
--B's PoV--
*Jakarta: 2021*
Brakk!!!!
"I hate you, Papa!!!! I hate you so much!!!"
Aku mendengar suara pintu dibanting dengan begitu kerasnya. Bersamaan dengan itu, teriakan seorang gadis, yang tidak lain dan tidak bukan adalah putriku, terdengar begitu memekik dari dalam kamar miliknya. Gadis kecilku yang sekarang telah beranjak dewasa, mengetahui dengan pasti bahwa kali ini dirinya tidak bisa menghindar lagi. Ya, dia tidak punya alasan lagi untuk menolak keinginan Papanya. Dia harus menikahi laki-laki pilihan kakeknya, demi memperbesar kerajaan bisnis kami.
Seperti yang selalu terjadi selama ini, ayah dan anak yang sama-sama memiliki watak keras itu akan mengunci diri di dalam kamar masing-masing, setelah pertengkaran mereka. Pada dasarnya, aku bisa melihat kedua orang itu sesungguhnya sama-sama terluka.
Tok..Tok..Tok..
"Sayang... Buka pintunya! Ini Mama." Aku berusaha membujuk putriku untuk memperbolehkan aku menemaninya.
"Sayang.. Mama ingin berbicara denganmu. Bolehkan sayang?" Aku mencoba merayunya lagi.
"Kalau mama berbicara hanya untuk mendukung keputusan papa, maka lebih baik mama tidak usah masuk ke kamarku." Aku mendengar putriku berbicara dengan nada yang tinggi dari balik pintu. Benar-benar keturunan Ayahnya.
"Mama tidak sedang berdiri di pihak siapapun. Mama hanya ingin menemanimu. Bolehkan?" Aku terus merayu putriku yang keras kepala itu.
Ceklek!!
Pintu kamarnya terbuka. Aku tidak menyangka dia akan mengabulkan keinginanku dengan cepat. Pada saat-saat seperti ini, aku akhirnya menyadari bahwa dia sebenarnya tetap membutuhkan seorang teman untuk berbicara.
Aku melihat dia berjalan lagi ke arah ranjang dan segera membaringkan dirinya dalam kondisi tertelungkup di sana. Aku pun menutup pintu perlahan-lahan, kemudian bergegas menghampirinya.
Ku dudukkan tubuhku di sebelah tubuhnya yang tengah berbaring memunggungiku, lalu ku sapukan tanganku pada rambutnya, dan kubelai rambut panjang nan hitam itu beberapa kali. Putriku yang keras kepala itu mengeluarkan isak tangisnya. Sesuatu yang jarang ku lihat, mengingat gadisku begitu arogan dan keras kepala.
"Aku hanya ingin menulis kisah cintaku sendiri tanpa bantuan orang lain. Aku hanya ingin hidup seperti manusia normal pada umumnya, Ma." Aku mendengar gadisku mencurahkan isi hatinya.
"Mama tahu, sayang." Aku terus membelai rambut putriku.
"Mama tidak tahu. Mama tidak pernah tahu. Mama menerima Papa waktu itu dengan mudah sekalipun mama dijodohkan dengan Papa. Aku bukan Mama yang bisa menyenangkan semua orang." Anakku yang cantik itu sekarang benar-benar sudah dewasa. Saat ini, ia bahkan sudah bisa menyanggah ucapanku.
"Kau benar! Mama tidak melakukan penolakan seperti dirimu, saat dijodohkan dengan Papamu waktu itu." Aku hanya tersenyum simpul menanggapi ucapannya.
"Dulu aku bertanya-tanya, bagaimana perempuan lembut seperti mama bisa bertahan dengan laki-laki keras kepala seperti papa? Tapi aku baru menyadarinya sekarang. Mama selalu ingin menyenangkan semua orang," imbuhnya lagi dengan emosi yang membara.
"Jadi, itu yang ada dipikiranmu selama ini?" Aku tertawa kecil mendengar ucapannya.
Gadisku menghentikan sejenak perkataannya. Ia memilih diam beberapa saat dan kembali meneteskan air mata dalam diam. Meski ia sangat keras di luar, tapi aku menyadari bahwa hatinya tidaklah sekuat itu.
"Perjodohan itu sangat mengerikan untukku, Ma. Mengertilah! Aku menikahi laki-laki yang tidak ku kenal. Aku harus menyerahkan hidupku padanya, melayani semua kebutuhannya. Oh Tuhan, aku tidak bisa membayangkan semua itu," sambungnya kembali disela tangisnya, seraya memukul bantal beberapa kali karena terlalu emosi.
"Kau benar, sayang. Aku pun membayangkan hal itu dulu, saat Oma dan Opamu mengatakan bahwa mereka akan menjodohkanku dengan Papamu." Aku menjeda ucapanku sejenak.
"Lalu mengapa Mama tidak menolak?" Aku melihat putriku membalikkan tubuhnya. Nampaknya ia penasaran dengan alasanku.
"Percayalah sayang! Hanya ragaku saja yang menerimanya, sementara jiwaku, ia sangat membencinya." Aku menatap wajah anakku yang nampak kebingungan.
"Maksud mama? Aku tidak mengerti." Putri kecilku yang telah dewasa itu kini bahkan telah menegakkan posisi duduknya. Aku tahu bahwa ia tidak akan membiarkanku pergi sebelum aku menjelaskan semua.
"Apa kau punya waktu, sayang?" Aku bertanya dengan lembut.
"Aku harap kau benar-benar memilikinya, sebab butuh banyak waktu untuk mendengarkan kisah ini. Sebuah kisah yang tersembunyi. Kisah yang tidak pernah diketahui oleh siapapun kecuali para pemeran utama dalam kisah ini, dan karena itu aku lebih suka menyebutnya sebagai 'The Untold Story'." Aku pun menarik napasku dalam-dalam dan menghembuskannya dengan berat sebelum memulai ceritaku, yang semoga saja bisa selesai dalam waktu satu malam.
---------------
*Jakarta: 2003*
Tumbuhan dan hewan, air dan udara, bumi, langit dan Manusia. Semua bergerak seirama pada porosnya dalam sebuah lingkaran kehidupan. Benar, aku menyebutnya seirama pada porosnya, tetapi mungkin banyak orang lebih mengenalnya dengan kata seimbang.
Aku adalah seorang manusia perempuan yang percaya dengan adanya keseimbangan di alam ini. Aku percaya bahwa suka dan duka akan datang dan pergi dengan seimbang dalam hidup manusia. Tidak ada tawa yang abadi, begitu pula dengan tangis yang abadi.
Tapi pagi ini, ketika matahari bahkan baru saja bangun dari pembaringannya, aku meragukan apa yang telah ku percayai itu. Tidak-tidak... Keraguan itu bahkan sudah muncul sejak kemarin malam, ketika kedua orang tuaku berbicara dan memintaku untuk menikahi seorang laki-laki yang bahkan belum pernah ku temui.
Dan seperti biasa, aku tidak bisa menolak permintaan mereka. Pada detik-detik itu, aku menyadari bahwa ini adalah awal... Awal dari sebuah tangisan yang abadi.
Aku adalah putri satu-satunya dari seorang pengusaha kaya raya di Jakarta. Posisi ini membuatku harus menjadi sosok sempurna bagi keluargaku.
Sejak kecil, aku dididik untuk patuh dan mengutamakan keluarga di atas kepentinganku sendiri. Pada saat itu, aku menganggap bahwa semua yang diajarkan padaku adalah baik. Tentu saja, apa yang tidak baik dari mengutamakan keluarga kita? Tapi, setelah perbincangan semalam, aku baru mengetahui tujuan didikan mereka yang sesungguhnya.
Semuanya bukan demi keluarga. Semua adalah demi uang dan kejayaan.
Sayangnya, bahkan setelah mengetahui semua itu, aku tetap tidak bisa menolak. Aku tidak bisa mengatakan tidak untuk keluargaku, sebab sejak kecil aku tidak dididik dengan penolakan semacam itu. Bahkan kini aku harus siap mengorbankan perasaanku sendiri. Mengorbankan perasaanku yang tanpa permisi telah mencintai seorang laki-laki yang tidak sepadan dengan kami.
Namanya Indra. Dia adalah seorang Artis, seorang penari profesional. Aku mengenalnya di kelas dansa yang ku ikuti. Dia seringkali menjadi partnerku di kelas dansa itu.
Aku begitu menyukainya. Aku menyukai setiap kali kami berdansa bersama. Aku menyukai bagaimana ia menyentuhku, memperlakukan tubuhku seolah aku adalah ratunya. Hingga rasa suka itu berubah menjadi cinta dan aku tahu ia juga merasakan hal yang sama, sekalipun tidak ada seorang pun dari kami yang mengungkapkannya.
Oleh karena itu..... Di sinilah aku berada sekarang. Di depan sebuah kolam renang pribadi yang terdapat di sisi kiri mansion milik keluargaku. Ditemani suara gemericik air yang bahkan kini serasa tidak terdengar sama sekali di telinga.
Pagi ini, aku sedang membawa diriku dalam sebuah keheningan. Aku melakukan Yoga. Satu-satunya aktivitas yang bisa membawaku dalam sebuah ketenangan. Meski Yoga belum populer di tahun itu, tapi aku beruntung karena bisa mempelajarinya melalui temanku, yang adalah seorang warga negara asing berkebangsaan India saat kami kuliah dulu.
Yoga adalah jalanku menemukan kedamaian. Saat tuntutan menjadi satu-satunya putri penerus keluarga terpandang dan kaya raya membuatku harus menjadi manusia yang tidak otentik, yoga adalah satu-satunya jalan bagiku untuk menemukan diriku yang sebenarnya.
Yoga adalah jalanku untuk melepas topeng yang hampir tujuh kali dua puluh empat jam, selalu ku kenakan di depan semua orang. Topeng yang membuatku selalu terlihat sempurna di mata mereka. Seorang putri yang sangat diidam-idamkan.
"Bellatrix!" Aku mendengar suara Mommy memanggilku dan membuyarkan seluruh ketenangan yang sudah berhasil ku rengkuh.
"Hah..." Aku menghembuskan napasku dengan berat sambil membuka mata yang sedari tadi terpejam.
"Sayang! Bersiaplah! Kamu akan bertemu dengan calon suamimu dua jam lagi." Aku menolehkan kepalaku hingga aku bisa melihat wajah perempuan yang melahirkanku itu dengan jelas.
Ingin rasanya aku berteriak dan memberontak. Namun, lagi-lagi bukan wajah penuh amarah yang ku tunjukkan padanya. Aku kembali memasang topengku dan aku tersenyum padanya dalam sebuah kesadaran yang penuh.
"Mommy tidak sabar melihat ekspresimu nanti. Kau pasti akan sangat bahagia saat mengetahui bagaimana wajah calon suamimu itu." Aku tidak menjawab. Aku hanya terus memasang senyum palsuku di hadapan perempuan yang sudah berusia hampir setengah abad itu.
Andai saja ia bisa mengetahui isi hatiku tanpa perlu ku katakan. Andai saja ia mengetahui bahwa aku begitu hancur sekarang.
Aku merasa bahwa aku sedang dijerumuskan ke dalam sebuah jurang neraka yang dalam. Pertama-tama, aku akan melihat wajah sang iblis, kemudian aku akan mengikatkan tubuhku pada iblis itu, dan selanjutnya aku akan menyatu ke dalam dunianya. Dan yang lebih menyedihkan adalah.... Semua itu akan dimulai beberapa jam lagi.
--------
Selamat membaca!
Halo readers... Ini adalah novel ke empat saya. Novel ini adalah spin off dari Novel ke dua saya yang berjudul di Titik Nadir. So, Enjoy!