The Untold Story

The Untold Story
Satu Purnama



--B's PoV--


*Sternenlicht Yacht, Perairan Perancis: 2003*


Ketika cahaya Artemis berkilauan membentuk lingkaran dan menghiasi cakrawala, sementara pada saat yang sama, sang Eurus, yang tak berwujud berusaha menyelinap di antara pancaran sinarnya, dan kita manusia menyebutnya sebagai malam, pada kala itu, dari tempat ku berdiri, aku melihat melalui pantulan air di hadapanku, apa yang orang sebut sebagai dunia. Ya, dunia yang sempurna.


Malam itu adalah malam bulan purnama. Sosoknya yang terpantul jelas di atas permukaan air terlihat begitu bulat, terang benderang, dan sangat besar. Aku bahkan tidak pernah menduga bahwa satelit Bumi itu bisa nampak sebesar ini, sehingga rasanya ia begitu dekat denganku.


Belum lagi cahayanya yang berkilauan. Ia laksana api yang memberi kehangatan di malam yang begitu dingin. Sungguh, tidak ada kata yang bisa menggambarkan hal ini selain kata sempurna dan indah.


"Apa kau tidak merasa kedinginan?" Suara Aditya terdengar sayup-sayup, memecahkan lamunanku.


Aku menoleh ke arahnya. Laki-laki itu kini berjalan mendekatiku, meninggalkan kemudi yang nampaknya telah disetel dengan mode autopilot. Hanya ada kami berdua di dalam yacht ini, sehingga sudah pasti Aditya adalah nahkodanya.


Laki-laki itu terus berjalan mendekat sembari menyunggingkan senyumnya yang manis. Begitu tubuhku bisa dijangkau olehnya, laki-laki itu kemudian memeriksa coat yang ku kenakan kalau-kalau ia belum bekerja maksimal untuk menghangatkan tubuhku.


"Sedikit..." Jawabku sambil membalas senyumnya.


"Aku punya champagne jika kau mau," tawarnya padaku sambil mengedipkan sebelah mata.


Tawaran yang begitu menggiurkan untuk suatu malam yang dingin. Mana mungkin aku bisa menolaknya.


"Tentu aku tidak bisa melewatkannya, tuan penggoda," balasku dengan sedikit kekehan karena tiba-tiba merasa berhasil memberikan julukan baru yang cocok untuknya. Setidaknya tuan penggoda lebih sopan dibandingkan dengan laki-laki c*bul, iblis c*bul, ataupun pria mes*m yang biasanya ku gunakan untuk mendeskripsikan dirinya.


Aku sebenarnya tidak percaya bahwa pada akhirnya aku bisa berdamai dengan laki-laki ini. Laki-laki yang dulu begitu ku benci. Memang benar kata orang, batas antara benci dan cinta sesungguhnya hanya setebal satu helai rambut manusia.


"Malam ini indah bukan?" Aditya bertanya sambil melangkah menuju sebuah box yang tersedia di sudut yacht ini. Aku baru tahu jika ada champagne di sana, sebab ku pikir mungkin hanya ada beberapa kaleng soda atau mungkin beberapa kaleng beer saja.


"Malam ini adalah malam terbaik yang pernah ku lewati seumur hidupku," ucapku padanya sambil kembali menatap bulan di langit gelap.


Aku memang bukan terlahir dari sebuah keluarga yang miskin. Sejak kecil aku terbiasa dengan semua kemewahan yang ada. Aku memiliki seluruh alat untuk menangkap keindahan malam dari balkon kamarku. Namun, entah mengapa malam ini begitu... Berbeda.


"Baru kali ini aku bisa menikmati malam, meskipun tidak ada bintang di atas sana," imbuhku lagi seraya tersenyum pada Aditya.


"Kamu sebenarnya tidak membutuhkan bintang yang lain." Aditya mulai menuangkan champagne pada dua buah gelas kristal. Tak lama kemudian, ia berjalan mendekatiku lagi dan memberikan salah satu gelas yang dipegangnya kepadaku.


"Kenapa? Apa karena menurutmu aku adalah bintang seperti yang kau katakan ketika kita berada di Singapore?" Aku mengingat peristiwa itu. Aku bahkan mengingat peristiwa sebelumnya ketika kita masih berada di Jakarta, saat aku hanya berpura-pura tidur dan ia memanggilku sebagai bintang pertama kali.


"Kenapa kau menyebutku sebagai bintang?" Aku menanyakan sebuah pertanyaan yang sebenarnya pernah ia jelaskan padaku. Tapi, aku ingin mendengar sekali lagi dari mulutnya.


Aditya menatapku lagi. Ia nampak berpikir sejenak seperti seseorang yang sedang menimbang-nimbang di dalam benaknya.


"Sejujurnya ada beberapa alasan...." Aditya menjeda sejenak untuk meneguk champagne-nya.


"Pertama, seperti yang pernah ku katakan padamu, aku menyebutmu Bintang karena kau bersinar dengan caramu sendiri hingga menarik perhatianku. Sama seperti bintang-bintang di angkasa." Aditya menatapku dalam-dalam saat mengucapkan kalimat itu sebelum kemudian ia menatap ke langit. Aku hanya bisa tertegun.


"Kedua..." Ia meneguk champagne-nya sekali lagi.


"Nama Bellatrix. Bukankah itu salah satu nama bintang yang paling terang dalam rasi bintang Orion? Rasi bintang yang kau lukis di dadamu." Aditya mengembalikan pertanyaan itu padaku sambil menyentuh pada tempat dimana tatooku berada.


Aku membulatkan mata sambil menyentuh jari-jemarinya yang sudah terlebih dulu menyentuh sebelah dadaku. Aku tidak menyangka bahwa ia bahkan mencari informasi tentang arti namaku dan bisa membaca gambar tatoo yang melekat di sebelah dadaku.


Dia benar! Dia memang benar! Itu sebabnya aku menyukai bintang. Itu sebabnya aku mengabadikan rasi bintang Orion itu dengan membuat tatoo di dada yang saat ini sedang disentuhnya.


"K-kau tahu?" Aku terkejut. Bukan, aku sebenarnya takjub.


Aku ingin mendengar penjelasannya. Apalagi kami berdua jarang berbicara. Banyak hal tentang laki-laki itu yang tidak ku ketahui dan ingin ku pahami. Aku sungguh-sungguh ingin menyelami dia yang berdiri di hadapanku saat ini.


"Sejak aku melihatmu berdansa dengan Syailendra, sejak malam itu dan hingga detik ini, aku terus mencari segala informasi tentangmu, B. Apa yang kau suka, apa yang kau benci, termasuk arti nama dan makna dari seluruh tatoo yang melekat pada tubuhmu." Aditya mengusap pipiku yang semakin terasa dingin, seolah ingin menyalurkan kehangatan di sana.


"Kau...." Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar.


"Aku ingin mengenalmu lebih dekat, B! Itu sebabnya aku berusaha sebisaku, mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang dirimu," imbuh Aditya kembali.


"Tatoo ini... Adalah tatoo yang ku buat saat aku menyadari bahwa aku telah jatuh cinta kepada Indra." Aku menjeda sejenak ucapanku sambil meneguk champagne-ku hingga berkurang setengah.


"Dulu aku sangat membenci bintang. Sangat membenci nama yang diberikan kepadaku. Aku bahkan selalu mempertanyakan, kenapa mommy dan daddy memberikan nama Bellatrix untukku jika segala hal tentang hidupku selalu mereka kendalikan. Aku bahkan tidak bisa menjadi diriku sendiri. Mengenakan topeng sebagai putri mereka yang manis kemanapun aku pergi." Mataku berkaca-kaca mengingat betapa banyak hal yang ku pendam. Bukan hanya itu, kebahagiaan dan prioritas hidupku yang terlewatkan, berapa banyak yang sudah ku korbankan demi menyenangkan kedua orang tuaku.


"Hanya bersama Indra, aku bisa mendapatkan diriku kembali. Laki-laki itu membiarkan aku menjadi diriku sendiri, bahagia dengan caraku. Itu sebabnya aku membuat tatoo ini sebagai perayaan atas diriku yang telah kembali. Atas cinta yang telah membuatku menjadi seorang Bellatrix yang utuh." Aku menghela napasku dengan kasar sambil menyentuh kembali gambar rasi bintang orion yang melekat di sana.


Aku masih berdiri membelakangi Aditya. Aku bahkan tidak tahu bagaimana ekspresinya sebab ia memilih untuk tidak menanggapiku.


"Lalu kemudian kamu datang. Kamu yang dominan, yang dikirim oleh orang tuaku untuk menghancurkan semua yang baru saja ku bangun." Air mataku menetes tak tertahankan saat mengingat betapa sakitnya hatiku pada waktu itu.


Aku membalikkan tubuhku kembali menghadap Aditya. Aku mengusap air mataku dan menatapnya.


"Aku kembali bertanya... Kenapa? Bukankah seharusnya mereka memberikan nama itu supaya aku bisa bersinar seperti yang ku kehendaki? Namun, mereka seperti ingin meredupkanku dengan menjodohkan kita. Hingga aku tersadar, Mungkin Bellatrix yang ini hanya akan menjadi bintang yang tidak bisa digapai bahkan oleh dirinya sendiri," tuturku lirih sambil menatap mata Aditya yang sudah lebih dulu terlihat sendu.


"Itu sebabnya kau membenciku?" Aditya bertanya dengan lirih.


"Itu sebabnya dulu aku membencimu," ralatku. Seutas senyum lembut kemudian terbit di bibirnya saat mendengar balasanku.


"Maaf...." Ia menghampiriku dan memelukku dengan erat. Aku menggelengkan kepala sebab aku merasa bahwa ini bukan sepenuhnya kesalahan Aditya.


"Dengarkan aku, B!" Ia mengangkat daguku supaya mata kami bertatapan.


"Aku berjanji kau tidak akan mengorbankan apapun mulai sekarang. Kau bisa menjadi apapun yang kau inginkan. Sekalipun nanti kita tidak bersama, aku akan tetap mendukungmu sebagai teman." Aditya berucap sungguh-sungguh. Sorot matanya memancarkan kesungguhannya.


"Kau akan menjadi Sternenlicht seperti yang seharusnya." Aku mengerutkan keningku. Sepertinya aku pernah mendengar atau membaca istilah itu.


Sternenlicht bukankah itu nama yacht yang sedang membawa kami?


"Sternenlicht bukankah itu..." Aditya mengangguk tanda membenarkan ucapanku. Ia seolah mengetahui isi kepalaku meski aku belum menyebutkan semuanya.


"Itu juga yang membuatku membeli yacht ini saat mereka menawarkannya padaku. Sternenlicht sebuah kata dalam bahasa Jerman yang artinya bintang terang, sama seperti Bellatrix," ucapnya lagi, kali ini sambil menyentuh bibirku.


"Jadi... Yacht ini milikmu?" Aku bertanya lagi. Aku semula berpikir bahwa ia hanya menyewa yacht ini.


Aditya menggelengkan kepala. Laki-laki itu kemudian menggenggam tanganku dan membawaku duduk di salah satu sofa yang ada di dekat kami.


"Ini milikmu. Aku membelinya untukmu," jawab Aditya sambil terus menggenggam tanganku.


Mataku berkaca-kaca. Aku tidak menyangka ia menyiapkan semuanya. Meski sedikit berlebihan mengingat harganya yang pasti fantastis, tapi harus ku akui bahwa aku benar-benar merasa... dicintai. Dan meski hingga detik ini Aditya tidak pernah mengucapkan bahwa ia mencintaiku secara langsung, namun semua tindakannya selalu mengarah ke sana.


"Kamu sebenarnya tidak perlu melakukan semua ini. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikanmu." Ucapku dengan lirih. Ingatanku kemudian terbang pada saat-saat dimana aku selalu berprasangka buruk padanya dan aku benar-benar menyesali semua itu.


Aku semakin merasa bersalah karena menempatkan Aditya pada posisi sulit seperti sekarang. Dia bukan hanya rela melepasku. Dia bahkan mengantarku untuk menjemput kebahagian yang mungkin saja tidak memberi tempat baginya.


"Dengar B!" Aditya memelukku semakin erat.


"Aku hanya meminta satu purnama untuk membuatmu bahagia. Ku mohon, jangan menolak apapun yang ku berikan! Percayalah, hartaku tidak akan habis hanya karena membeli sebuah yacht atau apapun untuk merayakan malam bersama istriku!" Laki-laki itu kemudian mengecup keningku.


Satu purnama? Merayakan malam? Entah mengapa aku terharu mendengar kata-kata itu. Kita bahkan belum pernah merayakan malam apapun bersama-sama. Ya, Aditya memang tidak pernah meminta apapun dariku selama ini.


"Terima kasih... Untuk semuanya...." Hanya itu yang bisa ku ucapkan kepada Aditya sambil membalas dekapannya dengan dekapan yang sama eratnya.


Sungguh, aku sangat menikmati pelukan ini. Pelukan yang sudah lama tidak ku rasakan dari seseorang yang begitu tulus mencintaiku, yang rela melakukan apapun demi membuatku bahagia.


"Malam masih panjang, sayang. Simpan terima kasihmu untuk nanti," balas Aditya seraya mengecup puncak kepalaku kembali dengan penuh sayang.


 -------------------


Selamat Membaca!