
--B's PoV--
*2003: Jakarta, PT Sinar Atmaja*
"Selamat Tuan Aditya! Selamat Nona Bellatrix!" Aku mendengar gemuruh suara orang-orang memberi ucapan kepadaku dan iblis cabul itu, setelah acara penandatanganan selesai.
Merger antara dua perusahaan memang adalah hal yang biasa. Namun, dalam kasus kami, merger ini adalah simbol kejayaan karena dua keluarga sekaligus dua perusahaan milik para pengusaha raksasa di negeri ini akan bersatu.
Semua yang ada di dalam ruangan itu tahu. Dan mungkin sebentar lagi seluruh dunia juga akan tahu tentang kabar bersatunya perusahaan-perusahaan kami, serta berita pernikahanku dengan laki-laki itu. Sebuah momen yang tentunya langka, mengingat kompetisi lebih disukai dari pada integrasi pada tahun itu.
Aku tidak membalas ucapan selamat mereka dengan kata-kata. Sesungguhnya, aku bahkan tidak punya tenaga lagi untuk membalas mereka. Aku hanya mempertahankan senyum palsuku, seolah aku menikmati ucapan-ucapan itu. Jika bukan karena orang tuaku, tentu aku sudah meludahi ucapan selamat mereka.
Aku terus tersenyum kepada semua orang yang menyapaku, sampai mataku bersirobok dengan mata iblis cabul yang nampak gagah dengan balutan jas Armaninya.
Aku sebenarnya menyadari bahwa laki-laki itu terus memandangiku sedari tadi dengan senyum iblisnya. Namun, aku berusaha mengabaikan tatapan itu hingga tanpa sengaja mataku menangkap sosoknya.
Aku melihat raut puas tercetak jelas di wajah Aditya, yang secara umum mungkin memenuhi kriteria tampan. Namun, entah kenapa? Bagiku, wajah itu terlihat sungguh menjijikkan.
Wajah yang seolah ingin mengatakan bahwa inilah yang ia maksud kemarin. Inilah yang ia mau. Aku berada di dalam kuasanya. Dalam genggamannya.
Aditya Wardhana benar-benar licik. Menyatukan dua perusahaan sebenarnya adalah cara kasar untuk memasungku.
Dengan cara ini, ia mengetahui bahwa aku tidak mungkin memiliki celah untuk membatalkan perjodohan. Semua akan menjadi complicated karena ia menyatukan urusan privat dengan bisnis, yang tentu memiliki konsekuensi yang rumit, ketika suatu hari terjadi sesuatu di luar skenario.
Ya, tidak ada istilah penyelesaian dengan cara kekeluargaan, jika kami ingin membatalkan perjodohan ini. Bukan hanya perusahaan, nama baik keluarga juga dipertaruhkan jika perjodohan ini dibatalkan.
Aku mengalihkan pandanganku cepat-cepat, saat aku merasa bahwa ia sedang berjalan mendekat ke arahku. Bersamaan itu, aku menyeret ke dua kakiku dan melangkah ke tempat dimana Mommy berada. Sungguh, aku tidak ingin berada di dekatnya sekarang, apalagi berbicara dengan laki-laki itu.
"B!" Mommy menyapaku saat melihatku berdiri di sampingnya.
"Kenalkan ini tante Agustine, salah satu teman nongkrong Mommy," ucap Mommy sambil menahan tawanya. Aku menyadari Mommy-ku bahkan sedang berusaha terlihat gaul di hadapanku.
Mungkin saja rencana pernikahanku membuatnya mengingat masa mudanya dulu, hingga ia bertingkah aneh seperti ini. Apapun itu, aku harap Mommy segera menghentikan tingkahnya itu.
"Halo, Tante!" Aku menyapa sopan.
"Cantik bener anak lu! Sayang, anak laki gua udah kawin." Tante Agustine memujiku tulus dengan bahasa khas ibu kota.
Aku melihat Mommy tertawa mendengar ungkapan polos sahabatnya. Aku pun ikut tersenyum merespons ucapan itu. Baru saja Mommy hendak membalas, tiba-tiba suara yang lain menginterupsi percakapan kami.
"Permisi, Tante-tante! Maaf, bolehkah saya meminjam calon istri saya sebentar?" Aku melihat Aditya berdiri di dekat kami sambil menyunggingkan senyum genit untuk menggoda para wanita paruh baya yang ada di dekatku sekarang.
Aku sungguh merasa mual mendengar ucapannya. Ini benar-benar menjijikkan. Aku pun meyakini bahwa ekspresi wajahku juga menunjukkan perasaan jijik itu dengan jelas, dengan harapan ia akan menghentikan semuanya.
"Maaf, Tante-tante... Sepertinya calon istri saya sedikit membutuhkan udara segar. Ijinkan saya membawanya keluar sebentar. Boleh ya?" Pinta Aditya dengan wajah memelas yang dibuat-buat. Aku semakin jengkel melihat ekspresinya itu.
Aku bahkan sedang benar-benar mempertanyakan kepekaannya sekarang. Tidakkah ia bisa membaca bahwa aku tidak menyukai kehadirannya? Mengapa ia justru nekad menghampiriku? Tidakkah ia bisa mengalah sedikit saja dan membiarkanku menenangkan diri sejenak?
Tapi.. Apa yang bisa kuharapkan dari sesosok iblis dalam tampilan manusia? Pertanyaan bodoh!
"Tentu saja boleh dong! Apa sih yang enggak buat calon mantu Tante yang ganteng ini," balas Mommy tak kalah genitnya.
"Mom...." Aku memelototkan mataku untuk meminta Mommy menghentikan tingkah konyolnya yang semakin menjadi-jadi.
Dengan cepat Aditya menggandeng tanganku dan membawaku berjalan melewati kerumunan, beberapa detik setelah ia mendapat ijin dari Mommy. Ia terus mencengkeram telapak tanganku seolah tidak ingin aku terpisah darinya.
Andai saja kami saling jatuh cinta, tentu ini akan terasa romantis. Sayangnya, itu tidak ada dalam kamus kami.
------------
Dan di sinilah kita berdua berdiri saat ini. Rooftop perusahaan Daddy yang tentunya menyuguhkan pemandangan kota nan indah.
Hari sudah semakin sore. Sinar matahari bahkan tidak terasa menyengat sekarang. Namun, entah mengapa? Aku justru merasa gerah.
"Kenapa membawaku ke sini?" Aku menghentakkan tangannya hingga pertautan tangan kami terlepas.
"Jangan kasar pada calon suamimu, sayang!" Laki-laki itu berjalan mendekat padaku.
"Jangan mendekat! Aku jijik berada di dekatmu!" Aku menatap tajam matanya, namun ia membalasku dengan senyuman.
Tanpa bisa ku antisipasi, laki-laki itu kemudian berhasil menggapai lenganku dan memerangkap tubuhku. Ia memeluk pundakku dari belakang, sebelum aku sempat lari menghindarinya.
"A-apa yang kamu lakukan?" Aku meronta berusaha membebaskan diri.
Dia tidak menjawab. Aditya hanya menarik napasnya dalam-dalam. Ia terdengar seperti menghirup sesuatu.
"Aku tidak sabar mencium aroma keringatmu saat malam pertama kita, gadis liarku!" Laki-laki itu kembali berucap seduktif.
Aku merinding. Sungguh, lamunanku langsung terbang saat itu juga. Aku membayangkan perkataannya dan semua itu membuatku merinding hingga dadaku menjadi sesak.
"Kau tahu? Sudah lama aku tidak bermain-main dengan seorang gadis. Aku tidak sabar memilikimu se.. u.. tuh.. nya...." Dia mendesahkan kata terakhir yang ia ucapkan.
Aku benar-benar kalut saat itu. Aku bahkan kesulitan mencerna udara di sekelilingku.
Dia benar-benar iblis. Dia terus menerorku dengan dirinya, kehadirannya, dan perkataannya. Ia seolah ingin menunjukkan kepadaku bahwa aku yang tersiksa adalah kebahagiaan untuknya.
Aku ingin pingsan saat itu. Tapi, aku mencoba menahan kesadaranku untuk berdiri pada tempatnya sekuat tenaga. Aku tidak boleh terlihat lemah di hadapannya. Kelemahanku adalah kekuatannya.
Tapi, apa yang bisa aku lakukan untuk menghadapi laki-laki ini? Apa yang bisa ku perbuat?
Aku sebenarnya ingin menangis saat itu. Setidaknya menangis jauh lebih baik dari pada pingsan. Tapi tetap saja, menangis hanya akan melukai harga diriku di hadapan laki-laki itu.
Aku kembali menahan diriku sekuat tenaga, hingga sebuah ide aneh terlintas di kepalaku. Aku bahkan tidak percaya bahwa aku bisa mengatakannya tanpa ragu saat itu.
"Hahahhaha.... "Aku tertawa. Aku tertawa dengan begitu lepas.
"Hahahahaha......" Aku melanjutkan tawaku dan aku bisa merasakan bahwa iblis itu mengendorkan dekapannya.
"Kau....." Ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Apa yang kau tertawakan?" Ia bertanya penasaran. Rupanya... Ia termakan umpanku.
"Kau bilang apa tadi? Hahaha..." Aku bertanya kembali padanya sambil terus
tertawa.
"Kau bilang kau sudah lama tidak bermain-main dengan siapa? Hahahaa...." Aku menjeda ucapanku sambil terus tertawa seolah menghinanya.
Aku berhasil kali ini. Laki-laki itu melepas dekapannya. Ia membalikkan tubuhku dan membawaku menghadap ke arahnya. Sekarang aku bisa melihat bahwa ia sedang menatapku sambil mengerutkan keningnya.
"Hahaha... " Aku meneruskan tawaku sambil memandang wajahnya dengan ekspresi menghina.
"Dengar sayang....." Aku tersenyum sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah memastikan tidak ada orang di sekitar kami.
Dengan berani, aku mendekatkan tubuhku padanya. Sangat dekat sehingga aku bisa merasakan deru napasnya. Aku tahu bahwa sebenarnya ia tidak menyangka bahwa aku bisa memosisikan diriku sedekat itu. Tapi, permainan di antara kita baru saja di mulai. Dan harus aku yang mengendalikan permainan ini.
"Ada rahasia kecil lain, yang perlu calon suamiku ketahui." Aku mendekatkan bibirku di telinganya untuk berbisik.
"Aku..." Suara desahanku terdengar sambil mengucapkan kata demi kata.
"Bukan...." Satu demi satu, ku uraikan kata-kataku supaya ia bisa mendengar dengan jelas.
"Seorang gadis...." Aku menarik wajahku dari telinganya dan langsung menatap matanya yang nampak terkejut, karena perkataan yang baru ku ucapkan tadi, sambil tersenyum penuh kemenangan.
------------------
Selamat membaca!