
--B's PoV--
*2003: Ruang Rias JW Marriott Hotel, Jakarta*
"Jadi.... Bagaimana dengan makan malam kita? Apakah kau ingin menundanya atau tetap melanjutkannya?" Indra bertanya kembali untuk memastikan ulang rencana kami.
Baru saja aku akan membuka mulutku untuk membalas, tiba-tiba aku mendengar sebuah suara yang tidak asing menyela percakapan kami. Suara yang sebenarnya tidak ingin ku dengar saat ini.
"Bellatrix Atmaja? Gadisku yang 'nakal'. Sungguh sebuah kejutan yang menyenangkan." Aku melihat iblis cabul itu berdiri di belakang Indra dan berjalan semakin mendekat ke arahku.
Laki-laki itu menyeringai sambil menatapku tajam seolah ia telah memiliki kartu matiku. Dan celakanya... Ia benar-benar memilikinya.
"K-kamu.... Apa yang kamu lakukan di sini?" Aku yang tidak menyukai kedatangannya itu pun langsung menaikkan nada bicaraku padanya.
Aku sungguh tidak paham. Bukankah ruangan tempatku berada tidak bisa diakses sembarang orang? Kenapa laki-laki ini bisa berada di hadapanku sekarang.
"Siapa laki-laki ini, B?" Suara yang lain terdengar. Aku melihat Indra menatap wajahku dan laki-laki 'cabul' itu dengan tajam. Dari sorot matanya, aku bisa menebak bahwa pasti ada ribuan pertanyaan yang membayangi pikirannya saat ini.
"Dia ini.... Dia ini sebenarnya...." Aku menahan ucapanku secara spontan saat mendengar laki-laki 'cabul' itu menyela.
"Prajadiwangsa Aditya Banyu Wardhana. Tapi anda bisa memanggilku dengan sebutan Aditya saja," ucap laki-laki itu sambil menatap Indra dengan tatapan yang meremehkan.
Aku sungguh membenci cara dia menatap siapapun. Aura yang sungguh mengerikan terpatri dengan jelas di balik sorot matanya itu.
"Wardhana..... Apa orang ini bagian dari Wardhana Grup yang di Surabaya?" Indra bergumam tak jelas. Meski begitu, aku masih bisa mendengar apa yang sedang digumamkannya.
"Kau tahu, rupanya. Ya, aku adalah putra pemilik Wardhana grup. Namun, aku lebih suka jika orang mengenalku sebagai CEO PT. Narayan Adi Kencana dibandingkan harus menyebut perusahaan yang tidak dibangun melalui keringatku sendiri, sekalipun itu perusahaan besar," jawabnya sambil tersenyum simpul, untuk merespons gumaman Indra yang ternyata juga terdengar olehnya.
Wow, Bravo! Isi ucapannya sangat merendah tetapi cara ia menuturkannya.... Sungguh, laki-laki yang sangat sombong! Dia seperti sedang merendahkan diri di atas gunung yang tinggi. Memalukan!
"Jadi begini.. Tuan.... Siapa nama anda?" Aditya menyambung percakapannya.
"Indra. Syailendra Lesmana," balas Indra sambil menatap Aditya lekat-lekat.
Sebenarnya aku bisa memahami, mungkin saat ini Indra sedang menduga-duga apa hubunganku dengan laki-laki 'cabul' ini. Sebab aku masih bisa melihat banyaknya kerutan di dahinya saat memandangku dan laki-laki itu secara bergantian sekarang.
"Jadi, Tuan Syailendra... Bisakah kau meninggalkan aku sebentar dengan Bellatrix? Ada sesuatu yang perlu kubicarakan... 'pribadi' dengannya. Ada bisnis yang belum selesai di antara kami." Aditya tersenyum menatapku. Andaikan aku bisa mencabik-cabik wajah itu.
Baru saja aku kembali ingin membuka mulut dan bermaksud mencegah Indra agar tidak pergi meninggalkan kami, tiba-tiba Indra sudah lebih dulu menyebutkan jawabannya. Kata-katanya waktu itu sungguh membuatku terpana.
"Aku akan meninggalkan Bellatrix hanya jika ia menginginkannya," tantang Indra sambil menatap wajah Aditya tanpa gentar.
Aku tahu Aditya sangat dominan. Dengan image sombong yang dibangunnya, ia nampak seperti Jaguar hitam yang siap memangsa siapa saja. Namun, Aura Indra yang teduh selalu saja bisa meluluhkan setiap orang bahkan orang-orang yang berhati sekeras karang.
Indra.... Sepertinya ia juga merasakan bahwa laki-laki yang muncul di hadapan kami ini bukanlah laki-laki yang baik, sehingga naluri untuk melindungiku menguar begitu saja.
Diam-diam aku menaikkan sudut bibirku. Tersenyum, dengan apa yang Indra lakukan untuk melindungiku. Sayangnya, senyum itu juga terbaca oleh si 'cabul' Aditya.
"Aku membawa pesan dari kedua orang tua kita, Bellatrix! Kau tentu tidak ingin pesan orang tua kita terdengar oleh orang lain selain anak-anaknya bukan?" Aditya belum menyerah. Laki-laki 'cabul' ini benar-benar membuatku naik darah.
Ia sengaja... Ia pasti sengaja membawa kata orang tua untuk mengancamku agar tidak menolaknya.
Aku sempat terdiam beberapa saat. Bagaimanapun aku membutuhkan waktu untuk berpikir.
"Hmm.. Indra! Sorry... Apa kau bisa meninggalkanku sebentar?" Aku yang tak berdaya terpaksa menuruti keinginan Aditya.
Tidak boleh. Ia tidak boleh mengetahui bahwa aku dan Aditya sebenarnya sedang dijodohkan.
"Kau yakin B?" Laki-laki yang selalu menarik perhatianku itu bertanya untuk memastikan kembali keputusanku sambil mengerutkan dahinya. Sementara aku, aku yang tak berdaya ini hanya membalasnya dengan menganggukkan kepala sembari menatap wajahnya yang selalu ku kagumi itu.
"Baiklah! Aku akan pergi." Indra mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Ia pun melangkah meninggalkan kami berdua dengan terpaksa.
"Kau tahu B? Aku masih berada di sekitar sini. Jika terjadi apa-apa, kau hanya perlu berteriak," sambung Indra sambil menghentikan langkahnya sebentar sebelum pintu ruang rias itu benar-benar ia tutup rapat-rapat.
"Terima kasih Indra. Oya, anda berdansa sangat bagus tadi," pekik Aditya seraya menyeringai saat melihat Indra sudah benar-benar menutup pintu dan meninggalkan kami.
Aku hanya bisa menatap kepergian Indra dengan pasrah. Sungguh! Kesialan demi kesialan seolah menghampiriku setelah bertemu dengan laki-laki 'cabul' ini.
Setelah memastikan bahwa pintu itu benar-benar tertutup, aku melihat Aditya memajukan langkahnya mendekatiku. Laki-laki itu masih menyunggingkan senyumnya yang misterius sambil menatap tubuhku dari atas sampai ke bawah.
Aku benar-benar membenci tatapannya. Laki-laki ini terlihat 'kelaparan'.
"Bellatrix, aku tidak percaya! Kau menutupi tubuh indahmu dengan gaun hitam sialan itu tadi pagi dan menjadi setengah telanjang di hadapan semua orang malam ini. Kau benar-benar... Gadis yang 'nakal'!" Aditya terus memajukan tubuhnya mendekatiku. Matanya... Ingin sekali ku congkel matanya karena terus memandangi setiap lekuk tubuhku ini!
"A-apa sebenarnya maumu bren*sek!" Aku memakinya. Aku tidak bisa menahan diriku lagi.
"Hahahahah......" Tawa menggelegar pecah dari bibir laki-laki itu.
"Kau!" Aku benar-benar emosi saat mendengar suara tawanya.
Ia tahu aku menderita saat berbagi udara yang sama dengannya sekarang. Tapi, dia justru terlihat menikmati penderitaanku.
"Ssshh... Kau tahu! Aku sempat berpikir tadi siang bahwa perempuan yang dijodohkan denganku kali ini adalah mantan Putri kecantikan yang anggun dan lemah lembut. Itu sebabnya aku masih menolak, bahkan saat diam-diam hatiku mengagumi kecantikan parasmu, Bellatrix!" Aditya melanjutkan langkahnya dan berjalan semakin mendekatiku. Secara spontan, aku yang merasa tidak nyaman juga terus memundurkan langkah satu demi satu, hingga akhirnya tubuhku menempel pada ujung meja rias yang ada di ruangan itu.
Sial! Aku terjebak dan tidak bisa menghindarinya sekarang.
"Aku keliru mengenalimu, B! Kau..... Liar!" Tangan Aditya mulai menyentuh pipiku dan aku menepisnya dengan cepat.
Aku tidak suka dengan posisi ini. Dia terlalu dekat denganku hingga aroma parfum mint yang menyegarkan dari tubuhnya itu justru membuatku mual.
"Singkirkan tanganmu, b*doh!" Aditya mengangkat sudut bibirnya lagi saat mendengar makianku.
"Kau tahu, sayang? Aku suka dengan perempuan yang liar! Aku sering berfantasi dengan perempuan-perempuan seperti itu, asal kau tahu." Cukup sudah! Laki-laki ini memang menjijikkan.
"Kau bahkan mengukir tubuhmu dengan begitu.... menggoda," imbuhnya memberi tanggapan terhadap tatooku, yang pasti terlihat juga olehnya, saat aku menari tadi.
Laki-laki itu bahkan kini telah menyentuhkan tangannya ke tempat dimana tatooku berada dan aku berusaha kembali menepisnya. Semua ini memang karena pakaian pilihan Franda, sial*n!
"Jangan sentuh aku, baj*ngan!" Umpatku lagi sambil memukul tangannya. Namun bukannya melepaskan, ia justru meremas pinggulku dengan kencang.
"Sshh," desisku karena cengkeramannya di area sekitar pinggulku yang terasa menyakitkan.
"Kau tahu sayang, ada dua hal yang membuat aku penasaran sekarang. Dan aku pasti akan mengetahuinya sebentar lagi." Aditya menyeringai. Ia terus mendekat dan menempelkan tubuhnya pada tubuhku.
"Pertama...." Ia menjeda sejenak ucapannya saat ia meletakkan bibirnya dekat sekali dengan telingaku.
"Aku penasaran Bellatrix Atmaja.. Bagian tubuh yang mana lagi, yang pernah kau ukir selain di tempat itu?" Aditya berbisik seduktif. Seketika bulu kudukku merinding karena ucapannya.
Kedua tanganku yang secara spontan ingin melindungi diri kemudian mendorongnya agar terdapat jarak di antara kami. Aku benar-benar berusaha melindungi diriku sendiri, meski nampaknya semua sia-sia karena ia bahkan tidak bergeser sedikitpun.
"Kedua..." Aku melihat ia hampir menempelkan wajahnya persis di depan wajahku. kedua tangannya bahkan tengah merengkuh pinggangku dengan sedikit kasar, dan saat itu jantungku berdebar kencang tanpa alasan. Posisi kami bahkan terlalu int*m untuk diceritakan.
"Aku penasaran..... Kira-kira apa reaksi orang tuamu saat mengetahui bahwa putri mereka..... Tidak semanis yang mereka kenal," sambungnya lagi dan membuatku membulatkan mata selebar-lebarnya.
"Kau!" Aku tiba-tiba menjadi lemas. Kartu mati!! Laki-laki ini pada akhirnya menyadari bahwa ia memiliki kartu matiku.
"Sssh.. Sshh.. Aku tahu kamu marah... Tapi mungkin kamu harus tahu bahwa semakin kamu marah, maka kamu akan semakin menarik bagiku." Aditya melepaskan pelukannya. Ia tiba-tiba mengambil jarak dan memberiku ruang untuk bernapas secara tiba-tiba.
"Apa maumu sial*n???" Aku memakinya kembali sembari menatap matanya tanpa takut. Aku tidak akan lemah dengan laki-laki ini.
"Apa mauku?" Aditya menyeringai kembali.
"Kau bertanya apa mauku?" Ia menyambung ucapannya dan kembali menghimpit tubuhku dengan tubuhnya.
Aku tahu bahwa tidak ada yang bisa ku lakukan untuk membuatnya bergeser dari tempatnya. Aku hanya mampu menyilangkan tangan di depan dada, berusaha melindungi dua asetku agar tidak bersentuhan dengan tubuhnya.
"Kau akan mengetahuinya besok.. Apa yang aku mau, kau akan mengetahuinya besok... Dan saat kau mengetahuinya nanti, pastikan bahwa kau tidak akan pernah menghalangi kemauanku itu, jika......." bisiknya tepat di telingaku lagi, sambil menjeda ucapannya.
"Kau memang masih menginginkan rahasia kecilmu ini tidak terbongkar..." Aku yang terkejut mendengar ancamannya itu pun spontan menggeser posisi kepalaku menghadap kepada wajahnya. Dan sialnya aku tidak tahu bahwa itu akan menjadi sebuah keuntungan untuknya.
Cup!!!
Dengan cepat laki-laki itu mencuri ciumanku. Ya, ia menempelkan bibirnya dengan bibirku.
Sempat menyesap bibirku, beberapa kali dengan rakus, sambil memegang tengkukku hingga aku tidak bisa bergerak untuk menghindar, ia terus menguasai bibir peraw*n yang tak pernah terjamah siapapun ini tanpa henti.
Aditya Wardhana...... Genderang perang sudah ditabuh di antara kita!! Kau hanya belum tahu saat ini kau sedang berhadapan dengan siapa.
Mungkin kali ini kau merasa menang dariku. Tapi sesungguhnya.... Ini hanya sebuah permulaan.
---------------
Selamat membaca!
Hai teman-teman, untuk visual Aditya sebenarnya sudah saya tampilkan pada novel "Di Titik Nadir", cerita pertama ya.. Pemerannya saya pilih Abimana Aryasatya. Sementara untuk Bellatrix saya memilih Renata Moeloek, seperti cover novel ini.
Nanti visualnya terakhir baru saya tampilkan setelah novel ini tamat. Kalau teman-teman kurang suka, teman-teman bisa menghalu sendiri ya.. Hehehe...