The Untold Story

The Untold Story
Jadilah Padaku!



--B's PoV--


*Jakarta: 2003*


"Eeerrrggghhh......" Tubuhku menggeliat.


Rasanya begitu malas untuk beranjak dari pembaringan ini. Tetapi, baru saja aku ingin melanjutkan mimpiku yang sempat terjeda tadi, aku pun menyadari sesuatu.


"Aditya...." Nama itu tiba-tiba muncul di dalam benakku dan membuyarkan rasa kantuk yang tadinya begitu mendominasi. Aku segera mendudukkan diri dan memeriksa keadaan dengan terburu-buru.


"Masih lengkap! Syukurlah!" Aku bergumam dengan suara yang hampir-hampir saja tidak terdengar. Sejujurnya, ada perasaan panik yang seketika menggerogoti hatiku dengan begitu luar biasa, saat bangun di pagi ini.


Setelah kecupan lancang semalam, setelah mendengar bahwa ia memanggilku dengan nama 'Bintang', aku tiba-tiba kehilangan kesadaran. Ya, aku tertidur seperti orang yang tak tahu diri.


Bodoh! Betapa bodohnya aku!


Aku tidak menyangka bahwa tindakan untuk berpura-pura tidur justru akan membawaku pada keterlelapan yang sesungguhnya. Sesuatu yang tidak terprediksi olehku, sesuatu yang bersumber dari luar tubuhku tiba-tiba mengendalikan semua.


Aroma maskulin yang menyegarkan itu.... Aku benar-benar dibuat mabuk kepayang karenanya.


Tetapi... Bagaimana bisa aku terlelap ketika iblis cabul itu masih terjaga? Ditambah lagi, waktu itu ia baru saja mengecup keningku tanpa permisi.


Untung saja nasib baik masih berpihak! Aku masih utuh! Aku sungguh berharap bahwa aku benar-benar masih utuh! Benar kan aku masih utuh?


"Aaaarggghhg!!" Aku semperempat berteriak sambil mengacak rambutku yang tergerai bebas.


"Tapi... Tunggu! Bintang?" Lagi-lagi sebutan itu menelusup di dalam otak dan mengusikku secara tiba-tiba.


"Semalam dia menyebutku apa? Bintang?" Pikiranku berkelana kembali.


"Apa maksudnya memanggilku seperti itu?" Pertanyaan berikutnya ikut terlontar di dalam hati.


Oh, ayolah! Jangan sok berperilaku romantis, Aditya!


Jangan katakan bahwa dia memanggilku Bintang, karena aku mampu memberikan cahaya di dalam hidupnya yang kelam! Atau... Mungkin saja karena aku begitu jauh dan tak tersentuh olehnya! Sungguh, sebuah kekonyolan jika laki-laki sejenis Aditya bisa berpikir seperti itu.


"Tapi... Liontin yang menghiasi kalung ini? Liontin ini berbentuk... Bintang?" Aku menyentuh kalung berbandul bintang yang masih melingkar sempurna di leherku yang mulus.


"Jangan bilang bahwa semua ini menyimpan makna! Apa ini sebenarnya adalah simbol dari sesuatu?" Aku masih menerka-nerka.


Ah, sudah! Lupakan saja! Persetan dengan semua simbol, sebutan atau apapun namanya, sebab bukan itu poin yang utama.


Ya, poin utama yang akan menjadi benang merah dari keanehan sikap Aditya akhir-akhir ini. Poin utama yang akan menjadi sebuah garis lurus yang bisa ditarik untuk mengurai segala kerumitan yang ada.


Dan itu adalah...... Kebenaran tentang perasaan Aditya padaku. Kesaksian Mama Rita semakin memperkuat kesimpulan itu.


Aditya Wardhana.... Dia memang tertarik padaku!


Sebuah ketertarikan yang tentu saja bisa melahirkan banyak hal, termasuk obsesi yang mematikan. Obsesi untuk mendapatkanku dan menghancurkan siapa saja yang berusaha memiliki apa yang ia dambakan.


Jika tebakanku benar, maka pencarian Indra adalah jalan satu-satunya, sebab hanya Indra yang menjadi ancamannya saat ini. Aditya mungkin sudah merencanakan sesuatu bagi Indra. Sesuatu yang buruk tentunya.


Tapi... Sumpah demi isi alam semesta, aku tidak akan membiarkan laki-laki itu atau siapapun di bawah kolong langit ini merenggut Indra dari sisiku lagi. Aku bersumpah itu tidak akan pernah terjadi!


Jika seorang Aditya merasa bisa mempertahankan miliknya, maka begitu pula dengan seorang Bellatrix. Kali ini, ku pastikan bahwa aku bisa menjadi apa saja dan siapa saja untuk melindungi yang aku cintai. Bahkan jika itu berarti bahwa aku harus mengalah dan mengikuti permainannya untuk sementara waktu.


Ya, bukankah mengalah bukan berarti kalah? Sepertinya, itu adalah sebuah opsi yang paling menjanjikan. Mungkin aku harus mundur beberapa langkah untuk kemudian melesat kencang seperti anak panah.


Mungkin aku harus membiarkan Aditya menemukan Indra. Setidaknya rencana itu sudah berhasil ku ketahui, sehingga aku bisa menyusun strategi untuk mengelabuhi Aditya pada saat pertemuan kami.


Aku harus sabar dan tidak boleh gegabah. Jangan sampai Aditya curiga bahwa aku bisa membaca arah pikiran kotornya.


Jangan sampai ia merasa perlu mengganti rencana, yang tentunya akan semakin sulit untuk ditebak nanti. Aku harus membuat laki-laki itu yakin bahwa aku percaya padanya hingga ketika aku menyabotase semua, ia tidak akan mampu berbuat apa-apa.


Kenapa? Licik? Mungkin aku harus menyematkan kata itu suatu saat nanti di tengah namaku, saat Aditya dan aku benar-benar berpisah.


"Kau sudah bangun rupanya? Selamat pagi..... B!" Aku tersentak saat melihat Aditya baru saja keluar dari ruang ganti yang terletak di samping kamar mandi di dalam 'kamar kami'. Laki-laki itu tersenyum melihatku.


"Teruskan saja sandiwaramu, Aditya! Aku penasaran, kira-kira siapa yang akan memperoleh penghargaan aktor terbaik tahun ini?" Gumamku di dalam hati.


Aditya memang layak disebut aktor. Wajahnya sempurna, penampilannya memikat, apalagi jika ia berada dalam mode formal seperti sekarang.


Laki-laki itu memang sangat tampan. Apalagi dengan setelan jas berwarna abu-abu yang ia pilih dan kenakan sendiri. Aura Aditya menajam berkali-kali lipat.


Oya, jangan bertanya kenapa ia memilih pakaiannya sendiri! Atau... Jangan berharap bahwa aku akan menyiapkan keperluannya seperti seorang istri idaman yang ada dalam cerita roman picisan!


No way! Menurutku, itu sangat tidak logis. Apalagi jika itu terjadi dalam konteks perjodohan seperti yang aku alami.


Aku tidak berhutang apapun padanya. Perusahaan orang tuaku juga sedang tidak dalam fase kritis. Jadi... Tidak ada alasanku untuk merendahkan diri dan melayani keperluan laki-laki itu. Logis kan?


Saat ini, aku masih menatap sosok Aditya lewat pantulan cermin meja riasku. Laki-laki itu sedang menyentuh dagu dan pipinya. Pasti Ia baru saja merapikan bulu-bulu di sekitar dagu dan pipi itu, sehingga sekarang ia menelitinya lagi, kalau-kalau masih ada yang tertinggal.


Aditya.... Aku masih setia menatap wajahnya. Entah mengapa pagi ini, ia justru terlihat lebih muda setelah mencukur sebagian janggutnya. Laki-laki itu memang memiliki wajah yang enak ditatap, meski ada sedikit pemandangan yang menggangguku kali ini.


"Maaf, kemarin aku memindahkanmu dari ruang perpustakaan ke kamar ini. Aku tidak ingin mama salah paham dan merasa ada yang tidak beres di antara kita, jika aku membiarkanmu tertidur di perpustakaan." Aditya membalas tatapanku lewat pantulan cermin yang sama.


"Oya? Kau mengakuinya? Untuk tindakan yang itu kau meminta maaf. Lalu bagaimana dengan kecupan dan panggilan aneh itu? Apa kau tidak mau mengakuinya dan meminta maaf juga?" Aku merasakan emosiku meledak-ledak di dalam dada.


"Ehm... Semalam, kau t-tidur.... Ehm.. Kau......" Bodoh! Gara-gara emosi yang tertahan, sekarang aku berbicara dengan suara yang tercekat. Sulit sekali bersandiwara.


Aditya membalikkan badannya. Laki-laki itu kemudian berjalan mendekati ranjang dan membungkukkan badan. Sepertinya ia sedang mengambil sesuatu.


"Aku tidur di bawah. Tenanglah!" Dia tersenyum lembut seolah menenangkanku, sambil menunjukkan bantal dan selimut yang tadinya tercecer di bawah kaki ranjang.


Ah, Benar! Ini alasannya. Mungkin ia tidak bisa tidur semalaman hingga kantung matanya menggelap. Pasti sangat tidak nyaman bagi tuan muda seperti Aditya untuk tidur dalam posisi semacam itu.


Tidak lama kemudian, mata kami bertatapan secara langsung. Itu terjadi selama beberapa detik.


Aku yang lebih dulu sadar, kemudian segera mengalihkan pandangan, meski tidak sepenuhnya. Aku masih bisa menangkap ekspresi Aditya yang sendu saat ia mengetahui bahwa aku buru-buru memalingkan wajah dari sudut mataku.


Natural! Ekspresinya sangat natural! Benar-benar layak menjadi Aktor!


"Aku pergi dulu. Tidurlah lagi!" Aditya menaruh selimut dan bantal itu di atas tempat tidur. Laki-laki itu kemudian mengambil tas kantornya dan pergi menuju pintu keluar.


"Sampai jumpa nanti, B!" Aditya kembali tersenyum sebelum sosoknya menghilang dibalik pintu kamar yang ia tutup sendiri.


 ---------------


"Yat.....Nanti letakkan lilinnya di atas meja ya, Yat!" Mama Rita sedang berbicara dengan salah satu asisten rumah tangga kepercayaannya di balkon kamarku.


Setelah menemani Mama Rita berbelanja bahan makanan di supermarket dan membeli beberapa gaun tadi siang, akhirnya aku bisa mengistirahatkan kakiku di kamar.


Ah, tidak ada tempat di dunia ini senyaman sebuah kamar tidur. Tapi... Itu hanya berlaku jika tidak ada ibu mertua di dalam kamarmu.


Aditya ternyata berulang tahun hari ini. Sementara, aku tidak tahu apa-apa. Aku bahkan tidak sanggup menatap wajah Mama Rita, saat perempuan paruh baya itu terheran-heran, karena aku tidak mengetahui bahwa hari ini adalah hari kelahiran putranya.


Memalukaaannn!!!! Aku bisa membayangkan bagaimana wajahku yang tentu terlihat bodoh, saat ia menanyakan kejutan apa yang ku siapkan bagi putra bungsunya tadi.


Tolong, jangan bertanya apa yang terjadi setelah itu! Sebab dalam sekejap, dunia berada di dalam kendali ibu mertuaku, seorang perempuan yang tak pernah lupa menyanggul rambutnya.


Seakan mendengar alarm peringatan bahwa hubunganku dengan Aditya jauh dari kata mesra, Mama Rita kemudian berinisiatif menyiapkan sebuah pesta kecil bagi putranya. Pesta yang hanya akan dihadiri oleh diriku dan orang yang berulang tahun. Dalilnya adalah bahwa kami benar-benar membutuhkan quality time supaya bisa lebih saling mengenal.


Mama Rita kemudian mengatur menu, menyuruh asistennya memasak, dan bahkan menyulap balkon menjadi ruang makan malam kami. Perempuan paruh baya itu benar-benar sangat berinisiatif dan sangat gesit.


"Bella!" Mama Rita berjalan masuk ke dalam kamar sambil memanggil namaku, setelah selesai mendekor balkon.


"Masih sakit kakinya?" Mama Rita menatap kakiku.


"Sudah sedikit lebih baik, Ma!" Aku menjawab jujur sambil memijat jari-jari kakiku yang tadi sempat mengalami kram saat berbelanja di Supermatket.


Meski menyakitkan, namun aku bersyukur, aku mengalami kram itu. Jika tidak, mama Rita mungkin akan membawaku berkeliling dari satu toko ke toko yang lain tanpa henti.


"Baguslah! Sana cepat mandi dan bersiap sebelum suamimu datang," pinta Mama Rita kepadaku sebelum ku balas dengan anggukan kepala.


Aku segera melangkah menuju kamar mandi tanpa banyak bicara. Kebetulan, aku memang sudah berencana untuk mandi lebih awal karena merasa gerah setelah pergi bebelanja. Mandi lebih awal juga bagus untuk menghindari percakapan dengan ibu mertua yang sangat ingin mengetahui perihal rumah tangga putranya.


"Oya, Bella! Pakai gaun yang tadi mama pilihkan ya. Dan satu lagi, kamu harus mengaku bahwa kamulah yang menyiapkan semua ini." Mataku terbelalak. Apa aku tidak salah dengar? Aku berbalik dan hampir melangkah kembali untuk mendekati posisi berdiri Mama Rita.


"T-tapi Ma...." Aku keberatan Ma. Aku keberatan! Andai mengucapkan kalimat itu sangatlah mudah.


"Tidak ada tapi-tapian. Pokoknya Mama sudah memasang CCTV. Jadi meski tidak di tempat, mama terus memantau kalian, Bella!" Sekarang aku tahu dari mana sikap menyebalkan Aditya.


"M-ma..." Belum selesai aku berbicara, Mama Rita sudah memotong ucapanku.


"Quality time, Bella!" Mama Rita memasang wajah penuh rayuan.


"T-tapi gaunnya... Terlalu s*ksi, Ma! Aku...." Aku mencoba bernegosiasi, namun gagal karena disela kembali.


"Kenapa? Aditya, dia itu suamimu. Jangankan berpakaian s*ksi di hadapannya, tanpa berpakaian pun, sah-sah saja jika dia melihatmu. Jangan-jangan kalian bahkan belum malam pertama?" Mama Rita menatapku curiga.


"B-bukan.... A-aku hanya takut ada pelayan laki-laki..." Belum selesai berbicara, Mama Rita menyerobot lagi. Sepertinya mendominasi percakapan adalah keahlian ibu mertuaku.


"Sudah, tenang saja. Mama sudah mengatur semua. Sekarang, cepat mandi dan jangan membantah! Mama sendiri yang akan mendandanimu." Aku melihat Mama Rita mengibaskan lengannya untuk menyuruhku mandi.


"Ma... Aku sungguh tidak bisa... Pesta ini... A-aku bukan orang yang roman......" Coba tebak, kenapa kalimatku tidak selesai lagi?


"Pokoknya kamu menurut saja, Bella! Percayalah pada ide Mama. Mama hanya mau yang terbaik bagi kalian berdua." Mata Mama Rita mulai berkaca-kaca.


Sial!! Aku paling lemah jika harus berurusan dengan air mata orang tua. Aku seketika kehilangan kata-kata. Jadilah padaku menurut keinginanmu, Mama!


"Aaaarrgghhhh!!!" Teriakku tertahan di dalam batin.


 ----------------


Selamat Membaca!