
--B's PoV--
*Singapore, Mandarin Oriental Hotel: 2003, Hari Kompetisi*
"B....." Aditya memanggilku dengan lembut.
"Hmm?" Jawabku singkat pada laki-laki itu. Aditya masih merengkuhku dalam dekapannya.
"Apa aku..... Benar-benar tidak punya kesempatan lagi?" Pertanyaan ini. Kenapa ia harus bertanya seperti ini?
Sungguh sulit bagiku untuk menjawabnya. Pertanyaan ini benar-benar membuatku terdiam. Bukan karena aku tidak punya kata-kata untuk membalas ucapannya, tetapi entah mengapa, ucapannya kali ini terdengar begitu tulus sehingga membuatku tidak mampu berkata-kata.
"Sadar B! Sadar!!!" Aku berbicara dalam hati untuk memperingatkan diriku sendiri.
Seketika pikiranku kembali bekerja dan memikirkan kemana arah pertanyaan itu ditujukan sesungguhnya. Mungkinkah itu adalah pertanyaan penegasan sebelum ia menjalankan rencananya?
Aku tahu jawabanku akan menentukan sikapnya kemudian. Tetapi, aku lebih memilih untuk menjalankan strategiku sendiri. Mungkin jiwaku terlalu serakah sehingga ingin mengendalikan semua.
Aku begitu percaya dengan rencana yang sudah ku susun beberapa waktu lalu. Itu sebabnya aku sengaja memilih diam, untuk membiarkan laki-laki itu menyimpulkan jawabanku dengan pikirannya sendiri. Beberapa menit benar-benar berlalu tanpa jawaban dariku.
Memahami sikap keterdiamanku, Aditya kemudian melepaskan pelukannya. Dengan lembut, ia membalikkan tubuhku, membuat posisiku yang semula membelakanginya menjadi berhadapan dengannya.
"Tidak bisa ya?" Laki-laki itu memaksakan bibirnya untuk tersenyum, meski raut wajahnya lebih banyak menunjukkan kekecewaan.
Entah mengapa hatiku tiba-tiba meremang. Aku sepertinya ikut terbawa suasana.
Ya, aku seperti bisa merasakan kesedihan yang Aditya rasakan. Kesedihan yang seharusnya ku sangsikan kebenarannya.
"Maaf...." Tiba-tiba kata-kata itu meluncur saja dari bibirku, padahal seharusnya itu tidak perlu ku ucapkan.
Aditya menggelengkan kepala. Laki-laki itu kemudian memelukku kembali. Kali ini lebih erat dari sebelumnya.
Beberapa kali ia menarik napas dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya dengan kasar. Laki-laki itu sepertinya sedang menahan sesuatu di dalam hati, sebelum akhirnya ia kembali berbicara... Setenang dan selembut mungkin.
"Kalau begitu setidaknya biarkan aku memberikan sebuah kenangan terakhir tentang kita pada saat kompetisi nanti." Aditya semakin merengkuhku ke dalam pelukannya.
Hatiku semakin kacau balau dibuatnya. Jikalau aku bisa menggambarkan bagaimana kondisiku saat ini, aku merasa seperti berada di persimpangan jalan.
Mengingat bagaimana nada suaranya yang terdengar begitu tulus dan menyesakkan dada, aku seakan tidak percaya bahwa laki-laki ini adalah manusia berdarah dingin yang bisa menghancurkan siapa saja. Namun, pada sisi yang lain, aku juga tidak mungkin mengabaikan apa yang ku dengar saat berada di kantornya waktu itu.
Aditya akan melakukan sesuatu kepada Indra. Jika demikian, apa mungkin yang dimaksud oleh Aditya sebagai kenangan terakhir untukku adalah sebuah kesempatan di mana aku bisa melihat kehancuran Indra dengan mata kepalaku sendiri?
Membayangkan kehancuran Indra? Apakah aku akan sanggup?
Tubuhku bergetar hebat di dalam pelukannya karena perasaan takut yang tiba-tiba menggerogoti. Aku bahkan mengeluarkan keringat dingin secara tiba-tiba.
Pada saat itu, aku semakin mengeraskan hatiku. Bagaimanapun juga rencana ke dua harus tetap dijalankan.
Aku tidak ingin Indraku terluka apapun yang terjadi. Dan keselamatan Indra hanya bisa terjamin jika rencana ke duaku berjalan dengan mulus. Aku harus menghentikan Aditya pergi mendampingiku pada acara kompetisi dansa nanti malam.
"B... Ada apa denganmu?" Mungkin saja Aditya merasakan bahwa ada yang tidak beres dengan tubuhku. Ia kemudian kembali melepas pelukannya dan menatap wajahku lekat-lekat.
"Hei... Kamu mengeluarkan keringat dingin?" Aditya membasuh keringatku dengan tangannya cepat-cepat.
"A-aku tidak apa-apa. Jangan khawatir!" Sebuah senyum ku sunggingkan untuknya. Aku berusaha menunjukkan bahwa aku sedang dalam kondisi yang masih tergolong stabil.
"B... Apa perlu ku panggilkan dokter? Apa kamu yakin masih bisa meneruskan kompetisi ini?" Laki-laki itu bertanya dengan begitu panik, sambil kembali menyentuhkan telapak tangannya pada dahiku untuk mengecek suhu.
Bodoh, B! Bodoh!! Seharusnya aku lebih bisa mengendalikan tubuh ini. Bagaimana jika aku tidak bisa meyakinkan Aditya bahwa saat ini aku baik-baik saja dan kemudian ia membatalkan keikutsertaanku dalam kompetisi dansa itu?
Sekarang, aku sendiri yang justru bisa mengacaukan semua rencana yang sudah ku susun matang-matang. Seharusnya, aku yang menghalangi Aditya untuk menemaniku ke kompetisi dansa itu sehingga aku bisa berjumpa dengan Indra, bukannya malah menghalangi diriku sendiri untuk bertemu dengan Indra.
"A-aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit... lapar," ucapku dengan hati-hati sambil memasang wajah memelas, yang ku harap bisa cukup meyakinkannya.
Hanya itu alasan yang paling masuk akal untuk menjawab apa yang terjadi dengan tubuhku saat ini. Jawaban itu begitu spontan, tetapi juga logis di saat yang bersamaan.
Meski tidak sama persis dengan skenario yang ku susun sebelumnya, tapi setidaknya hasil akhir yang sama tetap akan ku dapatkan. Aku berpikir, sedikit improvisasi mungkin akan membuat semuanya terlihat lebih natural.
"Kamu benar. Ini sudah jam makan siang," jawab Aditya sambil melihat pada bulatan emas berantai, yang menempel pada area pergelangan tangannya.
"Apa yang ingin kau makan? Aku akan memesankannya untukmu," sambungnya lagi sambil berjalan menuju nakas, dimana ada sebuah telepon diletakkan di sana.
"T-tidak perlu! Aku sebenarnya sudah memasak tadi pagi. Menu yang ku sukai, mungkin kamu ingin melihatnya?" Aku kemudian beranjak dari tempatku dan mengambil sebuah paper bag berwarna coklat yang berisi makanan yang telah ku masak tadi pagi.
"Ya... Aku membuat udang balado, daun singkong rebus, dan ada beberapa potong ketimun sebagai menu pendamping," tuturku kepada Aditya seraya menyodorkan beberapa kotak makanan kepadanya.
Aditya segera mengambil semua kotak makanan itu dan membawanya ke atas meja yang berada di dekat sofa. Dengan terburu-buru, laki-laki itu kemudian membuka kotak itu satu demi satu. Ia sempat terdiam sejenak saat melihat menu dan mencium aromanya.
"Apakah aku boleh memakan ini? Apakah kamu keberatan jika aku ingin mencicipi masakanmu?" Laki-laki itu bertanya sambil menatap wajahku penuh harap.
Aku tahu bahwa ia tidak mungkin tidak tergoda dengan masakanku. Semua yang ada di dalam kotak makanan itu adalah makanan kesukaannya.
"Tentu saja!" Aku menyuguhkan sebuah senyuman yang mungkin terlihat cukup tulus untuk semakin meyakinkannya.
"Aku akan memesan nasi. Kita makan bersama," ucap Aditya dengan penuh semangat sambil melangkah kembali menuju nakas dan bersiap mengangkat gagang telpon yang ada di atasnya, guna menghubungi pihak restaurant hotel.
Begitu mendapat jawaban dari pelayan restaurant, Aditya langsung memesan dua porsi nasi putih dan satu teko teh hijau sebagai minuman pelengkap. Laki-laki itu juga tidak lupa meminta beberapa piring kosong, yang entah apa gunanya.
Selesai memesan makanan, Aditya kemudian menggandeng tanganku dan membawaku duduk pada sofa. Kami berdua kini sudah duduk berhadapan meski dipisahkan oleh sebuah meja berisi makanan yang ku buat tadi pagi.
Apa dia benar-benar sesenang ini dengan makanan itu? Atau dia senang karena aku memasakkan sesuatu untuknya?
Sambil menunggu, pelayan restaurant datang dan mengantar makanan, Aditya kembali mengajakku berbicara. Kami lebih banyak membahas makanan kesukaan kami kali ini.
Pada saat itu juga Aditya menceritakan bahwa apa yang ku masak hari ini adalah menu favoritnya. Sesuatu yang sebenarnya sudah ku ketahui, hanya saja hari itu aku memilih untuk berpura-pura seolah aku tidak tahu.
-------------
Tok... Tok... Tok...
"Itu pasti pesanan kita," kata Aditya sambil melangkah untuk membukakan pintu.
Benar, apa yang menjadi tebakannya. Setelah menunggu hampir lima belas menit lamanya, menu yang ia pesan tadi, akhirnya sudah tiba.
Aditya mempersilakan pelayan restaurant itu untuk masuk ke dalam kamar kami. Ia kemudian juga memintanya untuk menata ulang meja yang berisi makanan itu. Dengan terampil, pelayan restaurant itu kemudian mempersiapkan semua, hingga meja itu pun kini nampak lebih manis.
"Terima kasih," ucap Aditya sambil menyodorkan beberapa lembar uang sebagai tips bagi pelayan itu. Begitu pelayan restaurant itu pergi, Aditya segera menutup pintu kamar kami dan kembali menghampiriku.
"Begini terlihat lebih baik kan?" Binar matanya terlihat begitu jelas dari sudut mataku. Aku pun kembali mengangguk dan menyunggingkan sebuah senyuman.
Aditya, laki-laki itu kelihatan berbahagia, sementara aku... Aku mulai merasa ragu untuk melanjutkan semua rencana ini.
"Ayo, kita santap makanannya! Namun sebelumnya, aku yang akan memimpin doa!" Aditya menjulurkan kedua tangannya ke arahku, ia berharap kami berdoa dengan cara saling menggenggam.
Aku terpaku dengan sikapnya. Aku tidak percaya, ia akan mengajakku berdoa sekarang dan aku tentu akan merasa semakin berdosa.
"B... Apa kau keberatan jika kita berdoa sambil berpegangan tangan? Keluargaku sering melakukan hal ini ketika aku masih kecil dan aku sangat bahagia saat melakukan hal itu dulu. Aku hanya ingin membagi perasaan itu denganmu," pinta Aditya dengan begitu tulus.
Oh, Tuhan! Apa yang harus ku lakukan? Apakah aku harus menghentikan semuanya sekarang?
Hatiku sungguh tidak kuat, jika harus menyakiti Aditya. Tapi... Indra... Aku tidak bisa membiarkan Aditya menyakiti Indra.
Dengan berat, aku meletakkan kedua telapak tanganku di atas telapak tangannya. Aditya kemudian menggenggam tanganku dengan erat, bersamaan dengan itu kami berdua seketika memejamkan mata. Pada detik selanjutnya, laki-laki itu pun segera memanjatkan doa. Kami mengawalinya dengan membuat tanda salib terlebih dahulu.
"Tuhan yang penuh kasih. Terima kasih atas berkatmu kepada kami hari ini. Terima kasih karena saat ini anakmu bisa duduk dan makan bersama dengan istri terkasih. Terima kasih karena Tuhan juga memberikan kesempatan kepada anakmu ini untuk menyantap hidangan yang sudah disiapkan olehnya. Berkatilah makanan dan minuman ini supaya menjadi kekuatan bagi tubuh kami berdua... Amin." Kami berdua segera membuat tanda salib kembali sebelum akhirnya membuka mata.
Tanpa ragu, Aditya kemudian segera mengambil makanan yang telah ku siapkan untuknya. Makanan yang sengaja ku buat.... Untuk menyakitinya.
Aku tahu aku tidak bisa mundur sekarang. Berulang kali aku menguatkan hatiku supaya tidak mencegah laki-laki itu memakan sesuatu yang menjadi pantangan untuknya.
Ya, aku telah menaruh merica pada makanan itu. Aku menaruh sesuatu yang ku harap bisa menghambatnya mendampingiku menghadiri kompetisi dansa itu.
Ya, hanya menghambat! Aku tidak akan membunuhnya. Aku seharusnya tidak perlu terlalu merasa bersalah.
Satu per satu, argumentasi dan pembelaan ku bangun untuk memenuhi isi kepala ini. Aku mencoba menenangkan diriku sendiri yang gelisah. Aku mencoba untuk meyakinkan diriku bahwa apa yang ku lakukan ini memang bukanlah hal yang benar, tetapi ini yang terbaik dalam situasi semacam ini.
Aditya sudah meletakkan sebagian makanan yang ku buat di atas piring nasinya. Ia kini bahkan terlihat mulai menata makanan itu di dalam sendoknya.
Laki-laki itu sempat tersenyum kepadaku, mengucapkan 'selamat makan', sebelum akhirnya ia membuka mulutnya dan.......
---‐-------------
Selamat membaca!