The Untold Story

The Untold Story
Tidak Terlihat



--B's PoV--


*Swimming Pool Area, Suvretta House, Switzerland: 2003*


Saat ini aku sedang berada di area kolam renang indoor milik hotel, sambil menikmati makan siang di tepi kolam. Tidak ada orang yang berenang di area itu karena pengatur suhu air kolam sedang dalam proses perbaikan.


Setelah menghabiskan waktu dengan menangis semalaman dan tidak bisa tidur dengan nyenyak, akhirnya ku putuskan untuk mengakhiri perasaan kacau ini dengan keluar kamar dan mengisi perut. Aku sudah melewatkan makan pagiku tadi dan secara otomatis siang ini perutku langsung berteriak, menuntut untuk diisi.


Tentu saja itu ku lakukan, saat aku sudah berhasil meminimalisir bengkak pada kedua kelopak mataku. Aku tentu tidak boleh terlihat terlalu menyedihkan, bukan?


Aku memang belum bertemu dengan laki-laki itu lagi semenjak pertengkaran kami semalam. Mungkin saja, saat ini ia sedang menghabiskan waktu dengan gadis favoritnya. Tapi, apapun yang sedang ia kerjakan sekarang, seharusnya aku tidak perlu memedulikan semua itu.


Baru saja aku selesai menyantap Apple strudle sebagai makanan penutup yang disajikan oleh seorang pelayan restaurant di atas mejaku, tiba-tiba aku mendengar suara perempuan memekik nyaring di telingaku. Suara yang sangat familiar. Seseorang yang ku pikir sedang menghabiskan waktunya bersama dengan laki-laki itu.


"Kau di sini rupanya. Dimana Aditya?" Gadis itu mencoba memulai pembicaraan. Ia bertanya padaku dengan gaya dan tutur kata yang tidak sopan.


Aku tidak membalasnya. Aku benar-benar tidak ingin meladeni apapun yang berkaitan dengan gadis itu lagi. Sudah cukup banyak kekacauan terjadi, semenjak ia berada di antara aku dan Aditya. Sungguh aku tidak ingin berurusan dengannya!


Aku melanjutkan aktivitasku seolah tidak ada Maya di sana. Aku menuangkan teh hijau panas yang semula diletakkan di dalam poci ke dalam cangkirku dan bermaksud meminumnya perlahan-lahan.


"Kenapa ia harus menikahi perempuan sepertimu. Kau benar-benar tidak layak mendampingi laki-laki sehebat dan sebaik Aditya." Dari sudut mataku, sambil menghisap sedikit demi sedikit ujung cangkir teh itu, aku mendapati bahwa Maya sedang memicingkan matanya dan menatapku dengan tatapan jijik. Namun, aku kembali menegaskan hati bahwa aku tidak boleh terpancing olehnya.


"Maaf, aku sudah selesai. Aku permisi," ucapku sambil berdiri dan berniat melangkah meninggalkan perempuan itu setelah selesai menghabiskan secangkir teh dan melupakan bahwa masih banyak sisa teh hijau panas di dalam poci yang sebenarnya juga menunggu untuk ku habiskan. Tapi, sungguh! Aku benar-benar ingin tenang.


Maya mengeram. Aku bisa melihat kekesalan pada sorot matanya saat aku melirik wajahnya sepintas.


Baru saja aku mengayunkan kakiku beberapa langkah, tiba-tiba Maya mengambil poci teh hijau milikku, membuka tutupnya, dan kemudian menyiramkannya di dadaku.


"Aaaaahhh!!" Aku menjerit kesakitan karena rasa panas yang begitu menyayat kulit, kontras dengan udara dingin di sana.


Beberapa pelayan yang ada di sekitar mencoba mendekati kami. Para pelayan itu pasti melihat apa yang sudah dilakukan Maya, dan bermaksud menolongku.


"Apa yang kau lakukan? Dasar bodoh!" Aku ingin mendorong tubuh gadis itu karena marah. Namun, belum sempat aku melakukannya tiba-tiba ia mencengkeram tanganku.


Sempat mengalihkan tatapannya ke arah yang lain dan tersenyum sepintas, Maya kembali menarik tanganku dan menceburkan dirinya ke dalam kolam. Gadis itu seolah-olah membuat kesan bahwa akulah yang mendorong tubuhnya.


Aku sempat tertegun saat melihat tubuh Maya berada di dalam kolam. Apalagi saat aku mendengar bahwa gadis itu sedang meronta-ronta sambil meminta pertolongan.


Apa Maya tidak bisa berenang? Lalu kenapa dia harus menceburkan dirinya sendiri ke kolam itu?


"Help!! Uhuk.. Uhuk.." Maya berteriak meminta tolong sambil terbatuk-batuk karena menelan air kolam.


Saat mendengar teriakannya, cepat-cepat aku menepis pertanyaan-pertanyaan curiga dalam benakku . Bagaimana pun juga keselamatan gadis itu harus diutamakan. Itu sebabnya tanpa pikir panjang, aku ikut melompat dan bermaksud menyelamatkannya.


Sambil berenang menahan dingin dan mendekati Maya, aku melihat seorang pelayan berlari ke sana ke mari untuk mencari pertolongan. Sementara dua sisanya menunggu kami dengan handuk di tepi kolam. Hanya ada tiga pelayan di sana dan dari gelagat mereka, nampaknya ketiga-tiganya tidak bisa berenang.


Aku terus berusaha berenang menghampiri Maya sekuat tenaga. Namun, karena suhu air yang terlalu dingin, dan pergerakanku yang tiba-tiba, aku kemudian merasakan kram hebat pada otot betisku. Aku yang semula ingin menolongnya justru ikut terancam tenggelam.


"Aaargghhh!! It's hurt!!" Aku berteriak karena rasa sakit yang kurasakan pada salah satu kakiku yang tiba-tiba kram.


Sebenarnya, ketika aku mulai merasakan otot betisku menggumpal, sebisa mungkin aku sudah berusaha untuk tetap tenang di dalam kolam itu. Namun, karena suhu air yang terlalu dingin dan rasa sakit itu semakin menjadi-jadi, tetap saja aku kesulitan membuat diriku tetap terapung.


"Help!!" Teriakku kini terdengar bersamaan dengan teriakan Maya. Sungguh sekalipun aku bisa berenang, namun dalam kondisi kram hebat seperti ini, aku pun bisa kehilangan nyawa.


"Help us!!" Aku terus berteriak demi keselamatan kami berdua, hingga.....


Beberapa detik kemudian terdengar suara lompatan seseorang ke dalam kolam dimana aku dan Maya berada. Seorang laki-laki yang sejak kemarin memenuhi isi kepalaku.


Ya, Aditya!! Aku melihatnya menghampiri kami.


Entah mengapa aku merasa hatiku menghangat saat melihat sosoknya. Aku percaya bahwa ia tidak mungkin membiarkan sesuatu terjadi padaku dan juga Maya. Aku terus menerus mengatakan di dalam hatiku bahwa aku sudah aman dan aku pasti selamat.


Sepintas aku melihat Aditya menghampiri Maya. Aku berpikir bahwa tentu saja ia harus menyelamatkan Maya terlebih dahulu. Gadis itu mungkin tidak bisa berenang dan ia sudah lebih lama berada di dalam kolam.


Aku terus mempertahankan posisiku untuk tetap terapung dengan sebelah kakiku seraya menahan semua rasa sakit dan dingin yang semakin menjadi-jadi dalam waktu yang bersamaan. Aku mencoba bertahan dengan harapan bahwa ia akan menghampiriku setelah ini.


Aku masih menahan rasa sakit itu sekuat tenaga sambil memperhatikan bagaimana Aditya mendekap erat tubuh Maya. Laki-laki itu membawa Maya dengan hati-hati hingga sampai ke pinggir kolam.


Pada titik itu aku menyadari bahwa Aditya sesungguhnya adalah laki-laki yang penuh perhatian. Apa yang ia lakukan kepada Maya selama ini sebenarnya adalah bentuk perhatian biasa karena memang ia peduli.


Aku rasa perhatian itu juga yang berusaha ia tunjukkan padaku selama ini, termasuk ketika ingin melindungiku dari tatapan lapar para laki-laki di restaurant itu. Aku seharusnya tidak perlu mempermasalahkan sikapnya dan membuat hubungan kami yang baik menjadi rusak.


Mengingat pertengkaranku dengan Aditya semalam, aku berniat untuk minta maaf kepadanya setelah ini. Ya, tentu saja setelah ia menolongku.


Aku masih menunggu Aditya saat ku lihat ia sudah mulai menyerahkan tubuh Maya pada seorang pelayan yang berdiri di pinggir kolam. Namun... Bukannya kembali, laki-laki itu justru ikut mengeluarkan tubuhnya dari air dan mengambil alih menggendong Maya.


Hatiku berdenyut nyeri secara tiba-tiba. Kenapa? Hanya satu kata itu yang terus teriang di dalam benakku. Apakah aku tidak terlihat olehnya?


Pertanyaan itu terus mengganggu, hingga aku yang mulai kelelahan tidak berusaha lagi untuk menolong diriku sendiri. Aku seperti menyerah dan membiarkan air dingin itu menyapu rasa sakitku.


Aku menutup mata seperti seseorang yang siap menyambut kematian. Aku menghentikan segala pergerakan dan mulai merasakan diriku terseret air, hingga...


"Miss... Are you okay, Miss?" Seorang pelayan perempuan mencoba menolong dengan memegang pundakku. Entah sejak kapan ia berada di kolam itu, aku hanya menganggukkan kepala untuk merespons dan tidak berniat untuk menjawabnya.


"I'll help you, okay? Trust me! Just be calm okay, Miss?" Pelayan perempuan itu kemudian berenang perlahan-lahan sambil memelukku dan membawaku ke pinggir kolam. Dengan bantuan beberapa orang, akhirnya aku pun berhasil keluar dari air.


Seorang pelayan yang telah menunggu di tepi, seketika menyelimuti seluruh tubuhku dengan handuk tebal begitu aku sudah berada di pinggir kolam. Udara yang semakin dingin seketika menyambutku hingga aku menggigil hebat meski handuk tebal itu terus ku dekap.


Sambil berusaha menarik benang merah atas semua peristiwa yang terjadi, mulai dari menyimpulkan tindakan Maya hingga sikap dingin yang ditunjukkan Aditya, mataku kemudian mendapati sosok laki-laki itu sedang memompa dada Maya dan memberikan napas buatan padanya.


Maya... Apakah ia kehilangan kesadarannya? Sekelumit perasaan khawatir tiba-tiba datang kembali.


Jadi itu alasan Aditya meninggalkanku? Maya, mungkinkah ia sedang kritis sekarang?


Aku melihat Maya masih terbaring tak sadarkan diri. Dengan sedikit merangkak dan menyeret kakiku yang sakit, aku berusaha mendekati keduanya untuk memastikan kondisi gadis itu dan bermaksud menawarkan bantuan pada Aditya. Baru saja aku menyeret tubuhku beberapa langkah, tiba-tiba aku mendengar Aditya berteriak dari tempatnya...


"Bisakah kau berhenti menyakiti orang lain, Bellatrix??" Aditya menatapku dengan penuh kebencian.


Mata kami sempat saling bertatapan, sebelum kemudian ia kembali mengarahkan pandangannya kepada Maya, memompa dada gadis itu tanpa henti, serta memberi bantuan pernapasan padanya lagi.


Aku terkejut mendengar bentakan laki-laki itu dan berhenti menyeret tubuhku untuk mendekati mereka. Pada saat yang sama, aku merasakan sekujur badan ini bergetar. Entah karena hawa dingin yang menusuk tulang ataukah karena kebencian yang ia tunjukkan padaku.


Tidak berapa lama, Maya pun tersadar dan memuntahkan banyak air dari dalam mulutnya. Aditya, yang terlihat lega karena gadis itu selamat, tiba-tiba mendekap gadis itu kembali seolah ingin menyalurkan kehangatan. Dengan hati-hati, Aditya kemudian menggendong Maya dan membawa gadis itu meninggalkan area kolam renang.


Tidak! Mungkin lebih tepatnya ia meninggalkan aku. Ya, Ia meninggalkanku sendiri dengan luka yang tersembunyi dan tidak terlihat.


 ----------------


Selamat Membaca!