
--B's PoV--
*Sternenlicht, Danau Jenewa: 2003*
"B......." Mataku terbuka saat mendengar sebuah suara memanggilku. Suara yang begitu halus nan lembut.
"Sayang... Apakah kau sudah tidur? Apa aku membangunkanmu?" Suara itu menggema kembali di telinga. Pada saat yang sama, aku melihat seseorang sedang berjalan mendekat ke arahku.
Mimpi......
Apakah pertengkaran kami hanya mimpi? Ataukah saat ini aku sedang bermimpi?
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Sesekali aku bahkan mengusapnya untuk memastikan semua.
Tidak! Ini benar-benar nyata. Ada sosok Aditya di hadapanku.
Mataku kemudian beralih. Keduanya kini menatap ke seluruh bagian tubuhku. Perasaan gelisah dan berjuta keraguan yang sempat menguasai kini berganti.
Tanpa memerlukan waktu yang panjang, selayang perasaan lega kembali melingkupi hatiku. Perasaan itu muncul ketika aku menyadari bahwa aku tertidur dalam keadaan mengenakan gaun yang sama sejak tadi, lengkap dengan sepatu yang masih melekat pada telapak kakiku. Aku mungkin terlalu lelah hingga saat kesadaran itu terenggut, aku tidak mengingat kapan persisnya hal itu bermula dan menjadi sulit membedakan realita ketika terjaga.
"Kita... Dimana kita saat ini?" Aku bertanya kepada Aditya sambil memperhatikan ekspresinya demi memastikan sekali lagi.
Aku berharap menemukan ekspresi terakhir yang terbersit di dalam ingatanku atau entah dalam mimpiku. Namun, Aditya begitu tenang dan terlihat biasa-biasa saja. Pada akhirnya, aku bisa menghela napas penuh kelegaan karenanya. Semua peristiwa itu rupanya hanyalah bunga dari tidurku.
"Kita sudah berada di perairan Jenewa. Tidurlah kembali! Bukankah kau ingin menginap di yacht malam ini?" Aditya mengambil sepatu dari kakiku dan meletakkannya pada lantai kabin.
Benar-benar tidak ada keributan seperti apa yang terpampang di bawah alam sadarku. Sikap Aditya masih sama, begitu pula dengan caranya menatapku.
"Baiklah." Aku merespons sembari menatapnya tak putus.
Aku segera membuang kecemasan yang tadi menyelinap dan menggantinya dengan perasaan bahagia. Aku membayangkan kami akan berbagi ranjang yang sama setelah ini. Tidak sabar rasanya berada dalam dekapan laki-laki itu apalagi setelah mimpi buruk yang baru saja ku alami.
Aku memang mengharapkan bahwa ia akan berbaring di sampingku. Namun, saat harapan itu tergantung baru setinggi langit-langit kabin yacht ini, Aditya justru berniat melanjutkan langkahnya dan menjauh dari tempat dimana aku berada.
"Mau kemana?" Aku menyentuh lengannya. Aku benar-benar tidak ingin Aditya meninggalkanku dan membuat semua seolah terlihat sama seperti apa yang terdeskripsikan di dalam mimpi.
"Aku akan berbaring di sampingmu..." Aditya tersenyum lembut.
"Namun, terlebih dulu aku ingin memperdengarkan kepadamu sebuah lagu," ucapnya lagi sambil mengambil tanganku yang melingkar pada pergelangan tangannya. Ia mengecup halus punggung telapakku sambil memejamkan mata sesaat sebelum melepasnya.
Setelah itu, Aditya berjalan menuju ke tempat dimana sebuah piringan hitam dan alat pemutarnya diletakkan, yakni pada perpotongan dinding kabin. Dengan hati-hati ia memasang piringan hitam itu dan tidak berapa lama musik mengalun lembut melaluinya.
🎵🎶🎵🎶
Qui dove il mare luccica,
(Di sini, dimana laut selalu bersinar)
E tira forte il vento
(Dan angin berhembus dengan begitu kencang)
Sepenggal lirik lagu terdengar mengalun menggetarkan jiwa. Seorang penyanyi perempuan membawakannya dengan penuh perasaan hingga pada setiap pemenggalan kata yang ia pilih, satu demi satu, deru dan desah napasnya terdengar menyayat sukma.
🎵🎶🎵🎶
Su una vecchia terrazza
(Pada sebuah teras tua)
Davanti al golfo di Surriento
(Di depan teluk Surriento)
Pada saat yang sama, laki-laki itu kembali melangkah mendekatiku. Dengan perlahan, ia membawa tubuhnya ke atas pembaringan, dimana aku meletakkan tubuhku. Tanpa ragu, ia kemudian merengkuh dan membawa diriku begitu lekat dengan dirinya. Posisiku saat ini adalah membelakangi tubuhnya.
Dalam sekejap, hatiku merasakan kenyamanan. Aku tidak mampu membayangkan, bagaimana jika mimpi itu adalah sebuah kenyataan. Bagaimana aku menjalani sisa hariku? Bagaimana aku menutup malamku dengan menelan kemarahannya?
🎵🎶🎵🎶
Un uomo abbraccia una ragazza,
(Seorang pria mendekap seorang gadis)
Dopo che aveva pianto
(Setelah gadis itu menangis)
Poi si schiarisce la voce,
(Kemudian ia berdehem)
E ricomincia il canto.
(Dan mulai bernyayi kembali)
"Lagu ini berjudul Caruso. Mulanya lagu ini diciptakan dan dibawakan oleh seorang penyanyi Italia bernama Lucio Dalla sebagai sebuah tribute kepada seniornya Enrico Caruso." Aditya mulai bercerita sembari terus mendekapku.
"Lagu ini menceritakan tentang kehidupan Caruso yang tidak bahagia dan bagaimana ia menghadapi nasib yang tak berpihak kepadanya." Dengan tempo yang lambat serta intonasi yang dinamis, ia berusaha menguraikan satu per satu makna di balik lagu ini.
Aku sempat bertanya-tanya di dalam hati, mengapa tiba-tiba? Mengapa ia perlu menjelaskan padaku mengenai lagu yang dipilihnya?
Namun, aku tidak ingin menginterupsi. Aku membiarkan ia menyelesaikan ceritanya.
🎵🎶🎵🎶
Te voglio bene assaje,
(Aku sangat mencintaimu)
Ma tanto tanto bene sai
(Sangat-sangat mencintaimu, kau tahu)
è una catena ormai,
(Sekarang, ini bagaikan belenggu)
Che scioglie il sangue dint’ ‘e ‘vvene sai.
(bagaikan lelehan darah yang menyatu di dalam pembuluh darah, kau tahu)
"Selayaknya seorang penyanyi yang populer, Caruso telah berjumpa dengan banyak wanita. Mereka hadir silih berganti dalam hidupnya. Namun, tidak sekalipun ia merasakan cinta, hingga seorang gadis muda muncul sebagai muridnya. Ia mengajari gadis itu bernyanyi." Aditya menghela napas sejenak dan kemudian melanjutkan kembali perkataannya.
"Sungguh aneh, gadis yang terpaut dua puluh tahun lebih muda darinya ternyata meninggalkan sebuah rasa yang berbeda." Aditya mengecup puncak kepalaku.
🎵🎶🎵🎶
(Dia melihat kepada cahaya di tengah laut)
Pensò alle notti là in America
(Dia memikirkan juga malam-malamnya di America)
Ma erano solo le lampare
(Tapi itu hanyalah cahaya lampu dari jala)
Nella bianca scia di un’elica
(Di balik baling-baling putih)
"Namun... Entah apakah waktu yang tidak berpihak kepada mereka, ataukah jalan cinta yang tidak menunjang kisahnya, Caruso.... Ia sekarat." Aditya menjeda sejenak ucapannya. Seketika atmosfer di dalam kabin berubah kelabu karena konflik cerita yang disampaikan oleh Aditya.
🎵🎶🎵🎶
Sentì il dolore nella musica,
(Dia merasakan sakit di dalam musik)
Si alzò dal pianoforte
(Dia pun bangun dari pianonya)
Ma quando vide la luna uscire da una nuvola
(Tetapi ketika ia melihat bulan muncul dari balik awan)
Gli sembrò più dolce anche la morte
(Bahkan kematian terlihat lebih manis baginya)
"Maut sebentar lagi menjemput dan ia hanya bisa hidup di dalam angan terhadap cintanya kepada gadis itu, demi merasakan sebuah kematian yang manis." Aku membalikkan tubuhku menghadap Aditya. Sungguh menyesakkan alur kisah cinta sang maestro opera.
🎵🎶🎵🎶
Guardò negli occhi la ragazza,
(Dia melihat kepada mata gadis itu)
Quelli occhi verdi come il mare
(Matanya sehijau warna lautan)
Poi all’improvviso uscì una lacrima,
(Dan tiba-tiba sebulir air mata terjatuh)
E lui credette di affogare
(Dan ia berpikir bahwa ia tenggelam)
"Pada malam-malam sunyi di antara hidup dan mati itu, bayangan akan rupa gadisnya selalu muncul dan mendampingi. Bayangan tentang wajah gadis itu, bersamaan dengan banyaknya malam yang telah mereka lalui bersama. Bayangan yang meninggalkan perasaan bahagia bertabur rindu di tengah rasa sakit yang begitu mendominasi. Bayangan yang sempat membuat sang maestro meneteskan air mata tanpa pernah mampu mendefinisikan makna ratapannya." Aditya menatapku dalam-dalam.
🎵🎶🎵🎶
Te voglio bene assaje,
(Aku sangat mencintaimu)
Ma tanto tanto bene sai
(Sangat-sangat mencintaimu, kau tahu)
è una catena ormai,
(Sekarang, ini bagaikan belenggu)
Che scioglie il sangue dint’ ‘e ‘vvene sai.
(bagaikan lelehan darah yang menyatu di dalam pembuluh darah, kau tahu)
"Te voglio bene assaje, ma tanto tanto bene sai. I love you so much, very-very much, you know!" Aditya menyambutku dengan sebuah ciuman pada bibirku setelah mengucapkan kata-kata itu.
"Seandainya Caruso memiliki waktu yang lebih panjang untuk mengucapkan kalimat itu kepada sang gadis.. Namun, takdir tetap membuatnya mati dalam kesedihan yang berusaha ia tepis sendirian pada sisa-sisa hidupnya...." Kedua mataku seketika berkaca-kaca. Kantung mata yang semula menaunginya tak sanggup lagi membendung kesedihan ini. Sudut mataku kemudian lengah dan memberi celah, hingga terpaksa meloloskan bulir demi bulir air mata.
"Kenapa kau menceritakan kisah ini padaku?" Aku berbicara dengan isak tangis yang terdengar begitu lirih.
Banyak pikiran berkecamuk di dalam benakku. Aku sungguh membutuhkan jawabannya.
"Aku hanya ingin memberi tahu bahwa tidak semua kisah cinta berakhir dengan indah seperti yang ada di dalam angan kita." Sorot mata Aditya menyiratkan kesedihan. Apa ia sedang berbicara untuk dirinya sendiri?
"Tapi... Seandainya saja ada sedikit kesempatan untuk membuat orang yang kita cintai mengetahui bagaimana perasaan kita, apakah itu dengan perkataan maupun sebuah tindakan atas nama cinta, maka kita harus menyampaikannya," jawab Aditya sambil menatapku dalam-dalam.
Aku semakin meneteskan air mata. Kini aku mengerti.... Itu sebabnya Aditya mengantarku hingga sejauh ini. Ia ingin memberikan kesempatan kepadaku untuk memberi tahu laki-laki yang ku cintai, seperti apa dan bagaimana aku mencintainya. Dan pada saat yang sama, ia pun sedang memberi tahu kepadaku, seperti apa dan bagaimana ia mencintaiku.
🎵🎶🎵🎶
Te voglio bene assaje,
(Aku sangat mencintaimu)
Ma tanto tanto bene sai
(Sangat-sangat mencintaimu, kau tahu)
è una catena ormai,
(Sekarang, ini bagaikan belenggu)
Che scioglie il sangue dint’ ‘e ‘vvene sai.
(bagaikan lelehan darah yang menyatu di dalam pembuluh darah, kau tahu)
 -------------------
Selamat membaca!
Caruso, lagu ini bisa teman-teman pembaca dengarkan via youtube. Saya merekomendasikan versi Lara Fabian, yang dirilis pada tahun 2003, supaya lebih easy listening. Enjoy!