
--B's PoV--
*2003: Rooftop PT. Sinar Atmaja*
Dengan berani, aku mendekatkan tubuhku padanya. Sangat dekat, sehingga aku bisa merasakan deru napasnya. Aku tahu sebenarnya ia tidak menyangka bahwa aku bisa memosisikan diriku sedekat itu. Tapi, permainan di antara kita baru saja di mulai. Dan harus aku yang mengendalikan permainan ini.
"Ada rahasia kecil lain, yang perlu calon suamiku ketahui." Aku mendekatkan bibirku di telinganya untuk berbisik.
"Aku..." Suara desahanku terdengar sambil mengucapkan kata demi kata.
"Bukan...." Satu demi satu, ku uraikan kata-kataku supaya ia bisa mendengar dengan jelas.
"Seorang gadis...." Aku menarik wajahku dari telinganya dan langsung menatap matanya yang nampak terkejut, karena perkataan yang baru ku ucapkan tadi, sambil tersenyum penuh kemenangan.
Sudah ku tanamkan dalam hati bahwa sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau mengalah pada laki-laki ini. Aku tidak mungkin menyerah begitu saja dan membiarkan dirinya menguasaiku dengan sangat mudah. Mungkin ia berpikir bahwa aku adalah perempuan polos yang mudah diperdaya. Sayangnya, ia harus belajar bahwa kali ini, ia telah salah mengenali seorang Bellatrix Atmaja.
"Kenapa?" Aku tersenyum simpul sambil menatapnya dengan tatapan menantang.
"Apakah Tuan Wardhana merasa kecewa? Apakah seorang Bellatrix Atmaja ternyata 'melebihi' ekspektasi anda?" Aku terus menyunggingkan senyumku karena merasa sudah berhasil membuatnya mati kutu.
Tinggal selangkah lagi. Ya, aku hanya tinggal mendramatisir keadaan dan membuatnya semakin merasa jijik padaku. Mungkin dengan cara ini, ia akan membatalkan perjodohon gila ini.
Seorang laki-laki dari keluarga terpandang seperti Aditya, tentu tidak akan membiarkan dirinya mendapat sisa laki-laki lain. Sebejat apapun dirinya, seorang keturunan Wardhana seharusnya adalah manusia yang menjunjung tinggi ego dan harga diri. Apalagi Aditya adalah jenis laki-laki yang terbiasa mendapatkan segala sesuatu dengan kualitas terbaik, karena itu, dia tidak mungkin menerima seorang yang 'cacat' untuk dijadikan ratunya.
"Aku mengatakan ini supaya Tuan Wardhana tidak merasa tertipu dan menjadi seperti orang yang membeli kucing dalam karung. Bukankah sebelum menikah kita harus terbuka dengan kondisi kita?" Aku melihat laki-laki itu menatapku dengan tatapan terluka.
"Maaf, Tuan Wardhana. Tapi, aku harus mengakui dengan jujur kepada Tuan bahwa setiap laki-laki yang pernah berpacaran denganku pernah melakukan..... 'itu'." Aku menatap matanya yang kini terlihat kosong.
Yes, aku menduga saat ini dia pasti sedang berpikir ulang. Bahkan mungkin lebih ke arah menyesali keputusannya, yang dengan gegabah menyatukan dua perusahaan untuk mengikatku.
Awalnya aku terus menatap wajah Aditya yang nampak kecewa. Namun, lambat laun aku membalikkan tubuhku dan berdiri membelakangi laki-laki cabul yang tengah ling-lung itu.
Aku sebenarnya masih ingin melihat wajahnya yang nampak konyol karena shock. Namun apa daya, aku hampir tidak kuat menahan tawa, jika terus memandanginya.
Dia pasti sudah mengira bahwa Bellatrix Atmaja adalah seorang perempuan 'nakal'. Aku sendiri sebenarnya tidak percaya bahwa aku bisa mengutarakan ide gila ini dengan penuh percaya diri.
Tapi, sejujurnya aku memang tidak berbohong. Semua laki-laki yang pernah berpacaran denganku pernah melakukan 'itu'. Tapi.... Mereka tentu melakukannya dengan perempuan lain. Aku tidak akan menjadi segila itu, mau memberikan diri tanpa adanya sebuah ikatan di antara kami.
Iblis cabul itu benar-benar tak bergeming, tak bersuara. Aku mungkin sudah menghancurkan perasaannya sekarang. Aditya yang malang.
"Tuan Aditya, aku rasa tuan butuh waktu untuk sendiri. Aku permisi." Aku melangkahkan kaki ku tanpa ragu sambil menyunggingkan senyum. Dia pasti membenci dirinya sendiri karena telah salah mengambil langkah. Sementara aku? Tentu saja aku bangga dengan diriku hari ini.
Baru saja aku menggerakkan kaki beberapa langkah, tiba-tiba aku bisa merasakan seseorang menarik tanganku. Dengan cepat, ia bahkan sudah membalikkan badanku menghadap ke arahnya dan.....
Cup!
Aku merasakan iblis cabul itu sudah mencium bibirku untuk yang ke dua kalinya. Aku yang terkejut tentu saja meronta. Aku menggerakkan tubuhku untuk menolaknya. Namun, ia tetap memaksaku untuk menerima sentuhannya hingga.....
Dia menciumku dengan lembut. Oh, ini gila! Ciuman yang awalnya terkesan memaksa dan kasar tiba-tiba berubah dalam sekejap menjadi ciuman yang begitu lembut.
Dan seperti berada di bawah pengaruh hipnotis, kali ini aku merasakan bahwa aku.... menikmati ciumannya. Aku terbuai dan aku menyukai sensasi ini.
Aku memang tidak membalas ciuman laki-laki itu, sebab aku memang tidak tahu bagaimana caranya membalas. Entah bagaimana, aku benar-benar membiarkannya melakukan apa yang ia mau kali ini, tanpa banyak melawan lagi. Adegan itu terus berlangsung cukup lama, hingga ia menarik wajahnya dan memberiku ruang untuk bernapas.
"Hah.. Hah.. Hah.." Cepat-cepat aku meraup udara yang ada di sekelilingku karena sejujurnya aku sudah kehabisan napas. Mungkin ia menyadari bahwa aku tidak bernapas dengan baik, sehingga ia melepaskan pagutannya dari bibirku.
"Jadi, Nona Bellatrix bukanlah seorang polos seperti yang aku pikirkan?" Aku yang awalnya fokus mengambil napas, kini kembali menatap matanya.
Sungguh, kali ini aku mendapati diriku ketakutan melihat sorot matanya yang kembali menajam. Sorot mata yang sama seperti pertama kali kami bertemu. Sorot mata yang berbeda ketika diam-diam aku menatap matanya saat ia menciumku dengan lembut tadi.
Tidak ada lagi kehangatan. Tidak ada lagi tatapan mendamba. Bagaimana bisa sorot mata itu berubah begitu cepat?
"Nona Bellatrix tersayang. Aku mungkin akan kecewa karena aku bukanlah laki-laki pertama yang menjamah tubuh istriku. Tapi... Sejujurnya.... Aku tidak pernah keberatan sekalipun istriku bukan seorang gadis lagi." Aku mendengar ia berbicara sambil menyunggingkan senyum iblisnya.
"Namun, sayangnya aku terlalu ahli untuk membedakan seorang amatiran sepertimu dengan perempuan-perempuan berpengalaman yang biasa menemaniku." Laki-laki itu menjeda ucapannya.
"Hahaha.. Jadi, kau pikir aku sedang berupaya membohongimu?" Aku berucap dengan tenang. Semakin aku emosi, ia pasti bisa membaca bahwa aku memang sedang bersandiwara tadi.
"Sejujurnya... Iya." Laki-laki itu menampilkan ekspresi mengejek.
"Terimalah kenyataan Tuan Wardhana..." Aku yakin tadi dia sudah termakan oleh sandiwaraku. Aku hanya butuh menjaga diriku agar terlihat tenang dan konsisten, supaya ia tidak curiga.
"Aku bisa merasakan dari bagaimana caramu menikmati ciumanku, Nona." Sial! Dia bisa merasakannya.
"Oya?" Aku masih berusaha tenang di hadapannya. Aku berusaha menunjukkan bahwa aku tidak terpengaruh oleh kata-katanya.
"Kau tidak membalas ciumanku, sayang. Tapi kau......" Dia menahan diri mengutarakan kata selanjutnya karena aku langsung memotongnya.
"Itu karena aku tidak berminat padamu, tuan," sanggahku cepat-cepat.
"Benarkah? Tapi aku bisa merasakan bahwa tadi kamu sangat menikmati caraku mempermainkan bibirmu, Nona." Iblis cabul itu menunjukkan ekspresi sangat percaya diri sekarang.
"Aku rasa kau sebenarnya berminat padaku, kau hanya... Tidak tahu bagaimana cara membalas ciumanku," seringai mengejek muncul kembali di wajahnya.
"K-kau!!" Aku mulai tersulut emosi.
"Aku benar kan Nona Atmaja? Kau tidak membalas karena tidak tahu caranya?" Aditya kembali menyeringai seperti iblis yang baru saja mendapatkan mangsanya.
"Kau tidak mengenalku dengan baik, Tuan!" Aku membalas singkat karena tidak tahu lagi harus berkata apa.
"Kau benar karena itu ijinkan aku merasakan bahwa dirimu adalah seorang perempuan yang 'berpengalaman' seperti kata-katamu. Jika seorang Bellatrix Atmaja memang sudah berpengalaman, maka ia tentu tidak akan keberatan membuktikan perkataannya padaku. Apalagi menurut pengakuannya tadi, aku bukan laki-laki pertama yang pernah menjamahnya. Tentu tidak ada bedanya melakukan 'itu' sekarang ataupun setelah menikah nanti kan?" Aku sungguh ingin memaki laki-laki ini. Dia benar-benar jah*n*m.
Aku mematung. Kali ini posisi kami berbalik. Aku hampir menang tadi. Atau dia hanya berpura-pura mengalah tadi. Laki-laki ini memang tidak bisa dianggap remeh.
"Bagaimana.... Nona Atmaja? Aku rasa dirimu membutuhkan waktu untuk... berpikir." Aditya membalasku. Telak!
"Kabari aku begitu kau merasa siap, sayang!" Aditya membisikkan pernyataan terakhir itu di telingaku. Setelah itu ia meninggalkan aku sendiri di Rooftop kantor Daddy dan pergi entah kemana.
Begitu aku tidak melihat sosoknya lagi, air mataku seketika menetes dengan deras. Aku masih berdiri di rooftop itu. Aku seperti tidak sanggup bergerak. Pada titik ini aku menyadari bahwa aku ternyata tidak sekuat itu menghadapinya.
------------
Selamat membaca! Ada satu episode lagi tengah malam, sebagai ganti karena kemarin tidak Up. Dukung terus karya ini ya guys!