melihat kondisiku.


"Maya... Ayo, sebaiknya kita kembali ke hotel." Aditya memerintah Maya, sementara gadis itu langsung menunjukkan kekesalannya.


"D*mn it!! Kau mengacaukan semuanya tante gila," amuk Maya sambil menajamkan matanya ke arahku.


Aku masih sadar. Aku belum sepenuhnya mabuk. Kepalaku hanya pusing sedikit. Dan aku ingin membalas ucapan anak kecil ini. Tapi, belum sempat aku berbicara tiba-tiba....


"Yeeeeeesss!!! Thank you, honey...." Semua mata di dalam restaurant itu seketika tertuju pada sepasang kekasih yang baru saja berciuman karena lamaran si pria rupanyanya diterima oleh kekasihnya.


"She said 'Yes'... Oh my God, she said 'Yes'... This is the happiest moment of my life... Thank you my dear...." Dia mencium bibir kekasihnya lagi.


"Free dessert for all.. I'll pay for everyone in this restaurant." Laki-laki yang terlalu bahagia itu tiba-tiba memberikan hadiah makanan pencuci mulut untuk semua orang yang ada di dalam ruangan.


"Wooohoooo......." Sorak sorai seluruh pengunjung spontan terdengar karena ikut bahagia, selain juga karena mendapat makanan pencuci mulut gratis.


Tidak lama kemudian, tanpa menunggu terlalu lama, suara musik terdengar keluar dari speaker yang tersebar di seluruh sudut ruangan bersamaan dengan aneka dessert yang di antar ke meja-meja. Pemilik tempat ini, rupanya ikut merayakan kebahagian dua sejoli tadi dengan memutar musik tradisional Swiss dan mempercepat pelayanannya. Bersamaan dengan terdengarnya musik itu, semua orang secara tiba-tiba meninggalkan bangku mereka dan berdansa hingga memunculkan suasana bahagia yang sebenarnya cukup absurd.


Aku yang berada di sana tentu saja tertarik ingin bergabung bersama mereka. Apalagi saat ini kepalaku sedikit pusing. Mungkin saja dengan berdansa semuanya akan membaik seperti semula.


Aku tidak lagi mendengarkan ocehan Aditya. Aku justru mendorong tubuhnya yang berusaha memapahku. Meski agak sempoyongan, aku ikut maju ke depan dan mulai menari bersama mereka.


Mereka membawakan Swiss Folk Dance. Sebuah tarian yang tentu saja seru karena selain cukup sederhana sehingga bisa diikuti siapa saja, tarian ini juga mengutamakan kekompakan dan banyak sekali melibatkan gerakan melompat dengan hentakan-hentakan kecil yang sangat cocok diiringi dengan tepukan tangan oleh mereka yang tidak menari.


Saat ini, aku benar-benar sudah berdiri di depan sambil tertawa bahagia mengikuti gerakan mereka. Aku terus melompat-lompat, memainkan tangan dan kakiku, tanpa menyadari bahwa buah d*daku pun ikut berayun karenanya. Aku seperti lupa bahwa aku sedang menggunakan pakaian rajut yang ketat dan tentu saja itu akan menarik perhatian. Aku benar-benar tidak berpikir apapun saat itu.


Selanjutnya, musik berubah menjadi sangat cepat. Para penari kemudian diharuskan berpasangan. Dan karena itu, tiba-tiba saja, muncul seorang laki-laki tampan, berambut pirang yang mendekat dan ikut menari bersamaku.


Aku tentu tidak keberatan. Semua orang yang berdansa di sana juga melakukannya.


Aku terus tertawa lebar seraya menghentak-hentakkan kaki dan tanganku semakin cepat. Bersamaan dengan itu, secara otomatis d*daku pun semakin berayun dan mungkin saja mengundang perhatian, hingga entah bagaimana laki-laki itu kemudian berusaha menggapaiku dan mendekatkan tubuhku pada tubuhnya. Namun, belum sempat aku menyadari semuanya tiba-tiba....


Bugghhh!!!!


"Get your dirty hands off my wife!!!" Aditya berteriak sehingga semua orang terkejut.


Musik masih mengalun, tetapi tidak ada lagi yang berdansa. Aku yang semula setengah sadar kini memperoleh kesadaranku dengan sempurna.


"Ayo pulang!" Aditya menarik tanganku dengan kasar di hadapan semua orang. Aku yang terkejut tanpa sadar melawan Aditya, dengan menahan tubuhku supaya tidak ikut bersamanya.


"Kau masih istriku sampai detik ini, Bellatrix!!! Kau mau jalan atau aku yang akan menggendongmu!" Aku masih memilih untuk tidak bergerak karena shock mendengar bentakannya. Aditya yang tidak sabar, kemudian tanpa pikir panjang membawaku dalam gendongannya. Ia terus membawaku dan tidak peduli dengan rontaan demi rontaan yang ku lakukan.


Aditya mempertahankan langkahnya hingga kami meninggalkan restaurant itu. Ia bahkan seperti tidak peduli lagi dengan keberadaan Maya, yang pada saat itu entah memilih mengikutinya atau tidak.


 -----------------


Selamat membaca!