The Untold Story

The Untold Story
Hati Manusia dan Samudera



--B's PoV--


*Lac Leman, Perairan Perancis: 2003*


Satu demi satu instrumentalia maupun lagu-lagu telah dimainkan secara bergantian di atas panggung. Beberapa penyanyi internasional papan atas pun ikut memeriahkan dan melengkapi harmoni-harmoni cinta yang dikumandangkan di seberang sana.


Sepanjang konser yang bertajuk air dan cahaya bulan itu berlangsung, aku dan Aditya lebih banyak menghabiskan waktu untuk menikmatinya dengan duduk santai di atas sebuah sofa panjang yang tersedia di dek bagian depan. Di sofa itu kami kemudian saling bercengkrama dan bercanda sambil menikmati musik-musik romantis. Sesekali kami juga meneguk champagne, saling berpelukan, bahkan bercumbu mesra karena lagu-lagu yang dibawakan membuat atmosfer di sekitar kami menghangat dan mendorong kami untuk saling bersentuhan.


Waktu demi waktu berlalu. Konser ini pun telah tiba di penghujungnya. Saat ini conductor telah menyampaikan salam perpisahan dan terima kasih kepada semua penonton yang hadir.


Ada perasaan sedikit kecewa terselip di dalam hatiku saat mendengar ucapan selamat tinggal itu. Perasaan itu sebenarnya lebih karena aku belum berdansa dengan Aditya.


Dengan spontan, aku berdiri dan berjalan ke ujung dek untuk melihat lebih jelas ekspresi sang conductor sambil diam-diam menyelipkan harapan. Ah, andai saja aku bisa berbicara padanya secara langsung dan memintanya untuk memainkan satu lagu lagi supaya kami bisa berdansa... Andai saja...


"B....." Aditya mendekatiku lagi.


"Kenapa? Apa belum cukup?" Ia bertanya padaku sebagai kesimpulan atas ekspresi yang ku tunjukkan. Aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Apakah kurang bagus permainan mereka?" Aditya mencoba meminta pendapatku.


"Tidak! Mereka yang terbaik. Hanya saja konser sudah selesai tetapi kita bahkan.... belum berdansa," dengan sedikit malu-malu aku mengucapkan alasanku memasang tampang kecewa.


Begitu tiba dan sejak mengetahui konsep dasar dari konser ini, aku sebenarnya sempat merencanakan untuk mengajak Aditya berdansa bersama, entah itu satu atau dua lagu. Aku berpikir, tentu kesempatan seperti ini begitu langka. Kapan lagi aku memiliki kesempatan untuk berdansa di bawah sinar bulan seperti ini? Sayangnya, lagi-lagi aku harus belajar untuk menerima bahwa tidak semua yang ku inginkan bisa ku dapatkan.


"Kau... Mau berdansa denganku di sini?" Celoteh Aditya berusaha mempertegas ucapanku.


Aditya menahan tawanya. Aku bisa membaca ekspresi laki-laki itu. Sepertinya malam ini ia memiliki dua kepribadian. Romantis dan menyebalkan.


"Memangnya kenapa kalau berdansa? Apa kamu mau mengejekku sekarang?" Aku bersiap untuk mencubit perutnya. Beruntung laki-laki itu bisa menghindar.


"Jangan marah! Dengar, Masih ada satu lagu terakhir yang belum dimainkan. Mungkin itu bisa sedikit menghiburmu," tutur Aditya padaku dengan lembut seraya mengambil kedua telapak tanganku dan menggenggamnya.


"Benarkah? Dari mana kau tahu? Jika benar begitu, apa kau tahu judulnya?" Aku melontarkan pertanyaan beruntun karena rasa penasaran sekaligus berbahagia seandainya ucapan Aditya terbukti kebenarannya.


Belum sempat Aditya menjawab pertanyaanku, sang conductor kemudian menyebutkan judul lagu terakhir yang akan dibawakan dan mengundang seorang penyanyi kebangsaan Perancis yang baru saja naik daun pada saat itu untuk menginterpretasikannya.


"Ladies and Gentleman, please welcome our special guest from France, Miss Carla Bruni.... Moon River..." Undangan conductor kepada penyanyi itu menimbulkan sorak-sorai penonton yang langsung berdiri dan memberikan tepuk tangan dari atas yachtnya masing-masing.


Musik mengalun dengan indah beberapa detik setelah itu. Kini, penyanyi perempuan itu bahkan sudah bersiap untuk memamerkan talentanya.


🎡🎢🎡🎢


Moon river wider than a mile


I'm crossing you in style someday


Suara penyanyi Perancis itu sungguh merdu hingga menghipnotis semua orang. Sebuah lagu lama yang dibawakan dengan gaya yang berbeda, nampaknya hampir membuat semua yang menyaksikannya kehilangan kesadaran sekejap, termasuk diriku. Aku bahkan lupa bahwa lagu ini adalah kesempatan terakhirku untuk berdansa bersama Aditya.


🎡🎢🎡🎢


A dream maker


You heartbreaker


Wherever you're goin', I'm goin' you're way


Aku masih memperhatikan setiap orang yang berunjuk bakat di atas panggung. Aku terlalu fokus menatap ke depan hingga aku tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang berlutut di hadapanku sekarang.


"Shall we dance.... B?" Aku tersentak karena tiba-tiba mendengar sebuah suara. Suara yang mengajakku berdansa dan menyadarkanku bahwa aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini lagi.


Dan orang itu adalah... Aditya. Ia yang saat ini berlutut di hadapanku, menyodorkan sebelah tangannya untuk memintaku mendampinginya berdansa.


🎡🎢🎡🎢


Two drifters off to see the world


Kami bergerak dalam hitungan gerakan musik waltz. Sebelah tanganku digenggam oleh Aditya dalam posisi merentang, sementara tangan yang satunya menyentuh pundak laki-laki itu. Berbeda denganku, sebelah tangan Aditya justru menyentuh pinggangku dan membawanya merapat, semakin dekat dengan tubuhnya.


🎡🎢🎡🎢


We're after the same rainbow's end


Waitin' round the bend


My huckleberry friend


Moon river and me


Kami terus berdansa dan berdansa. Kami bergerak tanpa ragu dengan perasaan hangat di dada. Aditya mengunciku dengan tatapannya sehingga seluruh tubuh dan jiwaku hanya terarah pada laki-laki itu.


Jujur, aku terbuai. Aku bahkan sudah kehilangan akal sehatku beberapa saat kemudian. Dan akal sehat yang memuai itu melahirkan sebuah tindakan yang tak terduga.


Cup!!


Aku mencumbunya. Kali ini aku yang berinisiatif melakukannya lebih dulu. Mencumbu seorang Aditya Wardhana, laki-laki yang dulu sangat ku benci dan sekarang sangat.... Oh, haruskah aku mengatakan perasaan itu?


Di tengah malam gelap... Di atas permukaan air laut... Di bawah sinar bulan purnama... Di hadapan semua orang, aku mencumbunya. Aku mencumbu suamiku dengan sepenuh hati.


Aku tidak peduli dengan tatapan orang lain yang mungkin saja menangkap perilaku kami. Aku tidak peduli tentang bagaimana penilaian mereka terhadap cara mencumbuku yang mungkin terlihat kaku. Aku hanya ingin mengekspresikan apa yang aku rasakan di dalam hati dan menyatakannya kepada suamiku sembari berharap semoga dia mengerti.


Aku tahu ia terkejut. Aku bisa membaca ekspresinya yang tidak menyangka bahwa aku bisa memulai lebih dulu. Namun, meski begitu, dari ujung mataku aku juga bisa melihat senyumnya. Senyum bahagia yang jarang ia tunjukkan selama ini.


Ah, Aditya.... Kenapa kau selalu benar? Malam ini masih panjang dan aku bahkan bisa membuatnya lebih panjang lagi.


🎡🎢🎡🎢


Two drifters off to see the world


We're after the same rainbow's end


Waitin' round the bend


My huckleberry friend


Moon river and me


Β ----------------------


*Perairan Swiss: 2003*


saat ini Sternenlicht telah melaju kembali ke Jenewa. Awalnya Aditya ingin langsung membawaku kembali ke hotel, namun aku menolak.


Mungkin aku memang sudah gila atau mungkin aku sudah mabuk oleh champagne yang kami teguk tadi. Pasti tidak ada yang menduga bahwa aku merayunya. Ya, aku merayu suamiku untuk bermalam di dalam yacht ini bersamaku.


Laki-laki itu tentu menolak pada awalnya. Ia tidak bisa memprediksi cuaca dan mengkhawatirkan keselamatan kami. Namun, bukan Bellatrix namanya jika ia tidak bisa merayu Aditya kali ini. Dengan air mata, sedikit sentuhan lembut, dan rengekan manja, laki-laki itu pada akhirnya menyerah juga.


Meski begitu, Aditya meminta untuk membawa yacht ini setidaknya kembali ke perairan Jenewa terlebih dulu. Menurutnya, hal itu dirasa lebih aman dari pada jika kita masih berada di wilayah perairan Perancis.


Dan di sinilah kita berada sekarang. Yacht ini sudah berhenti di tempat yang dirasa cukup aman oleh nahkodanya, yang tak lain adalah Aditya. Sementara itu, aku justru tengah menanti laki-laki yang telah menjadi suamiku itu di dalam sebuah kabin berukuran kecil yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang begitu mewah.


Aditya memang menyuruhku untuk beristirahat lebih dulu karena malam telah larut. Namun, bukannya beristirahat, di dalam kabin itu aku justru sedang merias diriku secantik mungkin, sebab malam ini aku akan menyerahkan diriku padanya. Ya, aku sudah memutuskan bahwa aku akan menyerahkan diriku seutuhnya pada Aditya.


Hatiku merasa mantap. Aku akan mengakhiri pencarianku terhadap Indra dan melabuhkan hatiku pada Aditya. Aku mencintainya dan aku akan mengakuinya begitu tubuh kami telah menyatu. Semuanya sudah ku rencanakan di dalam benakku.


Saat ini, aku bahkan sudah melepas gaun yang tadi ku kenakan dan seluruh kain yang melekat pada tubuhku. Aku hanya menyisakan sebuah coat untuk menutupi sementara tubuhku yang polos. Dengan rasa was-was dan juga malu, aku berdiri menghadap cermin sambil memastikan penampilanku lagi, hingga...


"B........" Aku bisa melihat sosok Aditya dari pantulan cermin yang ada. Laki-laki itu kini sudah berdiri diperbatasan pintu kabin setelah membukanya.


"B... Kau belum tid......." Sebelum ia mengakhiri kalimatnya, pada saat yang sama aku menjatuhkan coat itu di hadapannya.


Mata Aditya sempat membulat karena terkejut. Namun, kondisi itu tidak berlangsung lama. Dari pantulan cermin itu aku bisa menangkap bahwa ia mencoba menetralkan ekspresinya kembali.


Perlahan-lahan, dengan penuh pengendalian diri supaya tidak langsung menerkamku yang memberi umpan padanya, aku mendapati Aditya melangkah menghampiriku. Tiba-tiba tubuhku gemetar. Mungkin ini disebabkan karena pengalaman pertamaku menyerahkan diri seperti ini.


Aku kemudian mengalihkan wajahku karena malu. Aku semakin menutup mata saat ia mulai menyentuh beberapa bagian tubuhku, Mengusapnya dengan hati-hati sebelum kemudian mendekap dan meninggalkan sebuah tanda merah pada tengkukku.


Melihat sikapnya, aku semakin yakin bahwa malam ini kami akan menjadi suami-istri yang sesungguhnya. Aku tahu Aditya pun menginginkanku sama seperti aku menginginkannya. Kami sudah menikah dan sekarang kami saling mencintai. Tidak ada yang salah di dalam hubungan ini.


Aku masih memejamkan mata dan menikmati semua sentuhannya, hingga sentuhan itu tiba-tiba berhenti dan aku merasa kehilangan. Ada apa ini?


"Apakah kau bermaksud membayarku atas semua yang ku lakukan padamu, B?" Aku terkejut saat Aditya mengambil kembali coat yang terjatuh itu dan menutupi tubuhku lagi. Kenapa?


Aku membalikkan badanku supaya bisa menatapnya. Aku sempat berpikir apakah ia sedang bercanda? Namun, aku mendapati ekspresi yang berbeda.


Kini aku hanya bisa memegang coat yang terpasang kembali di tubuhku dengan erat. Hanya itu yang bisa ku lakukan.


"Apa kau masih menilaiku sebagai laki-laki yang hanya menginginkan tubuhmu saja? Apa semua yang ku lakukan selama ini tidak bisa membuatmu menyadari siapa sesungguhnya aku dan bagaimana perasaanku padamu, B?" A-aku tidak mengerti.


Kenapa jadi begini, bukankah tadi dia menyentuhku seolah menginginkanku? Dan sekarang dia?


Aku seketika meneteskan air mata. Bisakah seseorang menjelaskan padaku apa yang terjadi? Ada apa dengan Aditya? Apa aku menyakitinya? Tapi, mengapa justru hatiku yang sepertinya terluka sekarang?


"A-aku....." Aku bingung harus memulai dari mana.


Aku sebenarnya ingin menjelaskan semuanya. Tapi bibir ini benar-benar kelu. Aku bahkan takut untuk berbicara lagi, sebab aku tidak mau justru dengan semakin berbicara ia akan menjadi salah paham.


"Kau membuatku benar-benar kecewa, B!" Aku mendapati mata Aditya berkaca-kaca sebelum ia melangkah menuju pintu keluar dan berniat meninggalkanku sendiri.


A-aditya.. Aku... Bukan seperti ini yang ku maksud... Bukan seperti ini.... Aku tidak sedang membayar perbuatan baiknya......


Aditya terus melanjutkan langkahnya dan membuka pintu, namun sebelum ia benar-benar menghilang dari pandanganku, aku.....


"Aku mencintaimu......" Air mataku mengalir semakin deras tak terbendung. Akhirnya kata itu keluar dari bibirku dan kata-kata itu pulalah yang menghentikan langkahnya.


"Aku mencintaimu Aditya......" Isak tangisku terdengar semakin jelas. Aditya mengarahkan wajahnya menghadap tubuhku lagi dan menatapku dengan ekspresi yang sulit untuk ku jelaskan.


Aku sudah mengatakannya. Aku berpikir ia akan berlari memelukku setelah ini. Aku berpikir ia akan merengkuhku lagi dan menyadari bahwa semua hal aneh yang ku lakukan adalah karena aku telah memberikan hatiku untuknya, tapi...


"Kalau begitu katakan apa yang membuatmu berubah B?" Aditya menatapku dalam-dalam.


"Apa yang membuatmu mencintaiku?" Aku membeku. Sungguh, aku tidak tahu harus membalas apa.


Aku tidak bisa menemukan alasan apapun karena yang aku tahu bahwa aku mencintainya tanpa alasan dan karena itu sulit bagiku untuk menjelaskan semuanya.


"Hati manusia seluas samudera, B! Aku hanya tidak ingin kamu tersesat di dalam perasaanmu sendiri," imbuh Aditya kembali sambil menatapku dengan sendu.


Apa maksudnya? Apa dia berpikir bahwa aku tidak mengenali hati dan perasaanku untuknya? Apa dia berpikir aku bisa muncul di hadapannya tanpa sehelai benang seperti ini karena didasarkan pada sebuah perasaan yang tidak jelas?


"Tanyakan pada hatimu sekali lagi... Temukan jawabannya.... Aku.... Tidak ingin kamu menyesal suatu hari nanti," ucap Aditya meninggalkanku sendiri di dalam kabin ini dengan berjuta pertanyaan dan perasaan terluka yang teramat dalam.


Β --------------------------


Selamat Membaca!


Halo teman-teman pembaca. Sekadar info, jika mau lebih dapat feel-nya, silakan cari di youtube, lagu berjudul Moon River yang dibawakan oleh Carla Bruni..


Sebenarnya ada banyak versi yang disajikan untuk menginterpretasi lagu ini, tapi saya lebih suka versinya Carla. So, Enjoy!