
--B's PoV--
*2003: Jakarta - Satu Minggu Kemudian*
Malam itu, masih terpatri jelas di dalam ingatan ini, sang hujan turun dengan begitu lebatnya. Sebuah fenomena yang tentu memberi kesan aneh, mengingat musim panas seharusnya masih memiliki waktu yang lebih panjang untuk menikmati peraduannya.
Kala itu, aku berdiri pada sebuah balkon yang terletak di luar kamarku. Aku sedang mengarahkan tatapanku ke tempat dimana ratusan mawar merah kesukaan Mommy berjejer rapi di sana.
Malam itu serasa begitu kosong. Begitu hening.
Memang tidak ada siapa-siapa, kecuali aku dan beberapa pekerja tetap di rumah kami. Bahkan Mommy dan Daddy pun sedang memiliki acaranya sendiri.
"Hah..." Aku melepas tarikan napasku dengan berat.
Aku masih tidak beranjak dari balkon itu. Balkon yang selalu menjadi tempat seorang Bellatrix yang kesepian untuk melihat bintang-bintang favoritnya.
Biasanya, aku bahkan masih bisa menghitung berapa banyak cahaya kecil di atas sana. Saat itu, langit Jakarta masih terlihat lebih jernih dari pada sekarang, hingga malam yang gelap sekalipun tidak pernah terasa mencekam.
Aku memang menyukai bintang. Aku bahkan menatoo bintang-bintang itu di dadaku, seolah aku tidak rela, jika mereka meninggalkan aku yang sering kesepian ini. Misalnya, seperti hari ini. Saat awan hujan telah menutup aksesku untuk melihat puluhan cahaya kecil di atas sana.
Ya, Bellatrix Atmaja, seorang gadis penyuka bintang yang kesepian. Malam ini, ia harus bisa memuaskan diri dengan sekadar meletakkan tangan di dada sambil menutup mata, untuk mengganti kenikmatan menatap bintang di bawah kolong langit yang gelap, di atas sana.
Percaya, tidak percaya, cara seperti itu ternyata bisa sedikit berhasil mengobati keinginan kuatku untuk menghayati kehadiran sang bintang. Bahkan, aku pun seakan bisa merasakan bahwa hatiku sedikit menghangat, ibarat tersentuh cahaya yang berpendar jauh di sana.
Hujan masih berguguran menimpa tanah milik sang Bumi, malam itu. Bersamaan dengannya, kebetulan sekali, aku pun mendengar sebuah lagu yang baru saja di rilis mengalun dari speaker radio kamarku.
π΅πΆπ΅πΆ
Wash away the thoughts inside
That keep my mind away from you
No more love and no more pride
And thoughts are all I have to do
Lagu itu, Lagu yang pertama kali ku dengar itu, seketika membuat diriku tersadar. Waktu pernikahanku dengan iblis cabul itu hanya tersisa dua hari lagi.
Dalam hitungan jam, statusku akan berubah. Dalam hitungan jam, aku akan kehilangan segalanya.
Tes...
Satu bulir air mata jatuh membasahi pipiku. Tidak berhenti sampai di sana, rupanya, air mata itu bahkan enggan menetes sendirian. Pada detik berikutnya, aku bisa merasakan bahwa bulir-bulir air mata yang lain ikut menyusul kawannya.
π΅πΆπ΅πΆ
Oohh... Remember when it rained
I felt the ground and look up high
And called your name
Ooohh... Remember when it rained
In the darkness I remain
Sejujurnya, apa yang paling menyedihkan bagiku saat ini bukanlah pernikahanku dengannya. Apa yang paling menyiksaku adalah perasaan kehilangan seseorang yang begitu berharga.
Aku mencintai orang lain. Andai aku bisa meneriakkan hal itu.
Seorang laki-laki yang ku puja dan memujaku. Seorang laki-laki yang telah mampu membuatku menyukai hujan, saat kenangan yang tersisa sebelum bertemu dengannya hanyalah gemuruh petir yang mencekam.
Laki-laki dengan hati dan sikap yang lembut. Laki-laki yang mampu menenangkanku saat petir dan kilatnya seakan begitu dekat denganku sore itu.
Laki-laki yang telah mencuri perhatianku dengan menari sendirian di bawah rintik hujan dalam sorotan sinar guntur di atasnya. Laki-laki yang pada akhirnya mampu membuatku selalu menengadah ke atas dan menyebutkan namanya setiap kali sang hujan berkunjung ke bumi.
π΅πΆπ΅πΆ
Tears of hope rundown my skin
Tears for you that will not dry
They magnify the one within
And let the outside slowly day
Setelah seminggu mencoba untuk terus menguatkan hati, aku akhirnya menyerah dan sekarang kembali menangis. Aku sungguh tidak kuat menghadapi semua ini.
Setiap hari, semenjak kejadian itu, aku bahkan merasa kesulitan bernapas. Menghitung setiap detik waktu yang berlalu tanpa bisa berbuat apapun terasa begitu mencekik.
Aku harus melepas laki-laki yang ku cintai, laki-laki yang menghargaiku, dan kemudian dipaksa menukar yang berharga itu dan menggantikannya dengan seorang manusia tanpa hati.
Katakan padaku! Apa yang lebih menyesakkan dari pada itu? Bukankah semua itu hanya menimbulkan rasa pahit di relung hati? Rasa pahit yang akan membuatku perlahan-lahan.... Mati...
π΅πΆπ΅πΆ
Remember when it rained
I felt the ground and look up high
And called your name
Remember when it rained
In the water I remain
Andai hujan mampu meneriakkan satu nama yang melekat di hatiku saja. Andai hujan mampu menghapus jejak manusia tak berhati itu. Andai semua semudah itu. Andai semua terjadi seperti yang aku mau....
Aku begitu frustrasi dengan hidupku. Iblis cabul itu benar-benar gila.
Setelah meninggalkanku di rooftop, ia rupanya langsung menemui kedua orang tuaku untuk bernegosiasi. Ia ingin mempercepat tanggal pernikahan kami.
Entah benar atau tidak, dari desas-desus yang ku dengar, ia mengatakan alasan mempercepat pernikahan kami kepada Mommy dan Daddy adalah karena ia takut menjadi khilaf.
Ia bahkan dengan percaya diri, memberikan pernyataan bahwa aku seperti sebuah magnet yang terus menariknya. Menarik sisi laki-lakinya.
Bayangkan saja! Bagaimana ekspresi orang tua saat mendapat pernyataan seperti itu? Mereka tentu akan menyanggupi sebuah ucapan kejujuran dan kepolosan berbalut mulut manis yang di beri merk 'niat baik' menurut versi mereka, yang sebenarnya bagiku itu adalah sebuah keseron*kan.
Dan efek samping dari pengakuan itu sekarang adalah aku harus menahan hati setiap saat, karena rupanya Mommy menjadikan itu sebagai bahan perundungan baru bagiku. Mommy seperti merasa bangga bahwa putrinya mampu 'menarik' sisi liar dari calon menantunya.
Benar-benar.... menjijikan!!
Jika orang lain mendengar ini, mungkin mereka akan menertawakan cerita ini. Menganggap bahwa ini adalah lelucon semata. Namun, tidak sama sekali bagiku!!
Aku terluka. Aku sungguh sangat terluka. Aku bahkan sangat menyesal kenapa aku sempat terbuai ciumannya saat itu.
Aditya Wardhana, laki-laki itu benar-benar jelmaan iblis. Ia begitu jahat. Ia bahkan telah berani melecehkanku di depan orang tuaku sendiri. Namun, yang lebih menyedihkan adalah kedua orang tuaku tidak menyadarinya.
Aku merasa tidak berharga. Aku merasa dipermainkan. Dia menang. Aditya Wardhana telah menang. Sementara aku? Aku kalah.
Aku kalah dan akan segera berakhir menyedihkan. Ketika nanti ia mengambil haknya, ketika ia menyadari bahwa dia adalah yang pertama untukku, laki-laki itu akan semakin meremehkanku, menertawakan kebodohanku dan kebohonganku.
Andaikan ada cara lain untuk menghentikan semua ini. Andaikan ada cara yang bisa membuatnya terpukul.
π΅πΆπ΅πΆ
Running down...
Running down...
Running down...
Running down...
Running down...
Running down...
Andai.....
Indra...
Ya, Indra. Dia bisa menolongku. Aku akan menyerahkan diriku padanya. Hanya ini satu-satunya cara.
Aku akan membuat Indra memilikiku malam ini. Bukankah manusia berhati iblis itu hanya ingin membuktikan perkataanku di rooftop waktu itu?
Aditya Wardhana akan mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya. Aku sungguh tidak sabar melihat wajahnya saat malam pertama kami, sebab aku tidak akan menolaknya saat itu.
Aditya, Dia mungkin akan memilikiku seumur hidupku. Namun, aku akan membuatnya kesakitan setiap kali ia mengingat bahwa ia bukan yang pertama saat ingin menyentuhku seumur hidupnya.
Ya, ini yang terbaik! Aku, Bellatrix Atmaja sudah mengambil keputusan. Sebuah keputusan yang lahir dalam sebuah keputusasaanku untuk menghadapi seorang Prajadiwangsa Aditya Banyu Wardhana.
Β -----------------
Selamat membaca!
Btw, lagu yang tertulis di atas adalah lagu yang dipopulerkan oleh Josh Groban. Lagu itu berjudul Remember When It Rained. Teman-teman bisa membaca sambil mendengarkan lagunya supaya lebih menghayati cerita ini.
Seperti yang juga sudah saya tulis di kolom komentar pada bab sebelum ini, demi membuat sebuah cerita fiktif yang tetap logis, saya memutuskan untuk mengganti setting tahun cerita ini dari tahun 1995 ke 2003 ya teman-teman. Semoga teman-teman tidak terganggu.
Thanks dan jangan lupa support terus cerita ini!