The Untold Story

The Untold Story
Aku



--B's PoV--


*Jakarta: 2003, Keesokan Harinya*


Byuuurr.....!!!


Suara gemercik air terdengar, bersamaan dengan masuknya tubuhku ke dalam kolam renang yang terletak di sisi kanan mansion milik Aditya. Sebuah kolam renang yang mengusung tema alam sehingga terasa begitu menyejukkan, untuk cuaca Jakarta yang cukup hangat di siang itu.


Aku meyakini saat ini Aditya pasti berada di kantornya. Dengan demikian, aku hanya cukup memberi tahu salah seorang pelayan, agar tidak ada seorang pun dari mereka yang boleh berkeliaran di sekitar kolam selama aku berada di sana, sehingga area itu menjadi privat bagiku.


Akhirnya, dengan berbalutkan sebuah bikini berwarna biru navy polos yang hanya menutupi sebagian tubuh atas dan bawahku, aku pun melaju membelah air di dalam kolam itu untuk berolah raga dan menenangkan diri sejenak. Jangan bertanya, mengapa aku tidak memilih model pakaian renang yang lain? Hanya itu satu-satunya yang bisa ku temukan di dalam walk in closet.


Sudah lima belas menit aku melenggang di dalam kolam itu dan selama itu pula banyak hal tentang kejadian semalam ku pikirkan. Ah, sungguh memalukan!! Bagaimana bisa aku terlena dengan sentuhannya?


Untung saja Aditya berhenti. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika ia terus melanjutkan adegan panas semalam, sementara aku tak kuasa mengendalikan perasaan yang terasa asing, karena belum pernah ku rasakan sebelumnya.


Aaaarrgggghhh!!! Bodoh!!! Bodoh!!! Sekarang aku bahkan tidak punya muka lagi jika harus bertemu dengan iblis cabul itu.


"Hah.. Hah.. Hah.." Aku cepat-cepat menarik napas dan menghembuskannya dengan tersengal-sengal, setelah kepalaku muncul ke permukaan air.


"Boleh aku bergabung?" Tubuhku tersentak secara spontan, ketika mendengar suara seorang laki-laki sedang mengajakku berbicara.


What the h*ll?!? Belum lama aku memikirkannya, laki-laki itu sudah berada di hadapanku seperti hantu di siang bolong.


Tapi, tunggu... Kenapa ia ada di sini? Bukankah seharusnya ia sedang berada di kantornya dan bekerja?


Sementara ia menunggu jawabanku, aku masih larut dalam pikiranku sendiri tentang keberadaan laki-laki itu sambil memandang sosoknya yang hanya mengenakan boxer berwarna hitam. Apa dia juga ingin berenang?


Jujur saja, baru kali ini aku bisa melihat bentuk tubuh laki-laki itu dengan jelas. Tubuh yang sebenarnya terlalu sempurna untuk seseorang yang lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor dan berbisnis.


"Bolehkah.... B?" Aditya bertanya sekali lagi. Aku yang merasa tidak berhak melarangnya karena bagaimanapun juga, ini adalah properti miliknya, pada akhirnya hanya bisa menganggukkan kepala sebagai jawaban.


Aditya tersenyum sekilas sambil menatap tubuhku dan berjalan ke sisi kolam yang lain. Mungkin dia ingin melompat dari sana.


Mataku masih terus memandang sosoknya yang berjalan di pinggir kolam sebelum melompat, saat kemudian aku menyadari makna senyuman dan tatapan matanya tadi. Ya, bikini ini terlalu seksi. Aku yang sedikit panik bercampur malu ini pun hanya bisa menyilangkan tangan untuk menutupi dada.


Byurrr!!!


Laki-laki itu akhirnya ikut membenamkan tubuhnya ke dalam air. Ia kini bahkan sedang berenang mendekat ke arahku dengan kepala yang terlihat muncul di permukaan.


"Kalau tidak nyaman menggunakan pakaian renang dengan model seperti itu, sebaiknya jangan digunakan." Aditya memberikan komentar karena melihat tanganku yang terus menyilang.


"Ehmm... H-hanya ini satu-satunya yang ada." Aku segera mengambil posisi membelakanginya.


"Aku masih suamimu yang sah, jikalau kau lupa. Sebenarnya, tidak perlu malu berpakaian apapun di hadapanku." Seperti mengabaikan bahasa tubuhku yang ingin menghindari tatapannya, Aditya justru berbicara sembari mengambil posisi berhadapan langsung denganku.


Dengan hati-hati, ia kemudian menyentuh kedua lenganku yang menyilang dan menurunkannya. Sementara aku, aku menjadi seperti gadis penurut yang tidak bisa berpikir lagi untuk melawan.


Aku menyadari bahwa Aditya sempat menatap dad*ku sekilas sebelum tatapannya beralih ke arah wajahku. Laki-laki itu kemudian mengangkat daguku yang menunduk karena malu dan membuat mata kami kembali bertemu.


"Lagi pula B..... Meski sejujurnya d*da dan p*ntatmu saat ini terlihat sangat menggoda, aku tidak mungkin menyentuhmu tanpa ijin." What??


Apa yang baru saja ia katakan?


Aku tahu bahwa Aditya memang adalah laki-laki yang cabul. Namun, aku sungguh tidak menduga bahwa ia akan berbicara blak-blakan seperti ini. Secara spontan, aku pun merinding pasca mendengar kata-kata itu.


"Kenapa B? Aku seorang laki-laki normal yang kadang kala bisa tunduk pada naluriku. Maaf, mungkin ucapanku membuatmu tidak nyaman, tetapi aku rasa kamu harus tahu bahwa sejujurnya kamu dan semua yang ada padamu sangat menggodaku." Aditya melanjutkan ucapannya sembari merapatkan tubuhnya padaku.


Ya, Tuhan... Apa yang harus ku lakukan?


Aku kehabisan kata-kata setelah mendengar pengakuan itu. Beberapa waktu bahkan ku lalui dalam kebisuan.


"K-kau tidak bekerja?" Aku mencoba mengalihkan percakapan kami. Aku tidak sanggup lagi mendengar penilaiannya tentang tubuhku. Apalagi semenjak kejadian semalam.


Aku pasti semakin terlihat konyol di hadapannya. Bagaimana mungkin aku tidak menyadari bahwa hari ini adalah hari libur?


Sreeekkk!! Sreekk!!


Aku yang mulai salah tingkah kini melanjutkan kegiatan berenang yang tadi sempat tertunda karena kehadiran Aditya. Sementara laki-laki yang ku hindari itu ternyata ikut berenang menyusulku.


"Hah.. Hah.. Hah..." Aku kembali meraup udara sebanyak-banyaknya ketika sudah berada di sisi kolam yang satunya.


"Jangan salah paham dengan ucapanku yang jujur!" Aditya mendekatiku lagi.


Mungkin kali ini, aku harus mencoba untuk memberanikan diri menatap matanya. Tidak ada gunanya menghindar! Aditya akan terus mendekatiku.


"Aku bukan bermaksud kurang ajar padamu. Aku hanya ingin menjelaskan tentang sikapku yang kadang lepas kendali saat bersamamu, B." Aditya semakin merapatkan tubuhnya dan menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi mataku, sehingga aku semakin bisa melihat wajahnya dengan jelas.


Apa maksud ucapannya? Apakah ia sedang berusaha menjelaskan apa yang terjadi semalam? Apa ia sedang memberi tahu alasannya menciumku begitu intim bahkan saat ia bisa menduga bahwa semua tindakanku adalah skenario Mamanya?


"Ehm... T-terima kasih karena telah berbicara jujur." Sejujurnya, sulit bagiku untuk menemukan respons yang tepat dalam keadaan canggung seperti ini. Hanya itu kalimat yang bisa ku sampaikan padanya.


Ada jeda waktu beberapa menit yang kami lalui dalam keheningan setelah percakapan itu. Aku yang kembali takut terbuai dengan sorot matanya pun memutuskan untuk mengalihkan pandangan. Meski demikian, aku menyadari bahwa mata Aditya tetap tertuju padaku.


"Hah...." Aku mendengar Aditya membuang napasnya dengan kasar dan kemudian membelakangiku.


"Oh ya, B! Aku baru saja mendapat kabar tentang kekasihmu dari orang-orang suruhanku." Pasca menyampaikan kalimat itu, Aditya membawa tubuhnya berenang ke sisi yang lain.


Indra..... Pikiranku yang sempat terpusat kepada Aditya kini kembali memikirkan Indra. Oh, come on, B! Bagaimana kau bisa mengalihkan Indra?


"Kabar?" Aku yang awalnya sempat mematung sejenak karena mendengar ucapannya, kini berusaha berenang mendekati Aditya, begitu aku menyadari bahwa laki-laki itu justru sedang mengambil jarak dariku.


"Ya....." Balasnya singkat sambil terus mengayunkan tangan dan kakinya dengan posisi kepala di atas permukaan air.


"Syailendra Lesmana? Itu namanya kan?" Aditya masih mengayunkan tubuhnya pada permukaan air dengan begitu lihai.


"Ya..." Saat ini posisi kami sejajar. Aku berusaha mengimbangi pergerakan Aditya. Kami terus berenang hingga kami kembali berada di sisi kolam yang lain.


"Satu bulan lagi akan ada kompetisi dansa berpasangan. Kekasihmu yang akan menjadi jurinya." Aditya berhenti sejenak sambil berpegangan pada tangga kolam. Aku pun melakukan hal yang sama.


"Juri? Kompetisi Dansa? Dimana?" Aku semakin penasaran.


"Singapore...." Aditya berenang kembali setelah menjawab pertanyaanku. Aku yang masih penasaran dengan kabar Indra ini pun kembali mengikutinya.


"Aku sudah mendaftarkanmu sebagai peserta kompetisi. Akan lebih mudah menemuinya, jika kamu adalah peserta." Aditya berbicara sambil terus mengayunkan tangan dan kakinya.


"Tapi... Aku... Aku tidak tahu akan berpasangan dengan siapa?" Sungguh rasanya begitu sulit untuk menggambarkan apa yang ada di benakku saat menerima kabar dari Aditya.


Di satu sisi, ia benar. Akan lebih mudah bagiku untuk menemui Indra, jika aku adalah peserta kompetisi. Tapi... Siapa yang akan berdansa denganku?


"Jangan khawatir! Aku sudah mendapatkan orang yang akan menjadi partner dansamu. Kamu bisa berlatih dengannya mulai besok..." Aku semakin penasaran. Aditya rupanya telah merencanakan semua tanpa sepengetahuanku.


"Siapa??" Aku bertanya lagi.


Aditya yang mendengar pertanyaan itu tiba-tiba menghentikan ayunan tangannya di tengah-tengah kolam, sehingga hanya kakinya saja yang masih terus bergerak guna membuat tubuhnya tetap terapung di permukaan. Sementara aku.... Aku yang terkejut karena Aditya berhenti tiba-tiba, tanpa sengaja menumpukan ke dua tanganku pada pundaknya.


Tanpa ada jeda waktu yang berarti, Aditya yang juga mungkin terkejut dengan tindakanku, tiba-tiba memeluk pinggangku secara spontan. Tubuh kami melekat begitu erat diiringi bunyi napas kami yang tidak beraturan.


Pada saat itu, aku kembali mendapati bahwa Aditya sedang menatapku dalam-dalam. Tatapan yang sama, yang semalam mampu membuatku mabuk kepayang.


Tatapan yang kemudian semakin membuyarkan konsentrasiku saat ia melakukannya sambil menyebutkan sebuah kata, "Aku....."


 -------------------


Selamat Membaca!