
--B's PoV--
*2003: JW Marriott Hotel, Jakarta*
Sekali lagi aku berdiri di depan sebuah cermin. Namun, kali ini aku menatap diriku dengan cara yang berbeda, sebab kali ini aku menjadi diriku sendiri. Tanpa topeng, tanpa senyum yang dipaksakan. Hanya ada aku dan kebenaran.
Baru saja aku menyelesaikan riasanku, sebelum menyematkan sebuah topeng berwarna emas di wajahku, yang warnanya senada dengan pakaian yang ku kenakan. Kalau boleh jujur, sebenarnya muncul sedikit perasaan sia-sia, ketika merias wajah ini, sebab nantinya akan tertutupi juga oleh topeng itu. Namun, demi sebuah totalitas dalam berkarya, aku harus tetap melakukannya.
Dan.... tentang pakaian yang sedang melekat di tubuhku sekarang..... Sh*t !!
Franda memang gila. Bagaimana dia bisa memilih pakaian yang begitu ketat dan terbuka seperti ini?
Jangan tanyakan bagaimana modelnya! Aku benar-benar seperti setengah tel*nj*ng.
Baju ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama untuk tubuh bagian atasku dan bagian kedua untuk tubuh bagian bawah.
Bagian pertama benar-benar menutupi dadaku yang berukuran sedikit di atas rata-rata. Ya, hanya dada. Sementara pung
--B's PoV--
*2003: JW Marriott Hotel, Jakarta*
Sekali lagi aku berdiri di depan sebuah cermin. Namun, kali ini aku menatap diriku dengan cara yang berbeda, sebab kali ini aku menjadi diriku sendiri. Tanpa topeng, tanpa senyum yang dipaksakan. Hanya ada aku dan kebenaran.
Baru saja aku menyelesaikan riasanku, sebelum menyematkan sebuah topeng berwarna emas di wajahku, yang warnanya senada dengan pakaian yang ku kenakan. Kalau boleh jujur, sebenarnya muncul sedikit perasaan sia-sia, ketika merias wajah ini, sebab nantinya akan tertutupi juga oleh topeng itu. Namun, demi sebuah totalitas dalam berkarya, aku harus tetap melakukannya.
Dan.... tentang pakaian yang sedang melekat di tubuhku sekarang..... Sh*t !!
Franda memang gila. Bagaimana dia bisa memilih pakaian yang begitu ketat dan terbuka seperti ini?
Jangan tanyakan bagaimana modelnya! Aku benar-benar seperti setengah tel*nj*ng.
Baju ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama untuk tubuh bagian atasku dan bagian kedua untuk tubuh bagian bawah.
Bagian pertama benar-benar menutupi dadaku yang berukuran sedikit di atas rata-rata. Ya, hanya dada. Sementara punggungku dibiarkan terbuka, karena hanya ada sebuah tali tipis yang terikat di sana. Tali yang harus ku pastikan bahwa ia telah terikat dengan kuat. Sebab jika tidak, maka tidak ada lagi yang bisa ku pakai untuk menyembunyikan dua aset berhargaku itu.
Sementara bagian kedua, sangatlah mini. Celakanya lagi, karena itu terlalu mini, sehingga ketika aku menghentakkan pinggulku maka lingkaran p*nt*tku yang bahen*l itu akan sedikit terekspos.
Dan karena itu aku harus menggunakan cel*na d*lam khusus. Orang-orang menyebutnya G-Str*ng.
Aku terpaksa mengenakannya sebab tentu akan terlihat aneh, ketika kain bagian bawah ini sedikit terangkat waktu aku bergoyang. Meski ada rumbai-rumbai yang menyamarkannya, tetap saja aku bisa memprediksikan bagaimana tubuhku akan terlihat nantinya jika aku memakai cel*na d*lam biasa.
Satu-satunya penyelamat adalah topeng emas itu. Aku bersyukur Indra menepati janjinya. Entah bagaimana caranya, yang jelas ia bisa menyediakan sebuah topeng untuk menutupi wajah putri Tuan Atmaja yang cantik jelita dan yang sedang menahan malu karena pakaian terbuka ini.
Ah, menyebut nama Tuan Atmaja, aku langsung mengingat kembali kejadian tadi pagi. Aku tidak percaya bahwa Mommy dan Daddy ternyata menjodohkan aku dengan si 'cabul' itu.
Parahnya lagi, Mommy mengatakan kepada tante Rita bahwa semalam aku telah menyetujui perjodohan yang direncanakan mereka. Padahal, aku hanya tersenyum saat itu dan tidak mengatakan 'iya' dengan jelas. Sungguh sial!
Satu-satunya harapanku adalah semoga si 'cabul' menolaknya. Aku memang belum bisa mengartikan tatapannya, selama kita berada di restoran waktu itu. Tetapi, aku mempunyai firasat, sepertinya ia tidak menyukaiku. Oh, semoga saja, itu benar!
"Aku baru mengetahui bahwa Bellatrix Atmaja memiliki sebuah tatto bergambar kupu-kupu di punggung bagian bawah dekat pinggulnya?" Aku melihat Indra sudah berdiri, menyandarkan lengannya pada kerangka pintu dari pantulan cermin di hadapanku.
Aku tidak langsung menjawab. Aku hanya memberikan senyum terbaik yang aku punya.
"Kau keberatan jika pasangan dansamu bertatto?" Aku bertanya pada laki-laki itu dan dia menggelengkan kepala.
"Semua ini karena Franda si*l*n yang memilih baju seperti ini," imbuhku lagi dengan kesal.
"Kau cantik sekali malam ini, B! Pakaian ini sangat cocok untukmu," pujinya sambil menatap wajahku lewat pantulan cermin.
Laki-laki itu mendekatiku dan memeluk tubuhku dari belakang. Aku kemudian meletakkan tanganku di atas tangannya.
"Dengan mengatakan itu, bukan berarti aku akan mengubah keputusanku untuk menolongmu secara gratis, Indra," balasku sambil menyeringai licik.
"Aku tidak berniat mengingkari janjiku sweety," jawabnya lagi.
Untuk beberapa saat, aku dan Indra tidak lagi berbicara. Aku dan dia masih saling menatap lewat pantulan cermin itu. Sebuah tatapan penuh arti, yang kami suguhkan untuk mengisyaratkan bahwa kami sebenarnya saling mencinta, saling mendamba, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa kami tidak mungkin bersama.
Status sosial kami berbeda. Dan itu adalah pil pahit yang harus kami telan bersama. Itu sebabnya, tidak pernah ada pengakuan dari bibirnya dan bibirku tentang rasa yang kami miliki. Sebab jika kami memaksakannya, maka yang tersisa hanyalah rasa sakit yang tak terobati.
"Kamu siapkan, sayang?" Dia tiba-tiba berbicara lagi dan memutus lamunanku. Bersamaan dengan itu, pelukannya pun terurai.
"Apakah aku mempunyai pilihan lain, Indra?" Aku memutar bola mataku dengan malas dan ia tertawa.
"Sudahlah! Ayo, kita bersiap saja di belakang panggung. Aku tidak yakin aku bisa menahan diriku lebih jauh, jika terus berdua denganmu di sini," ucapnya kemudian menautkan lenganku pada lengannya.
"Tunggu-tunggu, aku harus memastikan heels-ku sudah terikat dengan baik. Dan Ah.... Topeng. Hampir saja aku melupakannya," tuturku sambil melihat heels-ku. Setelah itu, aku pun mengambil topeng di atas meja rias, lalu menyematkannya untuk menutupi wajahku. Setelah semua siap aku kembali menautkan lengan kami.
"Aku siap!" Sebuah senyuman kembali ku sunggingkan untuknya.
"Kau tahu B? Sebenarnya kau hanya perlu memegangku dengan erat. Aku tidak akan membiarkanmu jatuh apapun kondisinya," sambungnya lagi seraya tersenyum.
Pembicaraan kami telah berakhir. Dengan penuh ketegasan dan kepastian, kami pun melangkah bersama untuk mempersembahkan yang terbaik.
Akan ku pastikan bahwa tarian kami nantinya mampu dirasakan oleh semua penonton yang hadir. Tidak ada satu pun dari mereka yang akan mengalihkan tatapannya, saat musik itu mulai dimainkan hingga ia berakhir.
Dan..... Saatnya pun tiba... It's time for the show, baby!
Β -------------
π΅πΆπ΅πΆ
When marimba rhythms start to play
Dance with me, make me sway
Like a lazy ocean hugs the shore
Hold me close, sway me more
Musik telah diputar. Aku melangkah menuju ke tengah panggung bersama pria yang ku cintai. Sebuah senyuman lebar terurai dari bibirku, sebab aku merasa tidak ada yang lebih membahagiakan selain peristiwa-peristiwa seperti ini.
π΅πΆπ΅πΆ
Like a flower bending in the breeze
Bend with me, sway with ease
When we dance you have a way with me
Stay with me, sway with me
Beberapa kali, aku mengucapkan sesuatu di dalam hati ketika mulai menggerakkan tubuhku. Inilah Bellatrix yang sebenarnya. Seorang perempuan yang penuh gairah dalam hidupnya. Perempuan yang bebas, yang seharusnya hanya mengerjakan apa yang ia sukai dan hidup dengan seluruh cinta yang ada di dalam hatinya.
Di atas panggung ini dan bersama dengannya. Saling berpegangan tangan, saling memeluk tanpa ragu. Melupakan sejenak bahwa dunia sebenarnya tidak berpihak pada kami, tapi musik dan tari membuat sebuah jalan lain untuk kami bersatu.
π΅πΆπ΅πΆ
Other dancers maybe on the floor
Dear, but my eyes will see only you
Only you have that magic technique
When we sway, I go week
Selama tarian itu, aku hanya mengarahkan pandanganku pada matanya. Mata berwarna coklat terang yang aku suka. Aku bahkan hampir lupa jika ada orang lain di sekitar kami yang sedang melihat tarian ini.
Ketika aku sempat teralihkan, sesekali ia meletakkan telapak tangannya ke bagian belakang kepalaku sambil kami melakukan gerakan berputar. Seolah dia ingin memastikan bahwa tidak ada laki-laki lain selain dirinya.
Sungguh, aku bahkan terlihat seperti seorang perempuan yang mendamba pasangannya saat ini. Setiap gerakannya, setiap sentuhannya, yang sebenarnya adalah bagian dari koreografi yang matang dan terencana, bisa memberikan bahasa yang berbeda bagi tubuhku.
Semuanya terasa alami. Semuanya terasa tulus.
π΅πΆπ΅πΆ
Long before it begins
Make me thrill as only you know how
Sway me smooth, sway me now
Aku masih menghentakkan kakiku dan mengayunkannya tanpa ragu di atas panggung sambil memegang tangannya. Sesekali bahkan aku mencengkeram lengannya yang kokoh, menyentuh pundaknya yang hangat dan memeluk pinggang kekasihku.
Ya, kekasihku. Bolehkah aku menyebutnya sekali saja sebagai kekasihku?
Ketika bait demi bait dalam lagu itu terus dilantunkan, aku bisa merasakan bagaimana sebelah tangannya menyentuh pinggulku dengan lembut namun juga tegas di saat bersamaan. Sementara itu, tangan yang lain masih tertaut di sela-sela jari tanganku. Seolah ingin mengatakan bahwa kami tidak terpisahkan.
Musik terus mengalun sedangkan kami terus berdansa. Kami bergerak mengikuti irama, dengan gaya khas Tango yang seksi dan menggoda.
π΅πΆπ΅πΆ
When marimba rhythms start to play
Dance with me, make me sway
Like a lazy ocean hugs the shore
Hold me close, sway me more
Untuk beberapa saat, kami menikmati pergerakan kami yang saling merengkuh, saling meraba, dan bahkan terlihat seperti pasangan yang hampir berciuman. Satu atau dua kali, ia bahkan menggendongku. Melekatkan tubuhnya dengan erat pada tubuhku dan tidak memberi jarak, bahkan untuk seinci saja.
Aku bahkan merasa bahwa laki-laki yang sedang menyentuhku saat ini, benar-benar memafaatkan waktu untuk memilikiku bagi dirinya sendiri. Adakalanya ia juga seolah menghempaskanku ke udara. Menunjukkan bahwa ia ingin memberi ruang bagi kami. Namun, saat pertautan kami benar-benar hampir terlepas, tangannya yang kokoh selalu berhasil merengkuhku kembali. Dan sialnya, semua sikapnya itu benar-benar membuat jiwaku semakin menggila.
π΅πΆπ΅πΆ
Like a flower bending in the breeze
Bend with me, sway with ease
When we dance you have a way with me
Stay with me, sway with me
Musik dan tarian ini pada akhirnya sudah hampir mencapai ujungnya. Tinggal beberapa gerakan lagi dan tarian ini akan berakhir.
Namun sebelum itu, aku dan Indra bergerak dalam arah yang berlawanan untuk menyapa penonton. Memberikan sebuah ciuman jarak jauh kepada mereka yang sudah memberikan apresiasi dengan tepukan tangan dan berdiri bagi kami.
Aku sempat menatap satu per satu wajah mereka yang berada di bangku audience. Hingga, tanpa ku sadari sebuah sosok menggangguku. Seseorang yang duduk di bangku paling depan, yang tidak memberikan apresiasi seperti yang lain.
Deg...
"Tidak mungkin," ucapku di dalam hati.
Iblis cabul itu ada di tempat ini. Ia bahkan sedang menatapku dengan saksama sambil mengerutkan keningnya. Apakah ia mengenaliku?
Seketika aku gugup. Keringat dingin bahkan sudah merambat keluar dari pori-pori yang ada di sekujur tubuh ini.
Aku sungguh tidak pernah setakut ini seumur hidup. Tatapannya yang dingin seakan kembali menel*njangiku.
Aku bahkan sempat kehilangan konsentrasi hingga Indra harus melakukan improvisasi, saat menyadari bahwa ada yang tidak beres denganku. Aku pun akhirnya merengkuh kesadaranku kembali.
Ku tanamkan dalam hatiku bahwa semua akan baik-baik saja. Tinggal beberapa gerakan lagi dan aku bisa pergi dari tempat ini secepatnya.
Aku mulai menghentakkan kakiku untuk menyelesaikan part terakhir. Namun, sekali lagi, aku melakukan kesalahan karena belum menyempurnakan fokusku. Kesalahan yang sebenarnya cukup fatal karena langsung membuatku kehilangan keseimbangan dan hampir terhuyung.
Beruntung Indra dengan keprofesionalannya langsung menangkapku dengan sangat halus, sehingga tidak ada yang menyadari bahwa itu adalah sebuah kesalahan. Tapi, nahasnya untuk beberapa detik topengku sempat terlepas saat sorot mataku bersirobok dengan mata iblis itu. Dengan cepat aku pun memasang topeng itu kembali.
Tidak lama kemudian gerakan terakhir berhasil ku selesaikan. Aku dan Indra akhirnya membungkukkan badan kami, seraya tersenyum lebar kepada penonton untuk memberikan penghormatan terakhir, sebelum kami benar-benar meninggalkan panggung.
Β -----------------
Tok.. Tok.. Tok...
"Are you oke, B?" Saat ini Indra sudah berdiri dari balik pintu ruang rias yang disediakan untukku.
Ceklek...
Aku membukakan pintu untuknya. Laki-laki yang datang dengan raut wajah
panik itu langsung menerobos masuk dan bersiap membombardirku dengan banyak pertanyaan.
"What the h*ll was going on, B?" Dia bertanya dengan cukup kesal. Aku bisa memaklumi itu. Aku hampir mempermalukannya.
"Sorry Indra, hampir saja aku mengacaukan semua. Aku sebenarnya sedikit... lelah," jawabku berbohong. Aku bahkan sudah memasang wajah paling mengenaskan sekarang supaya ia memaafkanku.
Indra hampir membuka mulutnya lagi. Namun, ia tiba-tiba mengurungkannya.
Sepertinya ia menahan diri agar tidak langsung menjawab. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Laki-laki itu masih memilih diam sambil terus menatap wajahku dengan intens. Sementara aku yang merasa bersalah hanya menundukkan kepala.
Beberapa detik pun berlalu hingga aku mendengar suaranya kembali.
"Hah....." Laki-laki itu menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia menyentuh daguku dan mengarahkannya agar tatapan kami kembali bertemu.
"Kamu sakit?" Dia bertanya lagi. Namun, kali ini ia bertanya dengan lembut.
"Sedikit kurang enak badan tepatnya," jawabku berusaha menutupi alasan yang sebenarnya.
"Sorry, aku tadi sungguh panik saat melihat tubuhmu terhuyung. Aku sampai tidak bisa mengendalikan ucapanku barusan. Aku yang harusnya meminta maaf padamu. Aku yang membuatmu memaksakan diri untuk tetap menari dalam kondisi tidak prima seperti ini," ucapnya lagi penuh penyesalan.
"Tidak Indra. Aku yang harusnya meminta maaf," balasku dengan lirih.
"Sudahlah! Lupakan! By the way, sebenarnya hanya kita berdua saja yang tahu kesalahan itu. Aku tadi sempat bertanya kepada beberapa orang dan mereka tidak menyadarinya." Laki-laki itu berbicara seraya tersenyum keheranan.
"Syukurlah!" Aku merasa sedikit lega sekarang.
"Jadi.... Bagaimana dengan makan malam kita? Apakah kau ingin menundanya atau tetap melanjutkannya?" Ia bertanya kembali untuk memastikan ulang rencana kami.
Baru saja aku akan membuka mulutku untuk membalas, tiba-tiba aku mendengar sebuah suara yang tidak asing menyela percakapan kami. Suara yang sebenarnya tidak ingin ku dengar saat ini.
"Bellatrix Atmaja? Gadisku yang 'nakal'. Sungguh sebuah kejutan yang menyenangkan." Aku melihat iblis cabul itu berdiri di belakang Indra dan berjalan semakin mendekat ke arahku.
Β ---------------
Selamat membaca!