The Untold Story

The Untold Story
Siapa, Seperti Apa, dan Bagaimana?



*Sternenlicht, perairan Jenewa: 2003*


Sepanjang malam hingga pagi hampir menjemput kala itu, aku tidak bisa memejamkan mataku lagi. Banyak hal berlalu-lalang di dalam benakku. Tentang mimpi semalam, tentang kisah sang maestro opera, tentang apa yang akan terjadi esok hari, semuanya bak gayung bersambut yang berusaha memengaruhi pikiranku, hingga aku kehilangan kemampuan untuk terlelap.


Pikiranku berkelana, bersamaan dengannya mataku yang masih terjaga ini terus menatap seorang laki-laki yang kini tengah tertidur sembari memelukku erat. Tangannya merengkuh seluruh tubuhku dengan sempurna hingga kami begitu melekat. Deru napasnya, detak jantungnya bahkan begitu jelas terdengar di telingaku.


Sementara itu, aku dengan sengaja membebaskan pandanganku menyusuri setiap inchi demi inchi, sudut demi sudut, bahkan sisi demi sisi yang ada pada wajahnya. Wajah yang menemaniku beberapa waktu belakangan ini. Wajah yang perlahan-lahan mengisi hariku, memenuhi mimpi-mimpi malamku, dan pada titik tertentu mampu menerbangkan lamunanku ke awan-awan seperti sekarang.


Pada saat yang sama sebuah pertanyaan besar ikut melesap di sela-sela lamunan itu... Mampukah aku melewati hari-hariku tanpa kehadirannya? Mampukah aku berpisah darinya? Sentuhannya, pelukannya, apakah aku bisa merelakan semua itu menguap dari sisiku?


Apakah.... Apakah keberadaan Indra mampu untuk menggantikan semua kenangan ini? Apakah cinta Indra lebih berharga dari apa yang telah aku dan Aditya lewati bersama?


"Hati manusia seluas samudera, B! Aku hanya tidak ingin kamu tersesat di dalam perasaanmu sendiri," ingatan tentang perkataan Aditya di dalam mimpi kembali menerobos alam sadarku.


Meski perkataannya tidaklah nyata, namun mimpi itu seakan memberi peringatan padaku. Dan entah mengapa, meski aku sadar bahwa semua ini hanyalah bunga dari tidurku, namun sepertinya hatiku menerimanya bagai sebuah isyarat yang sesungguhnya.


Aditya... Masih jelas tergambar dalam ingatan ini seperti apa wajah dan suaranya saat mengatakan kalimat itu di dalam mimpi. Suaranya yang dalam dan lirih, sorot mata yang sendu dan penuh kepedihan. Ekspresi yang sering kali ku dapati saat ia diam-diam mencuri pandanganku dan menyebut tentang 'kekasihku'. Ekspresi yang menyiratkan bahwa ia begitu tersiksa.


Mungkin pikirannya begitu egois, ingin memilikiku bagi dirinya sendiri. Namun, hatinya... Ia tidak bisa menipu hatinya saat menyadari bahwa perempuan yang telah menjadi istrinya masih membagi perasaan dengan yang lain dan kemudian tersesat dalam permainan cintanya sendiri.


Ya, banyak orang kehilangan arah ketika menempuh jalan cinta. Banyak orang tidak mengerti apa sebenarnya yang dikehendaki oleh hatinya. Itu sebabnya ia mengantarku ke negeri ini supaya aku bisa mendefinisikan dengan pasti, apa sesungguhnya yang diinginkan oleh hatiku.


Meski beberapa waktu yang ku lewati bersama Aditya sepertinya mampu membuatku melupakan Indra, tetapi apakah sesuatu yang aku pahami sebagai 'lupa' itu bersifat abadi? Ataukah ia hanya bertahan sementara waktu?


Dan saat ini... Di luasnya samudera hatiku, apakah aku masih menyimpan nama Indra di sana? Ataukah Aditya sesungguhnya telah menaklukkan samudera itu?


Seandainya ada sebuah pertanda yang diberikan kepadaku untuk menjawab semua pertanyaan itu. Seandainya...


Aku terus menatap wajah laki-laki yang hingga kini masih menjadi suamiku dan aku mendapati bahwa wajah tampan itu nampak gelisah sekarang. Beberapa kali ia bahkan mengerutkan keningnya.


Apakah Aditya sedang bermimpi buruk? Ataukah ia sedang merasakan apa yang aku rasakan? Apakah ia sama gelisahnya dengan diriku hingga sekalipun ia terlelap dalam peraduannya, kegundahan itu terus mengikutinya?


Aku memberanikan diri untuk menyentuh keningnya sembari berharap ia tidak akan terganggu. Dengan penuh kelembutan, aku pun mengusap kening Aditya hingga lambat laun ekspresi laki-laki itu berubah normal kembali.


Hatiku menghangat seketika aku menyadari sesuatu. Sebegitu besarkah peranku, hingga mimpi buruknya pun mereda karena sentuhanku?Lambat laun pertanyaan itu semakin lama semakin berkembang menjadi banyak dan mengusik. Aku yang mulai kelelahan berpikir akhirnya mencoba untuk memejamkan mata.


Malam itu, di atas sebuah yacht bernama sternenlicht, sebuah yacht yang tengah mengapung di atas permukaan perairan Jenewa yang dingin, di bawah sorotan sinar bulan purnama yang nampaknya enggan pergi meninggalkan cakrawala negeri yang kaya dengan susu dan madu, aku akhirnya menyerah untuk terus larut di dalam pikiranku.


Pada akhirnya, aku hanya bisa menggantungkan hatiku bersama dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyertainya. Aku meninggalkan mereka sembari berharap, semoga saja hari esok telah menyediakan jawaban dan peruntungan bagi kisah cintaku.


Dan sebelum sinar surya kembali merekah menjemput hari, lewat kepingan-kepingan waktu yang tersisa ini, ijinkan aku untuk menikmati apa yang kini ada di hadapanku dan tengah merengkuhku dengan penuh kasih sayang serta kelembutan... Biarkan aku tenggelam dalam dekapan seorang Prajadiwangsa Aditya Banyu Wardhana, laki-laki yang mencintaiku dalam senyapnya...


 ----------------------


*Hotel De La Paix, Geneve: 2003, keesokan harinya.*


"Apa kau sudah siap, B?" Aditya bertanya padaku, saat ia baru saja memasuki kamar kami. Laki-laki itu sempat ke luar untuk memberikan kunci mobil kepada petugas vallet, sebab ia tidak ingin membuatku menunggu di lobby terlalu lama nanti.


Aku tidak langsung membalas ucapannya. Aku hanya menatap sebuah wajah yang menyiratkan perasaan sendu dan tersamarkan oleh sedikit riasan dari balik pantulan cermin. Dan sayangnya... Itu adalah wajahku sendiri.


Tidur yang minim rupanya membuat auraku sedikit suram. Ah, Tidak! Bukan itu penyebab yang sesungguhnya. Perasaan cemas dan bimbang yang menghujam sejak kemarin itulah yang membuatku tak bercahaya hari ini. Untung saja polesan make up, rambut yang terikat rapi, dan dress berwarna putih yang ku kenakan ini bisa sedikit menyamarkan semuanya.


Berbeda denganku, laki-laki itu bahkan terlihat puluhan kali lebih gagah dan tampan dalam balutan jas mahalnya. Fisiknya begitu sempurna, dan aku semakin yakin bahwa hatinya pun sama sempurnanya.


Kini, aku pun memahami makna sebuah ungkapan yang berkata bahwa make up terbaik yang bisa disematkan pada wajah manusia adalah ketulusan. Ya, cinta dan ketulusan Aditya yang membuat ia menjadi sempurna.


"Kau terlihat sangat cantik. Seperti biasanya," ucap laki-laki itu kembali meski tak kunjung mendapat balasan dariku. Ia kini bahkan sudah berdiri di belakang dan melingkarkan lengannya pada pinggangku. Mata kami kemudian bertatapan lewat pantulan cermin yang ada di hadapan kami.


"Kau akan bertemu dengannya sebentar lagi. Apa kau sudah siap?" Aditya bertanya sekali lagi dengan lembut dan tulus.


Aku masih terdiam. Sejujurnya aku bingung menjawab pertanyaan itu. Aku kini bahkan sedang berpikir, apakah laki-laki yang berdiri di belakangku ini benar-benar telah merelakanku, sehingga ia begitu tegar? Aku begitu terpengaruh dengan pikiranku ini hingga aku mengembalikan pertanyaan itu padanya.


"Apa ini yang kau mau, Aditya?" Aku bertanya padanya sekali lagi. Aku hanya ingin memastikan apakah ia benar-benar siap untuk melepasku jika hatiku berubah haluan saat mendapati Indra di sana.


Laki-laki itu tersenyum kembali. Ia kemudian mengusap lembut pipiku.


"Aku hanya mau kau bahagia, B. Dengan.... Atau tanpa diriku," ucapnya perlahan-lahan saat mataku tak henti menatap sorot matanya. Sekelebat perasaan sedih terlihat di sana saat ia mengucapakan kata 'tanpa diriku', namun ketulusan itu kembali menutup rapat semuanya.


Entah mengapa hatiku merasa nyeri saat mendengar ucapannya. Lalu bagaimana dengan kebahagiaannya?


"Lagi pula aku cukup tampan. Aku yakin banyak perempuan yang akan mengantri jika kau memilih laki-laki itu. Setidaknya aku bisa menjadi hot duda seperti cerita-cerita picisan yang beredar di internet." Aditya berusaha membuat lelucon yang terasa hambar di telingaku. Dan sepertinya ia menyadarinya saat aku hanya bisa menundukkan kepala. Siapapun seharusnya merasa beruntung jika berada di posisiku saat ini, tetapi aku justru merasa semakin terbeban saat melihatnya berusaha baik-baik saja demi diriku.


"Tidak lucu ya?" Laki-laki itu memegang tengkuknya sambil tersenyum malu. Ia bahkan sedikit merasa bersalah karena melihat tatapanku yang semakin sendu akibat ucapannya. Tidak lama setelah itu, Aditya menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar.


"Hei, B! Dengarkan aku..." Ia pun membalikkan tubuhku dan kini kami sudah berdiri berhadapan dengan kepalaku yang tertunduk untuk menghindari tatapannya. Laki-laki itu kemudian menyentuh daguku dan mengarahkan sejajar dengan wajahnya, sehingga mata kami langsung bertemu secara langsung.


"Sudah waktunya bagimu untuk memperoleh kebahagiaan. Kamu sudah banyak mengalah dalam kehidupan ini. Jangan berkorban lagi! Aku akan mendukung apapun keputusanmu." Aditya kemudian memelukku erat. Sebuah pelukan yang memberi kekuatan.


Aku semakin terharu. Air mataku pun terlepas begitu saja dalam pelukannya.


"Aku.. Sungguh aku tidak tahu, bagaimana harus berterima kasih padamu," balasku sembari membalas rengkuhannya.


Laki-laki itu kemudian mengendurkan dekapannya. Kini ia mengambil sedikit jarak, mungkin supaya bisa menatapku lebih jelas.


"Berbahagialah! Hanya itu caranya," ucapnya lagi dengan penuh kelembutan.


Kali ini aku tak lagi menjawab. Keheningan pun menyelimuti kami berdua selama beberapa saat setelah perkataannya itu. Dalam jeda waktu yang ada, kami kemudian memilih untuk saling memandang, larut dalam bias sorot mata yang dalam.


Kami berdua masih saling memandang dengan penuh perasaan hingga dering handphone Aditya terdengar. Dering yang memberi tanda bahwa ada sebuah pesan masuk di sana.


"Sepertinya mobil kita sudah siap. Sebaiknya kau dan aku bergegas, hmm?" Ucap Aditya seakan mengerti isi pesan di dalam handphone itu tanpa perlu membaca pesannya.


"Kita bisa pergi... Sekarang," balasku seraya memalingkan wajah. Sejujurnya ada perasaan ragu yang semakin lama semakin mengusikku untuk meneruskan semua ini. Namun, aku tahu bahwa aku harus tetap pergi demi mendapatkan jawaban atas kehendak hatiku dan menyelesaikan permainan hati ini.


Pada akhirnya, kami berdua pun berjalan beriringan menuju ke lobby. Seperti kata Aditya, sebuah mobil yang akan mengantar kami sudah menanti di sana. Ya, sebentar lagi Aditya akan memacu mobil itu untuk menempuh perjalanan yang entah akan menjadi awal atau akhir dari kebersamaan kami. Perjalanan yang mungkin akan terasa sangat panjang dan berat untuk ku lalui, karena bagaimana pun juga akan ada hati yang terluka karena keputusanku nanti. Dan sayangnya, sampai detik ini, aku pun belum mengetahui dengan pasti, siapa, seperti apa dan bagaimana.


 -----------------------


Selamat membaca!