
--B's PoV--
*Raffles Hospital, Singapore: 2003*
Tidur seranjang bersama Aditya di Rumah Sakit saat hari menjelang pagi itu nyatanya menyiratkan sebuah perasaan yang berbeda di dalam hatiku. Ratusan menit ku habiskan hanya untuk berbaring di samping laki-laki itu dalam kondisi terjaga, seraya menatapnya yang kembali terlelap.
Ya, hari hampir pagi. Sepertinya aku tidak mungkin memejamkan mata di kala matahari mulai siap untuk unjuk gigi kali ini. Berbeda dengan dia yang masih membutuhkan banyak waktu untuk beristirahat dan memulihkan diri.
Awalnya Aditya memang tertidur membelakangi diriku. Namun, ketika rasa kantuk menahan kesadarannya, tanpa sengaja tubuhnya berbalik menghadap ke arahku, hingga aku yang tak memejamkan mata ini, mendapat kesempatan untuk memandangi wajahnya.
Aditya... Ah, mengapa dalam tidurnya kali ini, ia terlihat berkali-kali lipat lebih tampan dari biasanya? Atau aku saja yang baru menyadari bahwa ia setampan ini?
Garis wajahnya yang tegas, hidungnya yang mancung, serta bibirnya yang s*ksi. Belum lagi perawakannya yang tinggi tegap dengan dada membidang disertai perut yang rata, seolah menunjukkan betapa sempurnanya dia sebagai seorang laki-laki.
Apalagi karakternya yang misterius, tak tertebak. Pada suatu waktu, ia bisa begitu dingin, namun di waktu yang lain, ia benar-benar menunjukkan perhatian tulus terutama di saat-saat genting. Semua itu seharusnya membuat Aditya masuk dalam kriteria laki-laki idamanku.
Andai waktu itu aku belum menemukan seseorang yang mampu membuat hatiku mendamba, mungkin aku akan memilih Aditya untuk menambatkan semua rasa cinta yang ku punya. Namun, saat ini, meski ada sesuatu yang berbeda yang ku rasakan padanya, yang bahkan membuatku sempat menduga-duga, apakah nama perasaan itu? Apakah aku diam-diam sudah mulai mencintainya? Aku cukup sadar bahwa masih ada nama Indra yang begitu dominan menguasai jiwa ini.
Itu sebabnya aku bertanya padanya semalam. Itu sebabnya aku bertanya, apakah ia mencintaiku? Sebab jika itu terjadi, maka sudah pasti aku telah menyakitinya.
"Eeerrgghh...." Aku melihat Aditya tiba-tiba mengeram sambil mengerutkan keningnya. Entah apa yang sedang ia alami di alam bawah sadar sana, hingga raut wajahnya menunjukkan ekspresi semacam itu.
Bersamaan dengan kegelisahan itu, aku bisa merasakan bahwa tangan Aditya tanpa sengaja bersentuhan dengan tubuhku beberapa kali. Mungkin saja laki-laki itu hendak mencari posisi yang nyaman. Namun, begitu tangan itu bersinggungan dengan kulitku sedikit saja, beberapa detik kemudian ia akan tersentak, membuka matanya sejenak, dan menarik tangannya kembali.
Pada titik ini, aku tersadar bahwa Aditya sebenarnya selalu berusaha mengendalikan dirinya. Ia tidak sekalipun berusaha mengambil kesempatan untuk menyentuhku. Sejak pertama kali kami tidur dalam satu ranjang yang sama dan bahkan sampai detik ini, selama itu juga Aditya tidak pernah menyentuhku tanpa ijin.
Mengingat bagaimana selama ini ia berusaha untuk menjaga jarak demi membuatku nyaman, merelakan diri tidak mendapat haknya sebagai suami, hingga memutuskan untuk melepasku demi membuatku bahagia bersama dengan laki-laki yang ku cintai, sekelumit perasaan sedih dan bersalah tiba-tiba muncul dan mengusikku kembali. Perasaan itu kini bahkan semakin besar merong-rong diriku tatkala aku menyadari bahwa setelah semua yang ia lakukan, aku justru membuatnya terbaring lemah di atas ranjang ini.
"Eeerrgghh......" Aku melihat Aditya kembali menujukkan ekspresi gelisah dalam tidurnya.
Apa yang sebenarnya sedang ia rasakan sekarang? Mengapa raut wajahnya seperti itu? Apa mungkin ia sedang mengalami mimpi buruk?
Aku yang tak tega saat melihat raut kegelisahan itu kemudian menyentuhkan tanganku pada dahi dan pelipis Aditya. Dengan lembut aku bermaksud mengusap kerutan-kerutan itu agar ia bisa terlelap kembali.
Tetapi... Baru saja aku meletakkan jari-jariku pada dahinya, laki-laki itu tiba-tiba membuka mata dan kembali tersentak.
"Ssshhh.....Ssshhh...Ssshhh...." Aku mencoba menenangkannya.
"Tidurlah! Masih terlalu pagi." Ucapku dengan lembut seraya terus mengusap keningnya. Perlahan-lahan laki-laki itu telah terbiasa dengan sentuhanku.
Aditya kembali memejamkan mata. Tidak butuh waktu yang lama, ia kembali kehilangan kesadarannya. Dengkuran halus pun kini telah terdengar keluar dari bibirnya saat jari-jari yang lentik ini tak henti-hentinya bekerja untuk membuatnya senyaman mungkin.
"Ssshhh.....Ssshhh...Ssshhh...." Aku terus mengusapnya tanpa henti sehingga ia semakin jatuh terlelap.
Wajah Aditya kini menyiratkan kedamaian. Kerutan-kerutan yang muncul karena kegelisahan itu sudah tidak ada lagi.
Aku kemudian menarik sentuhanku saat menyadari bahwa laki-laki itu kembali tenggelam dalam tidurnya. Mataku kembali menatap keseluruhan wajahnya.
Dan entah angin dari mana yang mempengaruhiku..... Aku yang menyadari bahwa laki-laki itu sudah tertidur pulas, tiba-tiba mengalungkan sebelah lenganku pada tubuhnya. Dengan penuh kesadaran, aku semakin merapatkan tubuh dan menyandarkan kepalaku di dekat dadanya serta ikut memejamkan mata.
Dengan posisi sedekat ini aku bisa merasakan bunyi degub jantung Aditya. Detaknya bagaikan bunyi ketukan metronome yang stabil dan menenangkan.
Aku bisa merasakan Aditya kembali bergerak karena tubuhku tiba-tiba bersentuhan dan melekat erat dengan tubuhnya. Secepat kilat, aku kembali berusaha membuatnya terlelap.
"Sshh... Sshh.. Sshhh....." Aku kembali mengusap-usap tubuhnya hingga ia tertidur lagi.
Awalnya aku hanya ingin merengkuhnya sejenak sambil kembali mengucapkan kata maaf dan terima kasih yang tulus atas segalanya. Namun, aroma maskulin yang memabukkan dari tubuh Aditya ternyata mampu menggeser kesadaranku dari tempatnya.
Aku terlelap. Aku bahkan tidak mengetahui sejak kapan aku mengikutinya ke alam mimpi. Pagi itu sejujurnya adalah pagi pertama dimana aku tertidur sambil memeluk suamiku.
Oh, suami! Bolehkah aku menyebutnya demikian setelah semua yang ku lakukan padanya?
Β --------------
π΅πΆπ΅πΆ
I still think about you
I still dream about you
I still want you and need you by my side
I'm still mad about you
You're still the one
Aku mengerjapkan mata saat menyadari bahwa ada sebuah lagu yang menggema memenuhi gendang telingaku. Sebuah lagu yang tanpa permisi mengusik saat-saat tidurku yang nyenyak.
Rasanya sudah terlalu lama aku tidak merasakan waktu tidur berkualitas seperti ini. Dan ketika aku baru saja mendapatkannya lagi, gangguan itu kembali datang meski dalam rupa lantunan suara merdu seorang penyanyi pria kebangsaan Amerika.
"Eeehhh...." Perlahan-lahan mataku terbuka. Pada saat yang sama, aku yang sepertinya tidak rela meninggalkan tidurku kembali mengeratkan pelukan pada sesuatu yang sejak tadi melekat pada tubuhku.
"B...... Kau sudah bangun? Atau masih mau tidur lagi?" Aku mendengar suara lembut seseorang tengah berbisik di telingaku.
Aku tidak menjawab. Aku hanya membenarkan posisi kepalaku, membenarkan posisi tubuhku, dan kemudian mempererat pelukanku pada sesuatu yang terasa begitu nyaman, sebelum bersiap untuk terlelap kembali.
π΅πΆπ΅πΆ
I still think about you
I still dream about you
I still want you and need you by my side
I'm still mad about you
You're still the one
Lagu itu terdengar lagi. Aku mengerutkan kening dan kemudian terpaksa membawa diriku tersadar untuk melihat dari mana sumber suaranya supaya aku bisa menghentikan suara merdu yang benar-benar mengganggu itu.
Baru saja aku membuka mata lebar-lebar untuk mencari suara itu, pada saat yang sama aku langsung melihat seorang laki-laki menatapku dengan raut wajah gelisah. Laki-laki itu terlihat seperti menahan sesuatu.
"Kamu......" Aku terkejut dan segera bangkit dari tidurku.
Gila!!! Mau ditaruh di mana wajahku setelah ini? Aku lupa bahwa aku sempat memeluknya dengan erat tadi sebelum tidur dan sekarang ia mendapati aku....
Aaaaarrggghhh!!!!
"B... Maaf, mengganggu tidurmu tapi ada panggilan di handphone-ku sejak tadi dan aku tidak bisa mematikan nada deringnya karena dadamu...." Aku tersentak mendengar ucapannya.
"Eh, maksudku kamu menghimpit lenganku sejak tadi." Aditya cepat-cepat meralat ucapannya.
Ia kemudian menghentak-hentakkan lengannya yang mungkin menjadi kebas karena ulahku untuk mengalihkan perhatian. Meski begitu aku sudah mendengar semua dan aku sadar dengan posisiku saat terbangun tadi.
Astaga! Astaga! Astaga!
Pasti sekarang pipiku sudah merona. Apa yang sudah ku lakukan? Dia pasti...... Aaaarrrggghhh!!
"Oya, B! Tadi pagi Franky datang dan aku menyuruhnya untuk membeli satu set baju ganti untukmu. Setengah jam yang lalu ia datang membawa pesananku dan baru saja pergi lima belas menit yang lalu. Itu, semua ada di atas nakas di bawah TV. Mandilah supaya lebih segar!" Aditya berucap lagi untuk menetralkan suasana seraya menunjuk sebuah paper bag berwarna putih dengan sebuah merk baju ternama menghiasi kedua sisinya dan ada satu lagi paper bag dengan ukuran lebih kecil yang bertuliskan merk pakaian dalam.
"Maaf, aku jadi merepotkan semua orang. Kalau begitu A-aku akan segera mandi." Aku melangkah untuk mengambil paper bag-paper bag itu dan bergegas menuju ke kamar mandi dengan perasaan grogi.
Ah, setidaknya ada alasan bagiku untuk menghilang dari pandangan Aditya sementara waktu. Namun sebelum aku masuk ke dalam kamar mandi, aku teringat bahwa sepertinya laki-laki itu belum mendapat kunjungan dokter sejak ia tersadar.
"A-apakah dokternya belum tiba untuk memeriksamu?" Aku bertanya sambil mendekap tas belanjaanku.
"Sudah tadi pagi, tapi aku meminta penundaan waktu karena kamu tidur dengan sangat lelap dan aku tidak mungkin membangunkanmu dan membiarkannya melihat....." Aditya menjeda ucapannya.
"Melihat apa?" Aku menjadi panik seketika. Sementara Aditya, laki-laki itu hanya menggigit bibirnya sambil berpikir untuk menjawab pertanyaanku.
Β --------
Selamat membaca!