The Untold Story

The Untold Story
Mencintaiku



--B's PoV--


*Esplanade, Ruang Pertunjukan: 2003*


"Please, Bella! Bukan begini perjanjiannya," ucap Franky terus menerus tanpa henti.


Apa maksudnya??? Perjanjian... Perjanjian apa??? Kenapa hanya kata itu yang terus keluar dari mulutnya??


"Franky, kau boleh meminta apa saja nanti, tapi please.... Jangan......" Aku tiba-tiba menghentikan ucapanku.


Aku terpaku. Seketika tubuhku kembali bergetar. Aku melihat ada sosok lain sedang berdiri di belakang Franky. Sosok yang sangat ku kenal.


Sosok yang tidak pernah ku sangka kehadirannya di tengah semua drama yang terjadi di antara kami tadi siang. Sosok yang seharusnya masih terbaring lemah di dalam kamarnya.


Sosok itu... Ia mendekatiku. Laki-laki itu kini telah menggeser tubuh Franky yang tadinya berhadapan denganku. Ia bahkan menyodorkan sebelah tangannya tepat di depan wajahku, seraya berkata, "Shall we dance.... B?"


Aku mematung di hadapannya. Di hadapan laki-laki yang tadi siang ku tinggalkan sendiri di dalam kamar dalam kondisi sekarat. Laki-laki yang kini berdiri di hadapanku dengan wajah pucat tanpa rona dan deru nafas yang memberat.


"Please Welcome, Adit and Bella!" Suara MC itu terdengar lagi memanggil nama kami berdua.


"B....." Aditya kembali menyodorkan tangannya padaku dan menatapku dengan sorot mata sayu. Hanya tersirat kesedihan di dalam tatapannya. Sementara kebencian.... Aku tidak bisa menemukan siratan perasaan itu pada ke dua bola mata Aditya.


Dengan perasaan yang campur aduk, aku terpaksa menerima uluran tangan laki-laki itu. Entah apa yang akan terjadi nanti, aku benar-benar pasrah dibuatnya.


Aditya kemudian menggenggam tanganku dengan lembut. Kami berdua bersiap untuk melangkah ke tengah-tengah panggung. Namun, sebelum sampai ke sana....


Sreekkk.....


Laki-laki itu tiba-tiba menarik ikatan rambutku dan membuatnya menjadi terurai. Selanjutnya, ia menghentakkan tangannya untuk membuang ikat rambut itu ke sembarang arah dan menatapku dalam-dalam.


"Kamu akan terlihat lebih indah dengan rambut yang terurai, B...Trust me...." Ucap Aditya sambil sedikit berbisik di telingaku.


Tubuhku berdesir seketika karena aroma napasnya yang menyegarkan. Belum lagi ditambah dengan udara yang keluar dari hidungnya. Udara yang dengan begitu halus menerpa kulit wajahku dan membuat jantungku semakin berdebar tak menentu.


Aditya kembali menggenggam tanganku dan membawaku berjalan. Hanya dengan beberapa langkah saja, kami sudah berdiri di tengah-tengah panggung.


Saat itu, lampu sorot hanya di-setting berwarna putih, sehingga sisi yang tidak terkena cahaya akan terlihat lebih gelap. Latar panggung yang demikian rupanya membuat kami, yang mengenakan pakaian serba hitam semakin terlihat dingin dan misterius.


Di atas panggung itu, dalam balutan kemeja lengan panjang tipis berwarna hitam pekat yang tidak dikancingkan dan celana panjang kain berwarna serupa, aku seakan menemukan pesona Aditya yang terpendam. Selama ini aku selalu memandang Aditya sebagai seorang laki-laki casanova, pecinta wanita. Tapi entah mengapa, malam ini justru ia menampilkan sosok dirinya yang.... Tak tersentuh.


Musik berbunyi....


Dimulai dari suara organ pipa yang menggema sehingga menampilkan sebuah instrumentalia yang dramatis. Beberapa saat kemudian, menyusul bunyi dari beberapa alat musik gesek, seperti biola, cello, dan viola sebagai melodi untuk mengisi interlude instrumentalia tersebut.


Aku dan Aditya berdiri membentuk sebuah garis lurus. Laki-laki itu berada di depanku sementara aku berada di belakangnya sehingga tubuhku tertutupi sempurna oleh tubuhnya.


Pada gerakan pertama, kami berdua sama-sama memejamkan mata. Tanganku kemudian menyelinap dibalik tubuhnya, menyentuh dan mengusap dada serta perut Aditya yang begitu sempurna dan sedikit terbuka.


Aku mendekap Aditya, menempelkan dadaku pada punggungnya seperti seseorang yang begitu merindu. Hingga akhirnya laki-laki itu melangkah dan membawa tubuhku berada di depan tubuhnya.


Dengan lembut, ia kemudian menyentuh beberapa bagian tubuhku. Laki-laki itu seolah menarik garis dengan jarinya, melewati pundak turun ke sisi samping dada, rusuk, pinggang dan akhirnya menemukan telapak tanganku di sana. Dengan hati-hati, ia kemudian menggenggam telapak tanganku itu dan membawa kedua kakiku berayun di antara sela-sela kakinya.


Sesekali aku menjatuhkan tubuhku ke samping, namun tangannya menahan pinggangku agar aku tidak terjatuh. Bersamaan dengan itu, ia mengimbangi gerakanku dengan mendekatkan kepalanya pada tubuhku. Menggesekkan puncak hidungnya pada leher, dada, dan berakhir di perutku. Aku semakin meremang dibuatnya.


🎡🎢🎡🎢


Show time.... Closer....


Terdengar suara desahan seorang perempuan mengucapkan beberapa kata. Memang tidak akan ada lirik lagu yang dinyanyikan sebagai pengiring dansa kami, karena libertango lebih sering ditampilkan sebagai sebuah instrumentalia dari pada sebuah lagu. Namun, beberapa versi akan melibatkan desahan kata untuk memberikan kesan intim.


Pada detik berikutnya, pada saat bait pertama instrumentalia itu didominasi oleh duet biola dan accordion, sedangkan alat musik yang lain hanya terdengar sebagai pengiring, aku dan Aditya kembali saling berpelukan untuk mempermanis dansa kami. Meski begitu, mata kami dituntut untuk tidak saling memandang.


Dengan perasaan berdebar, pada gerakan berikutnya, aku mendekatkan pipiku pada wajah Aditya, sementara tanganku menyentuh lengannya yang kekar. Aku membelai lengan itu dengan hati-hati seolah aku memujanya, sebelum kemudian kami berputar beberapa kali dalam satu hentakan yang sama.


Musik terus mengalun. Suara drum berangsur-angsur terdengar cukup pelan hanya untuk menstabilkan ketukan kami. Sebuah ketukan cepat yang membawa kami pada permainan kaki dimana kakiku terus berayun dan sesekali menyelinap di antara kaki Aditya, begitu pula sebaliknya.


Pada saat yang sama, sebelah tangan Aditya menyentuh pinggangku, sementara tangan yang lain menggenggam sebelah tanganku. Kami terlihat seperti orang yang sedang menarikan waltz, namun dalam tempo yang cepat.


🎡🎢🎡🎢


Show time.... Come Closer....


Terdengar lagi suara desahan itu. Suara yang sekaligus menjadi tanda bahwa ada perubahan gaya permainan alat musik pada bait instrumentalia ini.


Aku dan Aditya terus mengikuti kemana alunan musik itu hendak membawa kami. Tubuh kami berdua bahkan seolah menyatu dengan musik itu.


Meski belum pernah berlatih bersama, namun aku seperti bisa merasakan bahwa kami berdua berada dalam satu frekuensi yang sama. Frekuensi yang tidak ku temukan sebelumnya, saat aku berdansa bersama Franky.


🎡🎢🎡🎢


There is no one between us..


Meski tempo instrumentalia libertango lebih cenderung cepat, namun pada bagian ini, gerakan yang kami tampilkan adalah gerakan lambat yang tidak off-beat. Sebuah bagian gerakan yang lebih intim karena bukan hanya melibatkan begitu banyak sentuhan tangan tetapi juga sentuhan wajah.


Beberapa kali aku dan Aditya terlihat hampir berciuman. Dan setiap kali ia mendekatkan wajahnya dengan wajahku, hidungnya dengan hidungku, jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya.


Sesekali aku memberanikan diri mencuri pandang padanya. Anehnya, setiap kali aku melakukan hal itu, wajah yang malam ini terlihat pucat namun tidak mampu menghilangkan keelokan dan ketegasan pesonanya itu, beberapa kali sempat membuatku hampir-hampir kehilangan kesadaran di atas panggung. Andai saja tidak ada sorakan penonton yang menyertai kejutan-kejutan dalam gerakan tarian kami, aku mungkin sudah terbaring tak sadarkan diri.


🎡🎢🎡🎢


I want to kiss you... touch you...


Kini, kami telah sampai pada bagian akhir gerakan. Tempo gerakan yang semula melambat kini menjadi kembali normal. Pada bagian ini, Aditya diharuskan untuk melepas dan mendekap tubuhku kembali dengan cepat. Sebuah gerakan yang cukup beresiko bagi penari perempuan, karena jika pasangannya gagal menangkap dan mendekap, maka sangat mungkin bagi penari perempuan itu untuk terlempar dan terjatuh.


Seharusnya aku khawatir pada bagian ini. Namun, entah mengapa aku begitu percaya padanya. Berbagai gerakan sulit itu mampu ditarikan Aditya dengan sempurna tanpa menyakitiku. Sementara aku, aku begitu menikmati caranya 'mempermainkan tubuhku'.


🎡🎢🎡🎢


Kami berputar lagi. Beberapa kali ia juga mengangkat tubuhku. Masih ada sedikit gerakan yang harus dibawakan sebelum musik berhenti. Pada detik-detik terakhir itu, kami berdua akhirnya saling bertatapan.


Hatiku seketika berdenyut. Ada sesuatu di dalam tatapan matanya yang membuatku merasa sedih. Tatapan Aditya dan sedikit senyum samar yang kemudian ia nampakkan, entah mengapa begitu mengganggu hatiku. Aku masih mencari jawabannya dalam benakku sambil melangkah bersamanya hingga.....


Cup.....


Laki-laki itu kembali memiringkan tubuhku, menahan pinggangku dengan tangannya dan mengecup bibirku dengan lembut di hadapan semua orang. Sebuah kecupan yang dilayangkan dengan.... penuh perasaan.


Musik berhenti... Semua penonton bersorak-sorai untuk kami saat ia masih mencuri ciumanku tanpa malu. Beberapa detik berlalu sementara kami masih pada posisi yang sama hingga Aditya menegakkan tubuh kami dan mengajakku memberi hormat kepada para penonton.


Aku seperti orang yang tersambar petir setelah itu. Kesadaranku bahkan ku paksa menjejak kembali tanpa aba-aba.


Aku benar-benar terkesiap. Tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi di antara kami berdua. Dengan perlahan-lahan, aku berusaha memberi nama terhadap situasi yang baru saja terjadi, Aku kembali merasa terhantam saat tanpa sengaja mataku bersirobok dengan mata seseorang yang lain.


Indra....


Laki-laki itu.... Laki-laki yang menjadi tujuanku mengikuti kompetisi ini, menatapku penuh luka sambil bertepuk tangan penuh kekecewaan.


Emosiku seketika meluap kepada Aditya. Aku menatap Aditya dengan tajam sambil mengepalkan tangan.


Jadi, ini yang direncanakannya? Dia ingin mempermalukanku, membuatku nampak lemah karena berhasil ia miliki di hadapan Indra? Ini yang ia sebut sebagai kenangan yang akan ia tinggalkan untukku?


Picik!!! Sungguh picik!!


Aku harus membuat perhitungan dengannya. Aku harus memberi pelajaran kepada Aditya.


"Amazing.... Amazing..... Give some love for Adit and Bella from Indonesia......." Suara MC kembali terdengar di atas panggung.


"Whooooaaa........" Sorak-sorai penonton yang berdiri juga terdengar merespons ucapan pembawa acara itu.


Dalam keriuhan suara penonton yang menggema, aku dan Aditya kemudian bergegas kembali ke belakang panggung. Aditya menggenggam tanganku dan membawaku berjalan ke ruangan yang lain dengan langkah cepat.


Tanpa perlawanan aku mengikuti laki-laki itu. Aku memang akan memberikan perhitungan padanya setelah ini. Lebih cepat menjauh dari panggung akan lebih baik tentunya.


Baru saja aku ingin menghentakkan tangannya dan meminta penjelasan atas ciuman di atas panggung itu, aku melihat Aditya melepaskan genggamannya dan berlutut di lantai sambil memegang dadanya. Napasnya memburu, begitu juga dengan bulir-bulir keringat yang keluar dari pori-pori tubuhnya. Laki-laki ini kembali merasakan kesakitan yang sepertinya teramat menyiksa...


"Iikkkh... Iikkkhh...." Satu demi satu aku melihat bagaimana ia mencoba meraup udara di sekelilingnya.


Bersama dengan itu, sekelompok petugas paramedis tiba-tiba datang dengan mendorong sebuah brankar kosong. Dengan cekatan mereka menopang tubuh Aditya sebelum benar-benar limbung ke lantai.


Melihat cara dan ketepatan waktu kedatangan mereka, aku menduga bahwa semua ini sudah disiapkan. Dan satu-satunya penjelasan yang logis untuk menjelaskan kondisi ini adalah...... Aditya masih dalam kondisi lemah saat menari bersamaku tadi.


Laki-laki itu... Memaksakan dirinya....


Tapi... Kenapa???


Apakah ia harus mempertaruhkan keselamatannya hanya demi menunjukkan pada Indra bahwa aku telah berhasil ia miliki? Apakah rasa sakit hatiku dan Indra sebanding dengan nyawanya?


Aku melihat Aditya menatapku dengan sayu saat orang-orang itu menaikkan tubuhnya di atas brankar dan memasangkan alat bantu pernapasan pada hidungnya. Seketika, perasaan bersalah kembali menyelimutiku, sebab akulah yang menyebabkan semua ini.


Aku masih berdiri pada posisi yang sama. Aku bahkan tidak bergeser dari tempatku, saat orang-orang itu sedang bersiap untuk memutar brankar dan mengarahkannya ke luar ruangan. Namun, sebelum itu terjadi, aku melihat Aditya berusaha berbicara pada salah satu petugas medis.


Aku tentu tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang ia katakan. Tetapi, aku tahu apa yang ia bicarakan berkaitan dengan diriku sebab petugas itu kemudian memintaku untuk mendekati Aditya.


Seperti tidak punya pilihan, aku kembali menurut. Aku mendekatkan tubuhku dan berdiri di samping brankar laki-laki itu.


"B......." Kali ini suara Aditya terdengar begitu lemah.


"T-tadi... Iiiikkhhh.... Adalah.... S-sebuah... Ciuman perpisahan untuk kita...." Napasnya tersengal-sengal, namun laki-laki itu masih terus memaksa untuk berbicara kepadaku.


"Tuan... Maaf, kita harus cepat....." Salah satu petugas medis itu mengingatkan. Namun, Aditya mengangkat tangannya kepada petugas itu untuk menyuruhnya diam.


"B.... Aku melepas...mu.... Iiiikkhh..... Iiikkkh..." Aditya kembali menjeda ucapannya untuk mengambil napas dalam-dalam.


Hatiku meremang seketika. Melepas? Ciuman perpisahan?


Apa selama ini aku.... Sudah berpikiran terlalu jauh tentangnya??? Apa yang dia maksud sebagai kenangan sebenarnya adalah.... Tarian dan.... ciuman itu???


"Pergilah B!! Temuiiii laki-laki itu... Jangan sampai... Iiikkkh... Kau melewatkan lagi cintamu....... Hmmm???" Aditya tersenyum lembut padaku. Sementara aku, aku seperti orang bodoh yang baru saja menemukan sebuah kenyataan.


Beberapa detik kemudian, aku melihat Aditya kehilangan kesadarannya di atas brankar itu. Seluruh petugas medis secara spontan menjadi kalang kabut hingga beberapa dari antara mereka mendorong tubuhku, sehingga aku menyingkir dari sisi Aditya.


Petugas-petugas medis itu kemudian berlari mendorong brankarnya ke luar ruangan, sedangkan aku hanya bisa berdiri terpaku dengan mata yang berkaca-kaca saat melihat mereka membawa Aditya menjauh dari tempat di mana aku berada. Kakiku mendadak menjadi lemas, apalagi setelah aku mendengar suara seseorang berbicara dan menepuk pundakku setelah itu....


"Franky....." Ucapku menyebutkan namanya.


"Laki-laki bodoh itu.... Tidakkah kau bisa merasakan bahwa ia.... Terlalu mencintaimu??" Franky ikut meninggalkanku setelah selesai mengucapkan kalimatnya. Setetes air mata kemudian meluncur begitu saja karena ucapannya.


Aditya..... Ia Mencintaiku???


Β -----------------


Selamat Membaca!


Halo teman-teman pembaca. Sedikit berbagi cerita tentang proses penulisan episode ini, part ini sesungguhnya adalah yang paling sulit yang pernah saya tulis. Menggambarkan sebuah dansa berikut instrumen pengiringnya tanpa ada sebuah lirik lagu yang mendukung sebenarnya terasa begitu complicated buat saya.


Kendati demikian, saya berharap feel-nya masih bisa dirasakan oleh pembaca. Semoga yaaa.


Jika mau lihat versi dansa real-nya, teman-teman bisa cari di youtube dengan judul Astor Piazolla-Libertango.