
*Jakarta, Mansion Aditya-Bellatrix: Masa Kini*
Bercak-bercak sinar mentari mencoba menembus celah-celah kelambu, yang menjuntai di balik jendela kamar sepasang suami-istri, yang baru saja terlelap setelah beraktivitas bersama sepanjang malam. Entah malam kemarin yang terlalu singkat, ataukah pagi yang sepertinya tak sabar mengambil alih. Apapun itu, bias-bias cahaya itu tanpa permisi telah mengganggu salah satu di antara mereka yang tengah tertidur lelap.
Aditya secara spontan membuka mata. Laki-laki itu memang sudah terbiasa bangun di pagi hari. Tanggung jawabnya sebagai pimpinan beberapa perusahaan membuat laki-laki itu terlatih untuk menghargai waktu.
Menoleh sejenak ke sisi sebelah kanan ranjang, Aditya kembali mendapati seorang perempuan yang sudah sembilan belas tahun menemaninya sebagai seorang istri. Perempuan yang masih dalam keadaan polos tertutup selimut putih, dan yang masih terbuai mimpinya.
Mungkin perempuan itu akan melalaikan tugas sekundernya di pagi ini. Ya, nampaknya Aditya harus menyiapkan semuanya sendiri dan memberikan waktu kepada sang istri untuk beristirahat lebih lama.
Sebuah senyuman tipis kemudian tersungging di bibir laki-laki itu saat mengingat peristiwa semalam. Kemarin malam sejujurnya adalah malam terbaik yang pernah ia lalui sepanjang pernikahannya bersama Bellatrix.
Belum pernah ia melihat perempuan itu begitu mendominasi. Ia bahkan bisa merasakan segenap emosi yang meluap-luap dari gestur istrinya. Emosi yang berbalur kenikmatan dalam puncak tertinggi hubungan antar dua manusia yang berlawanan jenis. Emosi yang menyiratkan gairah, amarah, kesedihan, cemburu, dan... Cinta.
Cinta???
"Huhh......." Laki-laki itu mengembuskan napasnya dengan kasar.
Apakah benar perempuan itu mencintainya? Apakah ada alasan yang kuat bagi perempuan itu untuk mencintainya?
"Aku tidak suka kamu memberi perhatian pada perempuan lain selain aku. Apa kau dengar Aditya?" Suara Bellatrix semalam menggema kembali di dalam pikirannya. Suara yang muncul saat perempuan itu berada di ambang kesadaran, sebelum ia tertidur karena kelelahan.
"Kau harus mengatakan pada perempuan itu bahwa kau.... sudah menjadi milikku. Kau adalah milikku, Aditya. Kau... Suamiku, milikku." Suara manja itu menggema kembali.
Masih jelas tertera di dalam benak Aditya, bagaimana ekspresi dan perilaku Bellatrix saat mengatakan semua kalimat itu. Istrinya bahkan tanpa ragu memeluknya dengan posesif, menjadikan dirinya sebagai sandaran di kala mimpi perlahan-lahan membuai perempuan itu.
"Dasar bodoh! Bagaimana mungkin kau bisa cemburu dengan perempuan seperti Cintya? Dia bahkan tidak bisa bersaing denganmu walau seujung kuku." Aditya membisikkan kata-kata itu ke telinga Bellatrix dan mengecup puncak kepala perempuan itu dengan lembut.
"Apakah itu berarti bahwa kau sudah mencintaiku, B? Atau itu hanya ekspresi dari egomu sebagai seorang istri?" Aditya melanjutkan bisikannya.
Sejenak laki-laki itu kemudian merenung, mungkin sudah saatnya bagi mereka untuk berbicara dari hati ke hati. Mungkin sudah saatnya bagi mereka untuk menjalani kehidupan pernikahan yang sebenarnya.
Selama ini, beban di masa lalu begitu berat membayangi kehidupan rumah tangga Aditya dan Bellatrix. Janji yang belum terpenuhi membuat laki-laki itu harus selalu menahan diri untuk mengungkapkan perasaannya.
Ia tidak ingin dikasihani. Ia tidak ingin sebuah perasaan yang lahir dari pengorbanan sang istri, karena ia pernah berjanji bahwa ia akan membuatnya berhenti berkorban atas apapun.
Itu sebabnya dulu ia membawa Bellatrix menemui laki-laki itu. Itu sebabnya ia memberikan kesempatan kepada istrinya untuk memilih.
Sungguh, ia hanya ingin yang terbaik bagi perempuan itu. Perempuan yang begitu ia cintai. Perempuan yang mampu membuat dirinya tidak lagi bisa melihat kecantikan wanita lain. Namun sayangnya, ia telah gagal.
Perempuan itu masih harus berkorban. Keegoisan ibunya memaksa Bellatrix harus tetap berdiri di sampingnya, tanpa punya kesempatan untuk memilih.
Pada titik itu, Aditya membenci dirinya sendiri. Pada titik itu, Aditya membenci perjodohan itu. Membenci pernikahan mereka.
"B.... Kita benar-benar harus bicara setelah ini. Aku berharap ada jalan keluar bagi hubungan kita. Dan apapun itu, kebahagiaanmu adalah yang utama." Sebuah kecupan kembali mendarat di bibir Bellatrix. Kecupan penuh kasih sayang dari seorang suami yang dengan berat hati harus meninggalkan istrinya yang masih tertidur untuk memulai harinya dengan bekerja.
---------------------
*PT Banyu Mili Persada, Jakarta: Masa Kini*
📞 "Franky!" (Aditya)
📞 "Selamat pagi, Pak!" (Franky)
📞 "Panggilkan anak magang yang kemarin kau tolong. Cintya. Aku ingin dia menghadap ke ruanganku sekarang juga." (Aditya)
📞 "Cintya?" Oh, Baik Pak. Saya akan..... (Franky)
Tut... tut... tut...
Panggilan itu terputus. Dari cara bicara atasannya, Franky bisa menebak bahwa emosi Aditya sedang tidak stabil saat ini. Entah apa yang akan dibicarakan Aditya dengan Cintya.
Tidak butuh waktu yang lama, saat ini Franky benar-benar telah membawa Cintya ke depan pintu ruangan atasannya. Ekspresi wajah Franky yang terlihat tegang berbanding terbalik dengan ekspresi gadis itu yang nampak begitu bahagia.
Kebahagiaan itu sebenarnya sudah terlihat mulai dari keberadaan Franky yang tiba-tiba di area kubikelnya dan mengatakan bahwa Aditya ingin bertemu. Tanpa pikir panjang, ia pun menyempatkan diri mencuri waktu untuk bersolek pada sebuah cermin kecil yang terpajang di atas meja. Cintya tentu harus memastikan penampilannya telah mencapai indikator sempurna. Ia tidak boleh terlihat jelek di hadapan orang yang telah mencuri hatinya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk!" Terdengar perintah dari dalam ruangan. Tanpa menunggu waktu lama, Franky membuka pintu dan memberi kesempatan kepada Cintya untuk masuk ke ruangan Aditya.
Mencoba berinisiatif untuk meninggalkan Aditya dan Cintya agar bisa bicara berdua, Franky yang hendak menutup pintu tiba-tiba mendengar kembali suara atasannya. "Kau mau ke mana Franky? Aku tidak menyuruhmu untuk meninggalkan ruangan kantorku," tutur Aditya dengan lantang.
"Silakan duduk Cintya!" Aditya mengalihkan tatapannya kepada gadis muda yang kini terlihat sedikit kecewa karena keberadaan Franky di dalam ruangan itu. Senyum yang menghiasi bibir tipisnya memudar seketika.
"Terima kasih pak," balasnya dengan nada formal sembari melangkah menuju kursi kosong yang berhadapan langsung dengan tempat di mana Aditya berada.
"Ini..." Aditya menyodorkan sebuah kotak kado berukuran sedang. Kotak kado yang semalam ia berikan kepada laki-laki itu karena kekagumannya atas kesuksesan Aditya dan karena telah menolongnya.
"Pak, ini....." Aditya mengangkat satu tangannya sebagai tanda agar perempuan itu berhenti berbicara.
"Ambil ini. Dan jangan pernah berpikir untuk mengakrabkan diri denganku," ucap Aditya tanpa ragu.
"Pak, saya hanya....." Ucapan perempuan muda itu terjeda kembali saat ia mendengar kata-kata atasannya yang tidak bersahabat.
"Apakah aku memintamu untuk berbicara Cintya?" Aditya menatap perempuan itu dengan tatapan yang mengerikan.
"M-maaf Pak," balas Cintya dengan perasaan gugup. Firasatnya mengatakan bahwa ia berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja saat ini.
"Kau tahu kesalahanmu apa, Cintya? Kau.. Terlalu banyak bicara. Dan aku sangat membenci perempuan yang terlalu banyak bicara." Aditya menegaskan kalimat terakhir yang ia ucapkan.
"Itu sebabnya semalam aku menerima pemberianmu, karena aku berharap kau segera berhenti berbicara. Dan sekarang aku mengembalikannya, karena aku tidak merasa bahwa ini penting untukku." Aditya mendorong kasar kotak yang bahkan belum sempat terbuka itu mendekat kepada pemberinya.
"Kau boleh pergi!" Aditya segera mengalihkan pandangannya ke arah tablet yang terletak pada sisi meja sebelah kiri. Laki-laki itu bermaksud melanjutkan pekerjaannya lagi.
Cintya tidak beranjak. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Ia ingin mengeluarkan isi pikirannya, namun tertahan karena perasaan ragu akibat sikap dingin atasannya itu.
"Apa yang kau tunggu, Cintya?" Aditya mengernyitkan keningnya. Ia tidak menyangka perempuan itu masih tidak segera beranjak dari hadapannya.
"Saya masih tidak mengerti, Pak. Kemarin anda dan saya baik-baik saja. Anda bahkan menyebutkan dengan jelas nama saya saat saya menyapa anda. Sekarang tiba-tiba anda menjadi sangat dingin kepada saya." Cintya mulai meneteskan air mata. Perempuan itu ingin memberi tahu kepada Aditya bahwa ia sedang terluka karena sikap laki-laki itu.
Franky yang masih berdiri di dekat pintu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Anak magang yang sedang duduk tidak jauh dari tempatnya berada itu tidak menyadari bahwa ia sedang menggali kuburannya sendiri.
"Pertama, aku bukan orang bodoh yang tidak bisa mengingat nama orang yang baru saja ku jumpai. Ke dua, namamu sama persis dengan nama kelinci betina peliharaan Eowyn, putriku, yang mati karena keracunan. Eowyn menangis berhari-hari karena kematiannya sehingga sejak saat itu aku sangat membenci nama Cintya," jawab Aditya dengan arogan dan tak berperasaan.
Cintya tertunduk malu. Ia tidak menyangka bahwa ia akan mendapat jawaban yang begitu pedas dari laki-laki yang pernah menolongnya. Pada saat itu, Cintya menyadari bahwa sebaiknya ia menjaga jarak dengan Aditya.
"M-maaf kan saya pak...." Cintya yang terkejut dengan ucapan Aditya hanya mampu mengucapkan kata maaf. Pikirannya mendadak kosong dan ia bahkan tidak tahu harus berbuat apa.
Aditya semakin heran dengan tingkah gadis itu yang tidak segera pergi. Ia menatapnya semakin tajam dan penuh emosi. Cintya yang kemudian menyadari makna tatapan Aditya pun kemudian memberikan reaksi.
"K-kalau begitu, s-saya ijin kembali ke ruangan, pak," balasnya lagi dengan suara lirih.
Dengan cepat ia mengambil kotak kado pemberiannya dan segera berdiri. Perempuan itu kemudian melanjutkan langkahnya tanpa berniat menoleh ke belakang.
"Tunggu Cintya! Satu lagi, hampir terlupa." Ucapan Aditya mau tidak mau menghentikan langkah gadis itu. Sungguh, ia sebenarnya tidak siap menerima kalimat yang kasar lagi. Namun, apa boleh buat, gadis itu pun membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Aditya.
"Istriku menitipkan pesan untukmu. Katanya, belajarlah untuk bersikap lebih sopan saat berbicara dan menatap milik perempuan lain!" Aditya mengakhiri kalimatnya.
Cintya tersentak. Sungguh ia tidak sanggup lagi berada di ruangan itu. Kemarin ia merasa bangga dengan dirinya karena bisa membuat perempuan yang bersanding di samping Aditya tidak bisa berkata apa-apa. Sekarang, laki-laki itu justru membuatnya tidak bisa berkata-kata demi menjaga perasaan perempuan yang kemarin bersanding di sampingnya.
Dengan wajah yang memerah karena sangat malu, Cintya pun menjawab, "Baik pak. Saya pastikan itu tidak akan terjadi lagi."
Langkah gadis itu berlanjut. Tidak ada lagi alasan baginya untuk tetap berada di ruangan Aditya. Sementara Franky yang masih berdiri di dekat pintu kembali membukakan pintu baginya.
Baru saja anak magang itu menginjakkan kaki melewati pintu, terdengar dering smartphone milik Aditya memecah keheningan di dalam ruangan. Sebuah nama panggilan tertera di sana.
Nama panggilan yang ia berikan kepada seorang perempuan yang sangat berarti baginya. Nama panggilan dari seorang perempuan yang sudah lama tidak pernah menghubunginya. Nama yang semalam membuatnya begitu bahagia. Nama yang membuat ia menegur seorang anak magang dengan kasar dan tak berperasaan.
Bintang is calling.....
📞 Halo, B! (Aditya)
📞 Mama Rita...Hiks.. Hiks... (Bellatrix)
📞 B? (Aditya)
-------------------
Selamat membaca!