The Untold Story

The Untold Story
Permintaan



--B's PoV--


*2003: Jakarta*


Krieet....


Begitu pintu terbuka, rupanya, bukan aku saja yang terkejut saat itu. Orang yang baru saja membuka pintu itu pun membelalakkan matanya. Meski, setelah itu ia berusaha kembali menetralkan ekspresinya.


"Maaf, karena ini sudah tengah malam, aku pikir kamu sudah tidur. Bolehkah aku masuk? Aku hanya mau mengambil berkas di dalam brankas. Aku tidak akan mengganggumu." Seorang laki-laki dengan penampilan berantakan dan wajah yang kelelahan berbicara padaku dengan sopan.


Aditya... Dia.... Datang!!!


Aditya datang dan... Apa aku tidak salah dengar? Laki-laki itu berbicara padaku dengan... Sopan?


Aku sebetulnya merasa aneh dengan cara bicaranya. Ia tidak pernah berbicara seperti itu denganku. Semoga dia sedang tidak kerasukan atau semacamnya.


"Tadinya ku pikir kamu akan mengunci kamar ini. Aku sedikit terkejut saat melihat kunciku tidak berfungsi. Ternyata kamu tidak menguncinya karena belum tidur." Aditya mencoba menjelaskan. Aku masih tertegun mendengar caranya berbicara denganku hingga tidak membalasnya.


"Ku mohon jangan salah paham! Karena darurat, aku terpaksa masuk tanpa seijinmu. Maaf, jika membuatmu tidak nyaman." Aditya kembali meminta maaf? Benarkah ini si iblis cabul itu?


Aku mencubit lenganku tanpa sepengetahuannya. Sakit!! Berarti aku tidak sedang bermimpi.


"Jadi.. Ehm, Bolehkah aku masuk sebentar? Aku berjanji tidak akan lama." Laki-laki itu meminta ijin sekali lagi.


Aku segera menyadarkan diri dari lamunanku. Aku kemudian menganggukkan kepala, memberi persetujuan.


Setelah melihat reaksiku, Aditya pun melangkah dengan cepat menuju sebuah lukisan yang terpajang di dinding sebelah kanan kamarku. Dan ternyata, di balik lukisan itu ada sebuah brankas berukuran besar.


Tunggu.. Ada brankas di kamar ini? Jadi ini bukan kamar tamu? Jadi ini kamar... Aditya? Apa itu sebabnya ia tidak pulang? Karena aku menempati kamarnya?


Tapi... Bukankah ia punya banyak kamar? Ia bisa memberikan kamar tamu untukku dan menempati kamarnya sendiri.


Apa semua ini dilakukannya demi membuatku... betah? Kamar ini? ketidak-hadirannya?Apa semua ini dilakukannya supaya aku merasa nyaman?


Aku masih bertanya-tanya di dalam hati seraya memperhatikan perilaku Aditya. Laki-laki itu benar-benar mengambil sebuah dokumen di dalam brankas seperti apa yang ia katakan tadi.


Setelah selesai mendapatkan apa yang ia mau, Aditya pun berinisiatif pergi ke luar kamar. Namun, sebelum ia benar-benar keluar, ia menghentikan langkahnya sejenak dan menatapku lagi.


"Oya, lusa mamaku akan berkunjung kemari. Tadinya aku ingin meminta Vina mengabarimu besok. Tapi, karena kita sudah terlanjur bertemu sekarang, maka ku pikir biar aku saja yang memberi tahumu." Aditya menatap mataku selama berbicara dan mengalihkannya begitu ia selesai.


"A-apa kau akan ada saat mama Rita berkunjung?" Aku bertanya sambil berharap ia tidak akan meninggalkan ku sendiri menghadapi mamanya. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika aku menemui mama Rita sendirian.


"Tentu. Aku akan pulang lebih awal. Dan... B!" Aditya menjeda sejenak ucapannya.


"Bisakah lusa kamu bersandiwara di depan mama, seolah hubungan kita baik-baik saja? Aku sedang banyak pekerjaan di kantor dan belum siap menghadapi pertanyaan mama. Bisakah kamu bersandiwara kali ini saja?" Aditya memohon padaku dengan wajah yang serius. Apa telingaku tidak salah mendengar, laki-laki itu baru saja... Memohon?


Aku masih tertegun setelah mendengar ucapannya yang lembut dan tidak memaksa. Sisi lain yang sama sekali tersembunyi bagiku sejak awal pertemuan kita. Hampir saja aku tidak percaya dengan pendengaranku, namun aku tersadar saat ia melanjutkan kalimatnya.


"Tidak bisa ya?" Aku mendengar suaranya yang lirih. Ini memang nyata dan wajahnya terlihat tulus saat meminta.


"Tidak apa-apa. Aku tidak akan memak......" Aditya menahan ucapannya begitu ia mendengar aku memotong kalimatnya.


"Bisa... A-apa yang harus ku lakukan?" Aku berucap cepat dan sedikit gugup.


Aku bisa melihat laki-laki itu tersenyum simpul saat aku menyetujui permintaannya. Sorot mata Aditya bahkan menyiratkan rasa ucapan terima kasih.


"Tidak ada yang perlu kamu lakukan. Cukup menerima mamaku dengan baik dan berpura-pura mencintaiku." Mendengar kata-kata itu, aku tersentak. Dan aku yakin, Aditya menyadari keterkejutanku.


"Maaf, aku banyak meminta. Tetapi kita adalah sepasang suami-istri di hadapan mama. Aku harap kamu bisa mengerti." Aditya memberi tahu alasannya dengan hati-hati.


"Aku mengerti," balasku singkat.


"Terima kasih, B! Oya, besok Vina akan datang untuk mengantar pakaian dan make up untukmu. Aku menyuruhnya membawa beberapa, supaya kamu bisa memilih yang nyaman untuk kamu gunakan. Terima kasih sekali lagi. Jangan lupa kunci pintunya! Selamat beristirahat, B!" Aditya keluar dari ruangan kamar itu dan menutup pintu.


Setelah menghilang berhari-hari tanpa kabar, sekarang laki-laki itu pulang hanya untuk mengambil barang dan memberitahuku perihal kedatangan orang tuanya. Namun, anehnya bukan itu yang mengejutkanku.


Sikapnya yang berubah sejujurnya lebih membuatku penasaran. Sebenarnya ada apa dengan laki-laki itu?


Dan... Tunggu! Apa sekarang ia akan pergi lagi?


Bagaimana jika ia menyetir sendiri dan mengantuk? Bagaimana jika sopirnya yang mengantuk?


Sekali lagi, jangan salah paham! Aku bukan memberi perhatian padanya karena ada perasaan tertentu. Aku hanya mencoba menjadi manusia yang seharusnya memiliki kepedulian kepada sesamanya. Ya, hanya sebatas itu.


Apalagi ia sudah mencoba memperbaiki sikapnya. Tidak ada salahnya kan aku sedikit mengkhawatirkannya?


Melihat wajahnya yang kusut dan lelah tadi, aku menyadari bahwa ia mungkin saja baru pulang dari kantor. Kenapa ia tidak beristirahat saja di sini? Kenapa harus pergi lagi? Mansion ini punya banyak kamar dan dia bisa menempati kamar manapun.


Entah ada angin apa yang mendorongku. Aku turun dari ranjang dan berlari mengejar laki-laki itu. Aku membuka pintu dan berlari mendekat kepadanya.


Aku melihat sosok Aditya hendak berbelok ke sebuah kamar. Sebelum sosok itu menghilang lagi, aku pun berinisiatif untuk menghentikan langkahnya.


"T-tunggu...." Aku memanggil laki-laki itu tanpa menyebutkan namanya.


Sesuai dugaanku, Aditya berhenti berjalan. Ia pun berbalik, menghadap ke arahku sambil mengerutkan keningnya.


"B?" Dia menyebut namaku dengan tanda tanya. Aku tahu ini pasti akan aneh untuknya.


"Aku.... A-aku..." Sial! Aku pasti terlihat seperti orang bodoh sekarang.


"Ada apa B? Apa kau butuh sesuatu?" Aditya menatapku yang berjalan mendekat kepadanya.


"Ehhm.. Ini sudah malam.. Kau mau ke mana? Ini rumahmu. Tidak perlu merasa asing di propertimu sendiri. Kau justru membuatku merasa bersalah." Dengan perasaan gugup, aku mencoba menjelaskan maksudku. Tentu saja aku gugup, komunikasi kami tidak pernah baik selama ini.


"Oh, aku pikir kamu mau menanyakan tentang kekasihmu." Aditya melanjutkan membuka pintu kamar yang ada di hadapannya. Sementara aku, tanpa sadar aku mengikutinya.


"Sepertinya aku akan menginap di sini malam ini. Aku harap kamu tidak akan terganggu dengan hal itu. Setelah mama pulang, aku akan kembali tidur di apartemen. Oya, selamat datang di ruang kerjaku." Aku mendengar penjelasan Aditya. Mataku mengedar ke sekeliling. Sebuah ruang kerja minimalis dengan sebuah sofa yang empuk di tengah-tengah ruangan.


"K-kau tidur dimana?" Aku bertanya tanpa sadar.


"Di sofa itu. Setelah semua pekerjaanku selesai tentunya." Aditya tersenyum menatapku.


"Maaf, aku menempati kamarmu. Jadi..." Aku menahan ucapanku saat Aditya memotong secara tiba-tiba.


"Tidak masalah. Aku biasa tertidur di ruang kerja saat kelelahan." Aditya tersenyum lagi seolah ia ingin meyakinkan bahwa ia sudah terbiasa seperti ini dan ia baik-baik saja.


"Lagi pula ini hanya sementara. Saat mama pulang, aku akan kembali ke Apartemen," imbuhnya lagi.


Jadi, selama ini dia tidur di Apartemen. Sepertinya, Aditya benar-benar menghindar untuk membuatku merasa nyaman.


"Oya, tentang kekasihmu, aku sudah menyuruh orang untuk mencari informasi mengenai keberadaannya. Begitu ada kabar, aku akan menemanimu untuk menemuinya. Apa kamu masih bisa bersabar?" Aditya melanjutkan ucapannya. Kali ini ia membicarakan Indra sambil membuka laptopnya tanpa memandang ke arahku.


"I-iya.. Terima kasih." Aku sungguh tidak tahu harus meresponsnya seperti apa.


Ia menyebutkan kata kekasihmu sedangkan statusnya sebenarnya adalah suamiku. Seberkas perasaan bersalah, yang seharusnya tidak perlu, kemudian menyelimuti hatiku.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh lagi, apalagi sampai menyakiti dirimu! Aku tahu mungkin di awal pertemuan kita, aku menunjukkan sikap yang buruk padamu, tapi sungguh.... Aku tidak pernah berniat jahat. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang membuatmu merasa tidak nyaman lagi. Dan tentang kekasihmu... Aku berjanji akan mengembalikanmu padanya." Aditya kini menatapku sungguh-sungguh. Kali ini aku bahkan terpaku oleh tatapannya.


Entah bagaimana, jantungku berdebar kencang saat mata kami bertemu. Aku menjadi salah tingkah dengan tatapan mata itu.


Mungkin ini efek terlambat tidur. Ya, pasti karena itu.


"Ehm.. A-aku harus kembali ke kamar. A-aku sudah mengantuk." Aku memutar tubuhku dan berjalan menuju ke pintu keluar.


Tidak ada kata lagi terucap dari bibir Aditya. Bahkan ketika aku menutup pintu ruang kerjanya dan bersandar di balik pintu itu, suara Aditya benar-benar tidak terdengar lagi.


Mungkin saat ini, ia berpikir aku sedang mengabaikannya. Biar saja, lagi pula lebih baik ia berpikir begitu dari pada ia mengetahui bahwa aku seketika menjadi gugup saat menatap matanya tadi.


Aku masih bersandar di pintu itu dan mengutuki kebodohanku. Sikapnya yang berubah membuatku menjadi salah tingkah. Tapi, bukan karena aku mulai menaruh hatiku padanya.


Perasaanku kepada Indra sangatlah dalam. Tidak mungkin aku berpaling secepat itu. Itu semua karena aku yang belum terbiasa diperlakukan sebaik dan selembut ini olehnya. Ya, itulah alasan yang sebenarnya, selain karena mungkin aku terlambat merengkuh mimpiku malam ini.


 ---------------


Selamat Membaca!