
--B's PoV--
*2003, Dua Hari Kemudian: Gereja Katedral, Jakarta*
Aku pernah membaca sebuah novel romansa. Satu kalimat yang tertulis di dalam novel itu, begitu melekat di dalam ingatanku.
Kalimat itu berbunyi demikian: Manusia.. Mereka hidup satu kali, mati satu kali, dan mencintai pun satu kali.
Awalnya aku meragukan kalimat itu, sebab kenyataannya ada banyak orang jatuh cinta berulang kali di dalam hidupnya. Banyak orang mengganti pasangan mereka seperti mengganti pakaiannya. Banyak orang menjalin cinta berulang kali, bertunangan bahkan menikah pun berkali-kali.
Waktu itu, aku berpikir bahwa semua hanyalah kata-kata yang konyol dan tidak logis. Aku bahkan menganggap itu adalah bunga-bunga dari pikiran si pengarang novel untuk memunculkan kesan romantis pada novelnya.
Tapi.... Aku mulai menyangsikan pikiranku sendiri sekarang. Aku meragukan apa yang ada di dalam benakku waktu itu dan mulai mempercayai apa yang dulu aku tertawakan.
Kepergian Indra pada saat hujan di malam itu, kepergian dari seorang laki-laki yang hanya meninggalkan sebuah surat berisi kalimat-kalimat pengakuan cinta yang terlambat, sungguh telah mengubah duniaku.
Aku.... Tidak ingin kehilangannya apalagi melupakannya.
Aku bisa merasakan penderitaan Indra karena mencintaiku, dalam setiap goresan huruf yang dituliskannya. Aku bisa merasakan, bagaimana kata demi kata di dalam surat itu dirangkai, sambil menahan rasa pilu di dalam hati saat mengutarakan perasaannya.
Satu-satunya yang tidak ku mengerti dan ku sesali adalah dia... Memilih pergi.... Ia memilih pergi tanpa mau mendengar dulu bagaimana jawabku atas perasaannya.
Setelah semua cinta yang ia utarakan. Setelah semua kenangan yang ia tinggalkan. Setelah semua....
Setelah membiarkan hatiku menghamba padanya. Laki-laki itu memilih pergi dan membuat cinta ini tak lagi bertuan.
Ia pergi... Untuk mempermudah diriku menjalani takdir yang tidak pernah berpihak pada kami.
Ia pergi... Untuk memberi ruang bagiku, sehingga aku bisa berayun pasti dalam garis nasib yang tak pernah berkawan dengan kisah cinta kita berdua.
Ia pergi... Tanpa pernah tahu bahwa sekarang aku bersedia menantang suratan yang tertulis untuk kami asal ia terus berada di sampingku.
Ia pergi... Tanpa pernah mendengar bahwa saat ini aku mampu mengucapkan 'aku mencintaimu'.
Dan untuk semua rasa sakit yang harus kami tanggung berdua selamanya....
Akankah aku mampu mengalihkan hidupku dan cintaku pada laki-laki yang lain? Akankah aku mampu menuruti permintaan Indra untuk belajar menjalin asmara dengan laki-laki yang sama sekali asing bagi hatiku?
Bagaimana jika...
Bagaimana jika aku tidak bisa memalingkan hatiku? Bagaimana jika aku lupa caranya mencintai setelah ini? Bagaimana jika... Aku tidak bisa jatuh cinta lagi?
Indra mungkin adalah orang pertama dan terakhir yang mampu memegang kendali atas semua cintaku. Dia tidak menyadari bahwa dirinya begitu dominan hingga tidak menyisakan kesempatan sedikit pun bagi yang lain.
Aku mungkin akan menikah dengan seorang keturunan konglomerat. Aku mungkin akan melahirkan keturunan-keturunan berdarah emas.
Namun, jauh di lubuk hati ini, lubuk yang terdalam dan tersembunyi ini, cinta yang ada di dalamnya itu mengetahui dengan pasti siapa nama pemiliknya.
Indra.. Hanya Indra... Dia adalah satu-satunya.
Terlebih lagi saat ini. Ketika semua orang nampaknya berbahagia. Ketika tawa dan senyum bersemi bagaikan bunga pengantin yang ku genggam pada kedua telapak tanganku.
Tolong katakan padaku... Tolong ajari aku... Bagaimana caranya agar aku mampu memberikan cintaku pada seorang yang tidak pernah menjadi tuan atas hatiku? Bagaimana caranya agar hati ini bertekuk lutut pada seseorang yang bukan... Indra?
"Bellatrix Milliane Atmaja bersediakah engkau menerima Prajadiwangsa Aditya Banyu Wardhana sebagai suamimu dan berjanji untuk setia kepadanya dalam suka dan duka, dalam sakit maupun sehat, dalam keberadaan maupun ketidakberadaan, sampai maut memisahkan kalian berdua?" Aku mendengar Romo Albert menanyakan pertanyaan itu di telingaku.
Semua orang kini sedang menunggu. Semua orang tanpa terkecuali ingin mendengar jawabanku. Setelah Aditya menjawab pertanyaan itu dengan begitu lantang dan percaya diri, kini tiba giliranku menyuarakannya.
Semua orang masih menunggu tetapi tidak dengan waktu. Waktu terus berjalan dan ia berjalan beriringan dengan kebisuanku di depan altar.
Air mataku memang tidak menetes, tapi bibirku sulit berucap. Aku tahu bahwa aku tidak punya alasan ataupun kekuatan untuk menjawab pertanyaan itu.
"Bellatrix Milliane Atmaja bersediakah engkau menerima Prajadiwangsa Aditya Banyu Wardhana sebagai suamimu dan berjanji untuk setia kepadanya dalam suka dan duka, dalam sakit maupun sehat, dalam keberadaan maupun ketidakberadaan, sampai maut memisahkan kalian berdua?" Aku mendengar Romo Albert menanyakan pertanyaan itu untuk yang ke dua kalinya.
Kini aku mendengar suara kegelisahan di sekitar tempat dimana aku berada. Ada yang mulai berbisik. Ada yang mulai berbicara kepada dirinya sendiri. Namun, meski begitu, aku masih bisa merasakan bahwa satu-satunya manusia yang tetap berdiri dengan tenang di sana hanyalah laki-laki yang ada di hadapanku.
"Bapak-ibu, mungkin saat ini mempelai wanita sedang gugup hingga sulit mengutarakan janji cintanya." Aku mendengar Romo Albert mencoba mencairkan suasana yang seketika berubah tegang, karena aku tak kunjung berucap.
"Hahahahahaha....." Gemuruh tawa dari para umat yang hadir langsung terdengar. Mereka semua tertawa sebagai cara untuk menganggap wajar sebuah keanehan yang aku lakukan.
"Baik, saya akan bertanya sekali lagi dan untuk yang terakhir kalinya." Aku bisa mendengar Romo Albert menarik napasnya dalam-dalam sebelum menanyakan ulang komitmenku. Aku tahu bahwa Romo Albert pun merasa gelisah sekarang.
"Bellatrix Milliane Atmaja, bersediakah engkau menerima Prajadiwangsa Aditya Banyu Wardhana sebagai suamimu dan berjanji untuk setia kepadanya dalam suka dan duka, dalam sakit maupun sehat, dalam keberadaan maupun ketidakberadaan, sampai maut memisahkan kalian berdua?" Aku menutup mataku seketika mendengar pertanyaan itu terucap untuk ketiga kalinya.
Bersamaan dengan kelopak mataku yang menutup sempurna, air mataku tiba-tiba menetes. Dengan kondisi mata yang masih terpejam, aku seperti melihat wajah Indra sedang tersenyum lembut ke arahku. Wajah itu menyunggingkan senyumnya seraya mengangguk. Mungkinkah memang ini yang ia inginkan?
Pada detik berikutnya, aku pun segera membuka mata. Tanpa sengaja, mataku yang baru saja terbuka langsung bertemu dengan sorot mata dingin dan dalam dari seorang laki-laki yang berdiri di hadapanku. Sorot mata yang aku benci, tetapi mungkin yang juga akan ku jumpai seumur hidup.
Tanpa berpikir panjang lagi, aku pun memutuskan untuk mengakhiri ketegangan ini dengan melakukan apa yang Indra mau untuk aku lakukan. Dengan suara yang sedikit bergetar, aku pun akhirnya mengucapkan, "Ya, saya bersedia... Dengan segenap hati dan jiwa saya. Saya akan menyambut engkau Prajadiwangsa Aditya Banyu Wardhana sebagai suami saya, dan berjanji untuk setia kepadamu dalam suka dan duka, dalam sakit maupun sehat, dalam keberadaan maupun ketidak-beradaan, sampai maut memisahkan kita berdua."
Aku mendengar orang-orang di dalam ruangan itu seperti menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Mereka seperti orang yang telah dilepaskan dari beban berat, setelah mendengar aku menjawab pertanyaan itu.
Namun, di antara orang-orang yang merasa lega itu, aku menemukan bahwa pria yang sama yang berdiri di hadapanku saat ini, pria dengan sorot mata yang dingin dan dalam itu bahkan masih menjaga ekspresinya agar tidak terbaca oleh siapapun sedari tadi. Laki-laki itu masih berdiri dengan tenang, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Dengan otoritas yang diberikan Tuhan dan gereja kepada saya, maka dengan ini saya menyatakan bahwa anda berdua saat ini adalah sepasang suami istri yang sah. Aditya..... Anda bisa membuka cadar dan mencium Bellatrix, mempelai anda." Aku melihat laki-laki itu melangkah untuk lebih mendekatkan dirinya pada tubuhku.
Kali ini aku bisa merasakan bahwa tubuhku bergetar. Sebuah reaksi yang sudah lama tidak ku alami. Reaksi yang dulu muncul, ketika aku tidak menyukai sesuatu yang coba dipaksakan kepadaku.
Dengan perlahan-lahan, aku menyaksikan Aditya membuka cadar yang sedari tadi menutupi wajahku. Beberapa detik kemudian, ia semakin menatapku dalam. Aku sungguh tidak bisa mengartikan arti tatapan itu.
Sekilas aku termenung. Aku masih berusaha untuk menduga-duga makna tatapannya, hingga kemudian....
Cup!!!
-----------------
Selamat membaca!