The Untold Story

The Untold Story
Teman



--B's PoV--


*Raffles Hospital, Singapore: 2003*


"A-apakah dokternya belum tiba untuk memeriksamu?" Aku bertanya sambil mendekap tas belanjaanku.


"Sudah tadi pagi, tapi aku meminta penundaan waktu karena kamu tidur dengan sangat lelap dan aku tidak mungkin membangunkanmu dan membiarkannya melihat....." Aditya menjeda ucapannya.


"Melihat apa?" Aku menjadi panik seketika. Sementara Aditya, laki-laki itu hanya menggigit bibirnya sambil berpikir untuk menjawab pertanyaanku.


"Apa?" Aku bertanya lagi karena ia tak kunjung menjawab.


"M-melihatmu memelukku sambil tertidur." Ucapnya dengan nada ragu-ragu.


Dia berbohong! Aku tahu bukan itu maksud ucapannya. Sejak subuh aku sudah memeluknya dan mereka yang masuk ke dalam ruangan pasti melihat pelukanku padanya.


Aku semakin curiga. Apa yang sebenarnya terjadi saat aku tertidur tadi?


"Jangan bohong! Melihat apa? Memangnya posisi tidurku kenapa? K-kamu, apa jangan-jangan kamu melakukan sesuatu padaku?" Pipiku memanas tetapi bukan karena emosi. Pipiku memanas karena malu. Apa tadi ia juga membalas pelukanku?


Aditya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Ia kembali menatapku dengan sedih


"Apa tidak ada hal lain yang bisa kau lakukan selain curiga padaku, B? Apa aku selalu terlihat brengs*k di matamu?" Ada nada kesedihan dalam setiap kata yang diucapnya. Lagi-lagi aku sudah melakukan sebuah kesalahan dan menyakitinya.


"M-maaf... Bukan begitu maksudku. Aku mohon bicarakan saja apa yang terjadi dengan apa adanya? A-aku sudah menganggapmu sebagai temanku. Tidak seharusnya seorang teman menutupi sesuatu dari temannya," balasku dengan hati-hati.


Aditya sempat hening sejenak sebelum ia kembali menghela napasnya dan menjawab, "Baiklah..."


"Sebenarnya tadi..... Gaunmu itu terlihat begitu ketat dan terbuka di bagian paha saat tidur. Lagi pula cup gaun di bagian atas juga tidak bisa menutup dad*mu dengan sempurna karena isi di dalamnya yang terlalu besar. Aku tidak mungkin membiarkan dokter itu melihat tubuhmu yang kelewat s*ksi saat tertidur tadi. Aku saja setengah mati menahan diriku apalagi mereka," balas Aditya dengan gamblang untuk menjelaskan semuanya padaku disertai dengan wajah yang memerah.


Memalukan!!! Benar-benar memalukan!!


Aku tidak menjawab lagi. Aku langsung bergegas menuju kamar mandi yang masih satu area di dalam kamar perawatan Aditya, dengan rasa malu yang tidak tertahankan.


Laki-laki itu pasti sudah berfantasi yang tidak-tidak. Pantas saja wajahnya aneh saat aku terbangun, apalagi aku sempat mempererat pelukanku pada tubuhnya sebelum benar-benar terjaga.


Aaarrgghhh!!! Bodoh, B! Bodoooh!!


Seharusnya kemarin aku menuruti saran Franky untuk mengganti pakaianku dulu. Kalau sudah begini, bagaimana aku harus bersikap di depan Aditya?


Dengan rasa malu bercampur panik, aku teringat pada paper bag berisi pakaian dalam yang dibeli Franky. Aku membukanya cepat-cepat untuk memastikan ukurannya.


"Aduuuh.... Bagaimana bisa Franky mengetahui ukuranku?" Aku semakin panik.


"Aaarrrgggghh!!!" Teriakku tanpa sadar.


Tok.. Tok.. Tok...


Suara ketukan pintu terdengar dari balik pintu kamar mandi yang sedang ku gunakan persis beberapa detik setelah aku kelepasan berteriak. Nampaknya Aditya segera menyusulku begitu mendengar suara teriakku.


"B... Kenapa? Apa kamu baik-baik saja?" Aditya bertanya dari balik pintu.


"A-apa Franky sempat melihatku tadi? Bagaimana ukuran Br* dan CD-nya bisa pas?" Aku berbicara dengan nada frustrasi sambil meneteskan air mata.


"Apa hanya karena itu kamu berteriak?" Dia bertanya kembali.


Hanya karena itu... Apa maksudnya dengan berkata hanya karena itu?


"Aku yang memberi tahu ukurannya, B! Aku menutupi tubuhmu dengan selimut, saat tahu bahwa Franky datang. Akan ku congkel matanya jika ia sampai melihatmu," ucap Aditya dengan nada sungguh-sungguh.


Mendengar penjelasan Aditya, di satu sisi aku merasa sedikit lega karena ia menjagaku dari pandangan laki-laki lain. Tapi, di sisi lain, semakin banyak pertanyaan lalu lalang di dalam benakku berkaitan dengan dirinya termasuk dari mana dia bisa mengetahui ukuran pakaian dalamku.


Tapi, Ah! Aditya pun mengakui bahwa ia seorang laki-laki dewasa yang berpengalaman. Dia saja bisa memilihkan sebuah gaun dansa yang pas dengan ukuran tubuhku. Rasanya tidak perlu membesarkan hal ini lagi atau aku justru akan mempermalukan diriku sendiri.


"B... Kau marah?" Aditya bertanya karena aku tidak kunjung memberikan respons padanya.


"B... Bagaimanapun juga aku masih suamimu yang sah, jikalau kau lupa. Kau seharusnya tidak perlu terlalu memikirkannya, karena kau pun tak sengaja memelukku tadi. Lagi pula aku tahu batasanku, B! Aku sadar ke depan status kita akan berubah sebatas pertemanan, seperti kata-katamu tadi." Aditya mencoba menambahkan penjelasannya. Sementara, aku hanya terdiam sembari mendengarkan ucapannya di balik pintu. Segala rasa panik bercampur malu tiba-tiba menguap begitu saja saat mendengar kata pertemanan terucap dari bibirnya.


Padahal tadi aku yang memulainya. Kenapa begitu Aditya yang mengucapkan itu, ada sekelumit rasa sedih yang memenuhi hatiku?


"Mandilah cepat! Aku baru saja menerima informasi bahwa kekasihmu ada di Swiss. Kita akan menuju ke sana malam ini. Aku sudah memesan tiketnya, dan kau harus bersiap-siap." Imbuhnya lagi dari balik pintu.


Swiss? Fokusku langsung teralih setelah mendengar informasi Aditya yang ternyata masih berusaha mencari kabar tentang Indra.


Tapi... Bukankah Aditya belum pulih benar. Tempat itu terlalu jauh. Apakah tubuhnya sanggup?


Ceklek...


Aku membuka pintu kamar mandiku karena harus membicarakan hal ini. Aditya sakit dan ia tidak boleh kemana-mana sampai ia benar-benar sembuh. Aku tidak akan memaafkan diriku jika kondisinya kembali memburuk.


"Tidak! Kita bisa menundanya sampai kondisimu pulih." Aditya menggelengkan kepala sebagai respons atas ucapanku.


"Kita tidak bisa pergi. Kau belum sembuh benar." Aku memaksa tetapi laki-laki itu kembali menggelengkan kepala.


"Atau..... Jika kau memang ingin segera melepas tanggung jawabmu padaku maka... Aku bisa pergi sendiri." Aku menatap wajah Aditya dengan sungguh-sungguh.


"Dan kau akan membuatku mati karena rasa khawatir akan keselamatanmu setelahnya." Aditya menajamkan tatapannya seolah ingin memberi tahu bahwa ia tidak suka dengan apa yang baru saja ku katakan.


"Kau seharusnya tahu bahwa aku bahkan tidak pernah menginginkan kamu pergi, B!" Aditya menyambung lagi perkataannya dengan suara yang lirih dan kali ini ia menunjukkan kekecewaan atas apa yang baru saja ku nyatakan.


Aku menjadi salah tingkah setelah mendengar ucapannya kala itu. Jujur aku sendiri tidak bisa mendeskripsikan apa yang sebenarnya ada di dalam hatiku.


"Tapi...." Aku masih berusaha membantahnya.


"Dengarkan aku, B! Ini Swiss.... Dan aku selalu ingin kembali ke sana sejak lama. Kali ini aku bahkan merasa beruntung karena ada perempuan cantik dan s*ksi yang punya alasan kuat untuk menemaniku, meski tujuan kita tidak sama. Kau tentu tidak ingin mengecewakan aku yang hampir mati kemarin kan?" Aditya mengedipkan sebelah matanya lalu merajuk seperti anak-anak yang menginginkan sebuah mainan baru.


Aku merona. Aku merona saat menatap sorot matanya yang menghanyutkan itu dan tersenyum kemudian. Dasar, Aditya!


Tanpa sadar aku pun menganggukkan kepala sebagai respons atas permintaannya. Ah, sepertinya ia selalu mempunyai cara untuk membuatku berada di dalam kendalinya.


"Baguslah! Sekarang cepat mandi! Aku juga sudah gerah, B! Aku akan menggunakan kamar mandi setelah kamu selesai." Laki-laki itu menepuk lembut pipiku dan tersenyum manis, sebelum kemudian ia melangkah kembali menuju ke ranjangnya.


 ----------------------


*Changi Airport's Lobby, Singapore: 2013*


"Sudah tidak ada yang tertinggal kan B?" Tanya Aditya hendak memastikan semua.


Laki-laki itu baru saja menutup bagasi mobil yang mengantarkan kami menuju bandara, setelah meletakkan koper terakhir kami di atas trolley. Saat ini kami berdua sudah berada di Bandara Internasional Changi Singapura untuk melanjutkan perjalanan ke Swiss dalam rangka mencari Indra.


Aditya... Ia masih berusaha menepati janjinya padaku yang entah mengapa justru kini tidak terlalu bersemangat untuk melanjutkan pencarian itu. Mungkin aku terlalu lelah. Ya, pasti karena alasan itu.


"B...." Aditya memanggilku lagi karena aku tidak segera menjawab. Ia benar-benar mengembalikan kesadaranku yang sempat terseret oleh lamunan.


"Sepertinya tidak. Sini biar aku saja yang mendorong trolley-nya. Jangan sampai kamu terlalu capek." Aku berusaha mengambil trolley itu dari tangan Aditya namun ia mencegahku.


"Aku baik-baik saja." Aditya menjauhkan tanganku.


"Jangan membuatku kehilangan kharisma dengan menyuruhmu melakukan hal-hal yang sewajarnya dilakukan oleh laki-laki, B!" Aditya menambahkan ucapannya.


Baru saja aku hendak membuka mulut untuk membalasnya, tiba-tiba aku mendengar ucapan seseorang menyela percakapan kami.....


"Sorry for disturbing. Are you Indonesians?" Seorang perempuan asing menghampiri kami dengan menggandeng tangan seorang anak gadis cantik yang berusia kira-kira dua puluh tahun.


"Yes, we are." Aditya membalas singkat dan seketika terlihat ada raut kelegaan di wajah perempuan tadi.


"Apa anda berdua mau ke Swiss pada penerbangan jam sepuluh ini?" Perempuan itu mengubah bahasanya dan bertanya dengan ekspresi penuh harap, sementara anak perempuan yang bersamanya hanya diam dan terus menatap Aditya penuh kekaguman.


Entah mengapa tatapan anak gadis itu kini nampak begitu menyebalkan di mataku. Dasar ABG Norak!


"Ya..." Aditya menjawab singkat.


"Syukurlah! Oya, perkenalkan nama saya Marta dan ini putri saya, Maya." Perempuan itu menyodorkan tangannya kepada kami, begitu juga dengan putrinya.


"Saya Aditya dan ini Bellatrix," balas Aditya ikut memperkenalkan diri.


Masing-masing kami kemudian saling bersalaman sambil menyunggingkan senyum ramah. Begitu pula dengan aku yang sempat tidak nyaman dengan kehadiran ABG itu, kini sedang berusaha mengendalikan diri dan menyalaminya secara baik-baik hingga suasana hatiku berubah lagi saat melihat gadis remaja itu berusaha menahan tangan Aditya sedikit lebih lama dan menatapnya seperti perempuan yang mendamba.


Apa-apaan dia? Dasar ABG Gila!


"Begini... Sebenarnya saya membutuhkan bantuan. Seharusnya jam 10 ini, saya dan putri saya berada dalam satu penerbangan yang sama dengan anda berdua untuk menuju ke Swiss. Sayangnya, baru saja saya mendapat panggilan mendadak dan harus kembali ke Jakarta. Bisakah saya menitipkan putri saya pada kalian sebentar? Saya harus kembali ke Jakarta untuk menandatangani beberapa berkas penting yang terlupakan. Mungkin sekitar dua hari saja dan saya akan mendampingi putri saya lagi. Kalian menginap dimana? Biar saya memesan kamar di hotel yang sama dengan kalian." Perempuan itu berbicara panjang lebar tanpa henti dan aku semakin jengkel dibuatnya karena permintaan aneh itu. Memangnya kita ini penjaga anak gadis orang?


Tolak Aditya! Tolak! Aku menatap Aditya penuh harap.


"Tidak masalah!" ****!! Aku ingin mengumpat laki-laki sialan yang berdiri di sampingku ini.


What the h*ll are you thingking about?!?!


"Kami akan menginap di...... (blablablablablablabla)" Percakapan Aditya bersama ibu cerewet itu tidak lagi terdengar jelas olehku karena hanya suara hatiku yang sedang kesal saja yang terdengar setelah Aditya dengan polosnya menyetujui permintaan ibu itu.


Aku kemudian memilih untuk diam dan hanya memperhatikan gelagat gadis ganjen itu, yang nampak tersenyum mendengar jawaban Aditya.


Apa sebenarnya maksud senyumannya itu? Hatiku tiba-tiba merasa panas seperti terbakar sesuatu.


"You'll be okay, Maya! They will take care of you," ucap perempuan paruh baya itu sambil memeluk putrinya sebelum ia meninggalkannya bersama dengan kami. Nampaknya sudah terjadi perjanjian antara Aditya dan ibu gadis centil ini yang tidak ku sadari karena tadi fokusku teralihkan.


Kami bertiga menatap kepergian Bu Marta bersama-sama. Perempuan itu berjalan dengan terburu-buru dan menghilang dari pandangan kami dalam sekejap saja.


"Kalian berdua.... Pacaran?" Pertanyaan pertama keluar dari bibir gadis bernama Maya itu dan langsung membuat darahku naik sampai ke ubun-ubun.


"Nope!" Aditya membalas singkat sambil berjalan dan mendorong trolley berisi barang-barangku dengannya. Sementara gadis itu, tentu saja ia harus mendorong trolley-nya sendiri.


Bagus, Aditya! Rasanya kamu harus menjelaskan kepada ABG norak ini bahwa kamu sudah menikah sehingga dia bisa menjaga matanya.


"So... What kind of relationship between you and her?" Tanyanya lagi dengan nada penasaran.


Aku tersenyum sambil menunggu penjelasan Aditya. Aku benar-benar menunggu perubahan ekspresi gadis itu.


"We're just..." Aditya menjeda ucapannya dan menatapku sejenak.


"Friends...." Laki-laki itu kembali melanjutkan langkahnya dan meninggalkanku yang seketika terpaku karena ucapannya.


"That's good!" Respons gadis itu dengan polosnya sambil berusaha menyejajarkan langkahnya dengan laki-laki yang masih sah menjadi suamiku.


Ingat, suamiku!!!!


 -------------


Selamat membaca!