The Untold Story

The Untold Story
Inikah Kebahagiaan?



--B's PoV--


*2003: Ubud-Bali*


Malam ini, di antara ratusan bahkan mungkin ribuan pohon yang menancapkan akarnya di negeri para dewa, aku sedang berdiri di balkon kamar hotelku, menatap langit yang kelihatan suram karena tidak ada satu bintang pun yang bersinar di sana. Dan seperti biasa, ketika rasa dahaga untuk menyaksikan cahaya bintang-bintang itu tak mampu terpuaskan karena langit yang tertutup awan, aku hanya perlu meletakkan tanganku di dada sambil menutup mata, sebab di sanalah aku mengukir bintang-bintang itu agar senantiasa dekat dengan jantungku.


"Kenapa kau bersembunyi lagi malam ini wahai bintang-bintang di langit? Setidaknya, hiburlah aku, si pengagum setiamu," gumamku dengan suara yang begitu lirih.


Aku, seorang gadis malang yang sedang patah hati. Kekasihku... Entah dimana dirinya berada saat ini. Seharusnya ia berdiri di sini bersamaku, memelukku dengan penuh kelembutan sambil menatap bintang-bintang. Seharusnya dirinyalah yang mengucapkan janji di hadapan Tuhan bersama denganku di Gereja itu.


Namun, ia justru memilih pergi. Ia memilih melepasku dan berharap aku akan mendapat kebahagiaan lebih dari yang bisa ia berikan.


"Kau pergi... Dan kau membiarkan laki-laki lain menempati posisimu. Ia bahkan menciumku tadi dengan begitu posesif seolah aku benar-benar adalah miliknya. Tidakkah kamu cemburu?" Aku bergumam sekali lagi sambil menyentuh bibirku.


Bersamaan dengan berakhirnya kalimat itu, lamunanku pun kembali terbang mengudara. Lamunan itu membawaku kembali pada peristiwa yang terjadi beberapa jam yang lalu, saat kami masih berada di Jakarta.


"Sekarang kau sudah mulai menikmati ciumanku, sayang," sepintas ucapan Aditya yang dibisikkan di telingaku pun teriang kembali. Ucapan itu keluar dari bibirnya beberapa detik setelah momen cium kudus di gereja itu berakhir.


Seandainya ia tahu bahwa aku hanya membayangkan wajah Indra. Aku membayangkan bahwa Indra yang melakukannya, menciumku dengan begitu mendamba.


"Dia bahkan tidak menyadarinya. Dia mengira aku benar-benar terbuai oleh ciumannya, hingga ia nampak sangat bahagia," ucapku seorang diri dengan tawa simpul, seolah aku sedang mengejek Aditya.


Laki-laki itu memang terlihat sangat bahagia waktu itu. Entah itu adalah sesuatu yang nyata atau sengaja dibuat olehnya, tetapi aku hanya bisa menemukan sorot mata kebahagiaan yang tulus saat aku diam-diam menatap netranya di sepanjang acara resepsi dan di dalam helikopter, sebelum rangka berlapis besi itu terbang membawa kami. Masih jelas melekat dalam ingatanku bagaimana ekspresinya saat ia melambaikan tangan seraya menyodorkan senyum yang merekah kepada keempat orang tua kami yang ikut mengantar dan berdiri di pinggir Helipad.


Ya, setelah selesai menggelar acara resepsi pernikahan kami yang terselenggara di Grand Hyatt Hotel, laki-laki asing yang kini telah sah menjadi suamiku itu segera membawaku untuk berbulan madu menuju Pulau Dewata dengan menggunakan helikopter pribadinya. Aku yang tidak tahu apa-apa mengenai rencana ini hanya bisa pasrah, ketika ia menggenggam tanganku dan membawaku menuju ke tempat dimana helikopter yang akan membawa kami itu berada. Masih dengan gaun pengantin bermodel duyung yang begitu pas melekat di tubuhku, ia membawaku menaiki helikopternya.


Aku pun kemudian bertanya-tanya di dalam hati, apa benar Aditya berbahagia dengan semua hiruk-pikuk ini? Apakah ia berbahagia dengan pernikahan aneh yang baru saja kita jalani? Bukankah tidak ada cinta di antara kami dan karena itu seharusnya tidak ada alasan baginya untuk berbahagia? Tapi kenapa semua itu terasa begitu natural?


Namun... sisi hatiku yang lain menolak semua kemungkinan itu. Ingatanku yang setuju dengan penolakan itu pun kemudian menyodorkan potongan-potongan peristiwa tentang bagaimana laki-laki itu kembali begitu dingin, hening, dan tak terbaca saat tidak ada orang dekat di sekitar kami.


Jika demikian, apa makna senyuman dan sorot matanya yang terlihat begitu murni itu? Apa yang mendasari kebahagiaannya?


Apa ia merasa berbahagia karena telah memilikiku? Apa ia berbahagia karena bersatunya dua keluarga menjadi jembatan untuk membuka kemungkinan akan lahirnya sebuah perusahaan yang lebih besar?


Ataukah... Ia sebenarnya berbahagia karena merasa menang atasku? Ia berbahagia karena berhasil membuatku menjalani pernikahan yang tidak ku inginkan?


Ya, hanya itu alasan yang logis dalam situasi yang absurd seperti sekarang. Aditya adalah seorang yang kaya raya. Penambahan harta bukanlah hal baru dan mengejutkan baginya.


Hanya ada satu alasan yang bisa membuat laki-laku itu berbahagia. Laki-laki bre*gs*k seperti Aditya tentu merasa bahagia atau bahkan sangat bahagia ketika ia melihat mangsanya (aku) menderita.


"Apa yang sedang kau lakukan dengan gaun pengantinmu yang terbuka itu? Masuklah! Cuaca cukup dingin malam ini. Mungkin sebentar lagi hujan akan turun. Aku tidak ingin direpotkan dengan istri yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri." Suara dari seorang laki-laki yang tidak ingin ku dengar, kembali mengudara.


Tanpa menjawab perkataannya, aku memutar tubuhku dan mengayun langkahku menuju ke dalam kamar hotel yang telah ia pesan bagi kami berdua. Aku terus berjalan dan berhenti di depan meja rias yang terletak di samping kiri kamar.


Dengan hati-hati aku bersiap melepaskan seluruh penjepit rambut yang memenuhi kepalaku. Satu demi satu aku melepaskan penjepit itu tanpa ada seorang pun yang membantu.


Jangan berharap bahwa Aditya akan peduli dengan hal-hal kecil seperti ini. Anggap saja bahwa


lonceng jam dua belas sudah berbunyi, dan laki-laki itu kini sudah kembali ke wujud aslinya.


Setelah rambutku tergerai seutuhnya, aku pun mulai membersihkan wajahku dan menghapus make up yang menempel di sana. Sambil terus berkutat dengan cairan pembersih wajah, aku kemudian membayangkan, seandainya aku adalah itik buruk rupa yang berubah menjadi angsa karena riasan belaka, aku tentu akan berbahagia malam ini, karena sudah bisa ku pastikan bahwa laki-laki itu tidak akan mau menyentuhku. Namun, semua itu hanya hayalanku yanh sia-sia, sebab laki-laki cabul itu tentu tidak mungkin sembarangan memilih seseorang yang bisa dijadikan mangsanya.


Setelah selesai membersihkan diri di kamar mandi, melepaskan gaun pengantin yang sedari tadi melekat, lalu menggantinya dengan sebuah piyama, aku pun melangkah menuju ke arah dimana tempat tidur kami berada. Mataku sempat menatap sosok Aditya yang sudah lebih dulu membaringkan tubuhnya di sana.


Tanpa banyak drama dan bicara, aku pun meletakkan tubuhku dan berbaring di sampingnya. Aku memosisikan diriku tidak terlalu dekat dengannya dan tidur membelakangi laki-laki itu.


Sejujurnya, aku hanya ingin cepat terlelap. Aku ingin sang penguasa mimpi membawaku ke alamnya. Aku belum siap menyerahkan diri padanya malam ini, atau mungkin selamanya aku tidak akan pernah siap.


Hampir saja aku kehilangan kesadaranku. Hampir saja aku menemukan kedamaian dalam tidur yang baru saja akan ku nikmati. Tiba-tiba... Aku merasakan sebuah tangan yang kekar merengkuh tubuhku dan membuatku menjadi terusik.


"Kau tidak berniat melewatkan malam ini begitu saja kan?" Aku mendengar Aditya berbisik di telingaku kembali dan mataku seketika terbuka.


Tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibir ini, bahkan untuk menolak sikapnya pun aku seperti tidak memiliki tenaga. Aku memilih untuk menangis dalam diam.


"Aku sudah pernah mengatakan padamu sayang, bahwa aku akan memilikimu. Malam ini semua rasa penasaranku akan keindahan tubuhmu akan terjawab," sambungnya lagi sambil melanjutkan aksinya menyentuh bagian-bagian tubuhku yang lain.


Air mataku semakin deras saat tangannya mulai membuka satu persatu kancing piyama yang ku kenakan dan mulai bergerilya menjamah bagian atas tubuhku yang sensitif. Aku seketika benar-benar merasa kotor karena disentuh olehnya.


Tidak puas dengan posisi kami, dengan cepat dan deru napas yang menggebu laki-laki itu membalikkan tubuhku dan menghadapkan ke arahnya. Namun, meski kami berhadapan sekarang, ia memilih untuk tidak menatap wajahku. Ia hanya sibuk menikmati hidangan yang terpampang di hadapannya. Menelusuri tubuhku dengan bibirnya dan memberi kecupan-kecupan lembut yang membuatku semakin muak.


Entah mengapa aku tidak menghindar, tapi aku juga tidak ingin melayaninya. Aku benar-benar seperti orang mati. Dan mungkin jiwaku benar-benar sudah mati.


Kini ia hampir menguasai tubuhku seutuhnya. Pujian demi pujian tak lupa ia berikan atas apa yang tengah ia rasakan. Aditya telah melihat semuanya, sebab aku benar-benar sudah polos sekarang.


Puas bermain-main dengan mainan barunya, laki-laki itu kemudian berniat mencumbu bibirku. Aku berpikir bahwa ia akan mencumbuku dengan kasar dan penuh hasrat, namun aku salah. Malam ini, ia memperlakukanku dengan lembut dan sangat berhati-hati, seolah aku adalah sebuah porselin yang mudah pecah.


Aku berusaha mengalihkan tatapanku saat Iblis itu membuka matanya dan menatapku dengan penuh kedambaan. Bulir-bulir air mata itu semakin mengalir deras ketika aku melihat bahwa ia mulai melucuti sendiri pakaiannya.


Aku tahu malam ini akan terjadi sesuatu di antara kami. Cepat atau lambat, Aditya akan terus memaksakan kehendaknya padaku. Mungkin aku hanya perlu belajar mematikan perasaan ini sehingga aku tidak akan terus menerus terluka.


Setelah ia selesai menanggalkan semuanya, iblis cabul itu kembali mengecup bibirku. Ia seperti tidak peduli dengan air mata yang terus mengalir dari sudut mata istrinya. Laki-laki itu memang hanya berniat untuk menjadikanku sebagai alat pemuas. Dan malam ini ia membuktikannya.


Aku tidak bergeming. Aku terus mematung dan membiarkan ia melakukan apapun sesuka hatinya atas tubuhku, hingga....


"Apa aku menikahi seonggok mayat?" Aku mendengar Aditya berucap dengan suara yang dalam.


"Kau benar Aditya.. Aku memang sudah mati sejak Indra meninggalkanku," ucapku dalam hati. Aku tidak berniat meladeninya.


"Katakan Bellatrix, apa kau tidak bisa memainkan peranmu dengan baik malam ini?" Aditya memundurkan tubuhnya dan fokus menatap mataku. Aku masih membisu dan berusaha mengalihkan pandangan. Aku bersikap seolah tidak ada siapapun di ruangan itu selain diriku sendiri.


"Lihat aku Bellatrix!" Dengan kasar Aditya menarik daguku dan memaksaku menatap matanya. Sekilas aku menemukan ada sorot kemarahan pada tatapan laki-laki itu.


"Jawab aku!!" Laki-laki itu menaikkan volume suaranya hingga aku tersentak. Aku betul-betul tidak suka saat seseorang membentakku dan ia baru saja melakukannya.


"Ambil apa yang ingin kau ambil. Tidak perlu peduli dengan apa yang aku lakukan." Dengan tenang aku menjawab laki-laki itu, sambil kembali mengalihkan pandangan.


Aditya sempat mematung sejenak. Entah apa yang ia pikirkan.


"Permainan apa lagi yang sedang kau mainkan sekarang?" Setelah terpaku beberapa saat karena mendengar ucapanku yang tenang, laki-laki itu kembali bersuara dengan nada yang dingin.


Kali ini aku tidak akan berbicara lagi. Aku sudah menyatakan maksudku dengan jelas tadi. Aku yakin dia tidak terlalu bodoh untuk menangkap bahwa aku tidak peduli dengan yang apapun yang ia lakukan padaku.


Aku bisa merasakan bahwa Aditya masih menatapku dan menunggu jawaban. Detik demi detik berlalu dan masih saja tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirku untuk membalasnya.


"Kau tahu istriku..." Aditya memberi penekanan pada kata istriku. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke arahku hingga mata kami bertemu.


"Kau sangat... Menjijikkan...." Laki-laki itu kemudian berdiri. Mengenakan semua pakaiannya dan melangkah keluar menuju pintu kamar kami.


Brakk!!!


Aku mendengar suara pintu kamar yang ditutup dengan keras. Dengan cepat, aku menarik selimut dan menutupi tubuhku yang tak berbalut apapun. Aku mendekap selimut itu erat-erat dan menangis sekencang-kencangnya di dalam kamar.


"Inikah yang kau mau.. Indra?? Inikah yang kau sebut dengan kebahagiaan??" Aku masih berada di atas ranjang itu dan membenamkan wajahku pada bantal sambil terus meneteskan air mata.


Tidak ada seorang pun yang bisa memahami apa yang aku rasakan. Tidak ada yang bisa memahami sakitnya. Hanya aku. Seorang diri.


 --------------


Selamat membaca!