
--B's PoV--
*2003: Rumah Bellatrix, Jakarta*
Pagi itu, saat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, dan setelah tidak berhasil memejamkan mata semalaman, aku mencoba melakukan meditasi ringan di taman belakang rumah. Sungguh aku tidak mengerti dengan tubuhku semalam. Tidak biasanya ia sulit diajak bekerja sama seperti ini.
Aku tidak pernah mengalami insomnia selama hidup. Kemarin adalah yang pertama kalinya.
Pola hidupku yang tergolong sehat membuat aku tidak pernah mengalami kesulitan tidur. Namun, semenjak pertemuanku dengan iblis cabul itu di hotel semalam, aku seperti tidak mengenali diriku lagi. Bukan, mungkin lebih tepatnya aku kehilangan kuasa atas diriku.
Laki-laki itu seperti mendominasi pikiran ini. Ia bahkan seolah merebut sisa-sisa kedamaian yang aku punya. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Tindakannya, sentuhannya, ucapannya, wajahnya, perkataannya, semua terus berputar di kepala. Dan itu yang pada akhirnya menyebabkan aku kehilangan kesempatan untuk merasakan malam yang syahdu di atas singgasana pembaringan favoritku.
Aku bahkan seperti orang yang ketakutan. Takut terhadap ucapannya di hotel, yang diungkapkan dengan sorot mata tajam, seperti seekor harimau yang kelaparan.
Aku bisa merasakan bahwa matanya menginginkanku menjadi miliknya. Oh, Tuhan, ini benar-benar gila. Aku telah salah mengartikan ekspresinya saat pertemuan keluarga kemarin. Aku sempat berpikir bahwa kemarin ia memperhatikanku untuk mencari alasan yang tepat agar bisa menolakku di hadapan ibunya.
Kenyataannya, laki-laki itu tertarik. Dia menginginkanku. Iblis cabul itu ingin memilikiku. Namun, tentu bukan sebagai ratunya, melainkan lebih sebagai 'mainan'nya. Tatapan bak harimau lapar itu menyiratkan semua. Seharusnya aku menyadari itu lebih awal.
Entah apa yang akan ia lakukan sekarang, aku masih menunggu. Semalam ia menyebutkan bahwa besok, yang artinya adalah hari ini, aku akan mengetahui kemauannya. Oh, Tuhan..... Andaikan ini hanya mimpi buruk.
"Hah..." Aku membuka mata dan menghembuskan napas dengan kasar.
Dengan perasaan cemas tak menentu, ku sudahi meditasi yang sebenarnya tidak terlalu membantu ini. Keheningan dan kegelapan saat menutup mata, yang awalnya ku pikir akan membuatku melupakannya, justru membawaku semakin terperosok di dalam bayangan kelam laki-laki itu.
Baru saja aku berdiri dan hendak mengambil handuk untuk menyeka peluh yang membasahi sekujur tubuhku, tiba-tiba suara seseorang yang begitu familiar memenuhi gendang telinga. Suara dari perempuan yang menghadirkanku ke dunia.
"B! Sayang, bersiaplah! Jam satu siang ini, kita harus ke perusahaan Daddy." Aku melihat Mommy-ku berjalan mendekat ke arahku sambil menampilkan ekspresi bahagia.
Namun, bukannya merasakan hal yang sama, aku justru merasa jantungku berpacu lebih cepat seolah mengisyaratkan bahwa ada hal buruk yang tengah menanti. Ada apa lagi ini?
"Ke perusahaan... U-untuk apa?" Aku sampai kesulitan berbicara karena rasanya tenggorokan ini tercekat.
"Coba tebak?" Mommy memainkan dua alisnya sambil terus mempertahankan senyum, seolah ingin menggodaku.
"Seriously, Mom? Jangan berlaga seperti anak remaja yang menggoda temannya." Aku menggelengkan kepalaku saat melihat ekspresi Mommy yang terkesan off-side dengan umurnya.
"Aditya setuju. Dia menerima perjodohan kalian. Siang ini, ia bahkan telah menyetujui merger PT Narayan Adi Kencana miliknya dengan salah satu perusahaan Daddy, sebagai simbol bersatunya dua keluarga." Aku melihat Mommy bercerita dengan begitu semangat. Senyum ceria tertera jelas di wajahnya.
"B! Tidakkah menurutmu ini kabar yang bagus? Dengan bersatunya dua keluarga ini, maka Mommy yakin perusahaan Daddy akan semakin jaya." Mommy memelukku dengan erat. Aku bisa merasakan dari balik tengkukku, pasti senyumnya bertambah lebar sekarang. Sementara aku...
Apakah aku punya pilihan lain sekarang? Tentu jawabnya adalah tidak. Aku adalah manusia kurang beruntung yang sedang berada di bawah ancaman iblis cabul itu. Kartu matiku ada padanya.
Coba tebak apa yang akan terjadi setelah itu? Aku yakin Daddy akan melarangku menari seumur hidup dan itu berarti bahwa aku tidak akan melihat wajah Indra lagi. Sungguh, aku tidak tahu, bagaimana aku akan hidup tanpa melihat wajah dari laki-laki yang aku cintai??
Aku mungkin bisa menolerir bahwa kami tidak mungkin bersama. Setidaknya sesekali aku masih bisa berdansa dan memandang matanya. Itu sudah lebih dari cukup. Tapi, jika kesempatan itu pun terenggut, maka sungguh mungkin bukan hanya tenggorokanku yang tercekat seperti sekarang ini, mungkin aku bahkan akan lupa bagaimana caranya untuk bernapas.
"Dan bukan hanya itu, sayang. Jangankan tujuh, bahkan sampai empat belas generasi, keturunan kita tidak akan pernah susah meski mereka tidak bekerja," imbuh Mommy dengan mata berbinar.
Entah mengapa aku merasa sedih mendengar alasan Mommy menjodohkanku dengan laki-laki itu. Semuanya hanya karena keserakahan atau tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki saat ini.
Kami kaya, sangat kaya bahkan. Sayangnya, menjadi sangat kaya ternyata tidaklah cukup bagi sebagian orang, termasuk orang tuaku.
"B!" Mommy melepaskan pelukannya.
"Kenapa diam sayang?" Mommy menatapku curiga.
"Kau bahagia kan?" Aku melihat Mommy mengerutkan keningnya, yang memang sudah sedikit mengeriput. Aku tahu bahwa dia bisa merasakan bahwa ada yang tidak beres dengan perasaan putrinya.
"B!" Panggilnya lagi.
Sejujurnya aku ingin mengatakan bahwa aku tidak bahagia. Bagaimana aku bisa bahagia menikahi laki-laki pilihannya saat hatiku mencintai laki-laki lain? Bagaimana aku bisa bahagia saat aku menjadi pemuas nafsu serakah orang tuaku?
Namun, lagi-lagi hati kecilku berteriak... Apa aku tega menyakiti perempuan yang ada di hadapanku ini?
"Apa Mommy bahagia?" Aku menyunggingkan senyumku dengan mata berkaca-kaca. Aku tidak ingin menjawab pertanyaan perempuan itu. Sebab, jika aku menjawabnya, maka itu hanya akan menambah panjang daftar kebohonganku.
"B??" Mommy menatapku dengan khawatir. Tatapan itu adalah tatapan yang akan selalu muncul setiap kali ia mendapati diriku sedang sakit.
Pada saat itu, aku merasakan hati kecilku bertanya.... Kali ini dengan perasaan lirih... Apa aku tega menyakiti perempuan yang telah memberi kehidupan padaku?
Aku memeluk Mommy sekali lagi. Aku benar-benar merengkuhnya erat-erat.
"Jika Mommy bahagia, aku pun akan bahagia." Air mataku menetes tak terbendung. Aku akan menjadi malaikat kecilmu, Mom.....
--------------
Halo teman-teman pembaca yang tercinta... Senang sekali bisa kembali menulis setelah vakum berminggu-minggu lamanya.. Btw, saya sengaja rehat, selain karena sibuk pindah hidup meninggalkan ibu kota, saya memutuskan untuk istirahat supaya bisa mengembalikan semangat menulis yang mengendor kemarin-kemarin akibat banyak pikiran...
Terima kasih karena begitu setia menunggu tanpa complain yang berlebihan. Saya bersyukur karena teman-teman pembaca saya begitu loyal dan pengertian, karena itu... saya akan mengusahakan setelah ini akan UP setiap hari untuk kalian... Please, keep supporting me!
Love you all