
--B's PoV--
*Lac Leman, Perairan Perancis: 2003*
"Apakah masih lama perjalanannya?" Aku memberanikan diri bertanya pada Aditya yang kini sedang fokus mengendalikan yacht kami dari balik ruang kemudi.
Malam itu, udara di luar begitu dingin. Aku yang semakin tidak toleran dengan suhu rendah itu pun akhirnya memutuskan untuk menemani Aditya memasuki ruang kemudi. Beruntungnya setiap ruangan di dalam yacht ini, termasuk ruang dimana kami berada sudah dilengkapi dengan penghangat ruangan. Hawa dingin yang semula menusuk kulit hingga menembus tulangku kini tak lagi mengganggu.
Hampir satu jam kami berada di atas yacht, menempuh perjalanan berdua menyusuri Lac Leman untuk menuju ke sebuah tempat dimana akan diselenggarakan sebuah konser musik klasik yang dimaksudkan oleh Aditya. Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda bahwa perjalanan kami akan segera berakhir, sehingga aku tak kuasa menahan diri untuk bertanya.
Aku sebenarnya cukup penasaran dengan konser yang dijanjikan Aditya itu. Melihat bagaimana sempurnanya ia mempersiapkan segala sesuatu untuk membawaku berada di tengah-tengah konser itu, aku rasa konsep yang diusung pada pertunjukan kali ini akan sangat elegan, unik, istimewa, dan mungkin saja tak terduga.
"Memangnya kenapa? Apa kau sudah tidak sabar?" Aditya menatapku sekilas dan tersenyum simpul. Ia kembali fokus menatap ke depan setelah mengungkapkan pertanyaannya.
"Aku sebenarnya cukup penasaran dengan tempatnya saja. Dari tadi kita sudah melewati banyak dermaga namun nampaknya tuan Aditya Wardhana tak kunjung menepikan yacht ini." Aku mencoba memberi tahu laki-laki itu apa yang ada di dalam kepalaku.
"Dermaga? Itukah yang kau harapkan? Sebuah konser di tepi dermaga?" Aditya mengerutkan keningnya dan menatapku lagi.
"Setidaknya kita membutuhkan dermaga untuk menginjakkan kaki ke daratan bukan? Sebab tidak mungkin jika mereka bermain musik di tengah danau ini." Aku menjawab Aditya dengan santai, sebab memang itulah logikanya.
Laki-laki itu hanya kembali tersenyum sembari menatapku sejenak, setelah itu ia tidak menjawab lagi. Sepertinya ia lebih memilih untuk menikmati mengendalikan yacht ini dari pada menjawab rasa penasaranku. Dasar menyebalkan!
"Jika yang kau harapkan adalah sebuah daratan...." Tidak lama kemudian ia kembali berbicara padaku.
"Maka aku harus meminta maaf karena aku tidak bisa mengabulkan permohonanmu itu, sayang." Kini berganti aku yang mengerutkan keningku karena tidak mengerti dengan maksud perkataannya.
Aditya membaca ekspresiku. Ia kemudian berinisiatif memperjelas semuanya.
"Lihatlah ke depan!" Aku mendapati Aditya menunjukkan jarinya pada sebuah pemandangan di depan kami. Aku yang sempat sibuk dengan pikiranku sendiri pun akhirnya mengarahkan wajahku mengikuti kemana jari laki-laki itu di tempatkan.
Mataku membulat seketika. Aku bahkan mengusapnya beberapa kali karena tidak percaya dengan apa yang terlihat di sana.
Sebuah yacht super megah, terbuka di bagian belakang sisinya, dihiasi dengan ratusan lampu berwarna kuning keemasan, serta kain sejenis sutra berwarna putih sebagai pemanis, menjadi panggung pertunjukkan bagi musisi-musisi kelas dunia yang akan menyajikan karyanya. Bagian belakang kapal itu benar-benar telah disulap menjadi sebuah tempat pertunjukkan kelas dunia.
"Don't you think that this is insane?" Mataku masih menatap tak percaya. Ini adalah sebuah konser musik di atas permukaan air, di bawah sinar bulan, yang paling indah yang pernah ku hadiri dan mungkin juga yang pernah ada selama ini. Aditya menyunggingkan senyumnya lagi sebagai balasan.
Menakjubkan!! Menakjubkan!!
Hanya kata-kata itu yang terus mendominasi otak dan hatiku. Sekarang aku mengetahui kenapa sejak tadi ia hanya menyunggingkan senyumnya sebagai tanggapan. Aku bahkan tidak bisa menebak dengan benar segala yang ia persiapkan untukku. Aditya... Laki-laki itu memang pandai menyimpan yang terbaik untuk ditunjukkan pada momen terbaik pula.
"Sepertinya konsernya akan segera dimulai. Kita datang di waktu yang tepat." Aditya berusaha membaca situasi panggung yang terlihat di hadapan kami. Tapi sungguh, aku bahkan tidak berniat menanggapi ucapannya sekarang karena seluruh perhatianku benar-benar sudah terhisap oleh pemandangan di depan sana.
Ya, aku melihat sekumpulan manusia baru saja mengambil tempatnya masing-masing di atas yacht itu. Mereka sedang duduk berjajar dengan rapi, berbalutkan pakaian ala bangsawan-bangsawan Eropa dan sedang memegang alat musik yang berbeda-beda.
Seorang conductor menjadi orang terakhir yang berdiri di atas panggung. Tidak butuh banyak waktu, begitu ia sudah berdiri di tengah, maka tak lama musik pembuka pun segera dimainkan.
Aku merasakan bahwa kecepatan yacht kami melambat dan hampir berhenti. Bersamaan dengan itu, aku pun berniat keluar ruangan, menembus lagi udara dingin, meninggalkan ruang kemudi, dan menuju ke bagian dek depan untuk mendapatkan pemandangan yang lebih jelas.
Begitu mencapai dek, aku seketika mengarahkan pandanganku ke sekeliling. Rupanya sternenlicht dan Blue Moon bukan satu-satunya yacht yang berada di sana. Yacht dengan berbagai nama dan yang seukuran dengan Sternenlicht telah mengelilingi sisi bagian belakang Blue Moon lebih dulu. Sementara itu, di atas yacht-yacht kecil itu, aku juga melihat manusia-manusia yang berpasangan tengah berdansa, bercumbu, saling mendekap sembari mendengar lantunan lagu yang dibawakan dalam iringan musik klasik.
"Kau suka?" Aditya yang telah selesai dengan urusan kemudinya pun berjalan mendekatiku dan bertanya kembali dalam seringai senyum penuh kepuasan. Ia kemudian memelukku sebentar dari belakang dan memberikan beberapa kecupan pada leherku.
"Aku menyukainya, Aditya. Ini..... Benar-benar indah." Mataku berkaca-kaca. Aku tidak menyangka bahwa ia akan membawaku ke tempat ini. Laki-laki itu benar-benar membuatku merasa istimewa.
"Sebuah konser musik klasik di atas permukaan air dan di bawah sinar bulan purnama..... A-aku belum pernah melihat yang seperti ini. Ini sungguh menakjubkan," ucapku padanya dengan tulus sambil membalikkan tubuhku dan menatapnya.
"Apapun yang bisa membuatmu bahagia... Aku akan melakukannya untukmu," balas Aditya seraya menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajahku karena tiupan angin.
Aku meneteskan air mata. Tentu saja aku tahu dan aku percaya. Aku bisa merasakan semuanya. Bagaimana ia selalu berusaha mewujudkan keinginanku. Bagaimana ia menahan dirinya selama ini agar tidak menyakitiku. Bagaimana ia mengabaikan hak-haknya sebagai suami demi membuatku merasa nyaman.
Aku mengambil kedua lengan Aditya dan melingkarkannya lagi pada pinggangku. Aku kembali membuat laki-laki itu mendekapku dari belakang sehingga hawa dingin di sekitar tempat ku berada sedikit terhalau oleh panas tubuhnya.
"Terima kasih Aditya.... Terima kasih..." Aku semakin menyandarkan kepalaku pada dadanya dan menarik lengannya agar memelukku semakin erat. Sungguh malam ini adalah malam terbaik dan aku sangat puas karena bisa melalui malam ini... bersamanya.
---------------
Selamat membaca!