The Untold Story

The Untold Story
Perasaan Yang Terlambat



--B's PoV--


*Kamar Bellatrix, Suvretta House, Switzerland:2003*


Cinta... Kenapa manusia harus menyebutnya seperti itu? Sebuah nama yang disematkan terhadap sejenis perasaan yang menuntut pemiliknya untuk tertawa di satu sisi, menangis di sisi lain, atau bahkan tertawa dan menangis di saat yang sama.


Seumur hidupku, mungkin hanya satu kali, aku pernah mengalami euforia jatuh cinta. Perasaan bahagia ketika berdekatan, rindu ketika berjauhan, tersiksa ketika ditinggalkan. Hanya itu yang aku tahu tentang cinta.


Dan sepanjang pengalaman mencinta itu, aku tidak pernah tahu bahwa sejujurnya hanya ada sebuah selaput tipis yang membatasi perasaan cinta dengan perasaan benci, sebab sebelumnya aku memahami bahwa garis batas di antara keduanya begitu jelas dan tegas. Aku tidak pernah tahu bahwa mungkin saja ada perasaan sakit saat bersama orang yang kita cintai, sebab sebelumnya aku menganggap cinta adalah soal keindahan dan kebahagiaan.


Tapi.... Kali ini aku mengenali semua perasaan aneh itu dan mencoba mengaitkannya dengan nama cinta. Aku mungkin terlalu awam soal ini, tapi aku tidak mungkin salah mengenali hatiku sendiri.


Ya, aku jatuh cinta lagi. Kali ini pada sosok laki-laki yang berbeda. Laki-laki yang selama ini ku anggap sebagai musuhku, sebagai penghancur dan perebut kebahagiaanku.


Awalnya aku begitu membencinya. Tetapi semakin dalam ku rasakan perasaan benci itu, semakin jantungku berdebar tak karuan saat berada di dekatnya. Semakin meluap rasa tidak sukaku padanya, semakin besar emosiku saat melihatnya tersenyum kepada perempuan lain.


Mungkin orang akan memandangku naif, bodoh, atau apapun namanya, tetapi harus ku akui bahwa perasaan ini baru bagiku sehingga sulit untuk mengidentifikasikannya sebagai perasaan cinta. Aku begitu awam dan keawamanku tentang cinta itulah yang akhirnya membuatku salah menyimpulkan semua.


Hingga... Hari yang paling menyedihkan itu datang. Hari dimana laki-laki itu perlahan-lahan mulai menyingkirkan diriku dari hidupnya karena sikapku yang salah. Hari dimana ia berkata akan melepasku dan tidak lagi peduli padaku. Hari dimana aku menyadari bahwa sebuah pernyataan cinta yang terlambat dariku mungkin tidak akan berarti apa-apa.


Setelah kejadian di kolam renang itu, aku yang ditinggalkan ini, nampaknya harus berpuas diri dengan menerima pertolongan dari beberapa pelayan perempuan yang ada di sana untuk memapah dan membawaku kembali ke dalam kamar. Melihat caranya menatapku, aku yakin Aditya tidak akan kembali, dan karena itu aku tidak perlu menunggunya.


Kalau boleh jujur, sebenarnya kondisiku cukup mengenaskan. Aku mungkin tidak sampai hilang kesadaran, tetapi semua orang yang ada di tepi kolam itu menyadari bahwa aku sebenarnya juga membutuhkan pertolongan serius.


Para pelayan yang khawatir dengan kondisiku, sempat menawarkan untuk memanggil dokter. Namun, dengan sadar aku segera menolak tawaran mereka.


Sebenarnya, bukan dokter yang aku butuhkan sebab yang paling menyakitkan bukanlah apa yang mampu ditunjukkan oleh reaksi tubuhku. Hatiku lebih terluka dari semua dan sayangnya, tidak ada seorang dokter pun yang bisa mengobatinya.


Itu sebabnya aku memutuskan untuk kembali menyendiri di dalam kamar. Sebab ku pikir, mungkin hanya itulah obat yang paling baik di masa-masa seperti sekarang.


Dan di sinilah aku berada malam ini. Terbaring lemah di atas ranjangku dengan demam yang cukup tinggi, luka bakar di sekitar dada yang semakin parah karena menceburkan diri ke air yang suhunya hampir mendekati titik beku (yang seharusnya itu tidak boleh dilakukan saat baru saja tersiram air panas), dan sakit yang teramat hebat di bagian kaki, akibat otot yang menggumpal. Semua kondisi itu semakin menjadi 'sempurna' tatkala aku mendapati diriku hanya meringkuk sendirian di dalam kamar.


Apakah ini karma? Mungkin saja. Sebab sama seperti aku yang pernah meninggalkannya sendiri di dalam kamar waktu itu, kini aku pun merasakan apa yang ia rasakan saat itu. Sendirian dan ditinggalkan.


Dengan sisa-sisa tenagaku, aku mencoba menghubungi resepsionis hotel dan meminta mereka untuk mencarikanku beberapa obat di Apotek. Tentu aku tidak menyebutkan nama obatnya sebab aku bukan seorang dokter. Aku hanya mengatakan bahwa aku membutuhkan obat penurun panas, salep untuk luka bakar, serta minyak untuk memijat otot.


Cukup lama aku menunggu datangnya obat-obatan itu, hingga aku sempat kehilangan kesadaranku sejenak karena demam ini menuntutku beristirahat. Aku memejamkan mata sekitar tiga puluh menit dan kembali terbangun karena suara ketukan pintu.


Tok!! Tok!! Tok!!


Tok!! Tok!! Tok!!


Perlahan-lahan aku mencoba mengangkat kepalaku yang terasa berat. Sebelah tanganku kemudian secara otomatis langsung mencari-cari kimono untuk menutupi tubuhku yang hanya berbalut sebuah dress tidur tali spaghetti berbahan sutra lembut, yang terpaksa ku gunakan untuk mengurangi rasa perih akibat luka bakar di dada saat bersentuhan dengan kain baju yang menempel pada luka itu. Aku bahkan belum bisa memakai br* karena lukanya begitu menyakitkan.


Tok!! Tok!! Tok!!


Tok!! Tok!! Tok!!


Saat itu kondisi kamarku memang cukup gelap sehingga aku sangat berhati-hati. Aku sengaja tidak menyalakan lampu sebab cahaya justru akan membuat kepalaku semakin pusing.


Tok!! Tok!! Tok!!


Ceklek!


Aku membuka pintu itu sambil memijit keningku yang semakin berat. Sedikit demi sedikit kemudian aku mencoba memaksa mataku untuk mendeskripsikan sosok laki-laki yang ada di hadapanku sekarang, sebab nampaknya ia tidaklah asing.


"Kau baru bangun?" Laki-laki itu melemparkan sebuah kata sindiran padaku seraya tersenyum mengejek.


"Kau... Di sini...." Awalnya ada perasaan senang saat melihat sosok Aditya yang berdiri di hadapanku. Namun, pada detik berikutnya aku kecewa karena ia masih memandangku dengan cara yang sama seperti tadi siang.


"Aku tidak percaya setelah semua tindakanmu hari ini... Kau masih bisa tertidur dengan pulas?" Nada sarkas kembali keluar dari mulut Aditya. Hatiku kembali berdenyut nyeri mendengar ucapannya, tapi jujur aku tidak berniat untuk membela diri.


Hatiku begitu sakit saat mengetahui Aditya masih tidak percaya padaku. Dan karena itu, aku berpikir bahwa membela diri justru akan memberikan kesan buruk padanya sebab aku tidak memiliki bukti tentang peristiwa tadi siang. Diam mungkin pilihan yang terbaik saat ini.


"Aku hanya ingin memberi tahu bahwa besok kita akan pindah ke Jenewa. Kita berada di kota ini karena Maya dan berhubung ibunya sudah datang, kita bisa langsung kembali ke tujuan asal kita. Pertunjukkan kekasihmu akan diselenggarakan di Jenewa." Aditya menjelaskan maksud kedatangannya menemuiku.


Sesungguhnya aku tidak tertarik lagi untuk menemui Indra, setelah aku mengetahui bagaimana perasaanku pada Aditya. Tapi, mengingat bahwa saat ini Aditya begitu membenciku, aku takut justru ketika aku mengungkapkan apa yang ku rasakan padanya, laki-laki itu justru akan meninggalkanku.


Apalagi setelah semua yang terjadi di antara kita dan setelah semua kejahatan yang ku lakukan padanya, bukankah itu akan terdengar aneh baginya? Itu sebabnya aku memilih untuk tetap menjalankan rencana seperti yang sudah kami sepakati bersama.


Lagi pula, aku rasa aku juga membutuhkan momen untuk memastikan perasaanku pada Indra. Aku tidak ingin gegabah, mengakui semuanya kepada Aditya, dan suatu saat nanti perasaanku kembali goyah ketika tiba-tiba bertemu dengan Indra.


"Baiklah!" Aku menjawab singkat dengan suara lemah, sementara Aditya hanya menatapku dan tidak memberi respons.


"Oya, Maya.... Bagaimana kondisinya? Apakah ibunya mengetahui kejadian di kolam tadi siang? Apakah ibunya menyalahkanmu?" Tanyaku lagi dengan panik. Aku menyadari bagaimanapun juga Adityalah yang akan dipersalahkan jika sesuatu terjadi pada Maya.


"Seharusnya kau memikirkan pertanyaan itu sebelum kau mendorong Maya, B! Aku tahu bahwa sejak awal kau tidak menyukainya. Tapi, seharusnya kau lebih bersikap dewasa." Aku mengerutkan keningku sebagai respons spontan atas tuduhannya dan Aditya membaca itu sebagai bentuk pembelaan diri.


"Tidak perlu mengelak, B! Aku melihat semua saat kau mendorongnya. Aku sudah berada di area kolam renang saat kejadian itu," ucap Aditya dengan dingin dan tentu saja itu menyulut emosiku. Apalagi saat aku mendapati laki-laki itu langsung membalikkan badannya dan hendak pergi setelah menjatuhkan penghakiman.


Sederetan kalimat panjang muncul bak rel kereta api yang tak terputus di dalam benakku untuk menanggapi ucapannya. Namun anehnya, sakit akibat perkataan Aditya justru membuatku mengucapkan kalimat yang berbeda, yang tidak sesuai dengan apa yang ku rencanakan semula.


"Tunggu... Aditya....." Aku menyebut nama laki-laki untuk pertama kalinya. Aditya seketika menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menatapku dengan ekspresi yang sulit untuk ku jabarkan.


 ---------------


Selamat membaca! Masih ada satu episode lagi untuk hari ini. Mohon bersabar!