
--B's PoV--
*2003: Ubud-Bali*
Tok!! Tok!! Tok!!
Kelopak mataku seketika terbuka karena mendengar suara ketukan pintu. Silau. Hanya itu yang ku rasa saat membuka mata pertama kali. Tanpa ku sadari sebelumnya, cahaya matahari yang begitu terang ternyata telah menyusup dan menembus kaca jendela kamarku tanpa permisi sedari tadi.
Aku mengerutkan kening. Bertanya-tanya pada diriku sendiri. Dimana sesungguhnya aku berada saat ini?
Pagi itu, aku mendapati diriku terbangun pada sebuah kamar yang tidak familiar. Aku menyadari bahwa ini bukanlah kamar yang biasanya menjadi tempatku membaringkan diri.
Perlahan-lahan, sembari memijit keningku yang terasa berat, aku mencoba untuk mengingat kembali kepingan-kepingan peristiwa yang terjadi semalam. Kepingan-kepingan peristiwa yang seandainya saja bisa dengan mudah ku lupakan.
"Aditya...." Aku menyebutkan nama laki-laki itu dan melihat ke sekeliling untuk mencari keberadaannya. Bukan karena aku menginginkan sosoknya ada di dalam kamar itu bersamaku. Aku hanya ingin memastikan bahwa aku masih sendirian di sana.
"Syukurlah, iblis itu tidak di sini!" Aku berucap dengan lega.
Tok!! Tok!! Tok!!
Aku kembali mendengar suara ketukan pintu. Suara yang telah membangunkanku.
Baru saja aku hendak menurunkan kedua kakiku ke lantai. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba aku menyadari bahwa semalaman aku tertidur dalam kondisi tak berpakaian.
Tok!! Tok!! Tok!! Tok!!
Tanpa menunggu lagi, aku kembali mengedarkan pandanganku ke sekeliling kamar untuk mencari sesuatu yang bisa menutupi tubuh ini. Pencarian itu berhenti, saat mataku menemukan setelan piyama milikku yang jatuh berhamburan di lantai. Aku pun kemudian mengenakannya dengan terburu-buru.
Sebelum semua kancing piyama itu menyatu pada kaitannya, aku sempat melihat diriku melalui pantulan cermin. Ada beberapa tanda merah yang tercetak jelas di sekitar leher dan dada akibat perbuatan Aditya semalam. Tanda-tanda itu membuktikan bahwa ia benar-benar berusaha menyentuh dan memilikiku.
Tok!! Tok!! Tok!! Tok!!
Saat ini aku setengah berlari menuju ke arah pintu. Aku cukup penasaran, siapa sebenarnya yang tidak tahu malu mengetuk pintu kamar orang lain tanpa henti sedari tadi.
Tok!! Tok!! Tok!! Tok!!
Tok!! Tok!!
Ceklekk....
"Selamat pagi Nyonya," ucap seorang perempuan paruh baya sambil membungkukkan badannya.
Aku tidak membalas sapaan perempuan itu. Aku hanya menatapnya dengan penuh pertanyaan. Mungkin perempuan ini adalah orang suruhan Aditya.
Aku masih berdiri dan menyandarkan tubuhku pada kusen pintu kamar hotel, sambil menatap ke arah perempuan itu. Kini aku hanya tinggal menunggu perkataan selanjutnya dari perempuan paruh baya itu. Siapa dia dan apa tujuannya menemuiku?
"Saya Arini. Salah satu asisten Tuan Aditya Wardhana. Saya hendak mengantar sarapan anda, karena sepertinya pagi ini anda tidak turun untuk sarapan di restaurant." Arini berucap dengan sopan. Namun, mendengar nama Aditya keluar dari bibirnya, terbersit keinginan dalam benakku untuk mengacuhkan apapun yang akan perempuan itu katakan nanti.
Setelah Arini menyampaikan maksudnya, beberapa pelayan yang lain segera masuk dan membawakan makanan untukku. Ada sekitar tiga nampan yang mereka bawa melewati tubuhku yang berdiri di depan pintu.
"Keluarkan semua makanan itu, Arini! Aku tidak membutuhkannya," tuturku sembari memberi sorot mata tak bersahabat pada perempuan paruh baya itu. Para pelayan itu pun serentak menghentikan langkahnya.
"Maaf, Nyonya. Di sini, saya hanya menjalankan perintah Tuan Aditya. Saya diminta untuk menjaga dan menemani anda selama berada di tempat ini dan itu termasuk memastikan bahwa anda akan makan dan minum dengan teratur dan baik." Arini bersikukuh dengan pendiriannya. Selanjutnya ia memberikan kode kepada para pelayan untuk melanjutkan tugas mereka.
"Aku tidak membutuhkan kalian semua. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Sekarang, Keluar!!" Aku yang sudah kebakaran jenggot langsung meninggikan nada suaraku. Sayangnya, Arini bahkan tidak gentar.
"Taruh saja makanannya di meja! Nyonya kita pasti akan memakannya," seru Arini kepada para pelayan itu tanpa menatapku.
Perempuan ini benar-benar menyebalkan. Ia tetap memberi komando kepada para pelayan itu untuk melanjutkan tugas mereka dan mengacuhkan perkataanku.
"Kau... " Emosiku semakin memuncak.
"Bekerja-samalah Nyonya. Percayalah, saya punya banyak cara untuk memaksa anda melakukan apa yang sudah diperintahkan oleh Tuan Aditya! Lagi pula semua itu demi kebaikan anda." Kali ini nada bicara Arini terdengar sangat tegas dan serius.
Aku ingin membantah lagi ucapan Arini. Namun, aku menyadari bahwa anj*ng-anj*ng yang setia pada Aditya seperti Arini ini adalah tipe orang yang keras kepala. Aku hanya mampu menatapnya dengan tajam sambil menahan rasa jengkel yang memenuhi dadaku.
Setelah memastikan bahwa seluruh makanan telah tersaji di atas meja, para pelayan itu pun melangkah keluar meninggalkan ruang kamarku, tapi tidak dengan Arini. Perempuan paruh baya itu masih berdiri di sana.
"Apa yang kau tunggu? Pergilah! Aku bisa mengurus diriku sendiri," usirku tanpa memedulikan perasaannya.
"Baik, Nyonya Bellatrix. Saya akan meninggalkan anda tapi saya mohon agar anda bisa bekerja sama. Makan dan minumlah dengan baik!" Aku bisa membaca raut wajah Arini. Perempuan itu terlihat tidak percaya padaku.
"Oya, apabila ada yang anda perlukan, tekan nomor 971 pada telepon yang ada di samping ranjang anda. Itu adalah nomor kamar saya. Jika anda ingin keluar dan berjalan-jalan saya akan menemani anda." Kini Arini berucap dengan lembut kembali.
"Makan siang dan makan malam akan saya antar lagi ke kamar. Jika ada menu yang anda inginkan, anda bisa langsung menghubungi saya Nyonya," sambungnya tanpa henti sementara aku masih membisu karena tak ingin menanggapi.
"Apa lagi yang ingin kau katakan? Segeralah Pergi!" Aku menunjukkan ekspresi tidak suka pada perempuan itu.
"Anda tidak menanyakan perihal keberadaan suami Anda Nyonya?" Aku melihat perempuan itu mengerutkan keningnya seperti orang yang keheranan.
"Aku tidak peduli," jawabku dalam hati.
"Semalam beliau mendadak langsung kembali ke Jakarta. Sepertinya ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Oleh karena itu, saya diminta untuk menjaga dan memastikan bahwa anda baik-baik saja." Arini menjelaskan seolah aku membutuhkan semua informasi itu.
"Semoga ia bekerja selama-lamanya dan tidak mengusikku." Lagi-lagi aku merespons perkataan Arini di dalam hati. Perempuan itu masih sempat berdiri pada tempatnya selama beberapa detik, sebelum kemudian ia menyadari bahwa sejak tadi aku memang tidak berminat untuk merespons ucapannya.
"Saya permisi Nyonya." Perempuan paruh baya itu membungkuk lagi dan berjalan meninggalkan ruangan kamarku. Aku pun segera menutup pintu dengan kasar.
Brakk!!!
Mendengar suara pintu yang ku banting sendiri, aku kemudian teringat pada Aditya yang semalam pergi meninggalkanku. Aku tahu saat itu ia pergi dengan penuh amarah karena sikapku padanya.
Tapi.... Berani-beraninya dia pulang ke Jakarta dengan alasan pekerjaan dan meninggalkanku seperti orang bodoh di sini?
Apa dia berpikir aku bisa berlibur dalam suasana hati seperti ini? Apa dia pikir aku hanya butuh refreshing sejenak, sebelum berhadapan lagi dengannya dan melayaninya?
Dengan perasaan kesal, aku berjalan menuju ke ranjang guna membaringkan tubuhku kembali. Namun, sebelum aku mencapai hamparan surga kapuk itu, aku melihat makanan yang dibawa oleh Arini.
Seketika aku menunda dulu keinginanku untuk bebaring. Aku pun berjalan menuju ke meja dimana makanan itu diletakkan, mengambil plastik sampah yang disediakan pihak hotel dan membuang semua makanan itu.
Aku sesungguhnya tidak ingin makan. Satu-satunya yang ku butuhkan sekarang adalah tidur. Sebab, mungkin dengan menidurkan diri aku akan melupakan semuanya. Melupakan betapa kejamnya suratan hidup yang dituliskan oleh sang Maha Kuasa pada seorang Bellatrix Atmaja.
Selesai membersihkan makanan itu, dan setelah menunggu beberapa menit berlalu, aku pun meletakkan piring kotor itu di luar, di depan pintu kamar hotel. Aku sudah memberi jeda waktu yang pas, sesuai dengan lamanya waktu yang biasanya ku habiskan untuk menyantap makanan, supaya Arini tidak curiga.
Tidak lama kemudian, aku pun masuk kembali ke dalam kamar dan melanjutkan tidurku. Tidur yang bisa membuatku menangis dengan lepas walau aku sedang terlelap. Tidur yang ku harapkan bisa membawaku terlelap... Selamanya.
----------------
*2003, Tiga hari kemudian: Ubud-Bali*
Rutinitas membuang makanan itu terus menerus ku lakukan. Aku tidak mengisi tubuhku dengan nutrisi sama sekali selama beberapa hari.Tidak ada makanan yang masuk, hanya air mineral yang kadang-kadang ku teguk.
Bisa dikatakan bahwa aku berhasil mengelabuhi Arini. Perempuan itu terus mengirim makanan padaku, namun aku tidak memakannya. Aku bahkan tidak mengijinkan para pelayan itu masuk ke dalam kamar dan menaruh makanan di meja. Semua dilakukan di muka pintu. Aku bersikeras dan mereka mengalah.
Tidak ada yang tahu, selama berada di dalam kamar aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk menangis, meratap, dan tertidur setelahnya karena kelelahan. Aku tidak pernah keluar dari kamar itu, tidak juga berniat untuk pergi kemanapun.
Tidak ada yang tahu bahwa aku jarang membersihkan tubuhku. Tidak ada yang tahu bahwa aku hanya mengisi kepalaku dengan lamunan tentang cinta yang sia-sia dan menangis saat menyadari bahwa semuanya tak ada guna. Hingga akhirnya....
Tok!! Tok!! Tok!!
Malam itu adalah malam ketigaku berada di Pulau Dewata. Pada saat itu, aku benar-benar tidak lagi memiliki tenaga untuk membuka pintu. Tubuhku begitu lemah, bukan hanya karena tidak mengasup nutrisi, tetapi juga karena hati dan pikiranku yang terlalu lelah untuk berusaha menerima semua.
Tok!! Tok!! Tok!!
Aku menyadari bahwa ini adalah jam makan malam. Saat ini, Arini pasti sudah berada di muka pintu untuk mengantarkan makanan.
Tidak ingin membuat mereka curiga, aku tetap memaksa tubuhku untuk bangun. Perlahan-lahan, aku mendudukkan tubuhku pada kepala ranjang.
Sakit kepala hebat seketika mendera. Aku bahkan hampir kehilangan kesadaran karenanya.
Tok!! Tok!! Tok!!
Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, aku berjalan menuju ke arah pintu. Aku hanya tinggal berpura-pura kuat untuk beberapa saat dan menerima makanan itu. Aku harus memaksa tubuhku.
Langkah demi langkah berhasil kutapaki, sambil berpegangan pada dinding kamar hotel yang tidak terlalu dingin karena wallpaper yang melapisinya. Satu demi satu, jejak kaki yang tak terlihat ku tinggalkan. Namun sayangnya, tubuh ini semakin tidak bisa diajak untuk bekerja sama.
Gelap...
Hanya itu yang bisa kurasakan. Sama seperti hidupku. Sama seperti ruang-ruang di dalam hatiku.
Aku masih berusaha tersadar selama beberapa detik di dalam kegelapan itu. Aku bahkan sempat mendengar suara pintu kamarku yang berhasil dibuka entah oleh siapa. Aku juga mendengar suara dari beberapa orang yang berteriak panik menyebut namaku karena melihatku jatuh tergeletak di lantai.
Dan... Salah satu suara di antara suara-suara itu adalah suara seorang laki-laki yang ku benci dengan sepenuh jiwa dan raga. Laki-laki yang meninggalkanku sendiri di tempat ini setelah berhasil melecehkanku, mencicipi beberapa bagian tubuhku.
"Aditya... " Aku menyebut namanya sambil meneteskan air mata dan kehilangan kesadaran setelah itu.
-----------------
Selamat membaca!