
*Jakarta: Masa Kini*
"Hi, Ma! Bagaimana kabar Mama hari ini?" Terdengar sapaan seorang perempuan yang baru saja memasuki sebuah kamar milik mertuanya.
"Bella! Kau datang Nak? Kemarilah!" Balas seorang perempuan tua yang tengah duduk pada sebuah kursi roda. Tatapan matanya beralih dari pemandangan di luar jendela kamar kepada paras cantik menantunya yang meski sudah berusia tiga puluh sembilan tahun masih terlihat sangat muda.
"Aku membawakan Sup Matahari untuk Mama. Bik Nah sedang memanaskannya di dapur." Perempuan itu mendekat ke arah di mana mertuanya berada dan memeluk perempuan itu.
"Ah sayang, Mama sangat rindu dengan Sup Matahari buatanmu. Terima kasih karena sudah mengantarkannya kemari." Perempuan tua itu berucap sambil membalas pelukan menantu kesayangannya.
"Apa masih terasa sesak, Ma?" Dengan raut wajah yang menunjukkan kekhawatiran, sang menantu melanjutkan pertanyaannya.
"Mama sudah biasa dengan rasa sesak ini. Mama bahkan sudah berteman dengannya sejak puluhan tahun yang lalu. Tidak perlu khawatir." Perempuan di kursi roda itu tersenyum lembut dan kemudian menghela napasnya dengan berat.
"Sayang, Mama sudah tidak berharap apa-apa lagi dari kehidupan ini. Melihat kedua anak laki-laki Mama yang sudah menikah dengan perempuan-perempuan yang baik, dikaruniai cucu-cucu yang tampan dan cantik, apa lagi yang Mama harapkan? Jika hari ini Tuhan memanggil Mama pun, Mama sudah merasa siap." Perempuan tua itu menyentuh pundak menantunya yang sedang bersimpuh di hadapannya.
"Jangan bilang begitu, Ma! Aku tidak suka jika Mama berbicara seperti itu," balas menantu perempuan itu sambil menggenggam tangan mertuanya. Ia sungguh menyayangi perempuan yang ada di hadapannya saat ini.
"Aditya tidak datang bersamamu?" Perempuan bernama Rita itu menatap ke arah pintu kamarnya. Sepertinya ia berharap kalau-kalau pria yang namanya baru saja disebut itu menyusul masuk.
"Mas Aditya baru bisa datang nanti sore, Ma. Ia akan menjemputku sekaligus mengajakku menghadiri acara launching produk baru di perusahaan kami," ucap Bellatrix menjelaskan ketidakhadiran suaminya siang itu.
"Ah, Mama hampir saja lupa. Apa kamu sudah membawa gaun malam? Apakah senada dengan setelan yang dikenakan Aditya?" Tanya Mama Rita kepada Bellatrix.
"Sudah Ma. Ya, senada meski tidak sewarna. Mama tahu kan anak Mama itu tidak suka mengenakan pakaian yang warnanya terlalu mirip? Meski begitu, aku mencoba mencari warna yang jika disandingkan bisa membuat kami selalu terlihat serasi." Bellatrix tersenyum sambil membayangkan ekspresi Aditya yang kaku. Laki-laki itu tidak suka mengenakan pakaian couple. Itu sebabnya Bellatrix selalu mencari warna yang sedikit berbeda tetapi masih serasi ketika disandingkan.
"Kamu selalu punya cara untuk menengahi kemauan suamimu. Dia benar-benar beruntung," ucap Mama Rita sambil menggelengkan kepala mengingat perangai anak laki-lakinya.
Bellatrix termenung sejenak. Senyum yang baru menghias bibirnya tiba-tiba menghilang karena ucapan sang mertua.
Apakah Aditya merasa beruntung karena menikahinya? Pertanyaan itu tiba-tiba mengusik hati Bellatrix.
"Oya, Mama dengar besan Mama sedang berusaha menjodohkan Eowyn dengan cucu kenalan mereka. Apakah putrimu setuju dengan perjodohan itu?" Mama Rita mencoba mengklarifikasi informasi yang ia terima. Ada perasaan khawatir yang sebenarnya mendominasi hati perempuan tua itu.
Bellatrix menggelengkan kepala. Ia lebih baik mengatakan sejujurnya bahwa sejauh ini putrinya masih memberikan penolakan.
Mama Rita kembali menghela napasnya dengan berat. Sepertinya ia sudah menduga reaksi cucunya.
"Mama sebenarnya sudah menduga hal ini. Eowyn bukan tipe anak gadis penurut seperti dirimu dulu, Bella!" Mama Rita menyentuh lembut pipi Bellatrix.
"Aku rasa Eowyn hanya membutuhkan sedikit waktu untuk memikirkan semua. Hal ini pasti terasa menakutkan baginya. Bagaimana pun juga ia tidak mengenal laki-laki itu." Bellatrix mencoba membela putrinya. Ia pernah merasakan berada di posisi Eowyn.
"Tapi... Kamu harus mengakui bahwa pilihan orang tua tidak pernah salah kan, Nak? Lihatlah! Sekarang kamu dan Aditya sangat berbahagia. Apa yang terjadi jika Mama tidak menghalangimu bertemu dengan penari itu di Switzerland. Pasti kamu akan hidup menderita bersama penari itu sekarang," ucap Mama Rita dengan bangga.
"Mama sebenarnya merasa heran dengan Aditya. Bagaimana dia bisa memiliki niat menyerahkan istrinya sendiri pada laki-laki lain? Untung Mama memantau kalian dan mencegah pertemuanmu dengan laki-laki itu." Sekilas Mama Rita menerbangkan pikirannya pada peristiwa belasan tahun yang lalu.
Hampir saja Bellatrix berniat menjawab ucapan mertuanya, tiba-tiba......
Tok.. Tok.. Tok..
"Permisi Nyonya... Saya membawa Sup Matahari buatan Nyonya muda," ucap Bik Nah yang saat ini sedang berdiri di depan pintu.
"Mari Bik. Biar saya saja yang menyuapi Mama," pinta Bellatrix seraya mengambil alih mangkok Sup itu dari tangan Bik Nah.
"Mama makan dulu ya. Biar aku yang menyuapi Mama," kata Bellatrix seraya meniup kuah panas yang terus mengepul.
Mama Rita menganggukkan kepala tanda setuju. Sambil tersenyum menatap wajah cantik Bellatrix, Mama Rita bersyukur di dalam hati. Bellatrix, bukan hanya wajahnya saja yang cantik, hatinya pun memancarkan aura yang sama.
-----------------
*Jakarta, PT Banyu Mili Persada: Masa Kini*
"Selamat Pak Aditya. Anda benar-benar hebat," ucap salah seorang karyawan wanita berpakaian seksi kepada Aditya. Perempuan itu jelas-jelas menunjukkan ketertarikan kepada atasannya. Bahasa tubuh dan tatapannya kepada Aditya menyiratkan semua.
"Terima kasih, Cintya." Aditya berucap dingin. Laki-laki itu sedikit tersenyum untuk menghormati. Tidak berniat melanjutkan pembicaraan dengan perempuan itu, Aditya yang sedang berdiri menggandeng lengan Bellatrix melanjutkan langkahnya untuk menyapa tamu yang lain.
Begitu banyak undangan yang hadir di perusahaan Aditya malam ini. Launching produk baru perusahaan itu berjalan dengan lancar. Hampir semua produk terjual habis. Bisa dibayangkan berapa banyak keuntungan yang akan diraup oleh PT Banyu Mili Persada. Perusahaan yang sahamnya seratus persen dimiliki oleh Aditya dan Bellatrix. Nama perusahaan itu pun merupakan gabungan dari dua nama tengah mereka.
Bellatrix tersenyum manis sepanjang pesta. Bukan hanya karena rasa bangga melihat hasil kerja suaminya yang luar biasa, tetapi juga karena ia selalu hadir pada setiap momen sukses Aditya. Laki-laki itu seperti tidak pernah melupakannya.
"Apa kau tidak merasa bahwa perempuan itu tertarik padamu?" Bellatrix berbicara kepada Aditya tanpa memupuskan senyumnya. Mereka masih menyapa tamu-tamu yang lain.
"Siapa? Cintya?" Aditya mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Bellatrix.
"Dia tidak berhenti memandangmu," ucap Bellatrix sambil sesekali memperhatikan tatapan Cintya yang terus terarah pada Aditya.
"Aku mapan dan tampan. Siapapun pasti akan memandangku," balas Aditya dengan dingin.
"Putrinya saja bahkan hampir menikah. Dasar tidak ingat usia," gumam Bellatrix dengan suara yang masih terdengar jelas di telinga suaminya.
"Cintya bukan tipeku. Terlalu mur*han," balas Aditya. Laki-laki itu berhenti sejenak sambil membalik badannya sehingga bisa bertatatapan langsung dengan Bellatrix.
"Lagi pula, kamu berbicara seolah kamu cemburu. Aku merasa sedikit aneh mendengarnya," balas Aditya dengan telak seraya mengambil beberapa helai anak rambut Bellatrix yang menutupi wajah dan meletakkannya di belakang telinga istrinya.
Aditya berucap tanpa ekspresi. Laki-laki itu sepertinya memang tidak peduli dengan perempuan bernama Cintya itu.
Bellatrix seketika menegang. Ia benar-benar kelepasan berbicara. Tapi, sungguh ia tidak tahan dengan cara Cintya berbicara dengan suaminya tadi.
"A-aku hanya memberi tahu. Bukan cemburu. Tatapannya sedikit menggangguku karena.. Karena.. A-aku hanya merasa bahwa dia sedikit tidak sopan," jawab Bellatrix dengan gelagapan.
"Besok aku akan menyuruh HRD menegurnya karena membuat Nyonya Muda Wardhana tidak nyaman. Puas?" Aditya masih menatap mata sang istri dengan dingin.
Tidak ada lagi ucapan yang keluar dari bibir Bellatrix. Selalu saja seperti itu. Aditya menjawab dengan cepat dan seadanya. Memilih untuk tidak memperpanjang pembicaraan atau memperjelas sesuatu yang menggundahkan hatinya, laki-laki itu lebih banyak memutuskan sesuatu yang sekiranya bisa membuat Bellatrix berhenti berbicara. Aditya selalu saja menjaga jarak mereka dengan sempurna.
Berniat melanjutkan langkah mereka, Aditya kembali merengkuh lengan Bellatrix dan membawanya menuju area makan. Mau tidak mau Bellatrix mengikuti langkah suaminya karena seperti itu skenario mereka ketika berada di tempat umum. Tidak ada Aditya yang berjalan sendiri tanpa Bellatrix, saat keduanya menghadiri sebuah acara yang sama.
----------------------
Selamat Membaca!